GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 60: TITIK NADIR


__ADS_3

MEDIO MEI 1998.


    Malam itu, setelah majikan Jamil pulang meninggalkan rumahnya, Jamil bersama istri dan anaknya kembali duduk di ruang keluarga. Sudah tidak konsen untu menonton televisi. Tetapi mereka mulai membahas masalah tabungan. Ya, seperti janjinya kepada bos-nya, akan membantu membayar tagihan dari bank. Maka Jamil mengajak anak dan istrinya untuk membuka celengan. Tabungan berbentuk ayam jago yang terbuat dari plastik.


    "Tabungan Pak-e, cuman ini .... Kalau ini dibongkar terus dipakai membayar utang perusahaan tempat Pak-e kerja, Pak-e sudah tidak punya uang lagi ...." kata Jamil pada anak dan istrinya.


    "Tidak apa-apa, Kang .... Ibarat kita mengamal .... Yang ikhlas saja ...." sahut istrinya.


    "Iya, Pak .... Tidak usah khawatir .... Nanti pasti mendapat ganti yang lebih banyak ...." timpal anaknya.


    "Iya, Sayang .... Tapi untuk menutup utang perusahaan belum bisa .... Itu butuh uang banyak ...." sahut Jamil menjelaskan pada anaknya.


    "Tidak apa-apa, Pak .... Nanti Melian tambahi .... Melian juga punya tabungan ...." Melian langsung berlari ke kamar, dan langsung keluar lagi dengan membawa celengan yang sama punya bapaknya.


    "Ini, Pak .... Ditambah celengan Melian ...." kata anaknya yang langsung menaruh celengan ayam dari plastik itu, bersanding dengan milik bapaknya.


    "Wao .... Ada dua ayam jago di meja .... Kalau dipotong, pasti Mak-e langsung bikin opor .... Hehehe ...." kata Juminem yang senang melihat celengan anak dan bapak itu bersanding.


    "Kita buka saja ...." kata Jamil sambil tersenyum gembira, tentu karena anaknya yang cantik juga berbudi luhur.


    "Iya, Pak .... Kita buka .... Mak-e bagian ngitung ...." sahut Melian.


    "Punya siapa dulu yang dibuka  ...?" tanya bapaknya.


    "Punya Pak-e, dulu ...." jawab melian.


    Lantas Jamil membuka bagian bawah celengan. Lantas uang yang ada dalam celengan itu satu per satu dikeluarkan. Terus, terus dan terus. Tidak ada habis-habisnya.


    "Walah .... Banyak sekali, Pak ...." kata Juminem yang mengambili uang itu dan ditata dalam genggamannya.


    Ya, Jamil pun heran. Uang yang dia keluarkan dari dalam celengan itu ternyata sangat banyak. Dan rata-rata berwarna biru dengan gambar Pak Harto mesem. Mata uang tertinggi kala itu. Perasaan sudah terlalu banyak uang dikeluarkan. Tetapi Jamil yang menarik mengeluarkan uang dari bawah ayam, serasa tidak ada habis-habisnya. Uang itu keluar terus.


    Juminem bersama anaknya yang menata uang itu, dihimpun setiap lembaran uang dengan nominal yang sama. Uang dengan besaran sepuluh ribuan dikumpulkan jadi satu. Demikian juga dengan uang yang besarannya dua puluh ribuan, dikumpulkan jadi satu. Dan yang paling banyak adalah uang dengan besaran lima puluh ribu, yang biasa dijadikan ukuran uangnya orang kaya, yaitu uang dengan gambar Pak Harto mesem.


    "Walah, Kang .... Ini uang yang warna biru kok banyak sekali ...." tentu Juminem kegirangan, karena memang jarang malah bahkan belum pernah memegang uang itu.


    "Ya, ditata yang rapi, ya .... Digendel agar mudah menghitungnya." sahut Jamil.


    "Iya, Kang .... Ini saya hitung seratus lembar-seratus lembar, lantas saya ikat pakai karet. Kata Emak dulu kalau diikat karet, tuyul tidak bisa mengambil." kata Juminem yang menata dan menghitung uang itu.


    "Iya .... Pokoknya kamu ikat, biar besok kalau disetorkan ke bank, menghitungnya gampang." sahut Jamil.


    "Banyak sekali ya, Kang ...." kata Juminem yang sudah menumpuk uang-uang yang diikat tersebut. Tumpukannya memang sudah tinggi dan banyak.


    Jamil sendiri yang melolosi uang dari bagian bawah celengan ayam itu juga heran. Walau ia memang sudah menabung sejak tinggal di rumah itu, sejak menerima bayaran dari tempat kerjanya sebagai tukang amplas kerajinan kuningan itu, sudah hampir sepuluh tahun, tetapi perasaan uang yang ia masukkan ke dalam celengan tidaklah sebanyak itu. Apalagi kalau melihat tumpukan uang yang sudah diikat oleh Juminem, jumlahnya sangat banyak. Kalau misal uang di tumpukan itu kembali dimasukkan ke celengan ayam, kelihatannya tidak mungkin muat. Ada hal aneh yang terjadi.


    Namun Jamil diam. Ia tahu, ini pasti kakang kawah adi ari-ari, kumbara yang menjaga Melian yang sudah membuat keanehan. Bagi Jamil, kejadian aneh itu sering dilihatnya. Meski Melian, anaknya itu tidak pernah mengatakan apa-apa, tetapi keanehan itu memang selalu muncul disetiap ada kesulitan yang dialaminya.


    "Masih ada uangnya, Kang? kok tidak berhenti-berhenti, to ....?" tanya Juminem pada suaminya yang masih terus melolos uang dari celengan ayam itu.


    Dan tiba-tiba saja, setelah istrinya berkata seperti itu, uang yang ada di dalam celengan itu pun habis. Sudah tidak keluar lagi, sudah tidak ada lagi.


    Jamil kaget. Kata-kata istrinya itu menghentikan uang yang keluar dari celengan. "Habis, Jum ...." kata Jamil yang langsung meletakkan plastik berbentuk ayam tersebut.


    "Hah ...?! Sudah habis ...?" tanya Juminem.


    "Ya kan kamu yang bilang kok tidak berhenti-berhenti .... Ya tentu langsung berhenti. Makanya jangan mengatakan yang aneh-aneh .... Kita menurut saja sama kekuasaan yang di atas." sahut Jamil mengingatkan istrinya.


    "Maaf, Kang ...." Juminem menyesal.


    "Iya ..., tidak apa-apa .... Itu rezeki kita, Jum ...." sahut suaminya.

__ADS_1


    "Sekarang hitung punya Melian, Pak ...." kata Melian yang langsung menyodorkan celengan ayam pada ayahnya.


    "Wuaduh ..., berat sekali .... Pasti isinya banyak ...." kata Jamil yang menerima celengan dari anaknya.


    "Ayo, Pak .... Dibukak .... Saya sama Mak-e yang menghitung." sahut anaknya.


    "Siaap .... Ayo kita mulai." kata Jamil yang langsung membuka bagian bawah celengan ayam itu.


    Jamil pun langsung mengeluarkan uang dari celengan itu. Satu per satu, terus dan terus.


    Melian yang punya celengan itu, tentu sangat senang saat menyaksikan bapaknya mengeluarkan uang dari celengannya. Hasil tabungannya akan digunakan untuk membantu bapaknya yang dimintai tolong oleh bos-nya.


    Juminem yang bersiap untuk menata dan menghitung pasti juga senang. Ia akan menyaksikan tabungan yang sudah dikumpulkan oleh anaknya. Tetapi kali ini, ia tidak akan mengatakan apa-apa lagi, khawatir keanehan yang terjadi akan berhenti lagi.


    Seperti tadi yang terjadi pada celengan bapaknya, celengan milik Melian juga mengeluarkan uang sangat banyak. Terus diambil oleh Jamil, tetapi masih saja keluar terus dan tidak habis-habis. Melian yang punya celengan itu, tentu sangat senang karena bisa membantu orang lain. Sedangkan Juminem yang menghitung dan mengikat uang dengan karet, juga senang menyaksikan uang yang banyak tersebut.


    Hingga akhirnya, sampai tengah malam mereka kelelahan. Mereka sudah tidak sanggup lagi untuk mengeluarkan, menata dan menghitung uang dari celengan anaknya. Mereka pun akhirnya tergeletak dan tidur.


*******


    Pagi sekali pengusaha kerajinan kuningan, bos-nya Jamil, sudah datang ke rumah Jamil. Dengan mengendarai  mobil Hijet Zebra, mobil yang sangat bagus kala itu bagi para pebisnis, langsung masuk ke halaman rumah Jamil. Berhenti di bawah tangga teras.


    "Din ..., din ...." Pak Bos itu membunyikan klakson mobinya, memberi tanda kepada Jamil kalau ia sudah sampai di rumahnya.


    Jamil yang tahu kalau bos-nya sudah datang, maka ia langsung berkemas. Dengan pakaian rapi, karena akan masuk bank. Setidaknya mengenakan baju batik lengan panjang yang bersih, serta mengenakan pecis. Meski hanya mengenakan sandal karet biasa. Maklum orang desa.


    Lantas ia membawa tas kresek warna hitam, sebagai tempat menaruh uang. Tas kresek itu dirangkap dua. Tentu agar uang yang ada didalamnya tidak terlihat orang. Selanjutnya ia berpamitan kepada anak dan istrinya.


    "Saya berangkat dulu, ya, Jum ...." kata Jamil pada istrinya.


    "Iya, Kang .... Hati-hati ...." kata Juminem sambil menyalami suaminya.


    "Iya, Pak .... Hati-hati." jawab Melian yang tentu tersenyum senang.


    Jamil selanjutnya melangkah, meninggalkan anak dan istrinya yang berdiri di pintu rumah, melepas kepergian suami dan ayahnya.


    Selanjutnya Jamil membuka pintu tengah, akan masuk dan duduk di belakang bos-nya.


    "Duduk depan, Mas Jamil .... Kok malah di belakang .... Sini di samping saya ...." kata majikannya itu yang duduk menyetir mobilnya.


    "Iya, Pak .... Maaf ...." kata Jamil yang kemudian ke depan, duduk di samping bos-nya.


    "Uangnya sudah dibawa, Mas Jamil ...?" tanya majikannya yang sangat penuh harap dari bantuan Jamil, sambil menjalankan mobilnya yang bagus.


    "Sudah, Pak .... Adanya cuma ini .... Cuma sedikit, Pak ...." jawab Jamil sambil menunjukkan buntalan tas kresek hitam, lantas ditaruh di bawah, dijepit kakinya.


    "Terima kasih, Mas Jamil .... Berapapun jumlahnya, yang penting saya bisa setor angsuran, Mas .... Kalau tidak, hancurlah hidup kita .... Tempat usaha kita akan disegel dan disita bank." lagi-lagi majikannya terlihat sedih.


    "Iya, Pak ...." sahut Jamil yang tidak begitu paham masalah perbankan.


    "Untung Mas Jamil bisa membantu ...." kata majikannya lagi.


    "Iya, Pak ...." kata Jamil lagi.


    "Saya sudah menduga, Pasti Mas Jamil punya uang ...." kata majikannya lagi.


    "Iya, Pak ...." lagi-lagi Jamil hanya bisa mengatakan iya, maklum ia berada di samping bos-nya. Pasti grogi.


    "Kalau misalnya Mas Jamil sanggup melunasi pinjaman saya di bank, saya akan serahkan rumah saya beserta tempat usahanya itu pada Mas Jamil. Ya, anggap saja tempat itu saya jual ke Mas Jamil ...." kata majikannya itu lagi.


    "Iya, Pak ...." Jamil pun lagi-lagi hanya menjawab iya pak. Yah, namanya juga Jamil, orang dari desa yang sangat lugu dan tidak banyak macam-macam.

__ADS_1


    Juragan kuningan itu sudah masuk ke halaman bank. Sebuah bank swasta yang cukup keren di sebuah kota kecil. Lantas Pak Bos mengajak Jamil turun dari mobil dan masuk ke bank tersebut.


    Tentu Jamil terheran dan sangat kagum dengan ruang bank itu. Pelayannya cantik-cantik dan ramah. Semuanya seperti anaknya, berkulit putih dan bermata sipit. Jamil tidak kaget, di rumah ada Melian yang cantik. Yang ia kagum adalah ruangan itu yang terasa sangat dingin. Tentu karena ruangan itu menggunakan AC.


    Juragan kuningan itu begitu masuk langsung menunjukkan surat kepada petugas satpam. Lantas satpam itu langsung mengantarkan juragan kuningan itu yang diikuti oleh Jamil. Ternyata mereka diajak masuk ke ruangan yang hanya ada satu orang laki-laki yang mengenakan jas dan berdasi. Bagian kredit macet.


    Tentu Jamil kagum dengan laki-laki muda yang tampan dan gagah itu.


    "Silakan duduk, Pak .... Ada yang bisa kami bantu?" kata laki-laki tampan itu.


    Jamil bersama bos-nya duduk di kursi berhadapan dengan laki-laki tampan tersebut. Lantas juragan kuningan itu memberikan surat kepada lelaki yang duduk di depannya.


    Laki-laki petugas bank itu menerima dan membaca sepintas. lantas katanya, "Ini tunggakan Bapak sudah melebihi batas. Kalau hari ini Bapak tidak membayarnya, maka langkah dari pihak bank akan melakukan penyitaan rumah dan tempat usaha Bapak." katanya.


    "Iya, Pak .... Ini kami sudah berusaha, maklum dalam kondisi krismon seperti ini, tentu sangat sulit bagi kami untuk bisa melunasi. Ini kami datang untuk membayar seadanya dulu, mohon tempat usaha kami jangan disita. Kasihan karyawan kami." kata juragan kuningan, bos-nya Jamil tersebut, tentu sambil merengek-rengek.


    "Kami paham, Pak .... Tetapi kami juga mengalami guncangan, bahkan lebih dahsyat dari usaha Bapak. Baiklah, Pak ..., akan kami usahakan. Apakah Bapak sudah membawa uangnya, hari ini? kata petugas bank bagian kredit macet tersebut.


    "Ada, Pak .... Ini saudah saya bawa ...." tiba-tiba Jamil menunjukkan tas plastik kresek warna hitam itu kepada petugas bank.


    Petugas bank itu tersenyum. Lantas ia bertanya, "Bapak siapa?"


    "Saya karyawannya bos saya ini ...." jawab Jamil.


    "Baik, Pak .... Mari ke kasir, akan kami hitung uangnya." kata petugas bank itu yang lantas mengajak dua orang nasabahnya ke kasir.


    Petugas itu langsung mendekat ke kasir, memberitahu agar menghitung uang yang dibawa oleh nasabahnya. Dengan cekatan wanita cantik petugas kasir itu langsung menangani Jamil dan bosnya.


    "Bapak, silakan dengan kasir ini, ya .... Beliau yang akan melayani Bapak ...." kata laki-laki muda yang tampan tersebut.


    "Mari, silahkan, Bapak ...." wanita cantik yang bertugas sebagai kasir itu langsung meminta Jamil dan bosnya maju, untuk menyerahkan uangnya.


    Jamil yang berada di depan langsung menyerahkan tas kresek warna hitam yang dibawanya kepada kasir tersebut. Tentu Jamil berpikiran, kelak Melian kalau besar pasti seperti mbak-mbaknya itu.


    "Saya hitung dulu ya, Pak .... Silakan duduk dahulu untuk menunggu kami menghitung." kata kasir cantik itu.


    Lantas Jamil bersama bosnya duduk di kursi depan kasir. Mereka pun saling melamun sendiri-sendiri. Kalau Jamil melamun membayangkan anaknya kelak kalau sudah besar, pasti menjadi anak yang cantik seperti perempuan yang ada di bank itu. Tetapi kalau juragan kuningan tersebut, ia khawatir kalau besok kena tunggakkan lagi, pasti rumahnya akan disita. Itu sangat sia-sia, meminta bantuan ke Jamil. Bahkan justru akan menambah beban hutangnya kepada Jamil. Kalaupun Jamil disuruh membeli rumahnya untuk melunasi hutangnya, apa Jamil sanggup. Pikiran itu terus menyelimuti dirinya.


    "Pak ...." Kasir itu memanggil Jamil dan bosnya.


    Jamil dan bosnya itu bergegas maju, mengahadap ke kasir.


    "Pak ini mau dilunasi semua?" tanya kasir itu.


    "Kalau bisa, iya ...." bos kuningan itu terkejut dengan pertanyaan kasir. Tepi hatinya juga lega. Setidaknya ayem karena tunggakan utangnya akan terbayar.


    "Sebentar ya, Pak ...." kata kasir itu yang selanjutnya melihat berkas yang ada didepannya. Berkali-kali mengamati catatan.


    Sementara juragan kuningan, bos-nya Jamil itu terkejut saat melihat bongkokan uang yang sudah tertata di atas kresek hitam, pasti itu uang yang tadi dibawa Jamil tadi. Ternyata begitu banyak uangnya. Tidak menyangka, Jamil yang hanya karyawan biasa, rajin dan penurut, bisa memiliki uang sebegitu banyak.


    "Silakan duduk dulu ya, Pak .... Tunggu sebentar akan saya sampaikan ke pimpinan." kata kasir cantik itu kembali meminta Jamil dan juragannya duduk. Lantas kasir itu membawa berkas masuk ke ruang lain.


    Ma,um hanya sebentar. Kemudian kembali memanggil juragan kuningan itu. Selanjutnya mereka berdua maju ke kasir.


    "Bapak, ini rinciannya. Ini tagihan yang harus dibayar, dipotong bunga sampai lunas. Bapak tinggal membayar sekian. Uangnya masih sisa, mau ditabung atau bagaimana?" kata kasir itu menjelaskan sambil menunjukkan catatan keuangan di kertas, kalau utang juragan kuningan itu bisa dilunasi. Bahkan masih ada sisa uang.


    "Terima kasih, Cik .... Sisa uangnya kami bawa pulang saja, untuk kebutuhan yang lain." kata majikan Jamil itu sambil tersenyum lebar. Lega rasanya bisa melunasi utangnya.


    "Silakan duduk sebentar, Bapak .... Kami akan membuatkan tanda terima." kata kasir itu lagi.


    Saking senangnya, juragan kuningan itu langsung memeluk Jamil dan menciminya. Ia sangat gembira sekali. Ia tentu sangat berterimakasih kepada Jamil yang sudah menyelamatkan dirinya, rumah dan tempat usahanya. Berkali-kali juragan kuningan itu memeluk Jamil. Bahkan saking gembiranya, tubuh Jamil juga diangkat-angkat.

__ADS_1


__ADS_2