GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 88: PENGEMIS MINTA AMPUN


__ADS_3

    Karyawan Bima Sakti memang orang-orang baik. Semua mengikuti kebaikan yang ditanamkan oleh Jamil, melalui setiap nasihat maupun contoh-contoh perilaku pimpinannya. Seperti misalnya saja, Jamil yang tidak mau dipanggil sebagai bos, katanya yang jadi bos sebenarnya adalah para karyawan. Ia juga bilang kalau sebenarnya sebuah perusahaan itu tidak bisa jalan, tidak bisa mauju, dan tidak bisa menghasilkan apa-apa jika tidak ada karyawan. Jadi sebenarnya, yang punya perusahaan itu karyawan. Hidup matinya sebuah perusahaan tergantung dari karyawan.


    Makanya, para karyawan Bima Sakti merasa senang, nyaman dan merasa memiliki perusahaan itu. Sehingga kalau ada apa-apa, mereka langsung tanggap dan bertanggung jawab atas apa yang terjadi di Bima Sakti. Di tempat kerja, mereka merasa seperti di rumahnya sendiri. Bahkan rasa kekeluargaan itu tidak hanya antar karyawan saja, tetapi juga dengan keluarganya. Juminem sudah memberikan contoh keakraban dengan keluarga karyawan. Begitu pula Melian, anak Jamil yang cantik itu tidak canggung untuk berbaur dengan para karyawan dan keluarganya. Bahkan Melian sangat akrab dengan semua karyawan bapaknya. Walau kadang-kadang manja. Tapi itulah sifat anak-anak, yang selalu manja dengan orang yang lebih tua.


    Siang itu, saat para karyawan istirahat, dan seperti biasa mereka makan bersama di ruang tengah, tiba-tiba mereka dikagetkan oleh suara laki-laki dewasa yang menangis menggerung-gerung di depan toko.


    "Huhuk ..., hu ...,hu .... Hua .... Hua .... Ampuuun ...." begitu suara tangisan yang keras dan menakutkan.


Tentu Ika yang makan di ujung dalam toko dan kadang-kadang juga gojekan dengan teman-temannya yang ada di ruang tamu, kaget dan ketakutan. Maka Ika pun berteriak memberi tahu teman-temannya.


    "Hee, Pak, Mas .... Itu di depan ada orang menangis ...!" teriak Ika memberi tahu teman-temannya.


    "Siapa ...?!" tanya teman-temannya.


    "Tidak tahu .... Kayak pengemis .... Compang-camping dan lusuh." jawab Ika, yang tentu tidak jelas melihat wajah itu, karena jaraknya lumayan jauh, dari ujung toko bagian dalam hingga di pelataran dekat jalan.


    "Ya sudah, sana dikasih uang .... Nanti kan pergi." jawab salah satu teman.


    "Nih, uangnya .... Tolong kamu kasihkan ...." kata Ika yang memberi uang kepada temannya yang nyuruh ngasih uang untuk diberikan kepada pengemis itu.


    "Tolong kamu yang ngasih, Leh ..., Soleh ...." elak teman yang disodori uang Mbak Ika.


    "Yaaah .... Ngalah." Soleh, pegawai yang paling muda itu langsung memungut uang dan melangkah keluar untuk memberikan uangnya kepada pengemis.


    "Huhuhu ..., hu ...,hu .... Hua .... Hua .... Tolong saya .... Ampun .... Ampuuun ...." tangis laki-laki yang dianggap sebagai pengemis itu, saat ada salah satu karyawan yang datang akan memberi uang.


    "Hueeek ...! Huueeeekk ...!" namun Soleh yang memberikan uang kepada pengemis itu langsung muntah-muntah. Soleh mencium bau busuk yang sangat menyengat dari pengemis itu.


    Spontan, teman-temannya yang ada di dalam ruang langsung kaget mendengar suara Soleh yang blokekan muntah-muntah.


    "Ada apa, Mas Soleh ...?!" teriak Mbak Ika yang menanyai Soleh.


    "Hueeek ...! Huueeeekk ...! Bau busuk ...!!" teriak Soleh yang tentu tidak kuat mencium bau busuk dari pengemis itu. Ia pun langsung lari menjauh dari pengemis itu, tentu sambil berteriak, "Sana, cepat pergi ...!" kata Soleh yang mengusir pengemis itu.


    "Ada apa sih, Mas Soleh ...?! Kok ngusir-ngusir pengemis .... Itu tidak baik, lho ...." lagi-lagi Mbak Ika menanyai Soleh.


    "Bau badeg, Mbak Ika ...! Presis telur busuk yang kemarin itu ...!" sahut Soleh pada Mbak Ika.


    "Walah .... Pantesan sampai muntah-muntah ...." kata Ika yang maklum.


    "Ada apa, to ...?! Senangnya kok ngributi ...." tanya yang lain dari dalam.


    "Ini, lho .... Pengemis itu sudah diberi uang tidak mau pergi. Padahal baunya kayak telur busuk yang kemarin itu. Sampai saya muntah-muntah ini ...." sahut Soleh.

__ADS_1


    "Masak, sih ...?!" tanya yang lain.


    "Coba saja keluar, kalau tidak percaya." sahut Soleh menyuruh temannya keluar untuk menemui pengemis itu.


    Dua orang akhirnya keluar. Ingin membuktikan apa yang dikatakan temannya.


    "Hueeek ...! Huueeeekk ...! Benar .... Baunya busuk sekali...!!" teriak dua orang yang keluar dan mendekat ke pengemis itu, langsung muntah-muntah.


    "Ginmana ...? Ada apa ...?" tanya teman-temannya.


    "Wuah .... Baunya nggak karuan .... Persis sama dengan telur busuk kemarin. Huek ...."


    "Lha, pengemisnya sudah pergi ...?"


    "Belum ...."


    "Tidak diusir ...?"


    "Tidak mau .... Dikasih uang juga tidak mau paergi. Katanya minta ampun-minta ampun ...."


    Tentu para karyawan itu pun akhirnya menjadi ribut. Membicarakan pengemis yang berbau busuk di luar gedung tempat kerjanya.


    "Ada apa, ini ...? Kok tidak segera makan, malah ribut-ribut?" tiba-tiba Jamil keluar, menanyai para karyawan yang ribut di ruang tengah.


    "Ya, Pak Jamil .... Dia malah merengek-rengek minta ampun." jawab Soleh.


    "Lha begitu kok diributkan ...." sahut Jamil yang langsung keluar menemui pengemis.


    Di luar, Jamil menemui pengemis itu. Laki-laki yang belum begitu tua, dengan pakaian compang-camping, meski belum pada robek. Kepalanya ditutup topi koploh. Namun terlihat pada bagian-bagian kulitnya terdapat borok-borok luka, dan dari borok itu keluar nanah membasahi kulit yang menjijikkan. Dan benar apa yang dikatakan oleh para karyawan, memang pengemis itu baunya sangat busuk. Mungkin bau busuk itu berasal dari nanah-nanah yang dleweran di tubuhnya, bahkan juga sudah membasahi pakaian yang dikenakan. Pantas kalau anak buahnya pada muntah-muntah.


    "Ampun ..., Mas Jamil .... Ampuuunn ..... Ampuni saya ..., Mas Jamil ...." kata-kata itu keluar dari mulut pengemis itu.


    Tentu Jamil kaget, karena namanya disebut-sebut oleh pengemis itu. Orang itu kenal dirinya. Lantas Jamil memperhatikan secara seksama pengemis yang bilang minta ampun pada dirinya itu.


    "Bapak ini siapa?" tanya Jamil pada pengemis itu.


    "Ampun ..., Mas Jamil ..... Saya minta ampun ..., Mas Jamil ...." lagi-lagi pengemis itu minta ampun kepada Jamil.


    Jamil mengamati lebih seksama. Dia mulai ada bayangan wajah pengemis itu. Ya, Jamil mulai menduga, kalau orang yang dihadapi itu adalah Pak Bos. Ya, benar, laki-laki itu Pak Bos. Namun karena luka-lukanya pada kulit yang membusuk, pasti orang lain menjadi pangling.


    "Sampean ini Pak Bos ...?" tanya Jamil pada pengemis itu.


    "Ampun ..., Mas Jamil .... Saya minta ampun .... Saya mengaku salah .... Saya yang melempar telur busuk di tempat ini .... Ampuni saya, Mas Jamil .... Huhuhuk ...." kata orang itu, yang ternyata memang Pak Bos, yang minta ampun karena sudah berbuat salah kepada Jamil. Tentu dengan mengucurkan air mata, menangis mengguguk.

__ADS_1


    "Ya ampun, Pak Bos .... Sampeyan ini kenapa? Tubuhmu penuh luka, borok-boroknya membusuk .... Ini kenapa, Pak Bos?" tanya Jamil yang tetap menghormat pada mantan majikannya itu. Walau baunya sangat busuk, tetapi Jamil tetap tidak mau merendahkan orang. Itulah kehebatan Jamil.


    "Saya minta ampun, Mas Jamil .... Saya tidak tahu ini kenapa. Mungkin ini karena karma dari perbuatan saya .... Tolong maafkan saya, Mas Jamil .... Ampuni saya, Mas Jamil ...." kata Pak Bos yang sangat menyedihkan.


    "Apa sudah diperiksakan ke dokter?" tanya Jamil lagi.


    "Tidak usah, Mas Jamil .... Lebih baik saya mati saja .... Penyakit saya ini sangat menjijikkan. Semua keluarga saya sudah tidak mau menerima saya. Teman-teman juga menolak saya. Orang-orang kampung bahkan mengusir saya. Saya tidak tahu lagi mesti ke mana .... Lebih baik saya mati, Mas Jamil ...." kata Pak Bos yang sangat mengenaskan itu.


    "Jangan bilang begitu, Pak Bos .... Nanti saya kasih uang, tolong diperiksakan ke rumah sakit. Semoga saja bisa sembuh. Tunggu di sini sebentar, ya ...." kata Jamil yang langsung membalik ke ruangnya. Pasti akan mengambil uang untuk diberikan ke Pak Bos.


    "Bagaimana, Pak Jamil ...?!" begitu tahu pimpinannya masuk, para karyawan langsung menanyai. Tentu ingin tahu pengemis itu.


    Tetapi Jamil diam saja, dan berlalu. Lantas menuju meja yang biasa diduduki saat bertransaksi dengan para pelanggannya. Jamil mengambil amplop putih panjang. Lantas diisi uang warna biru, lumayan banyak. Sehingga amplop itu kelihatan tebal. Lantas ia keluar lagi. Kembali menemui pengemis yang ada di depan.


    "Pak Bos, terimalah sedikit uang ini. Semoga bisa dipakai untuk berobat." kata Jamil yang memberikan amplop putih panjang berisi uang tersebut.


    "Terima kasih, Mas Jamil .... Tolong saya dimaafkan, ya ...." kata Pak Bos yang menerima amplop pemberian Jamil, lantas pergi meninggalkan toko Bima Sakti.


    Lega rasanya bagi Jamil, bisa memberikan sesuatu yang dibutuhkan oleh orang lain, meski orang itu pernah menyakitinya. Tetapi bagi Jamil, tidak perlu balas dendan. Karena Yang Maha Kuasa serba mengetahui apa yang kita rasakan, apa yang kita alami.


    "Bagaimana, Pak Jamil?"


    "Sudah pergi, Pak ...?"


    "Pengemisnya kenapa, Pak ...? Kok minta ampun-minta ampun ...?"


    "Siapa itu tadi, Pak Jamil?"


    "Pak Jamil kenal pengemi itu?"


    Para karyawan langsung memberondong pimpinannya. Pasti mereka ingin tahu pengemis itu. Dan yang jelas, pimpinannya sudah rela dan ikhlas memberikan uang dalam jumlah besar kepada pengemis. Makanya, mereka ingin tahu, siapa sebenarnya pengemis yang sampai diberi uang banyak sekali.


    "Sudah .... Pengemisnya sudah pergi .... Sudah tidak ada bau busuk lagi di luar .... Bau busuk itu karena tubuhnya penuh luka, dan keluar nanah. Makanya dia berbau. Sudah, tidak usah dibahas lagi ...." sahut Jamil yang sudah duduk di kursinya.


    "Tapi pengemis kok maksa minta uang banyak, Pak Jamil ...?!" tanya salah seorang karyawan.


    "Tidak memaksa .... Bahkan dia juga tidak minta, kok .... Tapi saya yang memberi secara tulus, biar dipakai untuk berobat. Kasihan dia." jawab Jamil.


    "Siapa pengemis itu, Pak ...?! Orang mana ...?! Kok kenal Pak Jamil ...?!" tanya karyawan yang lain, yang tentu penasaran.


    "Sudahlah .... Kalau membantu orang itu jangan karena kenal, jangan karena dekat. Meskipun dia pengemis, tetap harus kita tolong, dan jangan berharap imbalan. Yang ikhlas saja ...." kata Jamil, yang tentu sambil menasehati karyawannya, untuk selalu berbuat baik.


    Dan tentu, para karyawan semakin menaruh hormat kepada Jamil, pimpinannya itu, yang memang selalu memberikan contoh berbuat baik kepada siapa saja dan di mana saja. Pasti rasa simpati karyawannya itu akan melekat dalam sanubarinya.

__ADS_1


    Dan yang jelas, Jamil tidak mau membuka rahasia orang. Jamil tidak mau menceritakan kejelekan orang. Termasuk menceritakan kepada anak buahnya, siapa pengemis yang barusan datang. Bahkan Jamil juga tidak bercerita kepada istri dan anaknya. Itu adalah rahasia.


__ADS_2