GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 239: PEREMPUAN ANEH


__ADS_3

    Pagi itu, setelah Irul memesan kapada adik-adiknya, dan tentu juga mengatur para karyawannya, ia bersama Melian menuju Pasar Lasem. Tentu akan membeli bunga tabur untuk dibawa ke kuburan. Pastinya, orang-orang pasar yang kenal Irul langsung menyambut baik dan sangat ramah.


    "Mas Irul .... Mau cari apa?" tanya tukang parkir yang pertama kali ketemu.


    "Mau beli bunga untuk nyekar .... Mau tengok kubur istri saya sama mau babalas ke kuburnya Cik Lan." jawab Irul sambil memarkirkan sepeda motornya.


    "Ini Melian anaknya Cik Lan itu, ya ...?" tanya tukang parkir itu lagi.


    "Iya .... Sekarang yang nempati rumah Babah Ho ...." jawab Irul.


    "Bener .... Rumah harus ditempati .... Ya, setidaknya ada yang bersih-bersih ...." sahut tukang parkir itu.


    "Saya mau masuk ke pasar dahulu .... Mau beli bunga ...." kata Irul yang langsung berjalan menuju pasar.


    Melian ikut bersama dengan Irul. Setidaknya ia juga ingin tahu keadaan di Pasar Lasem itu. Masa kecilnya punya sejarah getir di dalam pasar itu. Ia pernah hilang saat terlepas dari penjagaan ibunya.


    "Wee ..., Mas Irul ...! Mau cari apa?" tanya setiap orang yang ditemuinya.


    "Mau beli bunga untuk nyekar ...." jawab Irul.


    "O, iya .... Malem Jumat Kliwon ...." sahut beberapa orang yang ada di pasar.


    "Gadis ini siapa, Mas Irul? Wah ..., Mas Irul ...." beberapa orang bertanya tentang gadis yang bersamanya, tentu banyak yang curiga. Lagi-lagi Irul yang sudah menjadi duda, jalan bersama gadis cantik.


    "Ini Melian ..., anaknya Cik Lan ..., cucunya Babah Ho ...." jawab Irul yang tidak mau menggubris guncingan orang di pasar.


    "Ooo .... Saya kira ...." pasti orang-orang pasar menganggap Melian itu calon istri barunya Irul.


    "lha kok bersama Mas Irul ...?" tanya beberapa orang yang curiga.


    "Iya, ini mau nyekar ke makam Cik Lan .... Ngantar Melian yang kangen sama ibunya ...." sahut Irul.


    "Walah cantiknya ...." orang-orang masih menyanjung Melian. Tentu sangat terkesima dengan kencatikan Melian yang memang sangat sempurna. Tidak hanya kulitnya yang putih bersih, rambut hitamnya yang lebat panjang sebahu, atau wajahnya yang oval dan berbinar kemerahan pada pipinya, tetapi juga tubuhnya yang semampai, tinggi langsing dengan badan yang singset.


    Matahari menyorotkan sinar pagi, hangat dan menyehatkan. Irul berboncengan sepeda motor dengan Melian, menyusuri jalan kampung ke arah keluar desa. Menuju kuburan kampung tempat disemayamkannya Cik Indra. Tidak lama perjalanannya. Sepeda motor itu melintas di jalan sempit, yang hanya bisa dilalui sepeda motor, menuju ke gerbang pemakaman desa.


    "Saya mau mendoakan Cik Indra dahulu .... Melian ikut masuk apa di luar saja?" kata Irul yang sudah turun dari motor.


    "Ikut, Mas .... Saya juga mau berdoa untuk Cik Indra .... Semoga tenang di alam baka.

__ADS_1


    Dua orang itu lantas bersimpuh di depan makam Cik Indra. Ia menaburkan bunga di pusara Cik Indra. Tentu sambil memanjatkan doa, agar arwah Cik Indra tenang, dan berharap diampuni segala dosa-dosanya, diterima di sisiNya, serta medapatkan tempat yang indah di surga.


    Meski seorang laki-laki, Irul tetap meneteskan air mata. Ia tidak bisa melupakan kebahagiaan hidup bersama Cik Indra. Dan tentu sangat sedih jika teringat kembali kesadisan para penjahat yang sudah membunuh istrinya.


    Demikian juga Melian, yang tentu juga merasa kehilangan Cik Indra. Orang yang dianggap seperti kakaknya sendiri, dan sangat menyayangi dirinya. Makanya, saat penguburan Cik Indra, Melian sangat geram dengan para penjahat itu. Itulah sebabnya, maka gelang naga yang terbuat dari batu giok itu langsung bergetar dan mencari para penjahat. Tentu akan melakukan balas dendam.


    "Mas Irul kenapa menangis ...?" tanya Melian pada Irul.


    "Tidak apa-apa .... Hanya perasaan saja yang tidak bisa dipungkiri, bahwa saya terlalu cinta sama Cik Indra ...." jawab Irul.


    "Semoga saja nanti Mas Irul dapat pengganti Cik Indra." kata Melian yang sudah memeluk lengan Irul, sambil menempelkan kepala di pundaknya.


    "Terima kasih, Melian ...." kata Irul sambil mengecup kening Melian.


    Melian kaget. Hatinya bergetar. Jantungnya berdetak keras. Melian merasa aneh saat Irul mengecup keningnya. Entah apa yang terjadi, Melian sendiri tidak mengerti. Apa sebenarnya yang bergejolak dalam hatinya. Padahal kasih sayang Irul sudah sejak dulu diberikan kepada Melian. Bahkan Melian sendiri sudah terbiasa manja dengan Irul. Tetapi mengapa saat itu, ada kabut aneh yang sudah mentelubungi hatinya. Peristiwa itu serupa saat pemakaman Cik Indra, dimana Irul juga mengecup kening Melian, sesaat sebelum Melian berpamitan pulang meninggalkan kuburan.


    "Aneh ...." begitu pikir Melian.


    Setelah beberapa saat di depan kubur Cik Indra, mereka saling mengenang kebaikan-kebaikan Cik Indra, bahkan juga mengenang canda tawa yang pernah mereka lakukan bersama, akhirnya Irul mengajak Melian untuk meninggalkan kubur itu.


    "Ayok ..., kita melanjutkan perjalanan, menuju Gunung Bugel ...." kata Irul yang mengajak Melian.


    Mereka berdua keluar dari komplek pemakaman. Melian menggandeng terus tangan Irul. Berjalan bergandengan menuju motor yang terparkir di luar kuburan. Lantas Irul menyalakan motornya. Melian juga naik ke boncengan. Motor itu kemudian berjalan meninggalkan kuburan desa itu, menuju ke komplek Bong Cina di Gunung Bugel.


    Irul langsung memarkirkan kendaraannya di tempat parkir di taman parkir Gunung Bugel. Sambil mencangking bunga kiriman untuk nyekar di makam Cik Lan, Irul berjalan bersama Melian. Menapaki anak tangga yang lumayan tinggi, untuk menuju ke bagian atas. Dan setelah anak tangga itu habis, kini Irul bersama Melian melanjutkan melintasi jalan setapak. Untuk menuju ke makam ibunya Melian. Yang pasti, Melian selalu menggandeng tangan irul. Setidaknya karena jalannya yang menanjak, maka mereka berhati-hati agar tidak terjatuh.


    "Uuhh ..., capek, Mas Irul ...." kata Melian yang terus saja berpegangan pada lengan Irul.


    "Sebentar lagi ...." sahut Irul.


    "Iyah ...." Melian menjawab dalam desah napas kecapaian.


    Dan memang, sebentar kemudian mereka sudah sampai di bongpai yang lumayan bagus, tempat makam Cik Lan.


    "Hahahaha .... Gadis cantik yang baik hati .... Akhirnya kamu datang juga ke rumah orang tuamu ...." tawa seorang perempuan yang menyambut kedatangan Irul dan Melian.


    Alangkah kagetnya Irul dan Melian saat mereka berhenti di bongpai milik ibunya itu, dan ada seorang wanita cantik dengan mengenakan pakaian wanita ala pakaian tradisional Tiongkok kuno. Rambutnya yang dinaikkan ke atas, semacam disasak dan disanggul di atas kepala, dengan juntai di kanan dan kiri. Rambut itu bagian tengahnya terdapat tusuk konde yang terbuat dari logam mulia yang dibagian atasnya terdapat permata-permata warna-warni yang indah. Gaunnya berwarna hijau menyala yang terbuat dari kain sutera, menutupi hampir ke seluruh tubuhnya. Di tenlinganya tergantung anting-anting yang gemerlap terbuat dari emas permata. Di lengannya juga mengenakan gelang indah terbuat dari batu giok. Demikian juga liontin kalun yang melingkar pada lehernya, ada batu permata yang berkilau indah dan menawan. Jelas wanita ini dari golongan bangsawan. Setidaknya ia adalah orang kaya. Wanita itu duduk dengan menggantung kaki di atas bongpai pekuburan Cik Lan. Tepat di tengah lengkungan tembok batu yang cikip tinggi. Suara tawanya menggetarkan hati orang yang mendengarnya.


    "Siapa wanita itu, Mas Irul ...?" tanya Melian pada Irul.

__ADS_1


    "Saya tidak tahu .... Belum pernah ketemu dan belum pernah melihat sebelumnya ...." jawab Irul.


    Tentu Melian merasa aneh dengan keberadaan wanita cantik yang duduk di atas bongpai ibunya tersebut. Kenapa wanita yang cantik dengan pakaian aneh itu berada di tempat yang tidak lazim? Demikian juga Irul, yang merasa ganjil dengan kelakuan wanita itu. Biasanya tidak ada orang yang berani bermain di pemakaman yang identik dengan rumah hantu. Tetapi wanita ini justru duduk santai di atas bongpai. Apa dia itu orang tidak waras?


    "Melian .... Kemarilah .... Mari mendekat ke hadapanku. Duduklah bersimpuh di depanku, tundukkan kepalamu, lantas menurutlah kepadaku." kata wanitu itu yang menyuruh Melian untuk menyembah wanita aneh itu.


    "Maaf ..., Tuan Putri ini siapa, dan ada perlu apa berada di temapat pemakaman seperti ini?" tanya Irul kepada wanita itu, sambil memegang erat tangan Melian, agar Melian tidak melangkah maju menuruti kata-kata wanita aneh itu.


    "Hai, laki-laki tak tahu diri ...! Jangan ikut campur dengan urusanku ...! Pergi kamu dari tempat ini ...!! Cepat ...!!!" wanita yang ditanyai Irul itu justru membentak dan mengusir Irul.


    Sesaat Irul terhentak ketakutan. Tentu suara wanita itu terdengar seperti geledek di telinga Irul. Namun setelah menata hatinya, Irul kembali kuat. Sadar harus tetap menjaga Melian. Anak yang sejak kecil sudah ia lindungi.


    "Sekali lagi kami mohon maaf, Tuan Putri .... Bukannya kami berani mengusik ketenteraman Tuan Putri, hanya saja kami ingin tahu, siapa sebenarnya Tuan Putri yang sudah kami temui ini?" kata Irul yang masih memegang kuat tangan Melian yang kali ini diam seperti sudah terkena hipnotis dari kata-kata wanita yang ada di depannya itu.


    "Hahaha .... Lancang mulutmu ...! Ketahuilah bahwa aku ini utusan dari Negeri Naga, yang akan membawa kembali calon permaisuri kerajaan kami .... Melian adalah gadis yang dipilih oleh penguasa kerajaan Negeri Naga untuk dijadikan permaisuri .... Jangan halangi saya untuk membawanya kembali ...!" kata wanita itu yang sudah menudingkan telunjuk tangannya ke arah muka Irul.


    Mendengar jawaban itu, Irul tahu bahwa perempuan aneh itu adalah penghuni alam gaib yang punya niat tidak baik terhadap Melian. Ia akan membawa Melian ke alam gaibnya. Menyadari keadaan itu, Irul kembali memegang erat lengan Melian. Tentunya ia akan mempertahankan gadis yang saat ini bersamanya. Ia tidak ingin peristiwa yang sudah menimpa istrinya akan kembali terjadi pada Melian. Apapun yang akan dilakukan oleh perempuan aneh itu untuk membawa Melian, Irul akan menjaganya semampu mungkin.


    Sementara itu, Melian semakin tidak bisa berfikir. Seolah tidak sadar dengan dirinya sendiri. Bahkan juga tidak mendengar kata-kata Irul yang terucap lantang. Melian hanya diam dan seakan-akan justru terlihat linglung. Seakan kata-kata wanita itu adalah perintah yang harus diturutinya. Bahkan Melian sudah menarik lengan yang digenggam oleh Irul, ia ingin bersimpuh di depan wanita yang menyuruhnya.


    "Tidak bisa .... Niat kami adalah berziarah kubur .... Niat kami akan mengirim bunga dan doa buat mendiang Cik Lan .... Saya tidak akan melepas Melian untuk kamu bawa pergi .... Dunia kami masih membutuhkan Melian!" sahut Irul yang sangat tegas dan berani menentang.


    "Kurang ajar ...!! Berani sekali kamu menentangku ...! Kalau begitu, rasakan ini ...!!" bentak perempuan aneh tersebut yang tiba-tiba sudah berada di depan Irul dan berkelebat melayangkan tangannya ke arah wajah Irul.


    Beruntung Irul sigap dan bisa cepat untuk menghindari hantaman tangan perempuan aneh itu. Sehingga pukulan wanita itu tidak mengenai wajah Irul.


    "Melian ...!!! Sadar Melian ...!! Melian ...!!! Cepat sadar ...!! Kita dalam bahaya ...!!" Irul berusaha menyadarkan Melian.


    Namun, Melian memang benar-benar kehilangan kesadaran pikirannya. Melian sudah terkena daya magis dari perempuan aneh itu. Maka meskipun Irul berteriak-teriak menyadarkan Melian, ia tetap tidak merepon.


    Sementara itu, perempuan aneh itu terus berusaha akan merebut Melian dari pegangan Irul. Perempuan itu berkali-kali berusaha menangkap dan merebut Melian dari tangan Irul. Dan tentu berkali-kali pula perempuan itu melayangkan pukulan-pukulan yang mengarah ke tubuh Irul.


    Namun karena Irul juga harus menjaga Melian, maka ia tidak bisa sepenuhnya menghindari pukulan ataupun menangkis dan membalas serangan-serangan yang dilancarkan oleh perempuan itu. Dan tentunya, perempuan itu bukanlah wanita sembarangan. Ia adalah utusan dari sebuah kerajaan. Maka tentu perempuan itu memiliki kesaktian yang tangguh. Hingga akhirnya, perempuan itu melayangkan pukulan saktinya yang mengarah pada bagian pinggang Irul yang terus berusaha melindungi Melian.


    "Wadaouuuuh .........!!!!" terdengar teriakan mengaduh yang sangat keras.


    "Glebrought ...!!" suara orang terpental dan jatuh ke tanah.


    "Mas Iruuuull ........!!!" Melian berteriak histeris.

__ADS_1


__ADS_2