GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 164: MENGUNJUNGI RUMAH ENGKONG


__ADS_3

    Seperti yang dijanjikan oleh bapaknya, saat kenaikan kelas, Melian langsung meminta untuk diajak ke Lasem. Tentu ingin melihat tokonya Mas Irul dan Cik Indra, yang katanya sudah lebih besar dari kiosnya Babah Ho.


    Juminem juga penasaran. Tentu ingin tahu dagangan yang dijual oleh Mas Irul dan Cik Indra. Selain itu, ia juga sudah bicara pada suaminya, kalau ke Lasem sekalian pergi ke Gunung Bugel. Untuk ziarah kubur di makamnya Cik Lan, mamahnya Melian. Sudah sangat lama mereka tidak berziarah.


    Hari Minggu pagi, Jamil yang sudah bisa menyetir mobil, karena iri dengan Irul yang datang ke rumahnya dengan mengendarai mobil bukaan nyetir sendiri, maka ia pun berusaha untuk bisa menyetir. Tentu diajari oleh Mas Tarno yang menjadi sopir di perusahaannya. Dan Jamil sudah mahir menyetir sendiri. Jamil mengajak anak dan istrinya berkunjung ke Lasem.


    "Sebelah mana tokonya Mas Irul, ya ...?" tanya Jamil yang menyetir sambil melihat-lihat.


    "Bukan di pasar, Kang .... Arah ke alun-alun .... Jalan raya Pantura menuju ke arah Masjid Raya .... Masih agak jauh sebelum alun-alun. Pelan-pelan saja, nanti di sebelah kanan jalan." jawab istrinya.


    "Toko Laris, Pak ...." sahut Melian.


    "Itu, Kang .... Belok ke kanan ...." kata Juminem yang sudah tahu plang tokonya.


    Jamil langsung membelokkan mobilnya ke kanan, langsung masuk ke halaman toko itu. Tentu sangat gampang, karena memang halaman toko itu sangat luas.


    "Mas Irul .... Itu ada Pak Jamil ke sini ...!" Indra yang ada di dalam toko langsung memberi tahu suaminya.


    "Mana ...?!" Jamil langsung mengamati halaman tokonya.


    "Itu mobilnya Pak Jamil .... Pasti mau liburan ke Lasem .... Ini kan Melian habis kenaikan kelas ...." jawab Indra sambil menunjuk mobil Daihatsu Taruna warna merah hati yang baru saja masuk di halaman tokonya.


    "Oh, iya ...." kata Irul yang langsung berlari ke arah mobil yang baru saja berhenti itu.


    "Mas Irul ...!!" Melian langsung turun dan mendekap serta memeluk Irul.


    "Mas Irul ........" Juminem yang turun berikutnya, juga menyalami Irul. Lantas masuk ke dalam toko dan menyalami Cik Indra, dan tentu juga menyalami adik-adiknya Irul.


    "Monggo, Mbak Jum .... Ini tempatnya rumpeg, penuh dagangan ...." kata Indra pada Juminem. Lantas menyuruh adik iparnya, "Dek ..., tolong ambilkan kursi, ditaruh di teras, ya ...."


    "Tidak apa-apa, Cik Indra .... Saya mau lihat tokonya dulu ...." sahut Juminem yang sudah masuk di dalam toko.


    Jamil yang sudah turun dari mobil, menyalami Irul sambil menepuk pundak.


    "Hebat, Mas Irul .... Ini benar-benar usaha sembako yang sangat besar. Luar biasa, Mas Irul dan Cik Indra ini dalam mengelola usaha ...." kata jamil yang tentu sangat kagum melihat besarnya toko Irul.


    "Tokonya Engkong dulu juga seperti ini?" tanya Melian yang ingin tahu seperti apa toko yang dimiliki engkongnya dulu.


    "Ya ..., tentu .... Sampai saya dulu kewalahan kalau nganter-nganter barang ...." jawab Irul yang ingin memberi gambaran kepada Melian kalau toko milik engkongnya juga besar.


    "Saya kok jadi pengin lihat tokonya Engkong ...." kata Melian lagi, yang justru ingin tahu keadaan toko milik engkongnya.


    "Lhah ..., yo tidak bisa, leh .... Kan tokonya Engkong sudah dijual .... Sudah jadi milik orang lain, Mel .... Dan sekarang toko Engkong yang di Pasar Lasem itu, kecil ..., tidak selaris waktu yang jualan Engkong ...." sahut Irul yang memberi penjelasan kepada Melian.

__ADS_1


    "Oo ..., gitu, ya ...." Melian menyadari kalau engkongnya sudah tidak ada.


    "Mas Irul .... Kalau rumahnya Engkong apa masih ...?" tanya Jamil tiba-tiba.


    "Masih, Pak Jamil .... Tapi kelihatannya ada masalah dengan bank. Itu disita oleh bank. Mungkin karena digunakan untuk agunan kredit dan tidak membayar .... Ada tulisannya kalau disita oleh bank, kok." jawab Irul, yang tahu keadaan rumah itu saat berkeliling bersama istrinya sampai dibekas rumah milik Babah Ho.


    "Lhoh ..., seperti itu, ya ...?! Wah, keterlaluan itu orang yang makai jaminan untuk kredit ...." tentu Jamil kaget, begitu tahu kalau rumah itu disita oleh bank.


    Jamil teringat dengan pabrik kerajinan kuningan yang sekarang menjadi miliknya. Dulu juga karena pemiliknya banyak hutang pada bank dan tidak bisa membayar, akhirnya perusahaan itu akan disita. Tetapi langsung dilunasi oleh Jamil.


    Kini ketika ia tahu kalau rumah Babah Ho disita oleh bank, berarti saudara Babah Ho yang ada di Semarang itu, yang dulu meneruskan usaha kios dan mengakui rumah warisan Babah Ho, sudah menggunakan surat tanah dan bangunan rumah itu sebagai jaminan utang. Mungkin tidak membayar. Makanya rumah itu disita. Jamil jadi kepikiran, ingin menyelamatkan rumah Babah Ho, sebagai warisan milik Melian, yang merupakan cucu langsung dari Babah Ho.


    "Mas Irul ..., apa bisa saya diantar ke rumah Babah Ho ...?" tanya Jamil yang tentu sebenarnya tidak ingin mengganggu pekerjaan Irul.


    "Bisa, Pak Jamil .... Kapan ...?" tentu Irul langsung siap.


    "Lha nanti yang ngantar barang-barang siapa?" tanya Jamil.


    "Ada adik-adik ipar saya, Pak Jamil .... Semua adik saya membantu di sini .... Yah, daripada saya pakai karyawan orang lain, biar rezekinya untuk keluarga sendiri, Pak ...." jawab Irul.


    "Ya sudah .... Kalau begitu kita ke sana sekarang ...." ajak Jamil.


    "Melian ikut, Pak ...!" kata Melian yang langsung naik ke mobil.


    "Ya ..., Mas ...." sahut Jamil yang sudah naik ke sopiran.


    "Dek ..., saya ngantar Pak Jamil ke rumah Engkong, sebentar ...." kata Irul yang berpamitan kepada istrinya.


    "Iya ..., lhah Mbak Jum bagaimana?" jawab istrinya, yang tentu menanyakan tentang Juminem yang masih ngobrol dengannya.


    "Mbak Juminem biar di sini dahulu .... Hanya sebentar, kok ...." sahut Irul.


    "Ya ..., ndak papa .... Saya mau ngobrol sama Cik Indra di sini saja." sahut Juminem.


    Akhirnya, Pak Jamil, Mas Irul dan Melian yang menuju rumah Engkong. Lalu berhenti di halam rumah kuno yang sudah tidak terurus dan terlihat kumuh itu. Bahkan halaman rumahnya juga tidak terurus. Banyak sampah daun dan rumput liar yang tumbuh di situ.


    "Ini rumahnya Engkong dulu .... Melian pernah tinggal di sini waktu masih bayi." kata Jamil pada anaknya, saat masuk halam rumah itu.


    Melian turun dari mobil, langsung naik ke teras rumah kuno itu. Melian mengamati bangunan itu secara seksama, tentu karena merasa ada sejarahnya dalam rumah yang kini tidak terurus tersebut.


    Demikian pula Irul, yang cukup lama sering keluar masuk di rumah itu. Tentu juga memiliki kenangan tersendiri dengan rumah yang kini terlihat rusak itu. Dua orang itu benar-benar terbenam dalam pikirannya yang tidak karuan, tentang rumah yang mereka lihat dan diraba-raba bersama itu.


    Namun berbeda dengan Jamil, dia turun dari sopiran hanya diam di dekat mobilnya. Ia memandangi rumah Babah Ho itu dengan pikiran lain. Ia teringat betul misteri yang muncul di rumah itu. Terutama saat kematian Cik Lan. Keanehan-keanehan muncul di tempat itu. Ya, Jamil dan Juminem pernah meninggalkan Melian di tempat itu, tetapi kenyataannya saat ia pulang dan sampai rumah, ternyata bayi kecil Melian itu sudah ada di dalam rumahnya. Bahkan saking takutnya, Juminem sampai pinsan. Ia juga ingat saat mengantarkan Melian, sepulang dari pemakaman Cik Lan, mereka justru diusir oleh saudara-saudaranya Babah Ho, seperti mengusir gembel. Apalagi kalau mengingat penderitaan Melian saat masih bayi, yang tidak diurusi oleh saudara-saudaranya Babah Ho, sementara Jamil hanya seorang buruh penggali batu kapur yang bayarannya tidak seberapa. Jamil kembali bersedih. Ia meneteskan air mata, teringat penderitaannya kala itu. Beruntung ada Irul yang sering mengirimi sembako.

__ADS_1


    "Pak-e ..., sini ...!!" Melian memanggil bapaknya agar ikut ke rumah itu.


    Jamil menuruti permintaan anaknya. Ia melangkah menuju teras rumah tua yang tak terurus tersebut, mendekati anaknya.


    "Pak-e ..., rumahnya Engkong ini kan disita bank .... Bisa nggak kalau misalnya kita minta lagi?" tanya Melian yang mungkin merasa kehilangan sejarah kalau sampai rumah itu diambil alih orang lain.


    "Memang kenapa? Apa mau dipakai lagi? Untuk siapa?" tanya Jamil.


    "Untuk mengenang sejarah kita, Pak .... Kata Mas Irul, ari-ari saya dependam di sini ...." jawab Melian yang merasa bahwa bagian dari dirinya ada di rumah itu.


    Deg ...! Jantung Jamil tersentak dengan kata-kata anaknya. Jika memang ari-ari, atau dalam bahasa kebidanan disebut plasenta bayi milik Melian ada di tempat itu, berarti ada kembaran Melian yang menempati rumah itu. Orang Jawa menyebut dengan istilah "Kakang kawah adi ari-ari", sedangkan orang barat menyebutnya dengan istilah "Infinita". Itu yang ditakuti oleh Jamil. Konon menurut cerita orang-orang tua zaman dulu, kakang kawah adi ari-ari itu berujud ruh yang menemani raga manusia yang masih hidup. Biasanya, dalam hal-hal tertentu, ruh yang tidak terlihat oleh orang lain itu, akan muncul saat raga dari pemiliknya mengalami penderitaan. Bahkan kakang kawah adi ari-ari itu bisa membawa pemiliknya ke alam gaib yang tidak bisa dinalar oleh manusia.


    Jamil tahu persis tentang keanehan yang ada pada diri Melian. Sejak bayi banyak hal-hal gaib yang selalu ditunjukkan oleh Melian. Dan itu menjadi rahasia bagi Jamil dan Juminem. Melian adalah anak yang dijaga ketat oleh kembarannya, yaitu kakang kawah adi ari-ari.


    Tentu, saat Melian menghendaki rumah engkongnya, yang menyimpan ari-arinya, untuk diambil kembali, Jamil mau tidak mau harus berusaha menuruti permintaan anaknya.


    "Iya, Sayang .... Bagaimana kalau nanti kita tanyakan ke Cik Indra ...? Dia kan pegawai bank, pasti tahu prosedurnya." kata Jamil sambil mengelus kepala anaknya.


    "Apa mau ditutup utangnya, Pak ...?" tanya Irul yang tentu juga merasa eman-eman dengan bangunan rumah yang sudah disita oleh bank tersebut. Namun bagi Irul, untuk menutup barang sitaan itu pasti butuh uang yang tidak sedikit jumlahnya. Setidaknya dua kali lipat harga toko Irul. Tapi Irul percaya kalau Pak Jamil, mantan juragannya itu mampu membayar gedung sitaan itu.


    "Ini sudah disita, Mas Irul .... Paling nanti akan dilelang oleh banl. Makanya, untuk mengejar barang sitaan bank ini bagaimana caranya, kita tanya ke Cik Indra. Pasti dia paham." jelas Jamil.


    "Iya, Pak .... Kalau begitu kita balik ke toko, menanyakan masalah ini kepada Dek Indra ...." kata Irul yang mengajak balik ke tokonya.


    "Tapi, aku mau di sini dulu .... Mau lihat rumah Engkong dulu ...." Melian rupanya tidak mau pulang.


    "Lho .... Kita mau menanyakan dahulu ke Cik Indra .... Piye. leh ...?!" bapaknya jadi bingung.


    "Pak-e sama Mas Irul saja yang pulang ke tokonya Cik Indra .... Melian mau di sini dulu ...." Melian memberot.


    "Lha nanti pulangnya bagaimana?" tanya bapaknya.


    "Nanti saya mau naik becak saja. Hari ini saya mau bersihkan rumah Engkong dahulu ...." kata Melian yang benar-benar ingin tetap di rumah itu.


    "Yo, wis .... Tenan lho, ya .... Pak-e mau tanya untuk mengambil alih rumah engkong ...." kata bapaknya yang langsung menuju mobil.


    Tanpa menghiraukan kepergian irul dan bapaknya, Melian sudah mengambil sapu ijuk yang ada di sudut teras rumah itu. Ia langsung menyapu lantai terasnya. Bahkan juga dinding dan pintu rumah bagian depan. Dan pastinya nanti akan melanjutkan menyapu halaman yang dipenuhi daun-daun kering yang berserakan.


    Jamil pun percaya dan tidak khawatir dengan anaknya. Ia langsung menjalankan mobilnya bersama Irul. untuk kembali ke tokonya Irul.


    Namun, seperti yang diduga oleh Jamil, pasti kakang kawah adi ari-ari, ruh kembaran yang mengikuti Melian, akan keluar dan menolong raga yang sedang susah. Kenyataannya, Melian yang seorang diri, membersihkan rumah besar itu benar-benar bersih. Bahkan entah bagaimana caranya, pintu rumah itu terbuka, dan bagian dalam rumah pun juga dibersihkan oleh Melian. Rumput-rumput yang tumbuh liar, serta daun-daun kering yang berserakan, sudah terbakar di sudut pekarangan. Dan itu, tidak butuh waktu lama.


    Aneh. Melian tidak mengeluh. Melian tidak merasa capek. Tidak merasa haus ataupun lapar. Bahkan juga tidak mengeluarkan keringat. Lantas ..., siapa sebenarnya yang membantu Melian? Benarkah seperti yang dipikirkan oleh bapaknya, kalau Melian akan dibantu oleh kakang kawah adi ari-ari?

__ADS_1


    Anak cantik yang rajin.


__ADS_2