GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 240: PERLAWANAN TAK SEIMBANG


__ADS_3

    Pukulan tangan yang dilancarkan oleh perempuan itu, sangat cepat dan kuat. Tangan yang sudah terlatih untuk berkelahi, pasti sangat mudah untuk mengarah pada bagian tubuh yang tidak terlindung. Irul yang terkena pukulan hebat dari perempuan aneh itu tidak bisa menghindar. Pukulan yang sangat kuat, yang diarahkan ke bagian perut Irul, menghantam bagian bawah pinggang. Mengenai saku celana Irul. Kurang sedikit saja, pasti kena pada bagian telur yang tentu sangat sakit bila terpukul. Beruntung Irul sempat bergerak sedikit. Maka yang terkena hanya di bagian saku celananya.


    Tubuh Irul terhuyung. Dan tentu kehilangan keseimbangan. Karena Irul bukanlah ahli bela diri yang bisa berkelahi. Ia tidak sanggup menahan tubuhnya yang sudah miring. Apalagi Irul juga memegangi Melian yang akan direbut oleh perempuan aneh itu. Maka Irul terjatuh sambil menarik lengan Melian.


    Melian yang tidak punya kesadaran pikiran, saat tertarik oleh Irul yang jatuh, ia pun ikut terjatuh. Melian jatuh menimpa tubuh Irul. Dan Irul yang masih berfikir untuk menyelamatkan Melian, maka begitu melihat kalau Melian itu ikut terjatuh, maka ia langsung memeluk tubuh Melian. Irul berada di bawah, tertimpa tubuh Melian yang langsung didekap erat. Tentu wajah Melian menimpa wajah Irul. Pada saat itulah, tanpa disengaja, bibir Irul berpadu dengan bibir Melian. Terjadilah ciuman bibir antara Irul dan Melian.


    Ada hal aneh yang terjadi pada Melian. Begitu tanpa sengaja sudah terjadi ciuman bibir antara dirinya dengan Irul, Melian menjerit kaget. Rupaya ia tersadar. Pikirannya sudah normal. Ia mulai tahu dengan keadaannya yang sedang dalam bahaya. Lantas dengan sigap bangun dari jatuhnya yang menimpa tubuh Irul, dan segera membantu Irul yan sudah ditindih tubuhnya. Pasti Irul kesakitan karena kejatuhan Melian.


    "Bangun, Mas Irul ...." kata Melian sambil menarik kedua tangan Irul.


    "Iya ..., terimakasih Melian." kata Irul yang langsung bangkit dari jatuhnya. Tentu Irul langsung bersiap untuk mempertahankan kembali Melian.


    "Mas Irul tidak apa-apa ,,,?" tanya Melian yang masih memegangi dua tangan Irul.


    "Tidak apa-apa .... Syukurlah Melian sudah sadar .... Kita mendapat gangguan perempuan aneh itu, Melian .... Hati-hatilah. Dia akan menculik dirimu." kata Irul yang mengingatkan Melian agar waspada.


    "Iya, Mas Irul .... Biar saya yang melawannya." sahut Melian yang sudah kembali berdampingan di sisi Irul.


    Sementara itu, di bongpai Cik Lan, ibunya Melian, masih tergeletak perempuan aneh yang akan membawa Melian. Perempuan itu diam belum bisa bergerak dan mengerang kesakitan. Perempuan itu terpental setelah berusaha memukul tubuh Irul. Perempuan yang berniat menangkap dan membawa Melian ke Sungai Kuning, tempat keberadaan Negeri Naga.


    Melian yang sudah tersadar kalau dirinya tadi mendapat serangan pelumpuh pikiran, tahu bahwa perempuan aneh itu bukanlah wanita sembarangan. Pasti ini utusan dari kerajaan alam gaib yang sengaja akan menangkap dirinya. Namun yang mengherankan Melian, bagaimana mungkin Irul sanggup melawan perempuan sakti itu? Bagaimana mungkin Irul sanggup menjatuhkan pimpinan perang dari Sungai Kuning? Sejak kapan Mas Irul bisa silat? Sebegitu hebatnya Mas Irul sanggup menjaga dirinya dari serangan wanita sakti itu.


    Perlahan perempuan aneh itu bangun dari tempat jatuhnya. Tentu dia sangat kaget saat mendapat perlawanan yang tak disangka. Laki-laki yang dipandangnya lemah itu, ternyata memiliki kekuatan aneh yang tak terduga. Baru kali ini perlawanannya mampu dimentalkan oleh manusia biasa. Ada yang tidak beres dengan laki-laki yang bersama Melian. Tentu hal ini sangat diluar dugaan. Perempuan aneh dengan pakaian tradisional ala zaman Tiongkok kuno itu terus memandangi Irul, manusia yang sudah sanggup menjatuhkan dirinya. Ia semakin waspada dan tidak lagi memandang remeh orang-orang yang ada di depannya.


    Ya, sebenarnya saat perempuan aneh itu berusaha merebut Melian, akan dengan mudah mendapatkannya. Karena Melian sudah terkena serangan saraf otak yang dikirimkan oleh perempuan itu. Dan Melian sudah tidak memiliki kesadaran untuk berfikir. Pastinya akan menurut saja dengan hipnotis yang dilancarkan oleh wanita itu. Namun kenyataannya, laki-laki yang bersama dengan Melian, yang berusaha untuk melindungi gadis yang akan diculik itu, justru sanggup menghalang-halangi dan membuat tubuhnya terpental jatuh saat memukul lrul.


    Irul sendiri yang merupakan manusia biasa, yang tidak mempunyai kekuatan apa-apa, bahkan tidak bisa berkelahi, juga merasa heran saat wanita sakti itu memukul tubuhnya, justru membuat perempuan yang memukulnya itu terpental jauh dan jatuh bergulingan menghantam batu bongpai. Tentu benturan itu justru membuat perempuan aneh itu menjerit kesakitan.

__ADS_1


    Ternyata, saat perempuan utusan dari Negeri Naga itu mengarahkan tangannya memukul Irul, secara kebetulan kepalan tangannya mengenai saku celana Irul. Kebetulan, dalam saku celana itu, Irul mengantongi empat buah batu permata yang dulu diberi oleh Nenek Jumprit sebagai bekal untuk hidup. Mestinya lima buah, namun yang satu sudah dijual bersama istrinya untuk modal usaha.


    Batu-batu permata yang ada di dalam saku celana Irul tersebut ternyata bukanlah batu sembarangan. Batu permata itu memiliki kekuatan gaib yang tidak pernah diketahui oleh Irul. Ketika datang bahaya yang dilancarkan oleh perempuan aneh itulah keajaiban kekuatan batu jimat itu keluar. Pukulan dari perempuan yang mengenai batu itu mengakibatkan ada benturan diantara empat batu jimat yang ada di kantong celana Irul. Benturan batu-batu jimat tersebut mengakibatkan keluarnya makhluk-makhluk gaib yang menghuni batu jimat itu. Sebut saja makhluk-makhluk itu adalah jin.


    Irul memang tidak tahu. Bahkan saat bersama istrinya, batu-batu permata itu diperlihatkan, dan untuk dijual, mereka hanya sanggup menyaksikan keindahan batu itu. Tetapi mereka berdua tidak tahu bahwa batu itu sebenarnya adalah batu jimat yang diberikan oleh Nenek Jumprit untuk menjaga diri Irul. Makanya, Irul tidak pernah tahu bahwa batu itu bukanlah permata sembarangan. Jika tahu hal itu, mungkin ia akan menjaganya dengan perawatan khusus.


    Makhluk-makhluk gaib yang menghuni batu itu mestinya ada empat wujud yang berdiam di setiap batu jimat. Sesuai dengan jumlah batu jimat yang diakntongi. Setiap batu jimat memiliki satu makhluk penunggu. Namun saat mendapat serangan dari perempuan aneh itu, wujud yang muncul hanya satu penunggu, berupa manusia raksasa tinggi besar, yang mengenakan pakaian seperti raja dalam wayang orang. Di bagian kepalanya mengenakan mahkota. Di bagian lehernya ada semacam hiasan dari emas yang menutup mulai dari leher hingga di bagian atas dada. Kemudian di lengan bagian atas juga terdapat hiasan gelang dengan sayap-sayap. Pakaiannya mulai dari perut ke bawah, mengenakan kain jarik sutera dengan warna kuning mengkilap, yang diblebet sabuk besar di perutnya. Sabuk itu pun dihiasi dengan batu-batu permata warna-warni yang sangat indah. Persis seperti layaknya seorang raja dalam wayang orang dengan ukuran raksasa tinggi besar. Inilah sosok tokoh Baladewa.


    Saat pemilik batu jimat itu mendapat ancaman bahata, makhluk gaib inilah yang mencul memberi perlawanan kepada musuhnya. Sosok Baladewa itu langsung menangkis dan menghantam orang yang menyerangnya. Saat itu, perempuan aneh yang tidak mengira akan mendapat serangan, ia tidak sanggup menghindar dan terkena pukulan raja raksasa itu. Sesakti apapun perempuan dari Sungai Kuning itu terpental dan jatuh tersungkur saat terkena pukulan dari raja raksasa yang pasti sangat kuat dan keras.


    Tentunya Irul sendiri juga tidak tahu kalau ada kekuatan gaib yang keluar dari benda jimat yang ia kantongi. Yang ia duga justru gelang giok yang dikenakan oleh Melian itu yang sudah mengeluarkan kekuatan gaib. Hal itu karena Irul sudah mendengar cerita dari Melian tentang keanehan gelang yang ada di lengannya.


    "Kurang ajar ...!!! Berani sekali kalian melawanku ...!" bentak perempuan aneh yang sudah mulai berdiri dan bersiap akan melawan dua orang yang ada di depannya itu.


    "Mas Irul hati-hati .... Biar aku yang hadapi wanita ini ...." kata Melian yang sudah bersiap dengan memasang kuda-kuda serta tangan menentang.


    "Hiyaaaa .......!!!!" perempuan dari Sungai Kuning itu meloncat menyerang Melian. Gerakannya yang gesit bagai burung walet yang terbang menyambar mangsa itu, langsung menuju ke arah sasaran. Kepalan tangannya memukul muka Melian.


    Melian mengelakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Menghindari serangan yang langsung dahsyat itu, yang tentu ingin melukai dan menjatuhkan Melian. Pukulan-pukulan tangan kanan dan kiri dari perempuan Sungai Kuning itu berhasil dielakkan. Tidak ada yang mengenai sasaran. Hanya angin dari kuatnya pukulan itu yang terasa hingga ke tubuh Irul yang cukup jauh di belakang Melian.


    Merasa pukulannya hanya mengenai tempat kosong, tanpa menyentuh sasaran sedikitpun, perempuan itu kaget. Ternyata gadis bernama Melian yang bertanda gelang giok berukir naga di lengannya itu bukanlah gadis sembarangan. Maka perempuan Sungai Kuning itu kembali melancarkan serangan-serangannya. Kini tidak hanya pukulan tangan, tetapi juga tendangan-tendangan kakinya yang sangat dahsyat.


    Melian yang tahu kalau perempuan aneh itu bukanlah wanita sembarangan, bukan seperti brandal-brandal atau penjahat-penjahat kelas coro yang pernah ia kalahkan. Ia mulai kesulitan untuk menghindar. Ia harus menangkis dan juga membalas serangan. Maka dalam waktu sekejap, tempat pemakaman itu sudah berubah menjadi arena perkelahian dua wanita yang memiliki kemampuan bela diri tingkat tinggi. Saling pukul, saling serang, saling menghindar dan saling melawan.


    "Hiyaaaa .......!!!!" lagi-lagi, perempuan dari Sungai Kuning itu meloncat menyerang Melian. Pukulan-pukulan tangannya mengarah ke segala penjuru. Kakinya berkali-kali melayang ke udara, menyerang dengan tendangan-tendangan yang mematikan. Yang diarah bagian dada dan kepala Melian.


    Melian jungkir balik menghindar. Tentu tidak mau terkena pukulan maupun tendangan. Berkali-kali Melian melompat dan bersalto ke udara. Bahkan juga berguling di tanah, agar tidak terkena tendangan.

__ADS_1


    Namun Melian, meski gadis yang baru mekar, dan tidak terlalu memperhatikan pentingnya ilmu bela diri, tetap masih bisa mengimbangi perlawanan dari musuhnya yang jauh lebih berumur dan berpengalaman di dunia persilatan. Bahkan berkali-kali pukulan dan tendangan Melian yang terkadang diluncurkan, selalu mengarah dan hampir mengenai musuhnya. Tentu perlawanan Melian ini juga mengakibatkan perempuan aneh itu kelabakan untuk menghindari pukulan-pukulan Melian.


    Sementara itu, Irul yang hanya bisa menonton, tidak berani mendekat. Ia takut kalau sampai dua wanita yang sedang beradu kehebatan itu justri akan mengenai dirinya. Apalagi Irul adalah laki-laki desa yang awam dan tidak paham dengan perkelahian silat yang sangat membahayakan itu. Irul hanya sanggup berdoa, agar Melian bisa selamat dan mampu mengalahkan perempuan dari Sungai Kuning tersebut.


    Bukan wanita hebat kalau membawa amanat tidak bisa menyelesaikan perintah Sang Raja. Wanita yang dikirim untuk menangkap Melian, pastilah memiliki ilmu bela diri yang sangat tinggi. Rupanya, perempuan aneh itu sudah bosan dengan bermain-main. Ia ingin segera menangkap dan membawa Melian ke negerinya.


    "Hait ..., hiyaaaaa ....!!!" perempuan itu melompat tinggi, menginjakkan kakinya di ujung bongpai. Lantas seperti ada pegasnya, tubuh wanita itu melenting tinggi. Lantas tubuh yang melayang di udara itu, menunjam ke bawah, presis ke arah Melian, seperti burung rajawali yang akan menerkam anak ayam.


    "Hiyaaaaa ......!!!" perempuan itu mengarahkan jari-jari tangannya yang seolah menjadi cakar, akan menerkam tubuh Melian.


    Melian berusaha menghindar. Namun gerakan perempuan itu sangat cepat. Bagaikan kilat yang menyambar-nyambar ke berbagai arah.


    "Dueghk ....!!" terdengar suara tendangan.


    Melian yang konsentrasi menghadapi cakar-cakar yang mengarah ke berbagai penjuru, tidak menyangka kalau ternyata kaki perempuan itu tiba-tiba menendang tubuhnya. Dada Melian terkena tendangan dahsyat dari pendekar Sungai Kuning tersebut,


    "Glabrought ...!!" tubuh Melian terguling di tanah.


    "Awas Melian ....!!!" Irul berteriak keras, karena takut akan terjadi apa-apa pada Melian.


    Sesaat Melian terdiam. Dadanya terasa sesak. Susah untuk dibuat bernafas. Irul langsung menolong Melian. Membangunkan tubuh Melian yang jatuh tergeletak.


    "Aduh, Mas Irul .... Sakit rasanya dada saya ...." kata Melian yang merintih kesakitan dipapah Irul.


    "Hati-hati, Melian .... Perempuan aneh itu sangat lihai dalam perkelahian ...." kata Irul yang mencoba menguatkan Melian.


    "Iya, Mas ...." jawab Melian yang masih dipapah oleh Irul. Baru kali ini ia tak berkutik menghadapi musuhnya. Tentu musuh yang belum diketahui asal-usul dan niatannya.

__ADS_1


    "Hahahahaha .... Hanya sebegitu kekuatanmu .... Percuma kamu melawanku, Melian ....!!" perempuan aneh dari Sungai Kuning itu berdiri bertolak pinggang, menertawakan Melian yang jatuh kesakitan, karena terkena tendangannya.


__ADS_2