GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 21: PENGUBURAN CIK LAN


__ADS_3

    Pagi itu, Jamil sudah bersiap mengantarkan kembali Melian ke rumah engkongnya. Namun tentu tetap menunggu Juminem beres-beres rumah. Seperti biasa, setiap pagi Juminem harus menyapu halaman rumah. Tentu matanya tidak nyaman kalau menyaksikan halaman rumah penuh dengan daun-daun kering yang berjatuhan. Memang di depan rumah Jamil ada pohon mangga dan rambutan. Kalau musim mragasi, daun-daun berguguran banyak sekali. Itu yang menuntut Juminem harus rajin menyapu setiap pagi. Walau kini ia harus menyapu sambil menggendong Melian, tapi Juminem merasa senang karena dapat momongan. Anak yang didamba-dambakan sejak menikah.


    Demikian juga Jamil, yang lebih rajin untuk mengurus rumahnya. Pagi hari ia sudah memasak air di dapur, tentu untuk memandikan Melian. Bayi harus dimandikan dengan air hangat. Tetapi pagi itu, Jamil terlihat tergesa, tentu karena harus segera mengembalikan Melian kepada engkongnya.


    "Jum ..., airnya sudah matang .... Sana bayinya dimandikan dahulu ...." kata Jamil yang memberitahu istrinya.


    "Iya, Kang .... Sebentar lagi .... Tanggung Kang ..., tinggal sedikit." sahut Juminem yang masih menyapu.


    "Wee ..., Juminem punya anak, to ...?" tanya tetangganya yang kebetulan lewat di jalan depan rumahnya.


    "Hehe ..., cucunya Babah Ho, Mbakyu ...." jawab Juminem sambil membetulkan gendongan Melian.


    "Walah cantiknya .... Kamu yang momong?" tanya orang itu lagi.


    "Iya, Mbok .... La wong tadi malam sudah diantar ke sana, ee ..., ikut pulang lagi. Maunya sama saya, Mbakyu ...." sahut Juminem.


    "Wealah .... Beneran to, Jum .... Dipek anak saja ...." kata wanita itu lagi, yang tentu membuat hati Juminem merana, karena ia memang belum punya anak.


    "Maunya begitu, Mbakyu .... Tapi Kang Jamil tidak mau ...." sahut Juminem dengan rasa agak kecewa.


    "Jum ...! Cepat Melian dimandikan, airnya selak keburu dingin ...!" Jamil berteriak dari dalam dapur.


    "Iya, Kang ...." sahut Juminem yang tentu langsung menaruh sapunya. "Sudah ya, Mbakyu .... Saya mau memandikan melian dahulu ...." kata Juminem lagi berpamitan meninggalkan tetangganya itu.


    "Iya .... Ini aku juga mau belanja ke warung." sahut wanita tetangganya Juminem itu sambil melangkah pergi meninggalkan halaman rumah Juminem.


    Juminem pun melangkah masuk, bersiap memandikan Melian. Tentu dengan rasa senang, gembira dan bahagia. Ya, Juminem merasakan sangat bahagia bisa merawat bayi cantik dan menggemaskan itu. Dengan canda tawa, senda gurau, Juminem bermain kecipak air bersama si kecil cantik itu.


    Jamil yang berdiri di pintu antara rumah induk dan dapur, memperhatikan secara seksama apa yang dilakukan oleh istrinya saat memandikan anak yang ditemukannya itu. Tanpa terasa, air mata menetes membasahi pipinya. Ada rasa iba, ada rasa sayang, ada rasa kasihan. Dan tentunya rasa ingin punya bayi seperti bocah yang sedang dimandikan oleh istrinya tersebut.


    "Kang ..., tolong ambilkan anduk, Kang ...." kata Juminem meminta bantuan suaminya.


    "Eh ..., iya, Jum ...." Jamil kaget mendengar kata-kata istrinya. Ia pun langsung mengangkat lengan, menempelkannya ke mata, untuk menyeka air mata yang keluar membasahi pipi. Ia pun langsung menyeret kain handup yang bagian ujungnya sudah robek separo, lantas memberikan handuk itu kepada istrinya. Maklum Jamil dan Juminem tergolong kurang mampu, maka untuk beli handuk tentu akan berfikir dua kali. Yang penting handuk itu masih bisa dipakai mengusap air yang menempel di tubuh.


    "Ini, Jum ..., anduknya ...." kata Jamil yang memberikan handuk ke istrinya.


    "Iya, Kang .... Nang kintung ..., kintung .... Cantik ya, Kang ...." kata Juminem yang mengangkat Melian dan menyelimutkan handuk ke tubuh bayi itu.


    "Iya, Jum .... Kapan kita bisa punya anak seperti ini ya, Jum?" sahut Jamil yang memalas.


    "Halah .... Gak usah mikir, Kang .... Anggap saja Melian ini anak kita .... Nanti saya mau bilang Babah Ho, Melian mau saya momong .... Hehe ...." kata Juminem yang tentu ingin merawat Melian.


    "Semoga saja boleh ya, Jum ...." sahut suaminya.


    Juminem terus menyalini Melian. Diberi minyak kayu putih, dikasih bedak talk, serta disisiri rambutnya. Baju merah yang dipakai saat pertama kali bertemu Juminem, dikenakan ke Melian. Ya, terlihat sangat cantik.


    "Kang, tolong Melian digendong dahulu .... Saya mau mandi." kata Juminem sambil menyerahkan Melian kepada suaminya.


    "Ya, cepetan ...." sahut Jamil yang langsung membopong bayi perempuan itu. "Ih, cantiknya .... Ih, wanginya .... Anak siapa sih ini ...?" Jamil menimang bayi itu, tentu sambil menciumi Melian berkali-kali. Memang bayi itu sangat cantik dan menggemaskan. Apalagi bagi Jamil yang memang sangat ingin punya anak. Maklum, sudah lama menikah ia belum dikaruniai keturunan.

__ADS_1


    Setelah beberapa saat bersiap, Juminem sudah siap. Meskipun tidak mengenakan baju baru, setidaknya rok yang dikenakan Juminem masih tergolong bagus karena memang jarang dipakai. Demikian juga Jamil, yang mengenakan baju koko dan peci warna putih. Pakaian lebaran tahun kemarin. Yang pasti Jamil dan Juminem terlihat bagus dan rapi. Maklum akan bertamu di rumah orang kaya. Demikian juga Melian yang terlihat ceria saat dipangku Juminem.


    Jamil sudah melajukan kendaraannya. Memboncengkan Juminem yang memangku Melian. Perlahan kendaraan itu menyusuri jalan kampung dari Kampung Sarang menuju Lasem. Tentu dengan senyum ceria. Hingga tanpa terasa, motor butut itu sudah sampai di rumah Babah Ho, belakang sisi selatan Pasar Lasem.


    "Halah, Kang ..., kok ramainya kayak gini ...?" kata Juminem yang turun dari boncengan suaminya.


    Tentu Juminem bingung melihat kendaraan yang sangat banyak, berjajar di jalan menuju rumah Babah Ho. Ada beberapa bis, mobil pribadi, dan tentunya ada ambulan yang nanti akan mengusung jenazah Cik Lan. Motor yang ada di situ tidak kehitung jumlahnya. Maklum, Babah Ho memang sangat terkenal di Lasem.


    "Tidak apa-apa .... Yang penting kita masuk menemui Babah Ho, dan menyerahkan Melian. Sudah ...." kata Jamil sambil menyetandarkan sepada motornya.


    Selesai menata kendaraannya rapi di parkiran, Jamil langsung mengajak Juminem menuju rumah Babah Ho. Mereka menelusup diantara banyak tamu yang ramai di halaman rumah Babah Ho. Rata-rata tamu dari orang-orang keturunan Cina. Walau juga banyak penduduk Lasem asli yang juga melayat. Para tamu ini tentunya akan ikut menghantarkan Cik Lan, yang katanya akan dimakamkan di Gunung Lasem.


    "Pelan-pelan, Kang ...." kata Juminem menyuruh suaminya agar tidak terlalu cepat jalannya.


    "Ya .... Itu Babah Ho, ada di depan rumah." sahut Jamil yang sudah melihat Babah Ho.


    "Oh, iya .... Itu engkongnya Melian ...." kata Juminem sambil menunjukkan Babah Ho kepada Melian yang digendongnya.


    Dan selanjutnya, Jamil bersama Juminem sudah sampai di depan Babah Ho. Lalu katanya, "Babah Ho, ini Melian, cucu Babah Ho ...."


    "Hah ..., owe olang balu mau ngantel anak owe .... Tolong lu olang ajak Me Me dulu ..., ha ...." sahut Babah Ho.


    "Waduh .... Bagaimana to ini ...?! Lha kok malah disuruh mbawa dulu .... Lha terus nanti Melian bagaimana? Apa kami harus ikut mengantar jenazah ibunya Melian ke kuburan, Kong ...?" tanya Jamil, yang tentunya bingung dengan jawaban Babah Ho.


    "Ha, iya ..., boleh ...." sahut Babah Ho.


    "Lu olang kelja da mana, ha ...?" tanya Babah Ho.


    "Cari batu kapur, Kong .... Saya buruh ngambil batu kapur di Sarang ...." jawab Jamil.


    "Hah, lu olang tukang cali kapul, ha ...? Nanti owe bayal ...." kata Babah Ho yang akan membayar Jamil untuk mengajak cucunya lebih dahulu.


    "Ada apa ...? Jangan ribut di depan jenazah yang akan berjalan menuju nirwana." tiba-tiba istri Babah Ho mendekat dan membisik kepada Jamil dan Juminem.


    "Ini Cik, Melian bagaimana ...? Saya harus serahkan siapa ...?" tanya Jamil yang masih bingung.


    "Sudah ..., tidak usah ribut. Tolong ajak dahulu cucu saya, nanti kamu ikut ke kuburan, naik bis. Nanti setelah acara pemakaman ibunya Me Me selesai, kamu balik da sini. Saya mau kasih upah untuk kamu. Tidak usah khawatir." begitu kata istri Babah Ho.


    "Ya, Cik .... Terima kasih ...." jawab Jamil yang akhirnya menurut.


    "Gimana, Kang?" tanya Juminem pada suaminya.


    "Kita ikut ke tempat penguburan, sekalian menggendong Melian .... Ya, idep-idep menolong Melian menyaksikan penguburan ibunya." jawab Jamil yang sudah mengajak Juminem berjalan keluar.


    "Gitu ya, Kang ...?" sahut Juminem sambil mengelus kepala Melian.


    Mereka berdua mundur dari kelompok keluarga Babah Ho yang sudah berbaris di depan rumah akan berangkat ke kuburan. Jamil dan Juminem langsung berjalan menuju bis yang sudah disediakan untuk para pelayat. Tidak hanya Juminem dan Jamil, tetapi ternyata di dalam bis sudah ada beberapa orang yang duduk, yang tentunya juga akan ikut mengantar pembakaran mayat Cik Lan.


    "Wuiiiiingngng .......!!!" suara sirine mobil jenazah mendengung.

__ADS_1


    Sebentar kemudian, mobil jenazah yang membawa Cik Lan sudah berjalan paling depan. Kemudian diikuti beberapa mobil sedan pribadi serta mobil-mobil stesen. Selanjutnya tiga buah bis melaju beriringan mengikuti ambulan jenazah. Di belakangnya, banyak pelayat yang naik motor berboncengan, ikut menuju tempat pemakaman.


    Tidak lama, hanya sekitar dua puluh menit, ambulan dan barisan mobil pelayat sudah sampai di bong tempat pemakaman warga keturunan Cina. Yan, di Gunung Lasem. Demikian juga bis yang dinaiki oleh Jamil dan Juminem.


    Pagi itu, matahari belum terlalu tinggi. Baru sekitar pukul sembilan pagi. Sinar terang menyorot dari langit, tanpa ada awan setitik pun. Sangat terang. Sehingga meskipun baru jam sembilan, panas terik itu sudah terasa menyengat umbun-umbun. Meski demikian, orang-orang ikut menaiki bukit gersang tempat bong yang akan digunakan untuk mengubur Cik Lan.


    Tidak ketinggalan, Jamil dan Juminem ikut naik ke bukit. Tentu Juminem sambil menggendong Melian. Karena jalannya menanjak, Juminem terasa agak berat dan capai.


    "Capek, Kang .... Mbok ya agak sejuk ya ..., jangan panas begini ...." kata Juminem yang kelelahan. Kebetulan di dekat ia berdiri ada bangunan rumah yang digunakan untuk menaungi makam. Maka ia berteduh di tempat itu.


    "Gimana, Jum ...? Sini, Melian saya gendong ...." tanya suaminya yang mengganti menggendong Melian.


    "Panas ..., Kang ...." sahut Juminem sambil mengipas-kipaskan selendang yang ia gunakan untuk menggendong Melian.


    Hal aneh terjadi, baru saja Juminem mengatakan kepanasan, tiba-tiba langit berubah warna menjadi hitam. Mendung seakan menutup seluruh langit. Dan ....


    "Jduaaarrr ....!!!"


    Petir menyambar tengah bukit pemakaman tersebut. Sangat keras dan kilatan apinya terlihat besar. Orang-orang yang ada di pemakaman itu terkejut. Kaget bukan kepalang. Dan tidak selang waktu, hujan lebat pun turun mengguyur Gunung Lasem. Orang-orang yang melayat berhamburan berlarian mencari tempat berteduh. Tentunya pada lari ke cungkup-cungkup rumah kuburan. Termasuk keluarga Babah Ho, yang tidak menyangka kalau akan terjadi hujan lebat dengan petir yang menyambar-nyambar itu. Bahkan orang yang tadi memikul peti mati, dan belum sempat memasukkan peti mati itu ke dalam lubang kuburan, mereka juga ikut lari.


    Peti mati jenazah Cik Lan ditinggalkan begitu saja.


    "Lho ..., bagaimana to itu .... Lha kok peti jenazahnya ditinggalkan begitu saja ...." kata Juminem yang berteduh bersama Jamil dan Melian.


    Tentu Jamil dan Juminem tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya mampu melihat peti jenazah yang tergeletak itu. Dan hujan pun semakin lebat, guyuran air sangat deras. Sampai pandangan mata tidak sanggup menyaksikan dalam jarak beberapa meter saja. Yang jelas, di pekuburan tempat yang akan digunakan untuk mengubur Cik Lan sudah tidak ada orang. Hanya tinggal peti mati sendirian.


    Namun Juminem masih bisa melihat. Dari tadi ia mengamati peti mati itu. Tentu karena perasaannya yang kasihan terhadap Melian yang akan ditinggal oleh ibunya dalam kuburan.


    "Kang .... Kang ...! Kang ...!! Lihat Kang ....!" kata Juminem pada suaminya sambil menunjuk ke arah peti jenazah Cik Lan.


    "Ada apa ...?" tanya Jamil sambil melongok-longokkan kepalanya, ingin tahu apa yang ditunjuk istrinya.


    "Mama .... Ma .... Ma .... Ma ...." Melian seakan bicara, menyebut kata-kata mama. Mungkin ia memanggil mamanya, atau memberi tahu kepada Jamil dan Juminem agar melihat peti mamanya.


    Juminem dan Jamil mengamati kuburan itu. Mengamati peti jenazah Cik Lan. Ya, benar-benar ada keanehan. Seakan peti jenazah Cik Lan itu ada yang mengangkat. Tetapi tidak terlihat orangnya. Peti itu terangkat seperti melayang, tepat diatas libang kubur. Lantas secara perlahan turun, masuk ke lubang kubur.


    "Kang .... Kok ....?!" Juminem tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.


    Demikian juga Jamil yang hanya diam, melongo menyaksikan peristiwa yang dilihatnya. Tidak percaya dengan apa yang terjadi di depan matanya.


    "Mama .... Ma .... Ma .... Ma ...." Melian kembali mengucap.


    "Duaaaarrrr .....!!!"


    Kembali petir menyambar. Suaranya sangat keras, seakan menulikan telinga orang yang mendengarnya. Tetapi kebalikan dengan petir yang pertama. Kini hujan menjadi reda, dan langsung terang. Hujan mengilang, bersama menghilangnya awan. Langit pun kembali terang, matahari kembali bersinar.


    Orang-orang langsung kembali menuju tempat pemakaman Cik Lan. Jenazah Cik Lan sudah terkubur. Timbunan tanah pun sudah rapi dan rata. Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi saat hujan deras tadi. Demikian juga Babah Ho, istri maupun keluarganya. Yang mereka tahu, penguburan itu sudah selesai.


    Juminem dan Jamil saling pandang. Yang ia lihat selama hujan deras tadi, benar atau tidak. Ia pun tidak tahu kebenarannya.

__ADS_1


__ADS_2