GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 152: MEMBUKA RAHASIA


__ADS_3

    "Dek ..., apakah benar kamu berniat untuk membuka toko?" tanya Irul pada istrinya. Tentu saat berduaan di kamar, sambil bermesraan sebagai pengantin baru.


    "Itu kalau Mas Irul setuju .... Kalau memang berkenan, kita kan bisa mengelola bersama .... Setidaknya nanti kita berjualan di toko barengan. Saya yang jualin, Mas Irul yang mengantar barang-barang ke pelanggan. Jadi bisa lebih senang pelanggannya. Semacam servis untuk pelanggan. Itu teori saya, lho, Mas ...." kata Indra yang memberi gambaran pada suaminya.


    "Benar juga .... Dulu waktu saya membantu Babah Ho, memang tokonya sangat laris, karena pelanggan-pelanggannya senang kalau belanja saya antarkan sampai rumahnya. Jadi kalau belanjaannya banyak, mereka tidak repot membawanya." sahut Irul yang menceritakan saat menjadi karyawannya Babah Ho.


    "Iya .... Maksud saya seperti itu ..., Mas." Irul membetulkan.


    "Tapi ..., untuk beli kios dan mengisi dagangan, kita mesti punya uang banyak, Dek .... Uang dari mana? Tabungan saya mana cukup, Dek ...." kata Irul yang tentu bingung kalau harus membuka usaha jualan.


    "Aku juga punya sedikit tabungan, Mas .... Apa kita hutang bank saja?" usul Indra.


    "Jangan Dek ...." kata Irul melarang istrinya untuk pinjam uang ke bank.


    Ya, memang Irul hidupnya sangat sederhana. Tidak pernah mau pinjam atau utang keapa siapapun. Apalagi sampai hutang ke bank. Pasti Irul tidak akan mau. Karena menurutnya, hutang itu beban yang harus ditanggung. Belum lagi kalau hutangnya itu ada bunganya, konon ia tidak mau berhubungan dengan lintah darat, tidak mau hubungan dengan rentenir. Orang-orang yang menghutangkan uang dengan berbunga, itu pekerjaan kotor yang tidak berkah. Lintah darat atau rentenir itu ibarat kata sebagai manusia yang penuh dosa, orang yang tega menyengsarakan orang lain yang sedang menderita. Orang yang tidak membantu, tetapi menambah penderitaan orang lain. Dan Irul tidak suka dengan manusia-manusia seperti itu.


    Makanya, kalau sekarang istrinya usul mau pinjam ke bank, ia pasti langsung menolak. Bahkan saat Indra dulu berkenalan dengan Irul, dan mengaku sebagai pegawai bank, sebenarnya Irul agak kurang senang. Makanya, saat Indra datang ke Kampung Naga untuk merembug masalah pernikahan, dan mengatakan kalau dirinya keluar dari pekerjaan, Irul sangat senang. Tentu karena calon istrinya kala itu sudah terbebas dari pekerjaan kotor.


    "Tapi, Mas ..., kita tidak punya modal yang cukup untuk buka usaha ...." kata Indra yang tentunya menjadi bingung manakala suaminya membermasalahkan hutang itu tidak baik dan menjadi beban.


    Tiba-tiba Irul turun dari tempat tidur. Melepas belaian istrinya. Ia bangun dan membuka tas pakaian yang dibawanya dari Juwana. Ada sesuatu yang disimpan dalam kantong tas Irul. Tentu sesuatu yang dirahasiakan. Lantas ia mengambil bungkusan kain putih dari sutera yang ada dalam kantong tas itu. Ia amati buntalan itu. Lantas ia bawa ke tempat tidur, ia tunjukkan kepada istrinya. Dua orang pengantin baru itu tengkurap berjejeran di atas kasur.


    "Dek ..., kalau batu permata seperti ini, kira-kira bisa dijual apa tidak?" kata Irul yang menunjukkan isi buntalan kain putih tersebut, yang berisi lima buah batu permata dengan aneka warna.

__ADS_1


    "Apa ini, Mas ....? Ini intan, Mas Irul? Mas Irul dapat dari mana?" tanya Indra pada suaminya, tentu sambil mengamati benda yang disodorkan oleh suaminya itu kepadanya.


    "Saya juga mengira seperti itu .... Ini batu permata jenis intan ...." jawab Irul sambil menunjukkan sebutir yang bening cemerlang, gilap dan memantulkan cahaya gemerlap.


    "Iya, Mas .... Ini harganya mahal .... Mas Irul dapat dari mana?! Hayo ngaku, Mas .... Aku tidak mau punya suami yang mencuri milik orang lain!" kata Indra yang tentu membalas tidak senang kalau ada barang atau uang dari hasil pekerjaan kotor, seperti mencuri.


    "Sabar, Dek .... Sebenarnya ini rahasia .... Ceritanya tidak masuk akal .... Tetapi ini kenyataan, dan Dek Indra sudah melihatnya." kata Irul yang ingin menceritakan.


    "Dari mana, Mas ..., dapatnya?" tanya Indra mendesak suaminya.


    "Dek ..., kamu ingat waktu kita mencari Melian? Waktu di Bandungan itu?" tanya Irul pada istrinya.


    "Iya, Mas .... Apa hubungannya?" sahut Indra.


    Tentu Indra terkesima dengan cerita suaminya. Inilah hal yang terkadang di luar nalar, hal yang tidak mungkin, segala sesuatunya itu bisa jadi mungkin dan nyata. Indra sangat terkesima menyaksikan suaminya yang sudah menerima kenyataan hidup yang aneh itu. Tentu tidak semua orang bisa seperti itu. Namun fakta itu terjadi pada suaminya. Pasti Irul ini termasuk salah satu orang yang beruntung.


    Berkali-kali Indra mengamati benda-benda itu. Jemarinya yang memegangi, menerawangkan ke arah lampu. Menyaksikan cahaya gemerlap yang terpancar dari batu-batu permata itu. Meyakinkan keindahannya, dan tentu keasliannya.


    "Pasti ini harganya mahal, Mas ...." kata Indra yang masih menerawang benda yang dipeganginya itu.


    "Cuman jualnya ke mana?" tanya Irul yang tentu tidak paham dengan barang langka semacam itu.


    "Ya ..., di tempat penjual perhiasan, Mas .... Atau saya kalau boleh, mau menghubungi nasabah-nasabah saya dulu, yang usahanya di toko emas dan perhiasan .... Tapi mesti ke Semarang, Mas ...." kata Indra yang ingin mencoba ikut memasarkan.

__ADS_1


    "Boleh .... Tidak apa-apa, Dek .... Coba saja .... Siapa tahu ada yang mau. Kalau laku terjual, kan bisa untuk modal usaha kita ...." sahut Irul yang tentunya merasa senang kalau benda-benda batu permata itu bisa dijual.


    "Iya, Mas .... Tolong pilihkan dua saja dulu, mana-kira-kira yang akan kita tawarkan." kata Indra yang mengusulkan pada suaminya.


    "Menurut Dek Indra, mana yang bisa terjual dengan harga yang cukup tinggi?" tanya Irul pada istrinya.


    "Ini intan semua, Mas .... Dalam perhiasan orang-orang menyebutnya diamon. Tapi tentu tidak semua orang sanggup membelinya. Ini terlalu besar untuk sebuah perhiasan. Hanya kolektor benda-benda mahal yang mau membelinya. Tapi harus kita coba, Mas .... Siapa tahu memang takdir kita mendapat modal dari barang ini. Bagaimana kalau kita coba bawa dan tawarkan yang putih bening sama merah ini, Mas?" usul Indra kepada suaminya.


    "Iya .... Saya setuju .... Kapan kita ke Semarang?" tanya Irul yang tentu sudah tidak sabar untuk menjual batu permata pemberian Nenek Jumprit itu.


    "Sabar, Mas .... Kata Bapak kita belum boleh pergi-pergi sampai sepasar .... Besok saya akan coba telepon teman-teman di Semarang, untuk menghubungkan ke pengusaha perhiasan yang kira-kira mau membeli." kata Indra yang tentu juga harus mencari relasi yang bisa membantu.


    "Iya, Dek .... Saya ngikut sama Dek Indra saja .... Semoga bisa berhasil ya, Dek ...." kata Irul yang pasrah dengan istrinya.


    "Sudah larut malam, Mas .... Kita tidur dulu, besok biar gak kesiangan ...." kata Indra yang mengajak suaminya untuk tidur.


    "Langsung tidur? Tanpa ada anu-anu yang lain dulu ...?" tanya Irul mencoba menggoda.


    "Anu-anu apa, Mas .... Ini sudah malam .... Besok kalau kesiangan saya malu, Mas .... Nanti dikira gituan melulu .... Hehehe ...." Indra mencoba menggoda suaminya.


    Namun, tangan Irul sudah mulai keluyuran ke mana-mana. Bahkan menyentuh barang-barang terlarang. Yang tentunya itu justru menyebabkan Indra kelabakan. Dan mesti harus dilanjutkan dengan aktivitas yang lain, yang tentu untuk menyelesaikan pikiran yang sudah terlanjur melayang ke mana-mana.


    Akhirnya, malam itu pengantin baru sudah menyelesaikan beban tanggung jawab yang harus dilakukan sebagai obat pengantar tidur.

__ADS_1


    Irul dan Indra pun tertidur pulas dengan kenikmatan mimpi yang menyenangkan.


__ADS_2