GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
chapter 204: MEMBEZUK


__ADS_3

    Parmo langsung mengangkat HP kecilnya, menghubungi istrinya. Ia harus memberi tahu keluarga yang ada di rumah agar lebih tenang. Orang-orang, terutama ibu dan bapak mertuanya tidak bertanya-tanya.


    "Halo ..., Nur ...! Haloooo ....!" Parmo menelepon istrinya tetapi belum diangkat-angkat,


    "Ya ..., ya ..., Mas Parmo .... Gimana ...?! Ada apa ...?! Cik Indra bagaimana, Mas ...?!" sahut Nurjanah yang sudah membuka dan menjawab panggilan suaminya.


    "Pak-e sama Mak-e masih di situ ...?!" tanya Parmo.


    "Masih, Mas .... Ini semua masih di toko .... Ini juga masih banyak orang yang pada kumpul di toko. Tapi tokonya saya tutup, Mas ...." jawab istrinya.


    "Ya sudah ..., ndak papa ...." sahut Parmo.


    "Cik Indra bagaimana, Mas ...?!" tanya istrinya lagi yang sangat ingin tahu keadaan kakak iparnya.


    "Anu ..., Nur .... Ini belum bisa ngabari hasilnya .... Cik Indra masih berada di ruang ICU. Belum boleh dijenguk. Tapi ini malah anu, Nur ...." kata Parmo belum bisa mengatakan secara langsung.


    "Tapi bagaimana, Mas Parmo .... Dari tadi teleponnya Mas Irul saya hubungi, tapi tidak bisa .... Tidak diangkat." kata Nurjanah.


    "Iya ..., Nur .... Ini Mas Irul justru harus opnam." kata Parmo.


    "Hah ...?!!! Mas Irul kenapa, Mas ...?!!" tanya Nurjanah yang tentu kaget mendengar berita itu.


    "Mas Irul kesurupan .... Tadi jerit-jerit di rumah sakit .... Kata dokter, Mas Irul mengalami depresi, karena syok menyaksikan kondisi Cik Indra .... Sekarang Mas Irul di infus di ruang pasien." jawab Parmo.


    "Walah ......... Lha terus piye, Mas ....??? Huhuhu ...." Nurjanah langsung bingung mendengar kabar itu, dan pasti menangis.


    "Ada apa, Nduk ...?!" tanya ibunya yang pasti juga kepikiran saat melihat anaknya menangis.


    "Ini, Mak .... Mas Parmo telepon, katanya Mas Irul malah dirawat di rumah sakit. Mas Irul diinfus .... Huahuuhuhu ...." jawab Nurjanah yang langsung menangis.


    "Lhooo .... Piye leh ...?! Walaaah .... Iki piye, Pak-ne ...??!! Huhuhuhu ...." ibunya ikut kaget, dan langsung menangis mendengar berita itu.


    "Ada apa ini ...?!" tanya bapaknya yang juga bingung melihat anak dan istrinya menangis.


    "Mas Irul, Pak ...!!" jawab Nurjanah.


    "Irul kenapa ...?!" tanya bapaknya.


    "Anakmu masuk rumah sakit, Pak .... Irul ikut dirawat, diinfus ...." sahut istrinya yang masih menangis.


    "Hah ...?! Lha kenapa ...?!" tanya suaminya.


    "Ndak tahu ...! Ayo, Pak ..., kita ke rumah sakit .... Hua .., huuhu ...." istrinya bertambah membingungi.


    "Mas-mu kenapa Nur ...? Parmo bilang apa ...?" tanya bapaknya pada Nurjanah.


    "Tadi hanya bilang, kalau Mas Irul malah harus diinfus, dirawat di rumah sakit .... Katanya Mas Irul mengalami depresi saat menyaksikan Cik Indra ...." jawab anaknya.


    "Yho wis .... Hayo ..., ayo .... Kita tengok ke rumah sakit ...." kata bapaknya yang langsung mengajak membezuk.


    "saya ikut ...!"


    "Saya juga ikut ...!"


    "Saya ikut ...."


    "Mobilnya siapa ...?"

__ADS_1


    "Minta tolong Pak Bekel ...."


    "Ya ...."


    "Ya, sudah sana .... Yang mau ikut pada siap-siap."


    Orang-orang yang mendengar ajakan bapaknya Irul, langsung pada mau ikut membezuk. Pasti semua warga juga ingin melihat kondisi Irul dan Indra. Ingin tahu keadaannya. Bahkan para warga ini juga ikut prihatin, karena kondisi Indra yang sangat menyedihkan, tetapi sekarang justru suaminya yang akan menjaga malah ikut ambruk sakit. Bagi warga, para tetangganya, Irul dan Indra ini dianggap sangat baik. Tentu mereka ikut bersedih. Kok ya ada yang tega menganiaya orang baik. Termasuk juga kasihan pada Nur yang kalungnya juga ikut ditarik paksa oleh perampok-perampok jahat itu, hingga mengakibatkan leher Nur juga terluka. Untung hanya goresan sedikit saja, tidak terlalu parah.


    Akhirnya, sore itu Pak Bekel membawa truk Colt disel, masuk ke halaman toko tempat Irul. Orang-orang kampung sudah pada mandi dan berganti pakaian, rapi. Yang laki-laki pada mengenakan peci, sedang yang perempuan pada mengenakan kerudung. Ada juga ibu-ibu yang membawa anaknya, katanya kasihan kalau ditinggal di rumah tidak ada temannya. Warga ini sudah bersiap di situ, untuk ikut membezuk Irul dan Indra yang berada di rumah sakit, dengan naik truk.


    Membezuk orang sakit di rumah sakit dengan naik truk adalah hal biasa bagi warga pedesaan. Maklum di daerah itu jarang yang punya mobil bagus. Kebanyakan yang punya mobil adalah truk, Colt tepak, atau mobil-mobil jenis pick-up. Maklum, bagi warga desa punya mobil adalah untuk usaha angkutan. Setidaknya untuk mengangkut batu atau pasir. Ada juga yang untuk mengangkut hewan ternak. Tetapi juga ada yang digunakan untuk mengangkut hasil palawija untuk dibawa ke pasar. Nanti setelah pulang dari pasar, orang-orang yang berbelanja ikut naik sebagai omprengan. Maka bezuk kali ini, yang dilakukan untuk menilik orang sakit yang dirawat di Rumah Sakit Daerah Rembang, para tetangga Irul ini naik truk.


    "Ayo ..., ayo .... Cepat naik ...." seorang laki-laki mengatur orang-orang yang akan ikut bezuk.


    Di bawah bak truk bagian belakang, yang sudah dibuka pintunya diberi kursi dari kayu yang dipegangi laki-laki dewasa.  Lantas di sebelahnya ada dingklik pendek yang biasa dipakai duduk untuk mencuci. Orang-orang yang naik ke truk menggunakan pancatan dingklik dan kursi kayu itu, untuk memudahkan masuk ke bak truk. Terutama bagi perempuan dan anak-anak.


    "Langsung maju .... Yang tengah diisi ...." kata orang yang mengatur, tentu para penumpangnya disuruh maju agar tidak berjubel empet-empetan di belakang.


    "Mbah ..., tolong maju lagi ...." yang masih berdiri di belakang meminta temannya maju.


    "Mas ..., yang di pinggir bak, tangannya jangan dikeluarkan .... Bahaya kalau srempetan dengan kendaraan lain." kata yang lain lagi.


    "Sudah semua ini ...?!" tanya dua laki-laki yang masih di bawah memegangi kursi untuk panjatan naik tadi.


    "Sudah ...!!" teriak yang sudah berada di atas.


    "Kalau sudah semua akan saya tutup pintunya." kata yang di bawah, dan langsung menaikkan kursi serta dingklik ke dalam bak truk di bagian belakang. Lantas pintu bak truk itu ditutup. Dua orang yang mengatur tadi langsung naik.


    "Sudah siap ....!! Tarik ...!!" kata orang yang terakhir naik, dengan memanjat pintu bak belakang.


    Memang unik. Tapi itulah fakta di daerah. Manakala sarana transportasi sangat terbatas, maka apapun yang ada bisa dimanfaatkan. Dan warga masyarakatpun senang. Hal itu terlihat dari senyum orang-orang yang pada naik truk. Sendau gurau dan canda tawa terpancar dari orang-orang yang tidak pernah berfikir yang muluk-muluk. Tapi bagi mereka yang terpenting justru kebersamaan dan rasa persaudaraan yang sangat kuat. Di atas truk itu pun, mereka masih sembat berbagi dengan apa yang dia miliki. Ada yang membawa singkong rebus, mereka bagi-bagi dengan penumpang yang lain.


    "Ini ..., ini .... Ada singkong, siapa yang mau monggo ...." kata perempuan gemuk yang menawarkan bakul berisi singkong rebus.


    "Matur nuwun, Yu ...." jawab orang-orang yang ditawari. Dan bakul berisi singkong itu pun diedarkan ke penumpang-penumpang yang lain. Yang mau langsung mengambil.


    "Kebetulan, ini saya tadi belum sempat makan .... Singkong rebus bisa untuk mengganjal perut." kata laki-laki setengah baya yang tadi tergesa karena baru pulang kerja.


    "Ini ada tahu sama gembus bacem .... Siapa yang mau? Monggo-monggo." kata perempuan yang mengeluarkan tepak plastik berisi baceman. Seperti yang tadi, tepak berisi tahu dan tempe bacem itu dikelilingkan ke orang-orang lain. Dan tepak itu dalam waktu sebentar sudah habis, dikembalikan kepada pemiliknya sudah kosong.


    Tentu banyak jajanan yang dibawa orang-orang yang ikut bezuk. Sehingga mereka tidak takut kelaparan. Ada yang membawa gorengan. Banyak pula yang memegang plastik berisi es teh, di ujungnya ada sedotan. Disedoti sambil menikmati asyiknya naik truk. Sangat mengasyikkan. Kebersamaan yang tidak bisa dilepas dari hakekat masyarakat desa.


    Dan benar, sekitar lima belas menit, truk itu masuk ke parkiran Rumah Sakit Daerah Rembang. Perlahan, dan berhenti di depan pintu masuk rimah sakit. Dua orang laki-laki langsung melompat turun. Lantas membuka pintu bak truk itu. Menurunkan kursi dan dingklik, yang akan digunakan sebagai pancatan para penumpang untuk turun.


    "Monggo ..., silahkan turun pelan-pelan .... Hati-hati ...." kata laki-laki yang sudah memegangi kursi kayu untuk pancatan. Dan tentu sambil memegangi tangan orang yang turun agar tidak jatuh.


    "Tempatnya di mana ...?" tanya yang sudah turun.


    "Tunggu dulu .... Nanti masuk bareng-bareng ...." jawab yang lain.


    Maka mereka langsung berkumpul di belakang truk, untuk menunggu teman-temannya. dan pasti menunggu yang paham ruang-ruang di rumah sakit itu.


    "Ayo ..., ayo .... Lewat sini ...." seorang laki-laki separo baya mengajak orang-orang itu masuk. Akan menjenguk Irul yang dikabarkan juga menjadi pasien yang harus dirawat.


    "Lah ..., itu Mas Parmo ...." seseorang menunjuk ke arah laki-laki yang duduk di teras ruang pasien rumah sakit.


    "Mas Parmo ...!" Nurjanah langsung berteriak memanggil suaminya. Dan tentu langsung berlari menuju tempat suaminya.

__ADS_1


    "Sssttt .... Jangan teriak-teriak .... Nanti nggurahi pasien yang istirahat ...." kata salah seorang yang tentu memberitahu agar yang lain juga tidak ribut.


    Mereka pun semua langsung menuju ke tempat Parmo. Pasti Parmo sedang menunggui kakak iparnya.


    "Mas Irul ada di mana ...?" tanya Nurjanah pada suaminya. Begitu juga ibu dan bapaknya.


    "Itu .... Sedang istirahat .... Ini tadi sudah habis dua infus ...." kata Parmo sambil menunjukkan keberadaan Irul.


    "Wealah .... Apa parah ...?" tanya bapaknya.


    "Pak-e .... Sini, Pak ...." tiba-tiba terdengar suara Irul memanggil bapaknya. Pasti tadi terbangun karena mendengar suara bapaknya.


    "Irul ........ Kamu kenapa, Rul ...? Kok malah diinfus segala ....." bapaknya langsung memeluk Irul. Meskipun laki-laki tegar, melihat anaknya tergolek lemas di ranjang rumah sakit, pasti hatinya langsung bersedih. Air mata pun langsung menetes.


    "Saya tidak apa-apa, Pak .... Hanya butuh penenangan .... Pak-e ndak usah khawatir ...." jawab Irul menenangkan bapaknya.


    "Irul ........ Anakku, Le .... Huk ..., hu .., hu ...." ibunya Irul langsung memeluk dan menciumi anaknya. Pasti langsung menangis sesenggukan.


    "Sudah ..., Mak .... Jangan menangis .... Aku nggak apa-apa, kok ...." kata Irul yang menenangkan ibunya.


    "Kamu cepat pulih yo, Le .... Kasihan istrimu ...." kata ibunya yang masih sesenggukan menangis.


    "Iya, Mak .... Nur mana ...? Khotimah ikut nddak?" kata Irul yang menanyakan adiknya, istrinya Parmo. Dan juga menanyakan Khotimah, adiknya Nur yang masih punya anak kecil.


    "Itu, Nurjanah .... Khotimah saya suruh jaga rumah sambil menjaga bayinya. Nur ..., ini dicari Mas Irul ..." kata ibunya yang langsung memanggil Nurjanah.


    "Iya, Mas ...." Nurjanah langsung mendekat ke Irul.


    "Suamimu biar jaga di rumah sakit dahulu .... Tukijan biar ngurusi toko. Khotimah jangan boleh ke sini, kasihan bayinya. Kamu saja yang wira-wiri. Nanti kalau saya sudah sehat biar saya yang jaga Cik Indra ...." pesan Irul pada adiknya.


    "Iya, Mas .... Lha Cik Indra bagaimana kondisinya, Mas ...?" tanya Nur yang tentu khawatir.


    "Cik Indra masih diruang insentif, belum boleh dijenguk." sahut Irul yang langsung meneteskan air mata, karena teringat istrinya.


    "Maaf, Bapak ...., Ibu .... Waktu bezuk sudah habis .... Mohon segera meninggalkan ruang, pasien harus istirahat ...." tiba-tiba datang suster dengan pakaian putih-putih, mengingatkan para pembezuk yang jumlahnya sekampung, dan sudah tentu, pasti ramai.


    "Ayo ..., ayo .... Sudah disuruh keluar .... Monggo pulang ...." kata laki-laki separo baya mengajak pulang teman-temannya.


    "Iya ..., saya mau salaman dulu sama Mas Irul ...." sahut yang lain.


    "Salaman langsung keluar .... Langsung naik truk, ya ...." kata yang lain lagi.


    "Mas Irul .... Cepat sembuh, ya ...."


    "Cepat sehat, Mas Irul ...."


    "Tidak usah mikir macam-macam Mas Irul ..., yang penting sehat dulu ...."


    "Semoga cepat pulih, Mas ...."


    "Cik Indra juga pulih dan sehat lagi ...."


    "Cepat pulang, Mas Irul ...."


    Para tetangganya yang berpamitan menyalami Irul. Dan pasti mendoakan agar cepat sembuh dan sehat. Dan orang-orang yang bezuk itu, setelah bersalaman memblusukkan amplop di bawah bantal Irul. Itu sumbangan sebagai tanda kasih sayang dan untuk meringankan beban orang yang sedang kesusahan. Inilah kebiasaan orang-orang desa, tradisi yang masih sangat kuat dan mendarah daging. Satu persatu, semuanya menyalami dan memberi bantuan, meski besarnya tidak seberapa. Namun setidaknya mereka telah meringankan beban orang yang mengalami kesusahan.


    Menyaksikan hal itu, Irul pun meneteskan air mata. Terharu dengan kebaikan para tetangganya itu. Irul kembali teringat kata-kata ikhlas yang dipetuahkan oleh si kakek yang ditemuinya.

__ADS_1


__ADS_2