GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 221: PECAHNYA PERSAHABATAN


__ADS_3

    "Melian ..., tadi kamu apain si Kim Bo ..., kok dia menangis?" tanya Putri yang ingin tahu permasalahan antara Kim Bo dengan Melian.


    Memang, Putri bukanlah sahabat dekat Kim Bo. Tetapi Kim Bo adalah teman dekat Wijaya, pacarnya Putri. Dan tentunya Kim Bo tahu Melian saat dikasih cerita oleh Wijaya maupun Putri. Dan saat Kim Bo bersedih, pasti akan bercerita kepada Wijaya dan Putri.


    "Lhoh ..., kok tanya ke saya ...?! Mestinya kamu tanya ke Kim Bo, Put .... Ada apa yang terjadi? Kalau kamu tanya ke saya, ya saya tidak bisa menjawab apa-apa." sahut Melian ketus.


    "Lhoh ..., masalahnya kan sama kamu, Mel ...." kata Putri yang tidak mau disalahkan.


    "Masalah apa? Kapan? Di mana?" tanya Melian yang merasa tidak pernah tahu masalahnya dengan Kim Bo.


    "Lhah ..., tadi katanya Kim Bo bersama Melian jalan-jalan .... Kok kamu bilang gak tahu ...?! Bagaimana, sih ...?!" kata Putri yang tidak mau kalah berdalih.


    "Jalan-jalan di mana ,,,? Sama siapa ...? Mimpi kali ...." sahut Melian yang tambah ketus. Dan tentu sudah tidak mau memandangi Putri.


    "Kok begitu ...?!" Putri menjadi bingung.


    "Coba kamu telepon laki-laki yang kamu banggakan itu .... Tanya pada Kim Bo .... Apa sebenarnya yang terjadi ...?! Saya ingin tahu, apa kata laki-laki pecundang itu ...!" Melian langsung meminta Putri untuk menelepon Kim Bo. Tentunya Melian tidak mau disalahkan kalau laki-laki cengeng itu menangis.


    Putri yang ingin tahu kisah yang sebenarnya, yang ingin tahu apa yang terjadi, yang penasaran dengan apa yang dialami oleh Kim Bo, maka ia pun langsung mengangkat telkeponnya. Langsung menelepon Kim Bo.


    Melian yang membaca buku di tempat tidur, tidak menggubris urusan Putri dengan Kim Bo. Bahkan ia sudah menutup telingangya dengan headset, mendengarkan lagu-lagu dari HP-nya. Ia sudah malas berurusan dengan Putri. Apalagi menyangkut laki-laki bernama Kim Bo tersebut. Melian sudah muak dengan perilaku-perilaku orang-orang tak punya rasa belas kasihan pada sesama itu.


    Sementara itu, Putri terus bertelepon dengan Kim Bo, yang pastinya Putri ingin tahu cerita yang sebenarnya. Putri ingin mendengarkan kisah yang dialami oleh Kim Bo. Dan Putri ingin tahu, apakah Melian sudah menyakiti Kim Bo. Tentunya Putri khawatir, jangan-jangan Melian sudah memukul atau menendang Kim Bo dengan kepandaian silatnya. Kalau sampai Kim Bo dihajar oleh Melian, pasti akan mengalami babak benjut di sekujur tubuhnya. Putri sudah menyaksikan sendiri, bagaimana Melian menghajar para berandal, walau dikeroyok berandal dalam jumlah banyak, Melian tetap sanggup mengalahkannya.


    Namun ternyata, Kim Bo memang laki-laki pecundang. Ia bercerita pada Putri tidak sesuai dengan kenyataan. Kim Bo bilang kalau Melian menyewa orang-orang jahat untuk menghajar dirinya. Dia menceritakan kepada Putri kalau dirinya dikeroyok dan dirampok oleh orang-orang yang disuruh Melian.


    Tentu Putri sangat kecewa dengan perlakuan Melian terhadap Kim Bo. Maka Putri langsung memarahi Melian.

__ADS_1


    "Melian ...!! Dasar kamu keterlaluan, ya ...!!" kata Putri yang langsung membentak Melian yang tengah membaca di kasurnya.


    Meski telinga Melian sudah disumbat dengan headset, namun karena kata-kata Putri itu cukup keras, maka tetap bisa masuk ke pendengaran Melian. Tentu Melian kaget saat temannya itu membentak dirinya. Ia langsung melepas headset-nya, dan langsung bangkit dari rebahannya.


    "Ada apa, Put ...?! Kok sikapmu seperti itu pada saya ...?! Kamu marah dengan saya, ya ...?!" kata Melian yang tentu juga kurang senang melihat sikap Putri.


    "Iya ...! Ternyata kamu tega ya, Mel .... Kamu sudah menyakiti Kim Bo. Kamu sudah menyuruh orang untuk mengerotok Kim Bo. Bahkan kamu juga menyuruh orang untuk merampok Kim Bo. Jahat sekali kamu, Mel ...!" kata Putri yang tidak rela kalau Kim Bo, sahabat pacarnya itu sudah disakiti oleh Melian.


    "Maaf, Putri .... Rupanya dirimu juga sudah bersekutu dengan setan. Kamu sudah kena guna-guna dari setan. Dan kamu sudah terhipnotis bujuk rayu setan. Dengar ya, Put .... Saya tidak pernah berbuat jahat kepada siapupun, kecuali dia orang jahat yang berniat berbuat kejahatan kepada saya. Dan harusnya, kalau kamu orang baik, bisa menilai siapa yang jahat dan siapa yang baik. Tetapi kalau kamu lebih percaya dengan orang jahat, itu berarti kamu juga sudah menjadi orang jahat." kata Melian yang juga mulai emosi saat dibentak oleh orang yang pernah mengaku sebagai sahabatnya itu.


    "Kok kamu berani ngatai saya seperti itu ...?!" Putri tentu jadi kecewa dikatakan seperti itu oleh Melian.


    "Ya ..., karena hatimu sudah menghitam. Hatimu sudah dibalut dengan dunia hitam. Hatimu sudah terbius nafsu duniawi .... Sehingga kamu tidak bisa membedakan orang jahat dengan sahabatmu sendiri." kata Melian yang ingin menunjukkan kesalahan temannya itu.


    "Tega kamu, ya .... Mengatakan saya seperti itu ...?!" tentu Putri sangat kecewa.


    "Ya ...! Karena kamu sudah kesasar. Kamu sudah mulai berjalan dalam kegelapan. Kamu mulai berjalan di dunia kelam!" kata Melian berusaha mengingatkan temannya.


    Memang, manusia kalau hatinya sudah dikuasai setan, hal yang salah malah dianggap benar. Segala sesuatu yang dilakukannya dianggap baik. Ia tidak mau disalahkan. Tidak mau mendengar nasehat yang baik. Bahkan justru menganggap orang-orang yang berusaha menasehati itu yang keliru dan kuno. Tidak mau hidup di dunia moderen. Ketinggalan zaman. Kolot.


    Melian mulai menenangkan dirinya. Ia mulai mengalah. Ia sadar, kalau apa yang dikatakannya tidak bakal diterima oleh Putri. Temannya barus saja terbius kenikmatan duniawi. Maka segala sesuatunya akan diukur dengan perasaannya. Kebaikan akan sirna dan kalah oleh kenikmatan yang bisa memuaskan nafsunya. Maka Melian lebih baik mengalah. Menyingkiri kebobrokan mental itu.


    "Putri .... Mungkin kita sudah berbeda pandangan. Mingkin kita sudah tidak satu visi lagi. Saya tidak akan memaksakan ide dan pikiranku padamu. Kamu akan lebih percaya dengan orang yang bisa memberikan kenikmayan padamu. Maka sebainya aku yang mengalah." kata Melian pada Putri yang tentu masih emosi karena mendengar kata-kata Melian yang memerahkan telinga.


    "Maksud kamu ...?!" tanya Putri.


    "Yah .... Aku yang mengalah. Nikmati saja sisa hidup kamu selama masih bisa." kata Melian yang terus diam dan beranjak ke tempat tidur. Melian memejamkan mata untuk tidur.

__ADS_1


*******


    "Melian ...!!! Melian ...!!! Melian ...!!!"


    Pagi hari saat bangun tidur, Putri berteriak mencari Melian. di kasurnya sudah tidak ada temannya itu. Bantal dan guling serta selimut sudah tertata rapi.


    Lantas Putri menengok ke kamar mandi. tetapi juga kosong. Tidak ada Melian di dalam kamar mandi. Bekasnya sudah mandi, terlihat dari lantai kamar mandi yang masih basah. Tetapi sudah ada sebagian lantai yang kering. Berarti Melian sudah agak lama mandinya. Ia bangun terlalu pagi. "Kemana dia ...?" yanya Putri dalam hati.


    Selanjutnya Putri mencoba melihat lemarinya. Ternyata lemari itu kosong.


    "Ya ampun .... Melian pergi ...?!" Putri kaget. Karena semua pakaian Melian sudah tidak ada dalam lemarinya. Bahkan tas koper pakaian juga sudah tidak ada. Itu artinya Melian sudah meninggalkan asrama. Semua barang milik Melian sudah tidak ada di kamar itu. Putri baru sadar, kalau Melian pasti pergi meninggalkan asrama, dan tidak akan tinggal di asrama lagi.


    "Melian ...!!! Melian ...!!! Melian ...!!!" Putri langsung berlari keluar, dan turun ke lobi. Ia mencoba mengejar Melian. Mungkin saja Melian masih ada di lobi bawah.


    "Pak Satpam, apa lihat Melian ...?!" tanya Putri pada security di lobi.


    "Dari pagi keluar asrama. Dia bawa koper, katanya mau pindah tempat tinggal." kata si satpam itu.


    "Ke mana, katanya, Pak ...?" tanya Putri.


    "Wah ..., tidak tahu, Neng .... Dia tidak bilang mau ke mana ...." jawab si satpam.


    "Naik apa ...?" tanya Putri lagi.


    "Kelihatannya naik BRT, orang tadi jalannya ke arah halte." jawab petugas keamanan itu.


    Putri terdiam. Bingung mau berbuat apa. Setidaknya kini ia merasa bersalah, kalau dirinya, mungkin kata-katanya sudah menyinggung perasaan Melian. Bahkan ia juga mulai sadar, mungkin Kim Bo sudah mengada-ada, sudah membohongi dirinya tentang Melian.

__ADS_1


    Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Semuanya sudah terlanjur. Mau apa lagi sekarang, manakala Melian sudah hilang. Melian sudah pergi meninggalkannya. Dan mungkin Melian sudah tidak bakal mau berteman dengan dirinya lagi.


    Putri kecewa. Melian pergi tanpa pamitan. Tanpa ada kata-kata perpisahan. Tanpa terasa, air mata sudah berlinang di pipi Putri. Ia menangis kehilangan sahabatnya.


__ADS_2