
Jamil sudah bekerja menjadi karyawan di tempat pengrajin kuningan. Ya, kota kecil Juwana memang merupakan salah satu kota industri yang memproduk hasil-hasil kerajinan dari kuningan. Berbagai jenis kerajinan kuningan dibuat oleh para pengrajin di kota ini. Mulai dari lampu gantung yang indah, pegangan pintu, kran air, hingga sampai perhiasan kalung, gelang dan cincin. Semuanya diciptakan dan sangat menarik.
Kini, Jamil mulai menjadi pekerja pengrajin kuningan. Berbeda sangat jauh dengan saat ia menjadi tukang gali batu kapur, yang harus berpanas-panas dengan matahari, yang harus berkotor-kotor dengan tanah dan kapur, yang harus bertenaga kuat untuk mengangkat batu-batu kapur yang besar dan berat. Kini Jamil harus memulai membiasakan diri dengan dulangan kuningan, membiasakan diri membentuk kuningan dalam cetakan-cetakan untuk dibuat menjadi berbgai macam bentuk kerajinan, baik yang kecil maupun yang besar.
Dengan pekerjaan baru ini, tentu Jamil merasa lebih ringan, lebih enak dan lebih nyaman. Tidak harus berpanas-panas dengan sinar matahari, tidak perlu berbasah dengan keringat yang terus mengucur, dan juga tidak perlu berjuang untuk mengangkat batu-batu kapur yang berat untuk dinaikkan ke truk. Kini ia bekerja di tempat yang teduh, di dalam ruang, dan lebih banyak duduk untuk menghaluskan sebuah kerajinan. Ya, untuk pertama kali kerja, Jamil mendapat bagian menghaluskan atau mengkilapkan hasil-hasil kerajinan yang sudah terbentuk. Itu pasti sangat enak.
Jamil mensyukuri pekerjaan itu. Walau sebagai karyawan di tempat pengrajin kuningan bayarannya tidak begitu besar, yang penting dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dan yang pasti, bisa dibuat beli susu untuk Melian.
Jamil yang baik itu, langsung bisa membaur dengan teman-temannya. Ya, hanya ada sembilan orang yang bekerja di tempat pengrajin itu. Dan tentu semuanya baik dan mau berteman dengan Jamil. Terutama dua orang yang berada di bagian penghalus dan pengkilap hasil produksi, yang nantinya untuk dimaksukkan ke pengepakan untuk dijual.
"Mas Jamil ..., itu Sampeyan tinggal di Kampung Naga, di rumah itu sudah pernah ditemui?" tanya laki-laki separo baya yang duduk di samping kanannya, sambil menggosok kuningan hasil produksi itu.
"Ditemui apa ...? Maksudmu bagaimana?" tanya Jamil yang pasti bingung.
"Halah .... Tidak usah dipikir, Mas Jamil .... Biasa orang satu ini .... Sukanya yang takhayul-takhayul ...." sahut teman yang satunya, yang duduk di sisi kirinya.
"Eee ..., jangan bilang takhayul .... Ini beneran, ya ...." sergah laki-laki yang di sebelah kanan Jamil.
"Halah, Mas Eko itu memang senangnya yang begitu-begitu. Nanti kalau ada yang bilang tempat itu ada penunggunya, dia langsung minta nomer togel .... Biasa, Mas Eko ini pernah kedanan nomer togel .... Hehehe ..." kata teman yang satunya mengejek.
"Huuss .... Jangan membuka rahasia orang ...." tukas laki-laki yang berada di sisi kanan Jamil, yang namanya adalah Mas Eko.
"Memangnya di rumah saya ada apanya ...?" tanya Jamil yang penasaran.
"Oma-oma cantik yang sering menyapu halaman .... Hehehe ...." sahut temannya lagi.
"Halah, kalau itu sih nenek aneh misterius .... Kalau yang nunggu beda lagi ...." kata Mas Eko.
"Hee ...! Kerja yang serius .... Jangan ngobrol terus ...!" tiba-tiba bosnya datang memarahi tiga orang yang sedang berbincang itu.
Mereka pun terdiam dan kembali menggosok kerajinan-kerajinan yang baru saja dicetak oleh para pekerja lain.
"Nanti saya kasih tahu ...." bisik Mas Eko kepada Jamil.
Jamil tidak menjawab. Tetap diam dan terus bekerja, meski kepalanya mengangguk tanda siap untuk diberi tahu. Dan sampailah pada waktu istirahat siang. Jamil yang sedianya akan membuka nasi bungkus bekal yang dibawakan oleh istrinya, tiba-tiba tangannya diseret Mas Eko. Ia diajak ke luar, duduk di pelataran tempat yang biasa digunakan untuk menjemur barang-barang kuningan hasil cetakan. Di situ memang ada dingklik atau bangku banjang dari kayu.
"Mas Jamil .... Rumahmu yang di Kampung Naga itu penuh misteri ...." kata Mas Eko yang memulai bercerita.
"Penuh misteri bagaimana?" tanya Jamil yang tentu penasaran.
__ADS_1
"Itu rumah kuno. Walau kelihatannya bagus dan rapi, tapi sebenarnya itu peninggalan orang Cina jaman kuno. Bahkan sebelum kemerdekaan." kata Mas Eko.
"Masak, sih ...? Kok kelihatannya arsitekturnya masih bagus dan baru?" sahut Jamil.
"Iya sih .... Tapi sebenarnya itu peninggalan orang Cina yang pertama kali datang ke Juwana. Dulu rumah itu hanya sendirian, tetapi selanjutnya setiap orang keturunan Cina datang ke Juwana, tinggal di sekitaran rumah yang kamu tempati itu. Karena kebudayaan yang mereka bawa, yaitu barongsai atau liong-liong, dan yang paling terkenal itu tarian naganya, maka kampung itu selanjutnya dikenal orang dengan sebutan Kampung Naga." kata Mas Eko yang bercerita, ya hampir sama dengan yang diceritakan Pak Lurah. Tentu Jamil percaya.
"Terus ...?" tanya Jamil yang mulai penasaran.
"Kata orang-orang tua, waktu itu, pas ada pertunjukan barongsai dari berbagai daerah, saat naga raksasa dari Kampung Naga pentas, terjadi persaingan unjuk kehebatan yang berbuntut pada pertengkaran. Terjadilah geger pecinan. Kampung itu kebakaran. Tepatnya dibakar. Seluruh kampung terbakar, hangus dan ludes seluruhnya. Hanya rumah yang kamu tempati sekarang, yang tidak tersentuh api. Seluruh Kampung Naga hangus dilalap api. Tapi aneh, rumah yang kamu tempati itu, yang saat itu dijaga oleh liong-liong naga raksasa bisa terbebas dari kobaran api." cerita Mas Eko yang seakan tahu sendiri peristiwanya.
"Terus ...?" tentu Jamil semakin penasaran.
"Nah ..., menurut cerita ..., liong naga raksasa yang berusaha menyingkirkan api yang akan membakar rumah tetua Cina itu, setelah api padam tiba-tiba naka raksasa itu musnah. Hilang tanpa bekas, tidak diketahui kemana menghilangnya." lanjut Mas Eko yang menceritakan hilangnya naga liong.
"Terus orang Cina yang rumahnya masih utuh itu bagaimana?" tanya Jamil.
"Ya tentu ia bersedih .... Orang-orang Cina yang ada di kampung itu semuanya mati terbakar, termasuk istrinya yang cantik. Hanya ia bersama anaknya yang masih bayi yang kala itu ia gendong, selamat dari amukan api besar kala itu. Pasti tetua Cina itu sangat bersedih dan sangat menyesal dengan kejadian itu." kata Mas Eko yang seakan membayangkan kesedihan yang dialami tetua Cina yang diceritakannya.
"Lhah, orang itu bersama bayinya sekarang ada di mana?" tanya Jamil yang tentu ingin tahu.
"Mungkin karena kesedihannya, bayi itu dititipkan kepada orang kampung, lantas ia pergi entah ke mana, tanpa diketahui orang lain. Tidak ada yang tahu sekarang ia berada di mana. Sedangkan bayi itu tumbuh dan berkembang hingga dewasa dan tua. Nenek-nenek yang punya rumah itulah bayi yang dulu selamat dari api yang merenggut orang se kampung." kata Mas Eko menjelaskan kepada Jamil.
"Ya, benar .... Beruntung kamu bisa bertemu dengan wanita tua itu. Tidak semua orang bisa ketemu dengan dia. Bahkan saya saja yang orang asli Juwana, tidak pernah ketemu dengan nenek tua itu. Orangnya misterius ...." kata Mas Eko yang pasti penasaran karena tidak pernah ketemu nenek tua itu.
Jamil terdiam. Matanya menerawang ke langit, membayangkan peristiwa yang terjadi di Kampung Naga saat itu, lantas mengingat peristiwa yang terjadi di rumahnya yang juga dibakar oleh orang-orang biadab. Ia membayangkan bayi kecil yang diselamatkan ayahnya saat itu, Jamil pun teringat nasib Melian, saat harus ia bawa lari menyelematkan diri dari kebakaran rumahnya.
Aneh, kenapa tiba-tiba ia berada di rumah orang yang mempunyai cerita sama dengan Melian? Apakah ini sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa?
Jam gandul yang ada di ruangan tengah rumah juragan kuningan itu berdentang. Pertanda waktu istirahat telah selesai. Jamil pun bergegas berdiri, lantas kembali ke tempat kerja. Mengamplas dan menghaluskan produk-produk kerajinan kuningan. Ia bekerja tekun dan rajin. Tentunya agar bisa mendapatkan bayaran yang layak untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Jamil terus bekerja hingga sore, saat jam kerja telah selesai.
"Hore ..., Pak-e pulang ...." kata Juminem yang membopong anaknya, sambil menggerak-gerakkan tangan Melian, seakan menyambut kedatangan bapaknya.
"Melian, Sayang ...." sahut Jamil yang sudah memesuki halaman rumah itu.
Namun tidak seperti kemarin hari saat di Desa Sarang, yang biasanya begitu pulang kerja langsung ke sumur, menimba air lantas mandi. Kini, Jamil langsung mengambil sapu lidi, menyapu daun-daun mangga dan jambu yang berserakan. Jamil ingin menjaga kebersihan rumahnya, seperti yang telah dipesankan oleh pemilik rumah.
"Bagaimana kerjanya tadi, Kang ...?" tanya Juminem sambil menyuapi makan anaknya.
"Alhamdulillah enak dan menyenangkan, Jum ...." jawab suaminya yang masih menyapu.
__ADS_1
"Disyukuri, Kang .... Baru datang kok langsung diberi pekerjaan ...." kata istrinya.
"Yang jelas kerjanya lebih enak, Jum .... Tidak kepanasan dan tidak menganggkati batu-batu kapur besar dan berat ...." sahut Jamil.
"Memang kerjanya ngapain sih, Kang ...?" tanya istrinya lagi.
"Itu, Jum ..., nggosok kerajinan kuningan. Diamplas dan dihaluskan biar kempling ...." jawab Jamil.
"Waah ..., enak leh, Kang ...." sahut Juminem.
"Pah ..., pah ..., pah ...." tiba-tiba Melian berucap, dan tangannya sambil menunjuk-tunjuk ke arah Jamil.
"Wee ..., anakku sudah bisa memanggil Pak-e ...." kata Juminem yang kegirangan melihat perkembangan anaknya.
"Lantainya sudah dipel apa belum, Jum ...?" tanya Jamil pada istrinya.
"Tadi pagi sudah, Kang .... Waktu Melian tidur, saya ngepel sama masak." jawab Juminem.
"Nenek Oma pemilik rumah kemari tidak?" tanya Jamil lagi.
"Tidak, Kang .... Saya juga nunggu-nunggu kok tidak datang." jawab Juminem.
"Jum ..., besok kalau Nenek Oma itu datang kemari, harus kamu hormati, kamu suguh apa saja yang kita punya. Anggaplah Nenek Oma itu ibu kita, simbok kita, oma-nya Melian. Karena bagaimanapun juga, rumah ini adalah miliknya, anggap kita hanya disuruh menempati. Kita tidak punya hak untuk memiliki rumah ini, Jum ...." kata Jamil berpesan pada istrinya.
"Iya, Kang .... Memang kenapa to, Kang?" tanya Juminem yang tentu ingin tahu dengan kata-kata suaminya itu.
"Kita musti bersyukur, Jum .... Ini memang rumah milik Nenek Oma itu. Tidak semua orang bisa masuk kemari. Bahkan akan dibeli orang dengan harga milyaran pun tidak diberikan. Tapi kita ..., tiba-tiba saja disuruh menempati rumah besar dan sebagus ini .... Makanya kita harus bersyukur, dan jangan sampai melupakan nenek itu sebagai pemilik sah rumah ini." kata Jamil yang tentu memesan agar istrinya tahu kenyataannya.
"Iya, Kang .... Saya senang kok dengan nenek itu. Bahkan Melian juga senang, waktu Nenek Oma membopong dia, Melian tertawa terbahak-bahak .... Itu artinya anak kita senang, Kang ...." sahut Juminem.
Ngobrol begitu, tiba-tiba saja si Nenek yang dibicarakan sudah berada di halaman rumah. Tentu Jamil dan Juminem kaget.
"Ma ..., ma ..., ma ...." Melian pun menunjuk ke arah Nenek Oma itu. Tangannya menelentang ingin dibopong oleh sang Nenek.
"Monngo, Nek .... Sini masuk ...." kata Jamil yang langsung mempersilakan si nenek untuk masuk ke rumah.
"Sebentar, ya .... Saya mau membopong cucuku lebih dahulu ...." kata si nenek itu yang sudah meminta Melian dari gendongan JUminem.
Juminem langsung melepas gendongannya, menyerahkan Melian kepada nenek itu. Tentu masih bingung dengan kedatangan sang nenek yang misterius itu. Juminem hanya bisa memandang suaminya. Demikian pula Jamil yang bingung menyaksikan kenyataan dari cerita temannya.
__ADS_1
Misteri nenek yang benar-benar aneh.