GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 185: BERANGKAT KE JAKARTA


__ADS_3

    Waktu cepat berlalu. Hari-hari terlewati tanpa terasa. Hingga tiba saatnya Melian harus berangkat ke Jakarta, untuk memulai perkuliahan. Tentu hal itu dirasa sangat berat bagi Juminem untuk melepas kepergian anaknya. Dan yang jelas, Juminem pasti meneteskan air mata.


    Tetapi bagaimanapun juga, itu semua demi ilmu yang akan dituntut oleh Melian. Mau tidak mau, Juminem harus melapas secara ikhlas, dan tentu dengan doa agar anaknya sukses. Tidak baik menambahi beban pikiran anaknya, hanya karena rasa kangen sesaat.


    Sebenarnya, Melian juga merasa berat untuk meninggalkan ibunya. Kasihan dengan ibunya yang nanti akan tinggal di rumah sendirian. Wajah ceria yang biasanya terpancar di auran Melian, kini tidak lagi terlihat, saat ia berpamitan dengan ibunya. Rasa kangen itu pasti akan datang.


    Berbeda dengan Jamil, yang bangga dengan anaknya. Punya anak yang cantik, rajin dan cerdas. Sekolah selalu mendapat ranking. Nilainya selalu bagus. Apalagi kini anaknya akan berangkat ke Jakarta, kuluah di perguruan tinggi ternama, masuk tanpa tes. Itu sangat membanggakan orang tua. Sementara anak-anak yang lain masih bingung mencari tempat kuliah, mendaftar sana-sini, banyak yang tidak diterima, Bagi Melian semuanya berlalu tanpa rintangan. Maka ketika ia akan mengantarkan anaknya menuju bandara di Semarang, senyumnya terus mengembang. Bahagia mengantarkan anak yang akan sukses. Itulah salah satu spirit dari orang tua kepada anak.


    Pagi itu, Irul sudah bersiap di rumah Pak Jamil. Akan mengantarkan Melian berangkat ke Bandara Ahmad Yani di Semarang. Juminem dengan wajah tak berseri, membawakan tas cangklong anaknya. Masuk ke mobil, duduk bersama Melian di kursi tengah. Jamil menyeret koper besar, berisi pakaian Melian. Koper itu dimasukkan ke bagasi belakang. Lantas Jamil ke kursi di samping kiri Irul. Melian yang mengenakan sweater warna pink muda. Memegangi tangan ibunya.


    Sebenarnya, Jamil ingin menyeteri sendiri. Bahkan sempat terucap akan mengajak Mas Tarno. Tetapi Melian ngeyel minta yang nyopiri Mas Irul. Katanya biar Mas Irul sekalian mengantar dan memberikan doa pada dirinya yang akan berangkat ke Jakarta. Setidaknya nanti ada kata pamitan dari Melian kepada Mas Irul.


    "Tiketnya sudah dibawa ...?" tanya Irul.


    "Sudah, Mas ...." jawab Melian yang mengecek di tes kecil yang diselempangkan di pinggangnya.


    "KTP ...?" tanya Irul lagi.


    "Sudah, Mas .... ATM sudah, HP juga sudah, ini di dalam tas mini .... Surat undangan dari universitas, ijazah, raport juga sudah, saya masukkan di koper semua." jawab Melian yang sudah membuka dompetnya.


    "Kita berangkat ...." kata Irul yang mulai menyalakan menjalankan mobilnya.


    Perlahan Irul menjalankan mobil Taruna, keluar dari halaman rumah Pak Jamil di Kampung Naga. Lantas menyusuri jalan pantura menuju Semarang. Begitu sampai di jalan raya, tentu Irul mempercepat laju mobilnya.


    "Jangan ngebut, Mas Irul .... Pelan-pelan saja ...." kata Jamil yang beberapa kali sempat khawatir dengan kecepatan mobil yang disetir oleh Irul.


    "Iya, Pak .... Tapi kita harus mengejar jadwal penerbangan .... Jangan sampai terlambat." jawab Irul yang tetap waspada dalam menyetir mobilnya.


    "Memang kalau penumpangnya belum datang, tidak ditunggu to, Mas ...?" tanya Juminem yang memang tidak paham tentang tata cara naik pesawat.


    "Kalau terlambat ya ditinggal to, Mbak Jum .... Malah tiga puluh menit sebelumnya, harus sudah check in." kata Irul menjelaskan pada Juminem.


    "Ooo .... Begitu, ya ....??? Lha check in itu apa sih, Mas ...?? " Juminem tentu tidak mudeng.


    "Check in itu daftar ulang mau naik pesawat, Mak .... Itu tiketnya dicatat oleh petugas saat orang itu datang. Penumpangnya menunjukkan tiket sama KTP. Untuk ngecek penumpang yang sudah datang dan yang belum." jelas Melian.


    "Ooo .... Seperti itu ...? Kok ribet ya, mau naik pesawat ...?" kata Juminem lagi.


    "Demi keamanan, Mak .... Biar tidak ada orang yang tidak beli tiket bisa masuk bandara .... Nggak kayak naik bus, bisa masuk dari mana saja." jelas Melian lagi.


    "Besok kapan-kapan kita naik pesawat, Jum .... Kita bersama-sama ke Jakarta nengok Melian, nah ..., naik pesawat .... Biar tahu bagaimana rasanya naik pesawat .... Gitu ya, Mas Irul ...." Jamil memberi harapan pada istrinya.

__ADS_1


    "Tenan ya, Kang ...?! Saya jadi pengin naik pesawat .... Ingin tahu rasanya .... Kok pesawat muat penumpang banyak, bisa terbang .... Aneh ...." kata Juminem yang tentu penasaran.


    "Memang Mas Irul pernah naik pesawat ...?" tanya Melian kepada Irul.


    "Cik Indra yang dulu waktu kerja di bank, kalau tugas ke Jakarta, sering naik pesawat ...." jawab Irul.


    "Berarti Mas Irul belum pernah ...? Nah, kapan-kapan kita ke Jakarta naik pesawat, Mas Irul ...." kata Jamil.


    "Nggih, Pak ...." Irul menjawab santai.


    Tanpa terasa, mobil pun sudah melintas di jalan masuk menuju Bandara. Ada pos petugas penarik tiket masuk. Irul membayar tiket parkir. Lantas melaju lagi secara perlahan. Di jalan masuk bandara itu sudah antri mobil yang akan masuk. Pastinya ada yang mengantarkan penumpang, tetapi juga ada yang akan menjemput. Irul terus mengikuti mobil di depannya, hingga sampai di tempat parkir. Mobil di depannya berhenti di parkiran. Irul yang belum tahu cara menurunkan penumpang, ikut berhenti di parkiran. Lantas semua penumpangnya turun di parkiran, lalu menuju ke bangunan gedung bandara.


    Melian yang mencangklong tas punggung dan tas srempang kecil tempat dompet dan HP serta tiket, berjalan di depan. Menuju ke pintu masuk. Jamil yang menyeret koper besar berisi pakaian Melian, berjalan bersama Juminem yang mengikuti anaknya.


    Sedangkan Irul berada di belakang Jamil dan Juminem. Tentu Irul sambil tengak-tengok memperhatikan mobil-mobil yang berdatangan. Ia sadar ternyata dirinya salah. Irul menyaksikan setiap mobil yang datang berhenti di depan gedung sisi barat. Lantas dari mobil itu ada penumpang yang turun, yang kemudian si penumpang menuju ke pintu masuk. Rupanya kalau menurunkan penumpang, tidak di tempat parkir yang ada di lapangan itu. Tetapi berhenti tepat di halaman depan pintu masuk. Yah, ini pengalaman pertama Irul ke bandara.


    "Penumpang masuk tunjukkan tiket dan KTP .... Silakan masuk lewat sini. Pengantar tidak boleh masuk, berhenti di luar." kata petugas penjaga pintu masuk yang mengenakan celana biru tua dan baju biru muda, serta mengenakan peci yang ada lambang-lambangnya.


    Jamil langsung berhenti tanpa memberitahu, sampai Juminem menubruknya. Tentu karena sudah disuruh berhenti oleh petugas untuk pemeriksaan.


    Melian yang juga berhenti, tetapi belum masuk. Ia membuka tas kecilnya yang terselempang di pinggang, mengambil tiket dan KTP. Nantinya akan ditunjukkan kepada petugas bandara.


    "Pak-e ..., Mak-e ..., ngantarnya sampai di sini. Melian masuk sendiri." kata Melian pada bapak ibunya, yang tentu dengan rasa sedih karena akan berpisah untuk waktu yang lama.


    "Hati-hati ya, Nduk .... Jangan lupa kalau sudah sampai langsung telepon Pak-e atau Cik Indra .... Mak-e dikabari ya, Nduk ...." kata Juminem dengan derai air mata.


    "Ayo cepat, masuknya .... Biar tidak menghalangi jalan ...." kata petugas yang mengingatkan Melian.


    Melian melepas pelukan ibunya, lantas memeluk bapaknya. Tentu berpamitan dan mohon doa restu. Lantas yang terakhir memeluk Irul. Dua orang itu, Melian dan Irul berpelukan sangat mesra. Kalau yang tidak tahu, pasti dianggap pacarnya atau suami istri. Ya, Irul memang sangat sayang pada Melian. Demikian juga Melian, sangat manja pada Irul.


    Setelah melepas pelukannya dari Irul, Melian melangkah ke petugas pintu masuk, sambil menunjukkan tiketnya. Lalu tas punggung dan tas kecilnya dimasukkan ke mesin detektor. Irul memabntu mengangkatkan kopernya untuk dinaikkan ke mesin detektor. Melian melangkah masuk ke pintu detektor. Setelah itu melambaikan tangan kepada tiga orang yang disayanginya itu, yang terus memperhatikan Melian meski sudah masuk ke ruang bandara.


    Kebetulan ada petugas di dalam bandara. Melian langsung minta bantuan petugas keamanan, sambil menunjukkan tiketnya. Ke mana ia harus check in. Petugas bandara itu membantunya, bahkan mendorongkan kopernya. Melian mengikuti petugas itu, yang menunjukkan tempat check in.


    Senang hati Melian, karena ternyata di bandara itu tidak seperti di terminal bus. Orangnya baik-baik, ramah dan mau membantu. Walau kelihatannya rumit, ternyata enak. Koper besar yang dibawa Melian, tidak harus didorong sendiri ke pesawat. Tetapi begitu check in, koper besar itu berjalan sendiri masuk ke bagasi pesawat. Melian hanya menerima selembar kertas sebagai bukti membawa barang yang dibagasi.


    "Silahkan masuk ke ruang tunggu, Mbak .... Nanti masuknya lewat pintu satu. Pesawat jam sepuluh." kata petugas bandara bagian check in pesawat yang ditumpangi Melian.


    "Terima kasih, Mbak ...." jawab Melian yang langsung bertanya ke petugas keamanan, untuk masuk ke ruang tunggu.


    Setelah ditunjukkan oleh petugas keamanan, Melian kembali melewati pintu detektor saat akan masuk ke ruang tunggu. Kembali melewati pemeriksaan. Petugas itu kembali menanyakan tiket dan KTP. Tiketnya sudah berganti yang ada nomor tempat duduknya. Setelah tidak ada masalah, Melian pun dipersilahkan masuk ke ruang tunggu.

__ADS_1


    Melian melihat jam digital yang ada di dinding bandara. Jam sembilan lima belas. Masih cukup lama untuk menunggu. Melian yang baru saja masuk mencari kursi yang kosong. Namun rupanya penuh. Tapi ia berkeliling berusaha mencari. Ruang tunggu itu cukup luas dan dingin karena AC-nya yang menggelontor dari berbagai arah. Tentu mengakibatkan turunnya air seni. Melian tengak-tengok, mencari kamar kecil. Sebab nanti kalau di pesawat, akan susah kalau mau buang air seni.


    "Maaf, Pak ..., kamar kecilnya ada di mana, ya?" tanya Melian pada petugas bandara yang ada di bagian belakang.


    "Toiletnya ada di situ, Mbak ...." kata petugas keamanan itu sambil menunjukkan tempatnya.


    "O, ya .... Terima kasih, Pak ...." kata Melian yang langsung menuju ke kamar kecil.


    Setelah selesai dari toilet, Melian kembali mencari kursi yang kosong. Namun betapa kagetnya ia, saat menyaksikan ruang tunggu itu kursinya yang tadi penug, kini sudah banyak yang kosong. Pasti orang-orangnya sudah pada naik pesawat. Maka Melian khawatir, jangan-jangan penumpang pesawatnya sudah di suruh masuk. Kalau itu benar, pasti ia ketinggalan pesawat. Saat ia ke toilet tadi, pasti sudah ada pemberitahuan masuk pesawat, tetapi ia tidak mendengar.


    Karena rasa khawatir dan takut itu, maka Melian langsung berlari maju, menuju ke pintu satu, sperti yang dikatakan oleh petugas check in di depan tadi. Pintu satu tertutup rapat. Tentu Melian semakin ketakutan kalau tertinggal. Lantas ia berlari ke petugas keamanan yang ada di belakang, yang ia tanyai tempat toilet itu. Ingin menanyakan apa pesawatnya sudah berangkat.


    "Pak, maaf .... Apa pesawat ini sudah berangkat, ya ...?" tanya Melian pada petugas itu sambil menunjukkan tiketnya.


    Petugas itu meminta tiketnya, lantas membaca tiket itu. Pasti melihat nama pesawat dan jam keberangkatannya.


    "Belum, Mbak .... Sebentar lagi baru buka pintunya. Silahkan tunggu, duduk di kursi depan pintu satu yang di sana itu." kata petugas itu pada Melian, sambil menunjukkan tempat untuk menunggu.


    "Terima kasih, Pak ...." plong rasa hati Melian. Kekhawatirannya, ketakutannya akan ditinggal pesawat ternyata keliru. Maklum, baru kali ini ia akan naik pesawat. Apalagi tadi di mobil, saat berangkat, Mas Irul bercerita kalau terlambat akan ditinggal. Ternyata jadwal pesawat itu tepat. Tidak seperti angkutan yang selalu ngetem mencari penumpang.


    Jam sepuluh kurang seperempat, pintu satu dibuka oleh petugas. Ada dua orang perempuan yang berdiri di situ. Mereka adalah pegawai maskapai yang bekerja di bagian pemberangkatan penumpang.


    "Pesawat tujuan Jakarta, silahkan masuk lewat sini ...." kata petugas itu. Satu persatu penumpang antri masuk. Petugas itu merobek bagian tiket yang untuk cek admisnistrasi maskapai. Sedangkan yang separo dipegang oleh penumpang, untuk mencocokkan tempat duduknya.


    Melian mengikuti antrian masuk. Lantas berjalan kaki ke lapangan, menuju ke tempat tangga pesawat. Melian pun mencontoh orang-orang yang ada di depannya. Hingga masuk ke pesawat. Lantas mencari tempat duduk sesuai nomor yang ada di tiket. Melian duduk di pinggir jendela. Pasti nanti kepengin menyaksikan pemandangan dari jendela itu.


    "Maaf, Mbak ..., tasnya boleh ditaruh di atas?" seorang pramugari dengan dandanan cantik meminta tas Melian untuk dimasukkan ke bagasi atas.


    "Iya, Mbak .... Terima kasih." Melian memberikan tas punggungnya.


    "Mohon HP dimatikan, ya ...." kata pramugari itu lagi.


    "Iya, Mbak .... Terima kasih." jawab Melian yang langsung membuka tas selempangnya itu dan mematikan HP-nya.


    "Sabuk pengamannya dikenakan ...." kata pramugari itu lagi.


    Melian langsung mengambil sabuk pengaman yang ada di kursi, yang terduduki. Lantas mencoba memakainya. Bisa, prinsipnya sama dengan sabuk mobil. Namun ternyata, beberapa saat kemudian, ada peragaan keselamatan penumpang. Dua orang pramugari memperagakan bagaimana cara mengenakan sabuk pengaman, bagaimana caranya membuka sabuk, bagaimana caranya memakai alat pelampung, bagaimana caranya mengenakan masker oksigen, serta menjelaskan cara dan jalan evakuasi jika pesawat mengalami kecelakaan. Pramugari itu menjelaskan dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.


    Melian mengangguk-angguk. Lantas membaca buku petunjuk keselamatan yang ada di kantong jok di depannya.


    Selanjutnya, setelah pramugari itu duduk, pesawat mulai berjalan kencang. Semakin cepat dan terus melaju. Dan tiba-tiba .... "Whusssss ........"

__ADS_1


    Pesawat itu sudah menukik ke atas. Terbang di udara. Tentu Melian agak kaget. Ini pengalaman pertama yang harus diingat saat besok kembali naik pesawat.


__ADS_2