
Malam itu Indra tidur dalam pelukan suaminya. Tentu sangat mesra. Maka Indra tidurnya pun sangat lelap. Dalam tidurnya, Indra bermimpi, ketemu dengan kakek tua yang tadi siang mengajak duduk bersama, dan memberi nasehat kepadanya. Indra tidak takut. Tetapi justru merasa senang dengan kakek itu, yang pernah membuat bulu kuduknya berdiri saat hilang dicari bersama Juminem. Tetapi setelah mendengar penuturan suaminya, ia menjadi tenang dan lega. Tentu karena kakek itu adalah orang baik.
Namun dalam mimpinya, Indra diajak berjalan-jalan oleh kakek tua itu di sebuah taman bunga yang sedang bermekaran. Indah dan menawan hati. Lalu Indra diajak duduk oleh si kakek itu di kursi yang ada di tengah taman yang dikelilingi oleh warna warni bunga. Lantas, kakek itu bicara pada Indra.
"Manusia secara tabiat sebenarnya tidak suka dengan orang yang jahat. Bahkan orang yang jahat pun sebenarnya juga tidak suka jika orang lain berbuat jahat. Demikian pula sebaliknya manusia secara tabiat suka dengan orang yang baik. Bahkan orang yang jahat pun suka dengan orang yang baik .... Maka teruslah berusaha untuk senantiasa menjadi orang yang baik, sebagai cermin untuk diri sendiri dan juga orang lain. Karena sebenarnya tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula. Dan balasan keburukan kecuali keburukan pula. Tidak ada balasan bagi orang yang berbuat baik di dunia ini, melainkan diperlakukan dengan baik di dunia dan di akhirat nanti. Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula." kata kakek itu pada Indra.
Indra mendengarkan kata-kata si kakek, tentu dengan pikiran yang langsung dibuka untuk menerima nasehat yang diberikan. Tadi sore ia telah mendapat penjelasan dari suaminya. Dan kini saat ia mendengar nasehat yang diberikan oleh kakek itu, semuanya adalah tentang kebaikan. Berarti dirinya sudah bertemu dengan kakek baik, yang tentu akan memberikan kebaikan-kebaikan kepada dirinya.
Lantas kakek itu mengajak Indra berjalan di pinggir kolam yang airnya jernih, sehingga ikan-ikan yang berenang di dalamnya kelihatan. Indah dan menarik. Ikan mas dengan aneka warna, ada yang kuling mengkilap, merah, putih, hitam, bahkan ada yang belang-belang dengan warna macam-macam. Ada yang kecil, tetapi juga banyak yang besar-besar. Ketika sang kakek dan Indra berada di tepi kolam, ikan-ikan mas itu langsung berdatangan seakan menyambut si kakek.
"Ikan ini pada datang kemari menghampiri dirimu. Karena ia tahu kamu orang baik yang tidak akan menangkapnya. Tetapi ketika kamu berusaha untuk menangkap, pasti ikan-ikan itu akan pergi menjauh ke tempat yang lebih dalam. Ia akan takut ditangkap." kata si kakek.
Tentu Indra paham dengan kata-kata yang mudah dipahami itu. Ya, memang ikan akan mendekat saat ada orang datang, karena mengira akan diberi makan. Tetapi ia akan berlari saat orang itu akan menangkapnya. Itu sangat alamiah.
Namun, tiba-tiba kakek itu berjongkok di pinggir kolam tersebut. Lantas tangan kanannya masuk ke dalam air. Ikan-ikan itu tidak berlari, tidak takut dengan si kakek, tetapi malah mengerubungi tangan si kakek, seolah-olah ingin dielus-elus oleh si kakek. Dan benar, tangan si kakek itu mengelus satu persatu ikan-ikan yang mendatanginya.
Indra terkagum dengan apa yang dilakukan oleh si kakek. Tidak sekedar kagum, tetapi juga heran, mengapa ikan-ikan itu sangat menurut dengan si kakek.
"Coba kamu kemari .... Jongkoklah .... Masukkan tanganmu ke kolam sini ...." kata si kakek yang menyuruh Indra melakukan seperti apa yang dilakukannya.
Indra menuruti saja kata-kata si kakek. Ia berjongkok di dekat kakek itu. Lantas Indra memasukkan tangannya ke dalam kolam.
"Hi ..., hi ..., hi .... Geli ..., Kek ...." Indra merasa geli karena tangannya dihampiri oleh ikan-ikan. Tentu langsung mengangkat tangannya. Kemudian dimasukkan lagi. Geli lagi, diangkat kembali. Namun lama-lama Indra merasa nyaman. Ia justru gembira bermain dengan ikan-ikan yang menghampirinya.
"Hehehe .... Asyik, kan ...." kata kakek yang tersenyum menyaksikan kegembiraan Indra.
__ADS_1
"Iya, Kek .... Menyenangkan ...." sahut si Indra.
"Hidup ini akan menyenangkan jika kita saling menyayangi. Ikan-ikan ini akan mendekat kepada kita jika kita memberikan kasih sayang kepadanya. Kalau ikan saja mengerti tentang kasih sayang, kenapa kita sebagai manusia yang diberi akal oleh Yang Maha Kuasa, tidak mau memberikan kasih sayang? Padahal kasih sayang itu tidak harus berujud pemberian harta benda .... Bukan uang, bukan materi atau wujud keduniawian yang lain .... Tapi kasih sayang itu hanya ketulusan hati saat kita menerima orang lain sebagai sesama makhluk. Apapun wujudnya. Sayangilah sesama makhluk Sang Pencipta, seperti apa yang kamu lakukan dengan ikan-ikan itu saat ini." kata si kakek memberi nasehat kepada Indra.
"Iya, Kek .... Mohon diingatkan jika saya melupakannya." jawab Indra yang tentu sangat ingin melakukan ajaran yang baru saja didengar dari sang kakek itu.
"Ambillah ikan itu, sesuka kamu ...." kata si kakek yang menyuruh Indra untuk mengambil ikan yang ada di kolam tersebut.
"Tidak, Kek .... Biarlah ikan-ikan ini hidup di habitatnya, kolam yang sangat indah ini. Nanti kalau saya rindu ingin membelai ikan-ikan ini, saya akan datang kemari untuk menemuinya." jawab Indra yang tidak mau mengambil ikan untuk dibawa pulang, meski ia suruh oleh sang kakek untuk mengambil ikan itu.
"Ada kalanya keinginan manusia itu berlebihan. Katanya minta rezeki agar bisa makan, tetapi setelah diberi makan yang cukup untuk dirinya dan keluarganya, bertambah lagi minta makanan yang ada di restoran. Setelah bisa menikmati makanan yang mewah di restoran, permintaannya bertambah lagi ingin rumah yang mewah. Setelah diberi rumah mewah, minta mobil .... Dan seterusnya dan seterusnya .... Sampai-sampai dunia ini mau dimintanya juga. Bahkan milik orang lain pun diminta juga. Semuanya ingin dimiliki. Itu pertanda orang serakah. Itu tidak baik, karena kelak di alam kelanggengan, dia akan menderita, tidak mendapatkan apa-apa, hanya memperoleh kesengsaraan belaka. Tetapi bagi manusia yang sanggup mengendalikan nafsu aluamah, yaitu nafsu keserakahan duniawi, kelak ia akan hidup dalam kemuliaan." nasehat dari kakek itu kembali diresapi oleh Indra.
"Mohon bimbingannya, Kek .... Maafkan saya jika nanti dalam hidup kami masih memikirkan keduniawian." kata Indra yang selalu meminta dibimbing oleh sang kakek.
"Harta dan benda, uang dan kekayaan itu memang dibutuhkan dalam hidup. Tetapi bukan untuk hidup di dunia saja. Melainkan juga untuk bekal hidup di alam kelanggengan kelak." kata kakek itu sambil memandangi Indra.
"Banyaklah berbuat baik dengan harta bendamu itu, nanti kamu akan mendapatkan swarganya. Nikmatnya hidup itu kalau kamu sudah bisa berbagi kepada sesama. Karena yang menikmati tidak hanya dirimu sendiri, melainkan juga orang lain yang mengatakan rasa nikmat itu. Kalau hanya satu orang yang mengatakan nikmat, itu belum meyakinkan. Tetapi jika orang banyak mengatakan nikmat, berarti memang benar-benar nikmat. Dan jika kamu masih melihat ada orang lain belum merasakan kenikmatan, berarti itu juga belum nikmat. Berbagilah nikmat, biar banyak orang juga merasakan nikmat." kata si kakek yang masih memberikan nasehat kepada Indra.
"Iya, Kek .... Mohon bimbingannya agar kami bisa melakukan itu." jawab Indra sambil mencium tangan si kakek yang masih sangat terasa halus tersebut.
"Dek .... Dek ...! Bangun, Dek .... Sudah siang ...." Irul membangunkan istrinya yang masih nyenyak tidur di pelukannya. Tentu karena ufuk timur sudah mencorong, pertanda pagi telah tiba.
"Hah .......?!" Indra tergagap. Lalu bangun dan langsung ke kamar mandi. Selanjutnya membantu mertuanya yang sudah sibuk di dapur. Menyiapkan sarapan pagi.
Sedangkan Irul, bangun dan berbenah. Lantas menyapu halaman rumah. Membersihkan daun-daun kering yang berguguran.
__ADS_1
"Pakde ......!" dari jalan adik ipar Irul membelokkan motor ke halaman, yang membawa anak-anak dan istrinya.
Keponakan-keponakannya yang sudah sekolah di SD, sudah bersiap. Mengenakan seragam merah putih, diboncengkan bapaknya, akan berangkat sekolah. Tetapi mampir dulu ke rumah neneknya, untuk sarapan bersama dengan kakek, nenek, pakde dan budenya.
Memang ibunya Irul yang menyiapkan masak. Sengaja menyuruh anak-anaknya makan di rumahnya. Tidak usah repot-repot masak. Toh nanti juga akan dikirim ke toko.Kalau siang makannya di toko. Jadi tidak perlu wira-wiri. Masaknya di rumah. Nanti di toko hanya tinggal manasi.
Setelah sarapan, bapaknya mengantar anak-anaknya ke sekolah. Habis itu baru ke toko bersama istrinya. Membuka toko dan menyiapkan barang dagangannya. Demikian juga Irul dan Indra, setelah pekerjaan rumah beres semuanya, baru berboncengan berangkat ke toko.
Pagi itu, Indra berboncengan dengan Irul menuju tokonya. Jalannya santai, karena tidak terlalu jauh, hanya sekitar lima hingga sepuluh menit saja. Adik-adiknya sudah berangkat duluan, karena harus membuka tokonya. Tentu saat Irul dan Indra sampai di toko, pasti sudah dibuka.
Sampai di halaman depan toko, Irul berhenti untuk menurunkan istrinya. Indra pun turun. Namun saat turun dari boncengan, alangkah kagetnya ia.
"Lhoh, Mas ....?! Ini siapa yang membeli aquarium ada ikannya bagus-bagus ini ...?!" teriak Indra yang heran ada aquarium besar dengan ikan yang bagus-bagus berada di teras tokonya.
"Lhah ....?! Saya tidak tahu, Dek ...." jawab suaminya yang juga bingung. Irul langsung menyetandarkan motornya, terus menuju ke aquarium itu dan mengamati secara seksama. Aneh, siapa yang menaruh aquarium di sini? Begitu pikirannya.
Lantas Irul menuju ruang toko, "Dek ..., yang menaruh aquarium di depan itu siapa ya?" tanya Irul kepada adik-adiknya.
"Tidak tahu, Pakde .... Saya kira malah Pakde yang membeli." sahut adik-adiknya yang tentu masih sibuk menyiapkan tokonya.
Indra langsung menyeret lengan suaminya. Irul diajak masuk ke kamar yang ada di belakang. Tentu ada hal yang ingin disampaikan, agar tidak terdengar oleh adiknya.
"Mas Irul ..., tadi malam saya itu bermimpi ketemu kakek yang ada di rumah Babah Ho .... Kakek itu mengajak saya ke taman yang sangat bagus, di situ ada kolamnya dengan air yang jernih serta berbagai ikan warna-warni. Ikan-ikannya jinak dan menurut. Saya bermain dengan ikan-ikan itu. Saya elus-elus, saya pegang, saya belai-belai. Kakek itu mengatakan agar saya mengambil sesukanya. Tapi saya tidak mau, biar itu hidup di kolam saja. Nanti kalau saya pengin bermain, saya akan datang ke kolam itu lagi. Apa ini pemberian dari Kakek yang baik itu ya, Mas ...?" cerita Indra pada suaminya.
"Mungkin saja, Dek .... Ya sudah, kita rawat sebaik-baiknya ikan-ikan yang ada di aquarium itu, agar si Kakek tidak marah kepada kita." jawab Irul yang langsung mengajak istrinya keluar, untuk mengamati keindahan ikan-ikan yang ada di aquarium tersebut. Dua orang itu pun langsung bahagia menyaksikan ikan-ikan warna-warni yang berenang kian kemari. Asyik sekali.
__ADS_1
Tentu Indra sangat heran, dan tentunya juga bercampur bingung. Benarkah mimpi semalam? Dan benarkah aquarium beserta ikan-ikannya itu pemberian dari sang Kakek yang selalu menemuinya?
"Mas Irul .... Ini sudah jam delapan .... Ayo antar saya ke bank, ada urusan yang harus segera kita tanyakan di bank." kata Indra yang sudah berjanji untuk mengurusi masalah tanah dan rumah Babah Ho yang disita bank.