GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 108: ENAKNYA MAKANAN KHAS


__ADS_3

    Jamil sengaja datang ke tambak bandeng, dan meminta tolong kepada penggarap tambak untuk membuatkan bandeng bakar lumpur. Sebenarnya memang tidak sulit untuk membuatnya. Tetapi butuh waktu tersendiri, karena harus melumuri ikan bandeng dengan tanah liat dan membakarnya di atas bara api. Kalau tidak diniati untuk membuat, meskipun gampang ya tidak bakalan ada. Demi anak dan teman-teman anaknya, maka ia berusaha untuk mencari tukang tambak yang mau membuatkan. Akhirnya dapat juga.


    "Butuh berapa banyak untuk buat bandeng bakar lumpur ...?" tanya tukang tambak pada Jamil.


    "Monggo kerso .... Silakan Pak Lik bisa buatkan kami berapa .... Ini demi anak saya, Pak Lik ...." sahut Jamil yang tentu memang tidak mudah mencari pegawai tambak yang mau membakarkan.


    "Sak serokan saja, ya ...." sahut tukang tambak itu.


    "Nggih ...." jawab Jamil dengan senang, karena apa yang diminta anaknya bakal keturutan.


    "Kok tidak bilang kemarin-kemarin kalau mau bandeng bakar lumpur ...." tanya tukang tambak itu lagi.


    "Halah, ini anak saya yang minta .... Datang baru kemarin sore, ngajak teman-temannya." jawab Jamil.


    "Saya dibantu nyari kayu bakar, ya ...." kata tukang tambak itu meminta Jamil agar membantu nyarikan kayu bakar untuk membakar bandengnya.


    "Ya, siap ...." lantas Jamil nyetater motornya.


    "Lho, mau ke mana?" tanya tukang tambak yang bingung.


    "Katanya suruh nyarikan kayu bakar .... Ini saya mau cari kayu bakar. Di pasar banyak ...." sahut Jamil.


    "O, ya sudah .... Silahkan .... Sama belikan rokok ...." kata tukang tambak itu lagi.


    "Oke, siap ...." Jamil langsung melajukan motornya.


    Lantas tukang tambak itu menyerok ikan bandeng. Sekali serok langsung dapat banyak. Selanjutnya bandeng-bandeng itu dbersihkan.


    Ya, yang namanya bandeng bakar lumpur merupakan menu yang sangat tradisional. Dari namanya saja sudah bisa ditebak, yaitu ikan bandeng yang dibakar dengan lumpur. Bandeng bakar lumpur ini sulit untuk didapatkan di daerah selain tambak, karena prosesnya membalut tanah liat atau lumpur itu harus menggunakan lumpur dari tambak tempat bandeng itu berada. Makanya makanan tradisionil ini biasanya ada di daerah yang wilayahnya mayoritas petani tambak.


    Dan anehnya,  bandeng bakar lumpur ini tidak ada yang jual. Apalagi mencari menu ini di rumah makan atau restoran. Olahan bandeng bakar lumpur ini biasanya memang dibuat oleh orang-orang penggarap tambak yang konon ceritanya saat mau makan tidak ada lauk, maka mereka mencoba membuat bandeng bakat tersebut. Sehingga makanan yang namanya bandeng bakar lumpur hanya ada dan disajikan di sekitar area tambak, dan memasaknya pun juga di tepi tambak.


    Melian pernah makan masakan ini, saat diajak oleh ibu dan bapaknya jalan-jalan ke tambak. Karena rasanya yang enak itulah, maka rupanya Melian ingin memamerkan menu tradisional ini kepada teman-temannya.


    Sebenarnya proses pembuatannya sangat sederhana. Ya, itu semua karena keterbatasan alat di tambak. Seperti yang dilakukan oleh tukang tambak yang dimintai tolong oleh Jamil ini, meski mendadak, tetap bisa membuatnya. Dari ikan bandeng yang diserok tadi, kemudian dicuci hingga bersih. Kulitnya atau sisik bandeng tidak boleh rusak. Hanya dicuci saja. Malah kalau untuk makan sendiri, paling-paling hanya dicelup ke air tambak.


    Selanjutnya, ikan-ikan bandeng yang sudah dicuci, oleh pekerja tambak tersebut dilumuri lumpur. Lumpur ini diambil dari dalam tambak yang masih basah atau ada airnya. Tinggal mengeruk saja dengan jari-jari tangannya dari tambak. Seluruh tubuh ikan bandeng dibalut dengan lumpur hingga rata, agak tebal, kira-kira setengah sampai satu sentimeter, sehingga bandeng tersebut tidak terlihat lagi.


    "Uduk ..., uduk ..., uduk ..., uduk .... Din ..., din ...." suara sepeda motor.


    Jamil datang membawa kayu bakar yang ditaruh ditengah motor bebeknya.


    "Ini Pak Lik, kayunya ...." kata Jamil yang menurunkan kayu, dan memberikan sebungkus rokok kepada tukang  tambak itu.


    "Ya, makasih .... Ini tolong apinya ditambahi kayu ...." kata pegawai tambak itu, yang sudah menyalakan api dari carang-carang bambu, bekas penopang tambak.


    Api menyala besar. Tukang tambak yang sudak biasa membakar bandeng lumpur itu langsung menata bilah kayu, untuk meletakkan bandeng-bandeng yang akan dibakar.


    Lantas tukang tambak itu membakar bandeng yang sudah dilumuri lumpur tersebut di atas api yang sudah menyala-nyala.


    "Ngrokok dulu ...." tukang tambak itu membuka bungkusan rokok yang tadi dibelikan oleh Jamil, lantas mengambil sebatang, dan disulutkan ke bara api yang ada di depannya. Rokok langsung dihisap. Asap tebal keluar dari mulutnya.

__ADS_1


    "Ini, rokoknya ...." kata tukang tambak itu menawarkan rokok kepada Jamil.


    "Saya nggak ngrokok, kok, Pak Lik ...." sahut Jamil.


    "Pantesan kaya .... Lha wong duwitnya disimpen semua ...." sahut orang itu meledek Jamil.


    "Pak Lik juga kaya, lha itu bandeng sak pirang-pirang sampai gak pernah diajak jalan-jalan ...." sahut Jamil yang membalas.


    "Orang itu sawang sinawang ya, Mil ...." kata tukang tambak itu yang tentunya tidak ingin saling menuding.


    "Itu sudah mateng apa belum, Pak Lik ...?" tanya Jamil yang mengamati terus bandeng yang dibakar.


    "Belum .... Nanti kalau matang, tandanya adalah lumpur yang digunakan untuk membalut bandeng itu terlihat merekah dan nampak menjadi arang." kata orang itu.


    "Oo, begitu ya .... Bandengnya tidak gosong ya, Pak Lik?" tanya Jamil lagi.


    "Lha gunanya dibalut lumpur itu ya agar bandengnya tidak gosong .... Ini nanti mau dibuka lumpurnya sekalian apa mau dibuka di rumah?" tanya si tukang tambak.


    "Sebaiknya biar dibuka di rumah saja, Pak Lik .... Biar dilihat teman-teman anak saya dulu, biar tahu yang namanya bandeng bakar lumpur .... Hehehe ...." jawab Jamil, yang tentu ingin menunjukkan wujud bandeng bakar lumpur kepada para tamunya.


    "Kamu itu lho, Mil ..., punya anak satu saja kok ya dimanja sekali ...." sahut orang itu.


    "Lha terus mau memanjakan anaknya siapa ...? Apa boleh ...? Apa bapaknya tidak cemburu .... Hehehe ...." sahut Jamil meledek.


    "Gini .... Ini nanti caranya, bersihkan lumpur dari sekujur bandeng, caranya dengan mengelupasnya sedikit demi sedikit, agar daging bandengnya tidak ajur .... Itu nanti sudah langsung daging, kulitnya terkelupas ikut lumpurnya." kata tukang tambak yang sudah mulai mengangkat lumpur yang sudah berubah jadi tanah keras yang di dalamnya berisi bandeng yang sudah matang tersebut. Tentu masih panas. Maka bandeng bakar lumpur itu dimasukkan ke dalam ember yang dilambari daun pisang.


    Jamil membawa ember berisi bandeng bakar lumpur dengan sangat hati-hati. Tentu sebagai kejutan untuk anaknya bersama teman-teman Melian. Demi Melian, Jamil selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik.


    "Din ..., din ...." suara klakson sepeda motor.


    "Horeee .... Pak-e pulang ...!" teriak Melian yang langsung menyusul ke depan rumah.


    "Horee ..., Pak-e dapat bandeng bakar lumpur ...." sahut Jamil.


    "Asyiik ...." tentu Melian sangat senang.


    "Ayo, teman-teman diajak makan .... Mak-e sudah masak nasi apa belum ...?" kata Jamil lagi yang tentu langsung mengajak makan.


    "Sudah, Kang .... Sudah matang semuanya .... Mana saya bantu ngopesi bandeng bakar lumpurnya ...." tiba-tiba Juminem sudah muncul di depan rumah.


    "Bareng-bareng sama anak-anak .... Teman-temannya Melian, biar tahu seperti apa bandeng bakar lumpur itu ...." kata Jamil memberi saran.


    "O iya ..., betul ...." lanjut Juminem, yang membawa masuk ember berisi bandeng bakar lumpur tersebut.


    "Cik Indra masih di pabrik, Pak ...." kata Melian memberi tahu bapaknya.


    "Loh, kok bisa ...?" tanya Jamil.


    "Iya, tadi tidak ikut jalan-jalan .... Baru pendekatan sama Mas Irul .... Hehehe ...." sahut Melian.


    "Ya sudahm Pak-e ke pabrik dahulu, memberi tahu Mas Irul sama Cik Indra, biar makan bersama di sisni ...." kata Jamil yang langsung menyetarter motornya, bablas menuju pabrik.

__ADS_1


    Di pabrik, pintu gerbang depan tertutup. Demikian pula pintu lewat para karyawan. Jamil menghentikan motor, lantas ******* pagar dengan gembok yang menempel.


    "Mas Irul ...!! Mas Irul ...!!" Jamil memanggil Irul.


    Pintu karyawan terbuka. Irul keluar bersama Cik Indra.


    "Ya, Pak ...." jawab Irul yang menuju ke pintu gerbang, sementara Cik Indra diam di depan toko.


    "Cik Indra di ajak ke rumah, makan pakai ikan bandeng bakar lumpur .... Kasihan adik-adiknya pada menunggu, sudah pada kelaparan ...." kata Jamil sambil tersenyum, tentu tahu mereka berdua sedang asyik ngobrol. Pasti pendekatan.


    "Nggih, Pak ...." sahut Irul yang langsung bergegas. Pasti langsung mengeluarkan motor inventaris perusahaan, untuk memboncengkan Cik Indra ke rumah majikannya, makan siang bersama. Tidak jauh. Hanya beberapa menit saja.


    Dan saat dua orang yang berboncengan motor itu tiba di rumah Jamil, di Kampung Naga, langsung disambut oleh adik-adik kostnya.


    "Horeeee .... Asyik ..., asyiiik .... Ehm ..., ehm ...." Melian, Ivon dan Vanda langsung menyoraki Cik Indra yang berboncengan sama Mas Irul.


    "Kalian ini pada ngapain, sih ...?!" Cik Indra tersipu malu.


    "Sudah ..., sudah ..., sudah .... Sekarang yang penting kita menikmati menu istimewa .... Bandeng bakar lumpur .... Ini tidak ada yang jual ...." kata Jamil yang langsung mengajak makan bersama.


    "Bandeng bakar lumpur ...? Kok aneh ...?" tanya Cik Indra yang sebenarnya mencoba mengalihkan godaan adik-adik kostnya.


    "Iya .... Karena adanya cuman di tambak, yang dibakar di tempat, tidak bisa dibuat di tempat lain di luar tambak, karena harus menggunakan lumpur dari dalam tambak itu. Begitu Cik ...." jelas Pak Jamil.


    "Ini, lho .... Bentuknya seperti ini .... Ini lumpur tambak yang dipakai untuk membalut ikan bandeng ..., lalu dibakar sampai matang." tambah Juminem yang sambil menunjukkan bandengnya.


    "Lha, ikan bandengnya di mana?" teman-teman Melian pada tanya ingin tahu.


    "Ya ada di dalam tanah ini .... Yuk, kita buka bareng-bareng, ingin tahu seperti apa wujudnya ...." sahut Juminemyang langsung menyiapkan piring untuk tempat bandengnya.


    Lantas mereka mengerubung bandeng bakar lumpur itu, dan mencoba mengupas satu-satu.


    "Pelan-pelan ngupasnya .... Biar dagingnya tidak ajur ...." kata Juminem memberi pengarahan.


    Dan akhirnya, ada yang bisa membuka secara mudah, tetapi ada juga yang sulit, sehingga daging bandengnya ada yang terlepas. Jadi dua piring. Bandeng bakar lumpur siap untuk disantap.


    "Ayo kita makan ...." kata Jamil yang sudah mengambil nasi dan seekor bandeng. Lantas mengambil sambal terasi dan lalapan. Tanpa sendok, langsung pakai tangan. Orang Juwana menyebutnya dengan istilah muluk. Rasanya lebih nikmat.


    Yang lain pun langsung mengikuti, menikmati makanan tradisional yang memang tidak mudah mencarinya.


    "Hmmm ..., enaakk ...." kata Melian yang memang suka dengan bandeng bakar lumpur tersebut.


    "Eh, iya .... Gurih dan nikmat .... Enak banget ...." Ivon juga berkomentar.


    "Iya ..., ya .... Ada rasa sensasionalnya .... Aneh, tapi nikmat ...." timpal Vanda.


    "Gimana, Cik Indra ...? Ayo makan .... Kok malah pandang-pandangan sama Mas Irul terus .... Minta disuapin, ya ...? Hehe ...." ledek Melian.


    Tentu Cik Indra tersipu. Akhirnya ia pun mengambil nasi dan bandeng bakar lumpur tersebut, yang memang spesial untuk menyuguh teman-teman Melian. Cik Indra meniru gaya Pak Jamil, makan tanpa sendok, langsung menggunakan tangannya.


    "Hemmm ..., iya, betul-betul enak .... Aku suka!" kata Cik Indra yang berubah drastis, makannya langsung dikebut. Tidak ada kata malu-malu lagi, gini berubah jadi malu-maluin.

__ADS_1


__ADS_2