
Pagi itu, seperti biasa, Melian sudah mandi dan sudah menyiapkan roti bakar dan dua gelas susu yang di letakkan di meja belajar yang sekaligu menjadi meja makan itu. Maklum kamar asrama tidak seperti rumah. Apalagi asrama mahasiswa, yang penting bisa digunakan untuk mengerjakan tugas-tugas. Maka yang disediakan oleh asrama hanya meja belajar. Tetapi lumayan besar untuk belajar berdua, sehingga masih bisa untuk menaruh piring dan gelas buat sarapan atau makan.
"Putri .... Ayo bangun .... Hari sudah siang ...." kata Melian membangunkan teman se kamarnya.
"Lhoh ..., Melian .... Uuhhh ...." Putri menggeliat dan menguap.
"Sudah siang .... Putri kuliah pagi apa nggak ...?" kata Melian lagi yang seakan mengingatkan temannya.
"Ya ampun ...! Aku ada kuliah Pak Profesor .... Pagi ini ...." Putri langsung bergegas bangun dan langsung berlari masuk ke kamar mandi. Tentu terburu-buru mandi, takut terlambat, nanti bisa kena marah Pak Profesor yang galak itu.
Secepat kilat mandinya. Yang penting sudah segar, mengguyur seluruh tubuh. Sabunan sedikit saja agar cepat membilasnya. Dan hanya sebentar, Putri sudah keluar dari kamar mandi hanya dengan pinjungan handuk saja.
"Ya ampun, Putri .... Jorok ...." kata Melian yang memperhatikan temannya tergesa-gesa.
"Biarin .... Yang penting tidak terlambat." sahut Putri yang melemparkan handuk begitu saja di tempat tidurnya. Lantas yergesa berganti pakaian. Tentu memilih pakaian yang cepat dipakai dan praktis.
"Makanya kalau bangun itu yang pagi .... Jangan molor terus ...." kata Melian yang mengingatkan, sambil menyuapi roti, agar temannya itu bisa sarapan.
"Semalem itu saya menungguin Melian .... Kemana saja kok sampai malam tidak pulang-pulang ...?!" kata Putri yang tentu juga jengkel karena semalam menunggui Melian yang tidak pulang-pulang.
"Ada tugas .... Harus saya selesaikan sekalian ...." jawab Melian.
"Kok nggak bilang ...?! Jadi kepikiran, tahu ...." tanya Putri yang tentu juga khawatir.
"Maafin Melian .... Pikirnya cuman sebentar .... Ternyata sampai tengah malam baru selesai. Dan saya pulang, Putri sudah tidur nyenyak, kok ...." jawab Melian beralasan.
"Di SMS juga nggak membalas ...." tambah Putri.
"Sori .... Nggak sempat buka HP." jawab Melian.
"Ya udah .... Aku berangkat duluan ...." Putri yang tergesa.
"Eeeh .... Ini ..., minum dulu ...." kata Melian yang sudah memegangi gelas berisi susu, dan langsung mene,pelkan ke bibir temannya itu. Sangat sayang, seperti nyuapin anak kecil.
"Terima kasih, Melian .... Dah ..., aku berangkat dulu ...." kata Putri sambil keluar pintu kamar.
"Hati-hati ...." sahut Melian yang masih memegangi gelas susu. Masih ada separo. Lantas ditempelkan ke mulutnya, untuk dihabiskan. Sungguh sangat baik, seperti ibu yang menyuapi anaknya. Kalau anaknya tidak habis, pasti yang menghabiskan ibunya.
Sepeninggal Putri, Melian langsung mengangkat HP, menelepon bapaknya. Tentu karena kemarin belum sempat berpamitan saat melayat Cik Indra.
"Halo, Nduk .... Kamu sudah balik ke Jakarta?" kata bapaknya yang langsung menanyakan keberadaan anaknya.
"Iya, Pak .... Maaf, karena kemarin tergesa-gesa, tidak sempat pamitan. Mak-e ada, Pak?" jawab Melian yang langsung menanyakan ibunya.
"Ada .... Masih bantu-bantu ibunya Mas Irul .... Ini kami masih berada di rumah Mas Irul .... Ya ..., menghibur Mas Irul agar tidak terlalu bersedih .... Dan ini masih banyak tamu yang pada datang memberi ucapan bela sungkawa." kata bapaknya.
"Kasihan Mas Irul ya, Pak .... Mas Irul ada di situ?" tanya Melian pada bapaknya.
"Ada ...." jawab bapaknya.
"Tolong kasihkan HP-nya ke Mas Iru, Pak .... Melian mau bicara sama Mas Irul ...." pinta Melian pada bapaknya.
Lantas Jamil memberikan HP-nya kepada Irul yang duduk dekat dengannya, di ruang tamu keluarganya Irul. Menyampaikan kalau Melian telepon dan mau bicara
"Halo ..., Melian .... Kamu sudah sampai Jakarta?" tanya Irul saat menerima HP dari Pak Jamil.
__ADS_1
"Iya, Mas Irul ...." jawab Melian, yang tiba-tiba saja sulit untuk bicara, entah kenapa. Padahal niatnya tadi ingin bercerita dan ngobrol sama Irul. Tapi tiba-tiba saja mulutnya sulit untuk bicara.
"Kapan sampai di Jakarta?" tanya Irul pada Melian.
"Hampir pagi tadi ...." jawab Melian yang mulai sedikit bicara.
"Syukurlah .... Melian hati-hati di tanah rantau .... Jaga diri baik-baik .... Kuliah yang bener biar pinter ...." pesan Irul pada Melian.
"Iya, Mas ...." jawab Melian secukupnya saja. Sulit untuk bicara. Bahkan tidak bisa mengatakan apa yang ada di angan-angannya.
"Ini kok pagi-pagi telepon, apa Melian tidak kuliah? Nanti terganggu, lho .... Jangan teleponan saat kuliah, nanti dimarahi gurunya ...." kata Irul yang lagi-lagi menasehati.
"Dosen, Mas ...." Melian menyaut, kalau nama pengajar di perguruan tinggi itu namanya dosen.
"Iya ...." sahut Irul.
"Kuliahnya nanti siang ...." kata Melian.
"Ya sudah, kamu istirahat dulu .... Biar capeknya hilang, habis perjalanan jauh. Nanti siang saat kuliah agar tidak mengantuk. Sana istirahat .... Paling tidak rebahan ...." kata Irul lagi, yang seakan selalu menasehati Melian dengan kasih sayangnya.
"Iya, Mas ...." Melian menurut saja. Entah ada apa sebenarnya, tiba-tiba saja Melian seperti linglung berbicara dengan Irul, dan hanya mengiyakan semua kata-kata Irul.
Dan seperti yang diperintahkan oleh Irul, Melian langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Tetapi tidak tidur, justru angan-angannya melayang. Entah apa yang terbayang dalam pikiran Melian. Tetapi tiba-tiba wajah Irul yang selalu mencul dengan berbagai kebaikannya. Bahkan Melian membayangkan saat kecil pasti sering diciumi oleh Irul, yang kala itu bekerja di tempat engkongnya. Melian tersenyum sendiri, seakan geli dengan pikirannya yang tidak karuan itu. Dan Melian terus melamun membayangkan saat-saat mesra bersama Irul.
"Lhoh ...?! Melian ..., kamu tidak kuliah ...?!" tiba-tiba saja tanpa terdengar ada suara orang membuka pintu, Putri sudah masuk dan langsung menegur Melian.
"Hah ..., jam berapa ini ...?!" Melian kaget dan gedandapan. Pasti karena tadi melamun terus, sehingga tidak tahu kalau ternyata hari sudah siang.
"Ini sudah jam dua belas lewat ...." sahut Putri yang sudah meletakkan pantatnya di kasurnya.
"Makanya ..., jangan melamun terus .... Semalem pulang larut, paginya langsung melamun. Pasti sudah dapat gebetan ini ...." ledek Putri sambil tiduran di kasurnya.
"Iih ..., apaan, sih ...." tanpa melihat yang mengejek, Melian langsung menyaut tasnya, terburu-buru berangkat kuliah.
Beruntung sampai di ruang kuliah dosennya belum masuk. Tapi terpaksa, Melian dapat tempat duduk di bagian depan, tepat berhadapan dengan meja dosen. Maklum karena datang paling akhir, maka kebagian tempat duduk yang tidak disukai oleh teman-temannya. Melian tidak bisa mengelak, karena memang kursi kuliah sudah penuh.
"Tumben datangmu paling akhir ...? Biasanya paling awal." kata teman laki-laki yang duduk di kursi sebelahnya.
"Iya ...." jawab Melian singkat.
"Maksud saya, kenapa sampai datang terlambat? Karena yang saya tahu biasanya Melian ini datangnya paling awal ...." kata mahasiswa laki-laki yang ada di samping kanannya itu, dan kursinya sudah digeser mepet dengan dirinya.
"Tidak apa-apa ...." Melian kembali menjawab secara singkat.
"Besok malam Minggu ada waktu ...? Kalau Melian mau, aku ajak jalan-jalan ke mall ...." kata laki-laki itu lagi yang menanyakan tentang malam Minggunya.
"Gak bisa ...." jawab Melian lagi, dan tentu singkat serta tanpa ekspresi.
"Sudah ada acara, ya ...?" tanya temannya itu lagi, yang kedua tanganya sudah berada di bagian kursi milik Melian, tempat menulis saat kuliah.
"Membosankan ...." gumam Melian.
"Iya, betul .... Mau kuliah kalau dosennya gak datang-datang memang membosankan .... Sama, saya juga bosan ...." kata mahasiswa laki-laki yang semakin mendekat ke Melian itu.
Padahal sebenarnya, Melian bosan dengan kata-kata cowok itu, yang seakan sedang mengadakan pendekatan pada dirinya. Mahasiswa itu sedang merayu dirinya. Pasti karena tidak suka, maka Melian jadi merasa terganggu.
__ADS_1
"Selamat siang semuanya ...." tiba-tiba terdengar salam, dari dosen yang baru saja masuk kelas.
"Siang, Pak ...." sahut para mahasiswa yang sudah lumayan menunggu kedatangannya.
"Maaf agak terlambat .... Biasa, Jakarta tidak pernah lepas dari kemacetan." kata si dosen setengah baya itu beralasan.
"Ssttt .... Mel, lihat .... Celana Pak dosen itu resletingnya masih terbuka .... Hikhiqik ...." kata teman cowok itu lagi yang berbisik pada Melian, dan pasti menertawakan keadaan celana Pak Dosen.
Melian yang diperlihatkan pada masalah itu tidak senang. Tapi malah menjadi jengkel dengan mahasiswa gemuk itu. Melian langsung berdiri dan mendekat ke dosen itu, seakan mau minta izin keluar sebentar.
"Maaf, Pak .... Silahkan Bapak balik badan sebentar, garasi Bapak masih terbuka, tidak baik kalau dilihat para mahasiswa ...." bisik Melian, yang tentu tidak didengar oleh teman-temannya. Selanjutnya Melian berjalan keluar kelas. Pura-pura izin ke kamar kecil.
"Oh, ya .... Silahkan ...." kata si dosen itu yang langsung membalikkan badannya dan tentu tangannya sigap membenarkan resleting celananya. Syukurlah ada mahasiswi yang baik.
Sebentar kemudian Melian sudah masuk kelas lagi. Padahal tadi sebenarnya hanya keluar ruang saja. Ia menganggukkan kepala sejenak pada Pak dosen itu, yang tentu sambil mengamati celana dosennya. Dan ternyata sudah dibetulkan.
"Terima kasih, Pak ...." kata Melian yang kembali duduk di kursi kuliahnya, tepat berhadapan dengan dosennya.
"Iya ..., iya .... Saya juga berterima kasih." sahut dosen itu.
Mahasiswa gemuk yang duduk di samping Melian itu kembali menolehkan kepalanya, dan kembali membisik pada Melian. Katanya, "Kamu lihat barangnya Pak Dosen langsung kebelet, ya ...." pastinya cowok itu mengejek Melian.
"Plak ...!!" suara pipi cowok menjengkelkan itu ditampar yangan Melian.
Tentu para mahasiswa yang sedang konsentrasi mengikuti perkuliahan kaget mendengar suara itu, dan bingung mencari asal suara.
"Ada apa, Melian ...?" tanya sang dosen yang tahu.
"Maaf, Pak tidak sengaja .... Ini tadi tangan saya reflek akan menyaut ballpoint yang terjatuh, eh ..., malah terkena Tong Sek." kata Melian yang sambil membungkukkan badan mengambil ballpoinnya yang ada di lantai.
"Oo ..., ya sudah .... Lain kali hati-hati ...." kata Pak Dosen.
Pasti Tong Sek, cowok gendut yang ada di sampingnya itu merasa kesakitan. Tetapi tentu tidak berani membalas ataupun berkata apa-apa. Dia malu dengan teman-temannya yang lain. Beruntung tidak ada temannya yang tahu kalau pipinya sudah ditampar oleh Melian.
Suasana perkuliahan pun menjadi sangat tenang. Tidak ada lagi yang ribut. Semua konsentrasi pada penjelasan sang dosen. Hingga perkuliahan selesai. Para mahasiswa langsung keluar ruang. Termasuk Melian yang sudah berdiri dan mengangkat tasnya. Namun tiba-tiba, dosen itu menghentikan Melian.
"Melian .... Saya mau bicara sebentar ...." kata dosen itu yang sudah berhadapan empat mata.
"Iya, Pak .... Ada apa, Pak ...?" tanya Melian.
"Terima kasih kamu sudah baik, mengingatkan kelemahan saya ...." kata sang dosen.
"Itu sudah kewajiban kita untuk saling mengingatkan, Pak ...." jawab Melian.
"Oh, ya .... Melian ada waktu untuk jalan-jalan sama saya?" kata sang dosen itu.
"Sama keluarga Bapak? Sama anak istri Bapak?" tanya Melian.
"Jangan .... Kita berdua saja ...." kata si dosen itu.
Tanpa menjawab, Melian langsung beranjak meninggalkan dosen kurang ajar itu. Tentu dengan rasa sangat jengkel. Ingin marah sebenarnya, tetapi dirasa kurang etis untuk memarahi seorang dosen yang mestinya dihormati. Ia langsung keluar.
"Ehm ..., Melian .... Ini kalau kamu mau, nanti nilai kamu saya kasih A. Mau, kan ...." kata dosen itu yang mengejar Melian sebelum keluar ruang.
Melian tidak mau berurusan. Ia bablas saja meninggalkan ruang itu. Dan pasti sangat jengkel dengan dosen yang ternyata lebih kurang ajar itu.
__ADS_1
Benar-benar perkuliahan yang menjengkelkan.