
Tidak seperti biasanya, Jamil termenung di meja makan, saat makan bersama dengan Juminem dan Melian. Tentu anak dan istrinya heran melihat tingkah suaminya itu.
"Ada masalah apa, Kang ...? Kok termenung terus ...?" tanya Juminem yang akhirnya meletakkan sendoknya, tidak enak makan karena melihat suaminya yang tidak makan.
"Iya, Pak .... Makan dahulu .... Biar sehat dan kuat ...." tambah Melian.
"Ada apa di pabrik? Ada yang belum selesai pesanannya?" tanya Juminem lagi.
"Urusan pabrik dipikir besok lagi, Pak .... Kalau sudah sampai rumah, pikirannya di rumah saja ...." kata Melian yang ikut-ikutan menasehati bapaknya.
Memang Melian sangat cerdas dalam hal-hal yang menyangkut urusan keluarga seperti itu. Apalagi saat ini Melian sudah kelas tiga SMP. Sudah menjadi gadis remaja. Maka pola pikir anak gadis itu sudah sangat dewasa untuk urusan dalam keluarga. Termasuk saat melihat bapaknya yang termenung di meja makan, pasti ada sesuatu yang dipikirkan.
"Kang ..., kalau ada masalah, jangan dipendam sendiri .... Sampaikan ke istri atau anak .... Siapa tahu kami bisa membantu ...." kata Juminem lagi yang tentu ingin tahu masalah suaminya.
"Iya, Pak .... Siapa tahu kita bisa bantu cari solusinya ...." tambah Melian.
"Sebenarnya bukan masalah .... Tapi ..., ya masalah ...." kata Jamil yang bingung mau menyampaikan.
"Piye, leh ...? Ngomong kok ra ceto .... Yang namanya masalah, sekecil apapun ya tetap masalah ...." kata Juminem.
"Iya, Pak .... Cerita saja, tidak usah ragu-ragu ...." tambah Melian.
"Begini .... Tadi siang, Pak Bos yang dulu itu datang ke perusahaan. Dia sudah keluar dari penjara ...." kata Jamil.
"Hah ...?! sudah bebas?! Kok cepat?! Katanya hukumannya empat belas tahun ...." Juminem kaget.
"Iya .... Katanya sudah bebas." jawab Jamil.
"Terus ...?!" tanya Juminem, yang ingin tahu kelanjutannya.
"Dia datang ke kantor .... Seluruh karyawan dikumpulkan .... Termasuk saya. Dan dia bilang, kalau perusahaan itu akan diminta lagi ...." kata Jamil.
"Lhoh .... Pak-e itu bagaimana ...?! Masalah kayak gitu kok dianggap bukan masalah ...! Piye, leh ...?!" kata Juminem yang tentu sangat emosi.
"Iya .... Pak-e itu gimana, leh?" timpal Melian yang juga kecewa.
"Ya sebenarnya tidak apa-apa .... Toh uang yang dulu kita gunakan untuk melunasi utang dan gaji karyawan akan dikembalikan. Dan kalau kita lihat sejarahnya, memang pabrik itu kan milik Pak Bos .... Saya kan hanya diamanahi untuk mengelola karena Pak Bos dipenjara. Lhah, kalau Pak Bos sudah keluar dari penjara, terus diminta lagi, itu kan haknya dia ...." jelas Jamil pada anak dan istrinya.
"Lha, iya .... Tapi bagaimana dengan usaha Kang Jamil selama ini? Masak tidak dihargai? Kan majunya pabrik itu karena Kang Jamil ...." kata Juminem yang tidak rela kalau suaminya harus keluar begitu saja.
"Juminem ..., Melian .... Ini membuktikan bahwa yang namanya harta, benda, kekayaan itu hanya titipan Tuhan sementara saja .... Contohnya, ya ini... Kita dititipi pabrik oleh Pak Bos, lalu dia datang, terus meminta yang ia titipkan. Maka saya yang dititipi harus menyerahkan kembali kepada yang punya. " Kata jamil menjelaskan kepada anak dan istrinya.
"Kalau perusahaan itu diminta lagi oleh Pak Bos mu ..., terus nanti para karyawan bagaimana? Mereka mau kerja di mana? " tanya Juminem.
__ADS_1
"Betul, Pak.... Kasihan para karyawan... " Timpal Melian.
"Ya itu nanti kan diatur oleh bos baru.... " Jawab Jamil.
"Terus ..., nanti Pak-e bagaimana? Tidak kerja?" tanya Juminem lagi.
"Tuhan nanti pasti memberi jalan untuk kita, Jum .... Jangan khawatir .... Kita mesti berserah saja kepada Yang Maha Kuasa ...." kata Jamil yang memang selalu pasrah.
Juminem terdiam. Jika ngomong masalah diatur oleh Yang Maha Kuasa, apapun ia tidak sanggup berdalih lagi. Ya, apalagi selama ini hidup mereka memang selalu mujur. Apa-apa menjadi aneh, namun terasa enak dan indah. Itulah kenyataan hidupnya yang penuh dengan keajaiban.
Apalagi jika mengingat, dulu Jamil hanyalah seorang kuli yang harus membanting tulang mencari batu kapur. Hidupnya serba kekurangan. Bahkan untuk makan saja hanya pas-pasan. Dan saat ia mendambakan anak, setelah lama menikah belum juga punya keturunan, tiba-tiba saja ada orang yang memberi bayi. Bahkan bayi itu pula yang dirasakan oleh Juminem maupun Jamil selalu memberikan keajaiban-keajaiban dalam rumah tangganya. Itu semua mereka syukuri. Jamil tidak sombong dan berubah sifat ketika ia menjadi kaya. Demikian juga Juminem, yang tidak pernah memamerkan keberhasilan suaminya. Bahkan Juminem tidah pernah minta ini minta itu. Ia menerima apa saja yang diberikan oleh suaminya. Yang penting rumah tangganya terpenuhi kebutuhan pokoknya.
Dan ketika suaminya menghadapi masalah sperti saat itu, Juminem pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh suaminya. Yang penting baik, tidak ribut, tidak menimbukan geger, dan tidak merugikan orang lain.
Namun bagi Melian, ia sangat membenci orang-orang yang menghalalkan segala cara. Melian tidak senang dengan sikap orang yang semena-mena. Ia benci dengan watak angkara. Apalagi mendengar ada orang yang merampas hak orang lain secara kejam.
*******
Mantan Pak Bos tentu sudah menang satu kosong melawan Jamil dan para karyawannya dulu yang hari itu mati kutu tidak bisa berbuat apa-apa saat digertak untuk meminta kembali perusahaannya. Saat menyaksikan Jamil hanya tertunduk diam, serta para karyawan yang juga hanya berani mengancam keluar, itu berarti dirinya sudah merasa menang. Mantan anak buahnya itu pasti tidak bisa apa-apa kalau perusahaan itu sudah kembali dikuasai dirinya. Kalau sampai berani macam-macam, nanti pasti dikeluarkan.
Demikian juga dengan Jamil. Mantan bos-nya itu memandang Jamil orang desa yang tidak mampu berbisnis, dan mudah diakali orang. Gampang ditipu, mudah dibohongi. Saat ia sudah keluar dari penjara, dan akan meminta kembali perusahaan itu, tentu itu adalah hal yang paling gampang. Dan memang saat menyerahkan perusahaannya dulu, hanya anak-anaknya dan kakaknya yang meminta kepada Jamil. Tetapi bagi si bos itu, ia akan mengatakan tidak pernah memberikan perusahaan itu dengan cuma-cuma. Mana ada perusahaan kok diberikan kepada orang lain secara gratis. Dan kalau uang Jamil yang sudah digunakan untuk melunasi utang serta membayar karyawan, itu nanti bisa dihitung dan diganti. Anggap saja dulu bos-nya itu hanya sekadar titip.
Kini, saatnya Pak Bos untuk mencari uang guna mencarikan ganti uang Jamil yang dulu dipakai melunasi bank.
Ya, setelah pabrik itu diserahkan ke Jamil, anak-anak Pak Bos ikut tinggal di rumah pakde-nya. Maklum, kala itu anak-anak Pak Bos masih sekolah. Yang satu di SMA dan yang kecil di SMP. Anak-anak itu tidak ada lagi yang mengasuh, karena ibunya yang meninggal gantung diri, dan ayahnya harus mendekam di penjara karen menjadi pelaku pembunuhan atas istrinya sendiri.
"Uang dari mana ...? untuk hidup dan membiayai keluarga saja kita ini masih kurang ...." jawab kakaknya, yang waktu itu mereka duduk berdua di ruang tamu rumah kakaknya itu.
"Masalahnya, saya ingin mengambil alih perusahaan itu lagi, Pakde .... Nanti kalau perusahaan itu sudah jadi milik kita lagi, kan kita bisa punya penghasilan yang lebih besar, Pakde ...." kata Pak Bos itu menjelaskan kepada kakaknya.
"Apa tidak ada hal lain yang bisa dikerjakan, selain meminta kembali tempat usaha itu? Dan apa tidak buatuh biaya besar untuk mengambil alih tempat usaha itu? Karena sekarang katanya tempat usahamu dulu itu sudah sangat maju ...." kata kakaknya, yang tentu juga ragu-ragu dengan uang yang akan didunakan untuk membayar ganti biaya.
"Justru karena itu, Pakde .... Saya tertarik untuk meminta kembali perusahaan itu, karena sudah maju .... Pasti hasilnya lebih banyak, Pakde .... Dan itu yang nanti bisa menghidupi keluarga saya dan Pakde ...." Pak Bos beralasan.
"Mbok ya kalau pengin usaha, kamu itu cari usaha yang lain .... Saya khawatir nanti kamu akan merugi lagi ...." kata kakaknya, yang pasti khawatir akan seperti dulu, usahanya bangkrut.
"Pakde ki lho .... Adiknya mau usaha kok malah didoakan yang tidak baik .... Belum-belum kok sudah bilang bangkrut .... Pantas saya jadi bangkrut ...." kata Pak Bos yang jengkel dengan kakaknya.
"Lha, saya harus bagaimana ...? Saya harus bilang apa ...? Kenyataannya seperti itu, Nang ...." sahut kakaknya yang tentu juga kurang setuju dengan ide adiknya itu.
"Sudah ..., pokoknya saya minta disediakan uang!!" sang adik itu membentak kakaknya, untuyk menyediakan uang.
"Saya tidak punya, Nang ...." kata kakaknya yang memang tidak mungkin untuk dimintai uang dalam jumlah yang besar.
__ADS_1
"Pokoknya saya butuh uang secepatnya ...! Kalau Pakde tidak punya uang, saya pinjam sertifikat tanah ini, akan saya pakai untuk utang di bank ...!!" kata Pak Bos yang memaksa pada kakaknya.
"Ya ampun Nang .... Mbok jangan seperti itu ....Tidak baik memaksakan diri .... Ingat, Nang .... Anakmu masih kuliah di Surabaya, butuh biaya besar ...." kata kakaknya yang tentu sangat keberatan dengan niat adiknya tersebut.
Namun, yang namanya hati sudah dikuasai iblis, apapun yang dikatakan oleh kakaknya, meski sudah dilarang, Pak Bos sudah tidak peduli lagi. Lantas ia berdiri, bangkit dan masuk ke kamar tidur kakaknya itu. Kemuadian ia membuka lemari, yang diduga digunakan untuk menyimpan sertifikat tanah. Lemari itu dibongkar. Pakaian-pakaian yang ada di dalamnya dikeluarkan, dilempar begitu saja di atas dipan tempat tidur. Tentu berserakan, karena dilempar semaunya.
Kakanya laki-laki yang dipanggil pakde, dan istri kakaknya yang dipanggil bude, menangis menyaksikan perbuatan adiknya itu. Tentu ia sangat sedih dan kecewa dengan tingkah adiknya itu. Baru keluar dari penjara, sudah kembali berulah. Kali ini ia menghendaki sertifikat tanah milik kakaknya.
"Di mana sertifikatnya, De ...?!!" bentak Pak Bos yang tentu sangat marah karena tidak menemukan sertifkat yang dicarinya.
"Tidak ada, Nang .... Sertifikat tanah ini sudah digadaikan untuk membiayai kuliah sekolah anak-anakmu .... Mereka butuh biaya yang tidak sedikit .... Mbok mikir sedikit gitu lho ...!" kata kakaknya yang tentu juga emosi menyaksikan tingkah adiknya itu.
"Persetan semuanya ...!!" Pak Bos itu membentak kakak dan kakak iparnya itu. Lantas keluar dari kamar kakaknya.
"Kriririing ....! Kriririing ....! Kriririing ....!" Suara telepon rumag berdering.
"Halo ...." sang Pakde mengangkat telepon yang terletak di meja kecil di pinggir meja kursi di ruang tamu, di mana Pak Bos yang masih marah tadi sudah duduk di kursi ruang tamu itu, dekat dengan meja telepon yang berdering itu.
"Halo ...! Bagaimana, Pak ...?! Ada apa ...?!" tanya Pakde yang menerima telepon.
Bude mencoba ikut menguping suara telepon itu, ingin tahu siapa yang menelepon. Lantas sang bude memencet tombol handsfree, sehingga terdengar suara orang yang menelepon.
"Halo .... Apa benar ini rumah keluarga dari remaja bernama Danang? Anaknya masih kuliah di Surabaya, Rumahnya di Juwana, Pati, Jawa Tengah ...?!" suara dari dalam telepon.
"Betul .... Saya Pakdenya Danang, memang keponakan saya kuliah di Surabaya .... Ada apa dengan keponakan saya, ya?" tanya Pakde kepada suara di telepon.
"Maaf, Bapak .... Ini kami dari kepolisian Surabaya, mau memberitahu kalau Saudara Danang mengalami kecelakaan di Surabaya. Saat ini sudah dirawat di Rumah Sakit Doketr Sutomo, Surabaya." suara dari telepon itu lagi.
Tratap, plas .... Lemas seluruh tubuh Pakde mendengar telepon itu. Kaget mendengar berita itu.
"Ya ampun ..., Danang ....!!" Budenya langsung menjerit histeris, saat mendengar keponakannya yang kuliah di Surabaya itu mengalami kecelakaan.
"Siapa yang kecelakaan, De ...?!" Pak Bos yang mendengar telepon tadi, ikut menanyakan.
"Danang, Le .... Anakmu kecelakaan di Surabaya ...!" kata budenya.
"Danang kecelakaan, De ...?!" tanya Pak Bos itu yang tentu kaget.
"Ini pasti gara-gara kamu .... Terus bagaimana kalau seperti ini ...?!" kata Bude itu.
"Lhoh, kok saya ...?!" sahut mantan Pak Bos yang tidak mau disalahkan.
"Lha, iya .... Kamu yang ngoyak-oyak minta uang terus ...." sahut Bude.
__ADS_1
"Sudah ...! Tidak usah ribut ...!! Anaknya kecelakaan kok malah eyel-eyelan .... Sekarang itu mikir bagaimana caranya agar kita cepat-cepat ke Surabaya, untuk mencari dan nolongin Danang ...!" kata Pakde yang tentu sudah tidak sabar untuk mengetahui kondisi keponakannya.