GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 190: SAHABAT BAIK


__ADS_3

    Sepulang dari kursus, tentu Putri masih terkagum dengan apa yang tadi saat berangkat dilakukan oleh Melian. Mereka tidak melintas jalan tikus itu lagi, tetapi lewat di jalan yang biasa mereka lewati. Pasti, karena gadis dengan tubuh tidak begitu gagah, malah lebih pantas dikatakan langsing, dengan kulit yang lembut itu, ternyata memiliki tenaga yang sangat kuat, sanggup menendang para pemuda brandal hingga pada berjatuhan. Bahkan para brandal itu tidak sempat menyentuh atau melawan Melian.


    Maka, sebagai rasa kagumnya, dan tentu berterima kasih karena dirinya terbebas dari bahaya yang akan dilakukan orang-orang jahat, Putri mentraktir Melian, membelikan nasi goreng. Dan yang pasti, Putri merasa tenang berjalan bersama Melian yang ternyata jago silat. Setidaknya dirinya akan terjaga.


    "Mel, aku belikan nasi goreng, ya .... Yah ..., sebagai ucapan terima kasih kita sudah selamat dari bahaya, dan tentunya Melian sudah menyelamatkan diri saya ...." kata Putri yang sudah berhenti di warung tenda di pinggir jalan.


    "Oke .... Tapi dibungkus saja .... Kita makan di kamar. Kalau belum mandi, rasanya makan kurang enak ...." jawab Melian yang tentu juga senang dapat traktiran.


    "Iya .... Aku juga kepikiran begitu." sahut Putri, yang lantas memesan nasi goreng dua bungkus kepada penjualnya, yang tentu sudah mulai ramai.


    Ya, saat malam mulai tiba, pinggir-pinggir jalan pun mulai ramai dengan warung-warung malam. Mereka menawarkan aneka kuliner dari Sabang sampai Merauke ada semua. Maklum, Jakarta isinya orang seluruh daerah dari penjuru tanah air. Bukan hanya Betawi maupun Jawa. Makanya, untuk mencari jenis kuliner apa saja, semuanya ada di sana.


    Setelah mendapatkan pesanannya, mereka berdua pun melanjutkan perjalanan pulang, menuju asrama mahasiswa, yang sebenarnya lebih yepat kalau dikatakan sebagai apartemen. Karena terlalu mewah untuk disebut asrama.


    Melian mandi lebih dulu. Tentu ia ingin segera mendinginkan pikirannya, yang tadi sempat emosi saat menghajar para berandal. Dan tentu, ia sambil merenung, mengamati gelang gioknya dan liontin yang dikenakannya. Ia yakin apa yang dilakukannya pasti ada bantuan kekuatan aneh dari makhluk yang tidak kelihatan. Meski Melian sudah tahu sejak SMA, tetapi ia heran, setiap kali ada ancaman pada dirinya, pasti ada suatu kekuatan yang tiba-tiba datang mengikutinya. Ia pun mandi keramas, membasahi sekujur tubuhnya, agar segar dan nyaman. Tidak hanya tubuhnya, tetapi juga batinnya.


    Setelah Melian selesai mandi, tentu gantian Putri yang mandi. Begitu Melian keluar dari kamar mandi, ia langsung bergegas masuk. Tentunya ingin cepat-cepat mandi. Dan setelah itu, akan menikmati nasi goreng bersama, dan yang pasti sambil mengobrol. Terus terang, Putri memang sangat penasaran dengan kehebatan Melian yang sanggup melawan enam orang pemuda brengsek tadi, tanpa ada yang sanggup memberi perlawanan kepada Melian. Itu sesuatu yang sangat luar biasa.


    Dan tentunya, tadi saat Melian mandi, Putri sudah menelepon papah dan ibunya yang ada di Manado, menceritakan apa yang terjadi. Pasti orang tua Putri sangat khawatir mndengar cerita anaknya. Namun saat anaknya memberitahu kalau teman sekamarnya itu, Melian, sanggup mengalahkan para berandal, tentu orang tua Putri menjadi lega.


    "Ayo, Mel ..., kita makan nasi goreng ini ...." kata Putri yang sudah menyajikan nasi goreng di piring.

__ADS_1


    "Ya .... Terima kasih, ya .... Sudah ditraktir nasi goreng ...." jawab Melian yang mengangkat piringnya.


    "Saya yang berterima kasih sudah kamu selamatkan .... Coba kalau tidak ada Melian ..., pasti aku sudah dikeroyok dan dijadikan santapan para brandal itu. Tadi itu saya betul-betul ketakutan, Mel .... Takut kalau terjadi apa-apa .... Dan tentunya takut kalau diperkosa .... Hiii .... Ngeri mendengarnya, Mel ...." sahut Putri yang tentu sangat berhutang budi pada Melian.


    "Enak banget, nasi gorengnya ...." kata Melian yang sudah menikmati nasi goreng itu.


    "Iya ..., enak .... Eh, Mel ..., kamu kok pinter silat, sih ...? Kalau aku minta diajari, boleh nggak?" kata Putri yang memuji Melian, dan tentunya kepengin bisa bela diri seperti temannya itu. Karena ia sadar, bahwa ternyata bela diri itu sangat penting. Yah, setidaknya bisa dipakai untuk jaga-jaga saat mengalami hal-hal seperti sore tadi.


    "Dulu aku pernah belajar wushu .... Tapi hanya sebentar kok. Waktu SMA, tadinya aku juga kagum dengan temanku, gadis cantik yang pintar wushu, yang saya anggap sebagai sahabat. Hingga akhirnya saya ikut belajar wushu dengan sahabat saya itu. Namun ternyata persahabatan kami terputus, hanya gara-gara masalah sepele. Akhirnya saya berhenti berlatih." kenang Melian saat masih sekolah di Semarang.


    "Lhoh ..., kok begitu ...?! Memang masalah apa?" tanya Putri yang tentu penasaran ingin tahu.


    "Waah .... Berarti kamu hebat, Mel ..., bisa mengalahkan gurumu. Aku salut sama kamu, Mel ...." kata Putri yang tentu semakin kagum dengan Melian.


    "Sebenarnya, saya tidak mau seperti itu. Saya pun tidak senang berkelahi. Kebaikan itu ada di lima perkara, yaitu kekayaan hati atau bermurah hati kepada siapa saja, bersabar atas kejelekan atau hal buruk yang dilakukan orang lain kepada kita, mengais rezeki yang halal, serta bertaqwa dan yakin bahwa Allah Tuhan Yang Maha Pengasih itu akan memberikan janji-janjinya kepada kita. Orang baik, pasti akan mendapatkan imbalan yang terbaik. Begitu, Putri ....” kata Melian yang seakan memberi nasehat kepada temannya itu.


    "Iya, juga .... Tapi kok sampai parah seperti itu ...? Memang orang tuamu dihina bagaimana ...?! Aku yang gak tahu kok jadi ikut emosi. Mosok teman kok menghina temannya. Parah itu ...!" kata Putri yang tentu sangat tidak senang kalau sampai ada seorang sahabat kok menghina sahabatnya.


    "Sudahlah .... Itu masa lalu .... Toh akhirnya dia sadar, kalau apa yang mereka katakan dan hinakan kepada kami itu justru menimpa dirinya sendiri." kata Melian yang tentu terlihat kecewa dengan Mei Jing kala itu.


    "Aku gak boleh tahu ...? Kalaupun ada jeleknya, aku akan maklum. Karena saya yakin bahwa setiap manusia pasti ada kekurangannya." kata Putri yang seakan memaksa Melian untuk bercerita.

__ADS_1


    "Yah .... Kalau kamu memaksa ..., ya aku kasih tahu .... Sebenarnya saya ini sudah tidak punya orang tua. Bahkan saudara. Papah dan Mamah sudah meninggal sejak saya bayi. Lantas saya dititipkan oleh Engkong pada keluarga miskin di sebuah kampung. Dan habis itu, Engkong juga meninggal. Kebetulan keluarga miskin itu tidak punya anak. Maka saya dianggap seperti anaknya sendiri. Mereka merawat dan membesarkan saya dengan tulus. Saya memanggilnya Pak dan Mak .... Panggilan bapak ibu untuk orang Jawa. Hingga akhirnya karena usaha yang gigih, Pak dan Mak menjadi sukses. Pokoknya punya uang untuk membiayai semua kebutuhan hidup dan sekolah saya. Yang jelas jauh dengan orang tua kamu yang kaya raya. Tapi saya bangga dengan orang tua angkat saya ini. Mereka sangat gigih dan bekerja keras. Bayangkan, dari orang desa yang tidak punya apa-apa, sekarang punya pabrik kerajinan kuningan yang lumayan besar. Tapi saat orang tua saya datang ke sekolahku, teman-temanku menghina. Itu hanya karena perbedaan warna kulit. Kulit saya putih, sementara Pak dan Mak coklat. Dan saya memang tidak senang kalau ada orang yang membeda-bedakan Ras. Kita lahir dari siapa saja, itu anugerah Yang Maha Kuasa. Kita tidak bisa menawar mau dilahirkan oleh siapa." jelas Melian pada teman sekamarnya itu.


    "Kok sebegitunya ...?! Memang teman kamu itu siapa ...?! Iih ..., aku jadi gemas pengin memukul temanmu itu ...." kata Putri yang sangat terbawa emosi.


    "Sudahlah .... Itu masa lalu. Toh saya sudah memaafkannya juga. Hanya yang mau saya katakan pada Putri, saya tidak mau diantara kita membeda-bedakan ras, keturunan atau kekayaan. Karena suatu saat, itu semua akan menjadi malapetaka buat kita. Karena pada dasarnya manusia itu sama. Hanya akhlaknya yang menentukan kualitas kita." tandas Melian pada Putri, yang tentu tidak mau ada jarak yang membedakan seseorang.


    "Iya, Mel .... Aku paham .... Tapi Melian mau kan bersahabat dengan saya ...?" tentu Putri tidak ingin kehilangan teman seperti Melian. Setidaknya, Melian adalah gadis baik, pintar dan sanggup membela diri jika ada yang mengganggu. Tentu Putri sangat senang dengan hal itu.


    "Yah .... Teman, kawan, atau bahkan sahabat, bahkan juga menjadi seperti saudara, itu semua akan berjalan dengan sendirinya. Hanya kualitas pertemanan itulah yang akan menempatkan kita sebagai apa. Saling berbaik, itu yang penting." kata Melian pada Putri.


    "Ee ..., nasi gorengnya sudah habis .... Sini ..., piringnya aku cuci ...." kata Putri yang langsung meminta piring yang disangga oleh Melian. Ingin membuktikan kebaikan seorang sahabat.


    "Eh, Putri .... Tolong peristiwa tadi jangan kamu ceritakan ke siapa-siapa, ya .... Tidak baik. Nanti bisa menimbulkan fitnah. Dan fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan, lho .... Maka saya minta Putri diam saja tentang peristiwa tadi sore. Itu rahasia kita berdua." kata Melian yang memesan pada teman sekamarnya itu.


    "Iya, Mel .... Akan saya jaga rahasia itu ...." sahut Putri yang sedang mencuci piring.


    Terima kasih, Putri .... Eh ..., sekali waktu, kalau ada liburan agak panjang, ikut aku pulang ke Jawa .... Aku ajak ke rumahku yang di Lasem .... Kita piknik ke sana .... Bagaimana?" Melian menawarkan kepada Putri.


    "Mau ..., mau ..., mau ...." tentu Putri sangat kepengin keliling Jawa. Maklum selama kuliah di Jakarta, justru Putri belum pernah jalan-jalan ke obyek wisata. Ia sibuk dengan perkuliahannya.


    Demikian juga Melian. Selama kuliah, belum ada waktu untuk jalan-jalan. Meski orang mengatakan Jakarta itu sebagai magnet bagi wisatawan manca maupun domestik, namun Melian sendiri juga belum sempat untuk berpiknik di Jakarta. Alasannya sama, sibuk kuliah.

__ADS_1


__ADS_2