GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 120: PENEMUAN MAYAT DI VILA


__ADS_3

    Minggu pagi, Pak Jan mau ke ladang yang ada di lereng gunung, untuk mengambil rumput gajah sebagai makanan sapi. Namun karena melintas di vila yang ia jaga, maka ia mampir untuk menengok. Inginnya nanti sehabis mengambil rumput dari ladang. Tetapi begitu melintas di jalan depan vila, ia melihat pintu garasi yang terbuka, ada mobil yang terparkir di situ, maka Pak Jan langsung berbelok. Menengok vila itu. Siapa yang menginap di vila itu? Ia ingin tahu. Karena vila tersebut adalah tanggung jawabnya. Pak Jan yang dipasrahi oleh pemiliknya untuk menjaga dan membersihkannya.


    "Permisi ...! Permisi ...!" kata Pak Jan mencoba untuk beruluk salam, agar yang ada di vila itu mendengar teriakannya.


    Pal Jan tengak-tengok. Bahkan sudah masuk ke garasi, melihat mobil yang parkir di situ. Ia belum pernah melihat mobil itu, pasti agak bingung, siapa yang menginap? Kok tidak memberi tahu lebih dahulu?


    "Permisi ...! Permisi ...!" Pak Jan kembali berteriak.


    Namun suasana vila itu sepi. Tidak ada orang yang menyaut salam Pak Jan. Lantas Pak Jan mencoba mengintip dalam vila melalui celah jendela. Sepi tidak ada orang. Hanya terlihat beberapa botol dan gelas yang ada di atas meja, serta kulit kacang yang berserakan di lantai. Lampu ruang tengah juga masih menyala, terlihat terang. Pasti ada orang yang menginap di dalam. Mungkin saja tadi malam begadang sampai larut. Makanya pagi ini belum pada bangun.


    "Ah, biar saja. Paling-paling orang-orangnya masih tidur ...." begitu gumam Pak Jan, yang terus meninggalkan vila itu, untuk melanjutkan tujuan awalnya, mengambil rumput pakan sapi di bukit bagian atas.


    Karena beranggapan kalau penghuni vila itu masih pada tidur, tentu Pak Jan sebagai orang yang hanya bertugas membersihkan, maka tidak berani mengganggu pemiliknya. Toh hari masih terlalu pagi. Biar orang-orang itu puas dulu tidurnya. Di tinggal ke ladang saja lebih dahulu, untuk mengarit rumput, biar sapinya tidak pada mengeluh karena lapar. Nanti saja kalau sudah selesai mengurusi sapi piaraannya, baru kembali membersihkan vila. Seperti biasa, agak siangan dikit.


    Dan setelah urusannya mengambil rumput selesai, setelah memberi makan pada sapi beres, barulah Pak Jan kembali naik menuju vila yang dijaganya. Rumah Pak Jan berada jauh di bawah vila. Vila itu berada di tempat paling tinggi. Jaraknya lumayan dengan rumah Pak Jan.


    Dengan berjalan santai, Pak Jan memasuki halaman vila. Tidak tergesa, sambil berharap orang-orang yang tidur di vila itu sudah pada bangun. Kalau tidak bapaknya yang tidur di situ, paling-paling anak-anaknya bersama temannya. Sudah biasa. Pak Jan selalu tahu kalau anaknya sering datang ke vila itu. Bahkan juga kalau membawa wanita. Yah, namanya saja juga orang kaya, gaya hidup seperti itu sudah dianggap biasa. Pak Jan tidak kaget lagi.


    "Permisi ...! Permisi ...!" Pak Jan kembali beruluk salam, memberi tanda kehadirannya kepada pemilik rumah.


    Namun lagi-lagi, tidak ada yang menjawab. Suasana masih saja sepi. Perlahan tangan Pak Jan mencoba untuk membuka pintu depan. Ternyata pintu itu tidak dikunci. Pak Jan masuk perlahan, sambil matanya melihat ke sekeliling. Siapa tahu sudah ada yang bangun.


    "Waduh ..., ya ampun ....." gumam Pak Jan yang menyaksikan ruang keluarga itu kotor berserakan. Beberapa botol bergelimpangan di lantai. Ya, botol minuman keras. Walau tidak pernah minum, tapi Pak Jan tahu botol-botol itu. Kulit kacang juga berserakan di lantai. Apalagi di atas meja tamu itu, beberapa gelas menggelimpang, botol-botol juga bergelimpangan. Bahkan ada yang tumpah di meja. Baunya sangat menyegrak menusuk hidung. Bau ciu yang seperti tape busuk. Ya, minuman alkohol yang berceceran.


    "Waduh ..., bakalan banyak pekerjaan ini nanti untuk bersih-bersih vila .... Bisa ngepel dua tiga kali ini .... Pasti ini pekerjaan Den Cung Kek .... Kemproh ...!" guman Pak Jan lagi.


    "Den ..., Den Cung Kek ...." Pak Jan mencoba memanggil. Tetapi hampa karena tidak ada suara jawaban.


    Pak Jan yang sudah mengamati ruangan itu, langsung melangkah menuju kamar yang lampunya menyala dan pintunya terbuka. Ia mencoba ingin menengok kamar itu. Ada orangnya apa tidak, atau masih pada tidur. Dan saat Pak Jan sampai di depan kamar yang terbuka itu, alangkah kagetnya ia.


    "Waduh ...!! Ada apa ini ...?!!"


    Mata Pak Jan terbelalak, menyaksikan di kamar itu ada remaja-remaja yang bergelimpangan tanpa busana. Dua orang terkapar di lantai, dan satu orang lagi terlentang di kasur.


    "Jangan-jangan .... Waduh ...??!! Tolooongngng ...!!! Tolooongngng ...!!!" pikiran Pak Jan sudah kacau. Pak Jan lari keluar sambil berteriak minta tolong.


    "Ada apa, Pak Jan ...?!" tanya tetangganya yang kebetulan sedang menggarap lahan pertanian di depan vila yang dijaga Pak Jan tersebut.


    "Anu .... Eee .... Anu ...." Pak Jan tiba-tiba gagap, bingung untuk mengucap kata-kata.


    "Anu apa ...?!!" bentak tetangganya itu.


    "Ada anu .... Anu ...." Pak Jan masih gagap.


    Lantas tetangganya itu mendekati Pak Jan. Kemudian memegang kedua pundak Pak Jan. Selanjuynya membantu Pak Jan bicara.


    "Ucapkan perlahan, Pak Jan .... Ada ......." kata tetangganya.


    "Orang meninggal ...! Di kamar vila ada yang meninggal ...!" kata Pak Jan yang langsung ketakutan.


    "Hah ...?!! Orang meninggal ...??!! Tolooongngng ....!!! Ada orang meninggal ...!!!" orang itu langsung kaget mendengar penuturan Pak Jan. Maka karena takut, ia juga berteriak agar para tetangganya mendengar dan membantu.


    Benar seperti yang diharapkan. Beberapa orang yang kebetulan mendengar langsung berlari menuju ke vila yang dijaga oleh Pak Jan tersebut. Terlebih orang-orang yang berada di ladang dekat dengan vila itu. Maklum, matahari sudah sedepa, warga masyarakat sudah beraktivitas di ladang untuk mengurus tanaman maupun panenan hasil pertaniannya. Bandungan masyarakatnya adalah petani sayur mayur.


    "Ada apa ...?!"

__ADS_1


    "Kenapa ...?!"


    "Bagaimana ...?!"


    "Anu .... Ada anu .... Ada orang meninggal .... Anu .., di dalam kamar vila ...." kata Pak Jan tentu dengan wajah ketakutan.


    "Haaahh ...??!!" orang-orang yang mendengarnya langsung terbengong, kaget.


    "Di mana ...?" tanya salah satu tetangganya.


    "Di dalam kamar .... Ada tiga orang ...." jawab Pak Jan.


    "Haaahhhh ...??!!!!" orang-orang yang mendengarnya lebih terkejut.


    "Ayo kita lihat ...!" ajak salah satu yang datang di situ.


    "Eit ..., jangan .... Ini pasti pembunuhan ...!! Lebih baik lapor ke polisi saja." yang lain mencegah ajakan tersebut.


    "Lhoh, kenapa ...?" tanya orang yang mengajak masuk.


    "Nanti kalau itu ternyata pembunuhan, kita bisa jadi tersangka .... Kita bisa dihukum, lho ...! Biar polisi dulu yang melihat." jelas yang melarang.


    "O, ya .... Kalau begitu lapor polsi ...." sahut yang lain.


    "Siapa yang lapor?" tanya yang lain lagi.


    "Pak Jan .... Dia yang menjaga vila ini, dan yang sudah tahu ada orang yang meninggal. Sana yang bawa motor mboncengkan Pak Jan ke Polsek." kata orang yang sudah agak berpengalaman.


    "Siap ...! Ayo, Pak Jan ...!" tetangganya yang membawa motor langsung menghidupkan motornya, memboncengkan Pak Jan menuju kantor Polsek Bandungan. Tidak jauh.


    Warga kampung pun memaklumi hal itu. Bisa menerima larangan untuk tidak mendekat vila. Takut dipenjara. Maka mereka memenuhi jalanan di depan vila itu. Tentu sambil ngobrol, tanya-tanya kasus yang terjadi, membuat spekulasi kemungkinan-kemungkinan masalahnya, bahkan juga menduga-duga siapa yang meninggal. Tentu mereka sangat penasaran dengan tiga orang yang mati bersamaan di dalam kamar. Itu pasti pembunuhan sadis. Dan tentu yang mati tersebut mengalami luka parah, entah dibacok, ditusuk perutnya, atau bahkan juga ditembak kepalanya. Setidaknya pasti ada pembunuh sadis yang sudah masuk vila itu.


    "Uuuiiiiiiingngngng ..........! Uuuiiiiiiingngngng ..........!" sirine mobil ambulan milik polisi mendengung, melintas di jalan dari perempatan Pasar Bandungan, menanjak ke arah utara.


    Di belakangnya ada mobil polisi lain, berupa mobil pick up dengan bagian belakangnya terdapat kursi saling berlawanan menghadap ke samping mobil. Ada tiga polisi yang duduk di belakang, dan satu orang warga biasa, yaitu Pak Jan.


    "Awas minggir ...!! Awas minggir ...!!" teriak salah seorang warga yang ikut berjubel di jalan depan vila itu, menyuruh orang-orang untuk minggir dari jalan, karena akan dipakai lewat mobil ambulan dan mobil polisi.


    Warga yang memadati jalan itu langsung menepi. Ada yang masuk lahan sayuran. Pasti merusak tanaman yang ada di ladang itu. Tetapi yang punya pasrah tidak marah. Maklum berada di tempat yang kebetulan sedang geger. Ibarat kata seperti korban perang.


    Seluruh mata tertuju pada mobil ambulan yang datang. Nanti mayat-mayat korban pembunuhan dalam vila itu, akan diangkut menggunakan mobil ambulan warna coklat gelap itu.


    "Uuuiiiiiiingngngng ..........!" sirine kembali berbunyi, lantas padam. Ambulan itu sudah berbalik arah. Bagian belakang berada di dalam, sedangkan bagian depan menghadap ke jalan. Tentu untuk mempermudah saat pulang nanti.


    Sedangkan mobil polisi berhenti di jalan, di depan vila. Tempat yang ramai oleh warga yang menonton. Sopir mematikan mesin mobil, lantas membuka pintu dan turun. Lantas polisi yang ada di bak belakang meloncat turun. Demikian juga Pak Jan yang ikut turun, tapi perlahan-lahan karena kesulitan untuk keluar dari bak mobil polisi itu.


    "Di mana, Pak ...?" tanya petugas polisi.


    "Di dalam, Pak .... Ada di kamar ...." jawab Pak Jan sambil menunjukkan arah kamarnya.


    "Yang lain mohon jangan mendekat. Bisa berbahaya ...!" teriak salah seorang petugas polisi yang melarang warga agar tidak mendekat. Bahkan Pak Jan juga tidak boleh masuk.


    "Iya, Pak .......!!" para warga yang menonton berteriak menjawab.


    Orang-orang yang menonton itu langsung beralih tempat. Mereka menyaksikan dari sisi utara dan selatan, agar nanti bisa melihat saat mayat-mayat itu digotong dimasukkan ke ambulan.

__ADS_1


    Ada juru foto yang datang ke situ. Juru foto itu dari kepolisian. Pasti akan membuat foto-foto guna laporan kejadian. Pasti foto-foto saat mayat-mayat itu masih dalam posisi asli. Mayat-mayat yang bergelimpangan di kamar. Termasuk memotret kondisinya.


    Bahkan kelihatannya juga ada wartawan yang memotret berkali-kali. Wartawan itu memotret vila dari segala penjuru. Wartawan itu juga ikut mendekat dan memotret ke dalam ruang, tetapi hanya sebentar, setelah itu keluar lagi. Lantas wartawan itu mewawancarai salah satu warga. Tetapi warga yang diwawancarai langsung bilang kalau yang tahu adalah Pak Jan. Maka wartawan itu langsung mencari Pak Jan. Namun belum sembat bicara, Pak Jan sudah dipanggil polisi.


    "Pak Jan ...!!" teriak polisi yang memanggil Pak Jan.


    Pak Jan langsung bergegas lari menuju polisi yang memanggilnya dari teras vila.


    "Iya, Pak .... Saya ..., ada apa?" tanya Pak Jan yang sudah menghadap ke polisi yang memanggilnya.


    Polisi itu mengajak masuk Pak Jan. Pasti Pak Jan akan ditanyai macam-macam terkait peristiwa yang ada di vila itu. Wartawan tadi menguntit dari belakang, tentu ingin tahu banyak apa yang dibicarakan. Kejadian ini merupakan bahan berita yang pasti akan membuat korannya sangat laris.


    "Pak Jan tidak tahu tadi malam di sini ada apa?" tanya polisi itu.


    "Tidak tahu, Pak .... Rumah saya agak jauh dari sini. Ini ..., anak ini Den Cung Kek, itu anaknya yang punya vila ini, Pak .... Mereka membawa kunci sendiri. Jadi bisa masuk kapan saja." jawab Pak Jan yang tentu ketakutan.


    "Lha, yang dua ini siapa, Pak Jan tahu?" tanya polisi itu lagi.


    "Saya tidak kenal .... Pasti mereka ini temannya Den Cung Kek, Pak ...." jawab Pak Jan lagi.


    "Pak Jan punya nomor telepon atau alamat rumah keluarga yang punya vila ini?" tanya polisi itu lagi.


    "Punya, Pak .... Sebentar, kartu namanya saya taruh di lemari bufet itu, Pak ...." kata Pak Jan yang langsung melangkah ke lemari bufet, membuka kaca bagian atas, lantas mengambil kartu nama yang ada di situ. "Ini, Pak." kata Pak Jan sambil menyerahkan selembar kartu nama untuk polisi itu.


    Polisi itu menerima kartu nama, lantas mebaca tulisan yang tertera di kartu nama itu.


    "Memang apa yang terjadi ya, Pak ...?" tanya Pak Jan yang tentu sangat ingin tahu. Sebab nanti, ia pasti akan jadi sasaran kemarahan majikannya yang punya vila itu.


    "Dugaan sementara ..., over dosis .... Lihat itu, banyak minuman dan obat terlarang yang tergeletak di meja, bahkan sampai berserakan di lantai." kata polisi itu.


    Juru foto dari kepolisian masih memotret ruang keluarga yang berantakan. Tentu sebagai dugaan sementara, kalau para remaja yang tergeletak itu mengkonsumsi minuman keras dan obat-otabatan terlarang.


    "Tolong diangkut jenazahnya ...." perintah polisi yang mungkin sebagai komandan tersebut.


    Anak buahnya langsung mengangkat jenasah dengan papan pengangkut dari mobil ambulan. Tiga jenazah langsung dimasukkan ke mobil ambulan. Pasti akan dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan visum.


    "Pak Jan .... Untuk sementara vila ini kami segel. Kami beri garis batas, tolong agar tidak ada yang masuk melintasi pita kuning. Nanti keluarga korban, pihak kepolisian yang menghubungi. Pak Jan jangan telepon majikanmu. Kami yang akan telepon. Dan ..., sewaktu-waktu kami butuh bantuan, Pak Jan harus siap kami panggil." kata komandan polisi itu.


    "Nggih, Pak ...." jawab Pak Jan yang masih ketakutan.


    Di luar vila, masyarakat semakin ramai. Menyaksikan mayat-mayat yang diusung dari dalam vila, dimasukkan ke mobil ambulan. Tentu mereka sangat penasaran.


    Wartawan tadi, ikut sibuk memotret polisi yang mengusung jenazah dan memasukkan ke mobil ambulan. Lantas wartawan itu tiba-tiba berlari. Mengejar polisi yang akan masuk ke mobil dinas.


    "Maaf, Pak Komandan ..., mohon penjelasan untuk kasus kematian ini, Pak ...." tanya wartawan itu yang mencegat polisi yang sudah bersiap pulang.


    "Dugaan sementara, over disis. Biasa remaja-remaja sekarang .... Sudah, ya .... Tunggu keterangan resmi nanti setelah selesai pemeriksaan dokter." jawab polisi itu yang langsung masuk mobil dinas.


    "Uuuiiiiiiingngngng ..........! Uuuiiiiiiingngngng ..........!" sirine mobil ambulan milik polisi itu kembali mendengung. Mesin mobil sudah dinyalakan. Pertanda akan keluar dari halaman vila, untuk mengirim jenazah ke rumah sakit.


    Warga masyarakat yang semula menutup di jalan depan vila itu, kembali menepi. Memberi jalan untuk lewat ambulan. Dan seluruh mata, memandangi melepas kepergian ambulan yang mengangkut mayat-mayat dari vila yang sudah menghebohkan warga.


*******


    Koran sore yang terbit di Jawa Tengah, langsung diserbu warga. Berita yang menggemparkan warga Jawa Tengah, dan khususnya orang-orang Semarang, lebih spesial lagi bagi warga Bandungan, adalah peristiwa meninggalnya tiga orang remaja telanjang tanpa busana, di dalam kamar vila di Bandungan.

__ADS_1


__ADS_2