GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 48: BERITA DUKA


__ADS_3

    Kaus kecelakaan ambulan menabrak truk di Pantura Demak menjadi berita utama koran hari itu. Bukan hanya koran daerah, tetapi juga koran-koran nasional. Di halaman depan koran terpampang gambar mobil ambulan yang masuk ke sungai, dengan latar belakang orang-orang yang berkerumun menyaksikan kecelakaan itu. Termasuk orang-orang yang ikut membantu mengevakuasi korban.


    Tidak hanya koran, tetapi radio dan televisi juga menyiarkan berita kecelakaan ambulan yang bertabrakan dengan truk tersebut. Jika di radio hanya menyiarkan berita dengan suara saja, Itu pun hanya sebentar atau sepintas saja. Pasti orang yang mendengar juga kurang jelas. Demikian juga berita yang ada di televisi. Meski di situ terlihat gambar dan juga ada penjelasan dengan suara penyiarnya, namun berita itu juga terlintas sebentar saja di layar televisi. Pasti yang menonton tidak bisa mengulangi untuk memutar berita itu lagi


    Seperti halnya siang itu, saat Juminem yang momong anaknya sambil menonton televisi di ruang keluarga.


    "Mama .... Ma ..., ma ...." kata Melian yang dipangku ibunya, tangannya menunjuk-tuntuk ke televisi.


    Juminem paham dengan maksud anaknya itu,yang menunjukkan berita di televisi. Maka Juminem langsung melihat siaran berita di televisi tersebut. Tivi itu sedang menyiarkan berita tentang kecelakaan lalu lintas. Ya, kecelakaan mobil ambulan yang bertabrakan dengan truk yang terjadi di Pantura Demak, hingga mengakibatkan ambulan itu masuk ke sungai.


    "Ya ampuuuun .... Mobil ambulan ditabrak trek .... Waduh .... Pasti hancur itu. Lhah, kok masuk ke sungai .... Bagaimana itu ...?!" kata Juminem saat menyaksikan tayangan berita itu.


    "Ma ..., ma ..., ma ...." Melian menunjuk-tunjuk lagi ke berita itu.


    "Lhoh ..., kok ....?! Waduh .... Gambarnya sudah lewat .... Tadi kok korbannya warga Lasem ...?! Walah ..., siapa ya ...?!" Juminem menyimak berita itu secara serius, saat terdengar ditelinga jika korbannya adalah warga Lasem. Ya, tentu karena Juminem merasa orang dari Lasem, pasti ingin tahu yang menjadi korban tersebut.


    Juminem terus menyimak. Namun video korban yang diangkat oleh para penolong sudah kelewat. Juminem sudah tidak dapat lagi melihat gambar wajah korban itu. Namun yang dia dengar, jika korbannya adalah orang Lasem, pasangan suami istri yang akan dibawa ke rumah sakit. Bahkan dalam berita itu juga dikatakan kalau ambulan tersebut membawa orang sakit dari rumah sakit di Rembang menuju Semarang. Namun naas, ambulan yang membawa orang sakit itu justru menabrak truk dan masuk ke sungai. Setelah itu, berita pun sudah berganti dengan berita yang lain.


    "Ma .... Mak ...." kata Melian yang memegang dan mengelus pipi Juminem.


    "Iya .... Ada kecelakaan ambulan menabrak trek terus masuk sungai ...." Juminem memberi tahu anaknya tentang berita yang dilihat tadi.


    "Ma ...ma .... Mak ...." kata Melian lagi sanbil menunjukkan tangan ke televisi, seakan juga bercerita tentang berita itu.


    Di tempat kerja, saat istirahat siang, seperti biasa Jamil makan siang bersama teman-temannya. Siang itu, Jamil yang sudah selesai makan siang, tiba-tiba dipanggil pemilik pembuat kerajinan kuningan.


    "Mas Jamil ..., sini sebentar ...." kata pemilik usaha kerajinan kuningan tersebut.


    Jamil pun langsung melangkah masuk, menuju ke ruang dalam tempat majikannya memanggil.


    "Nggih, Pak ...." kata Jamil yang sudah masuk.


    "Duduk sini, Mas Jamil .... Tunggu sebentar, ya ...." kata juragannya menyuruh Jamil duduk di ruang tamu.


    Jamil duduk di kursi yang biasa diduduki tamu-tamu pemesan atau pembeli kerajinan milik majikannya. Saat Jamil duduk di kursi tamu itu, sembari menunggu majikannya, mata Jamil melihat ke koran yang tergeletak di meja tamu. Ia melihat berita bagian depan. Ada gambar kecelakaan. Judul beritanya "Ambulan Masuk Sungai".


    Jamil tertarik untuk melihat berita itu. Akhirnya, tangannya menggeser koran itu, dalam posisi bisa dibaca secara nyaman. Meskti ia tidak mengangkat korannya, tetapi berita itu bisa dibaca.


    "Astaghfirullaaaah ......" Jamil kaget saat membaca beberapa tulisan.


    Ya, yang mengagetkan dirinya adalah korban yang tertulis di koran itu. Ditulis dalam berita itu, korbannya adalah sopir ambulan dan pasien dari Rumah Sakit Rembang yang akan dibawa ke Semarang. Bahkan dalam berita koran itu ditulis nama korban dan alamatnya. Bun Ho dan Mei Jun, warga keturunan Cina, orang Lasem.


    "Apakah ini Babah Ho dan Cik Jun?" Jamil bertanya pada dirinya sendiri.


    Karena penasaran, maka ia mengamati gambar foto yang ada di koran itu secara jeli. Ia ingin melihat gambar wajah korbannya.


    "Benar .... Ini wajah Babah Ho ...." gumam Jamil.

__ADS_1


    Seketika itu, dada Jamil langsung panas dan sesak, karena berita itu sudah memacu aliran darah yang langsung membuat jantungnya berdegup kencang.


    "Ada apa, Mas Jamil ...?" tiba-tiba majikannya sudah berada di kursi tamu itu, yang tentu heran dengan keadaan Jamil yang terlihat seperti ketakutan.


    "Maaf, Pak .... Ini, berita koran membuat saya khawatir ...." jawab Jamil yang menunjuk ke koran.


    "Memangnya kenapa?" tanya majikannya.


    "Ini korban kecelakaan, ambulan masuk sungai .... Kelihatannya yang jadi korban itu orang yang dulu seing membantu saya .... Membantu ekonomi hidup kami." kata Jamil.


    "Siapa?" tanya majikannya.


    "Babah Ho .... Juragan sembako Pasar Lasem ...." jawab Jamil.


    "Mas Jamil yakin ...?!" majikannya ingin memastikan.


    "Iya, Pak .... Ini dalam foto, wajah korban itu memang wajah Babah Ho .... Terus di situ, nama korban juga ditulis ada kata Bun Ho dan istrinya Mei Jun dari Lasem. Yang laki-laki itu kalau di Pasar Lasem panggilannya Babah Ho, dan istrinya dipanggil Cik Jun .... Kelihatannya ini benar, Pak ...." jelas Jamil.


    "Ya, ampun ..., Mas Jamil .... Innalillahi .... Kasihan Babah Ho dan istrinya. Semoga diampuni dosanya, ya Mas Jamil ...." kata majikannya tersebut, yang tentu melihat kesedihan Jamil.


    "Maaf, Pak .... Memang saya dipanggil ada apa ya, Pak ...?" tanya Jamil untuk mengalihkan pembicaraan.


    "Oo, iya .... Begini Mas Jamil .... Rencana saya, Mas Jamil saya suruh membantu Antok keliling mengirim barang-barang ke para pemesan. Yah ..., mengangkati barang-barang pesanan." kata majikannya.


    "Ke mana, Pak ...?" tanya Jamil ingin tahu tempatnya.


    "Iya, Pak .... Terima kasih." sahut Jamil yang tentu senang.


    "Kalau begitu, besok pakai pakaian yang rapi .... Tidak usah membawa bekal nasi, nanti jajan sama sopirnya ...." pesan majikannya.


    "Nggih, Pak .... Terimakasih ...." sahut Jamil, yang tentu senang besok dia bisa memastikan berita kecelakaan itu.


    Setelah pulang kerja. Sesampai di rumah, seperti biasa Jamil disambut oleh istri dan anak kesayangannya. Pasti dengan suasana mesra.


    "Horee ..., Pak-e pulang ...." kata Juminem yang menggedong anaknya menyambut kedatangan Jamil.


    "Halo, cantik .... Maem yang banyak .... Biar cepat besar ...." sahut Jamil sambil mencolek pipi anaknya. Lantas seperti biasa, ia langsung mengambil sapu lidi untuk menyapu halaman rumahnya.


    "Pak ..., pa ..., pa ...." kata Melian yang mungkin bermaksud memanggil bapaknya.


    "Kang Jamil .... Tadi saya melihat di tivi ada kecelakaan ambulan sama truk ..., ambulannya masuk sungai ...." kata istrinya yang langsung bercerita.


    "Iya, Jum .... Saya juga membaca di koran .... Tapi saya khawatir, Jum ...." kata Jamil yang langsung menghentikan sapunya.


    "Memang kenapa, Kang ...?" tanya istrinya.


    "Itu korbannya, kelihatannya Babah Ho sama istrinya ...." jawab Jamil.

__ADS_1


    "Apa ...?!" Juminem kaget.


    "Iya .... Saya sudah mencermati gambar wajah korban yang diangkat, sangat mirip wajah Babah Ho. Dan namanya juga mirip sama ...." sahut Jamil.


    "Walah, Kang .... Piye leh ...." Juminem jadi mulai sedih.


    "Jum ..., besok saya mau tanyakan itu pada Mas Irul di Pasar Lasem. Kebetulan saya disuruh majikanku untuk ikut mengirim barang ke Tuban. Rencananya saya akan mampir sebentar di Pasar Lasem, untuk menanyakan kebenaran berita itu ...." kata Jamil pada istrinya, yang akan memastikan kebenaran berita tersebut.


    "Hah, ke Tuban, Kang ...? Terus, naik apa ...?" tanya Juminem yang tentu langsung merespon ingin tahu.


    "Ngangkut barang, Jum .... Naik mobil boks punya majikan saya .... Tidak usah khawatir. Besok saya disuruh pakai pakaian yang rapi, dan dipesan tidak usah bawa bekal, besok makan bareng sopir di warung." jelas Jamil yang tentu juga senang, karena baru kali ini ia akan bepergian jarak jauh naik mobil.


    "Alhamdulillah .... Iya, Kang .... Disyukuri ...." kata Juminem.


    Pagi itu, Jamil sudah bersiap untuk pergi luar kota. Ia mengenakan pakaian yang sudah disiapkan istrinya. Baju lengan panjang, meski tidak baru tetapi masih cukup baik untuk bepergian ke luar kota, yang tentunya akan bertemu dengan pelanggan-pelanggan majikannya.


    Jamil langsung berangkat. Bersama sopir box, mereka mengantarkan pesanan pelanggan atau pembeli hasil-hasil kerajinan kuningan dari majikannya. Menuju Tuban. Kota kecil di Jawa Timur, perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur. Mobil melaju santai di jalan Pantura. Tidak terlalu cepat, namun juga tidak terlalu lambat. Tentu dalam perjalanan itu Jamil dan sopir itu saling bercerita untuk menghilangkan suntuk.


    Tidak begitu lama. Hanya sekitar satu setengah jam, sang sopir sudah sampai ke alamat pelanggan yang akan dikirimi barang-barang pesanannya tersebut. Jamil pun langsung mengangkat barang-barang pesanan itu, dimasukkan ke rumah orang yang memesan. Ya, kerajinan lampu gantung dari kuningan. Termasuk barang yang harganya lumayan mahal. Tentu, karena yang beli juga orang kaya dengan rumah yang besar.


    Seluruh barang sudah diturunkan. Tentu Jamil yang mengangkati barang-barang itu lumayan berkeringat. Di meja teras, sudah disediakan minuman es teh, yang dibeli dari warung oleh pemilik rumah, untuk minum orang yang mengantar barang tersebut.


    "Silakan es tehnya diminum dahulu ...." kata pemilik rumah itu.


    "Ya, Pak .... Terima kasih." sahut Jamil yang langsung meminum habis segelas es teh. Demikian juga sang sopir.


    Selanjutnya, mereka berpamitan pulang.


    Seperti yang sudah direncanakan, Jamil akan mampir di Pasar Lasem. Ia ingin menanyakan kebenaran berita tentang kecelakaan yang dibacanya. Maka sopir mobil box itu pun masuk ke halaman Pasar Lasem dan parkir di situ. Sudah biasa, mobil box yang masuk ke pasar biasanya adalah mobil sales yang mengantarkan barang-barang dagangan. Maka tukang parkir membiarkan saja, tanpa memberi aba-aba.


    Begitu mobil berhenti, Jamil langsung turun. Ia langsung menuju kios Babah Ho. Namun sesampai di kios itu, ternyata tutup. Kios tidak buka. Jamil tentu semakin khawatir.


    "Bagaimana, Mas Jamil ...?" tanya sang sopir yang sudah ikut turun.


    "Kiosnya tutup." jawab Jamil.


    "Coba tanya pedagang kios-kios sebelahnya." kata si sopi memberi usulan.


    "Ya ...." jawab Jamil yang kemudian ke kios yang gandeng dengan kios Babah Ho dan bertanya, "Bu, Kios Babah Ho kok tutup, ya ...?" tanya Jamil pada pedagang tetangga Babah Ho.


    "Ee, iya ..., Mas .... Babah Ho kecelakaan dan meninggal. Istrinya juga meninggal. Kemarin diangkut ambulan mau dibawa ke Semarang, tapi ambulannya tabrakan sama truk dan masuk sungai. Babah Ho, Cik Jun sama sopir ambulan meninggal semua .... Memange Mas-e mau beli apa?" kata perempuan yang menjaga kios di sebelah warungnya Babah Ho tersebut.


    "Saya mau ketemu Mas Irul ...." jawab Jamil yang tentu sangat terpukul mendengar berita dari tetangga kios Babah Ho itu. Ternyata berita yang ada di koran itu benar.


    "Walah .... Mas Irul sama Mas Jo ke Semarang, ngurus Babah Ho sama Cik Jun .... Ke rumah saudara Babah Ho yang ada di Semarang ...." kata pedagang itu.


    "Ya sudah, Bu .... Terima kasih ...." Jamil langsung lemas.

__ADS_1


    Sang sopir langsung mengajak Jamil balik ke mobil. Ia tahu Jamil sedang bersedih. Dari ceritanya di sepanjang jalan, Babah Ho inilah yang setiap bulan selalu memberi sembako kepada keluarganya. Pasti dengan kematian tragis suami istri itu, Jamil merasa sangat terpukul. Bagaimana nanti akan menyampaikan ke Juminem. Bagaimana kelak akan menyampaikan ke Melian. Kini, Jamil tidak tahu lagi, bagaimana kelak nasib anaknya.


__ADS_2