GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 55: MENONTON BARONGSAI


__ADS_3

    Jamil sebenarnya logikanya sangat baik. Ia selalu berpikir positif dan menggunakan nalar. Tetapi karena keanehan-keanehan yang sering terjadi dan dialaminya, maka nalar logikanya itu lama-kelamaan berubah dengan anggapan bahwa diluar kemampuan manusia masih ada kekuatan lain yang tidak bisa dilihat dengan mata normal. Di luar nalar manusia, ada hal-hal yang tidak masuk akal sebagai bukti bahwa kekuatan Yang Maha Kuasa melebihi kemampuan nalar manusia.


    Untuk menyenangkan hati istri dan tentu juga anaknya, Jamil mengajak istri dan anaknya menontong tarian barongsai, di Klenteng Tjong Hok Bio yang merupakan klenteng tertua yang ada di Juwana. Konon, klenteng Tjong Hok Bio ini sudah ada sejak abad ke tujuh belas. Dulunya, klenteng ini merupakan tempat berkumpulnya orang-orang, terutama untuk para saudagar dari Tiongkok. Meski bangunan aslinya sudah tidak dipakai untuk pertemuan lagi, tetapi klenteng ini masih menjadi pusat perkumpulan bagi masyarakat keturunan Tionghoa yang tinggal di daerah Juwana.


    Hari itu, hari Minggu. Jamil tidak bekerja, libur. Maka sambil jalan-jalan, sambil menikmati keindahan alam pesisir, mereka bertiga menikmati itu semua. Pada saat itulah, Jamil dan Juminem yang mendengar alunan musik pengiring barongsai, meraka langsung berniat menonton. Ya, kelompok barongsai yang dimainkan oleh orang-orang di sekitas klenteng Tjong Hok Bio itu. Tidak jaug dari Kampung Naga.


    "Nah, Jum ..., kamu dengar itu, kan .... Itulah kesenian barongsai, yang oleh para tetangga kita diributkan itu. Ayok kita saksikan." kata Jamil pada istrinya.


    "Iya, Kang .... Ternyata memang ada barongsai itu .... Ayok, Kang ..., kita ke sana ...." Kata Juminem yang tentu senang ingin mengajak anaknya nonton barongsai.


    Mereka pun menuju klenteng Tjong Hok Bio, tempat di mana ada orang-orang mengadakan latihan menari barongsai. Dan tentu tidak terlalu lama, Jamil dan Juminem sampai di tempat itu.


    Banyak anak yang sudah berdiri, jongkok bahkan duduk bersila di tanah, yang menonton tarian barongsai tersebut. Demikian juga orang tua, laki-laki maupun perempuan. Ada juga nenek-nenek maupun kakek-kakek. Dan tentu juga ada ibu-ibu yang menonton sambil menggendong anaknya, seperti yang dilakukan oleh Juminem. Suasananya sangat ramai dan meriah.


    "Dang ..., dungdeng ..., dungdeng .... Creeeng .... Dang ..., dungdeng ..., dungdeng .... Creeeng ...." begitu musik pengiring terus menerus dibunyikan. Suara drum yang ditabuh serta piringan dari kuningan yang dipukulkan.


    Ada dua ekor barong singa yang meloncat-loncat dimainkan oleh penarinya. Masing-masing barongsai itu di dalamnya ada dua anak muda laki-laki. Mereka meloncat kian kemari memainkan barongsai tersebut. Kadang-kadang seperti mendekam, berdisi, jalan, meloncat. Sangat kompak. Bahkan kadang-kadang penari yang ada di depan itu melompat ke atas, lantas berdiri di pundak pemain belakangnya. Ya, seolah-olah barongsai itu sedang berdiri. Lantas memainkan kepalamya yang seakan menoleh ke kanan, ke kiri, melongok, bahkan juga menunduk ke bawah. Selain itu, mulutnya yang seakan bisa membuka dan menutup, seakan barongsai itu bisa memakan atau mengunyah. Apalagi pada bagian matanya yang bisa berkedip-kedip, seolah-olah barongsai itu memang benar-benar hidup. Sangat menakjubkan.


    Kali ini, dua barongsai itu berkejaran. Barongsai-barongsai itu melompat naik ke atas tong. Begitu barongsai yang satu mengejar, yang depan terus berlompatan di atas tong-tong yang sudah disusun di arena tarian. Lantas dua barongsai itu berkejaran sambil berlompatan. Sangat lincah dan menarik. Untuk bisa menari sebagus ini, tentu dibutuhkan latihan secara terus menerus dan sungguh-sungguh. Sebab kalau salah loncat sedikit saja, pasti dua orang yang ada dalam barongsai itu akan terjatuh.


    "Horeee ......!" tepuk tangan yang sangat meriah dari penonton, saat menyaksikan dua barongsai itu berebut bola yang tergantung di tengah lapangan. Ya, bola yang dihias dengan pernak-pernik warna-warni, yang seakan ini adalah permata yang sangat berharga. Dua barongsai itu berlomba meloncat setinggi-tingginya, berusaha menangkap bola permata tersebut. Terus saling meloncat setinggi-tingginya. Hingga akhirnya, salah satu dari mereka bisa meraih bola permata yang tergantung di tengah lapangan tersebut.


    "Horeee ......!" lagi-lagi tepuk tangan meriah diberikan oleh penonton, mengapresiasi barongsai yang berhasil mengambil bola.


    Barongsai yang satunya berjongkok dan menyembah ke barongsai yang berhasil menagkap bola tadi, seakan ia memberikan penghormatan kepada rekannya yang berhasil mendapatkan bola. Itu sebagai tanda sportifitas dari sebuah persaingan.


    "Horeee ......! Horeee ......! Horeee ......!" tepuk tangan yang sangat meriah dari penonton kembali bergemuruh.

__ADS_1


    Bersamaan dengan itu, beberapa orang penonton menjulurkan tangannya yang menunjukkan uang ke arah dua barongsai tersebut. Dua barongsai itu itu kembali melompat-lompat, menyambar uang yang ada di tangan para penonton, sebagai apresiasi atau hadiah kepada para penari.


    "Pa ..., Pa .... Ma ..., Ma ...." Melian yang digendong ibunya ikut bertepuk tangan. Ia terlihat senang menyaksikan tarian barongsai tersebut.


    Melihat anaknya yang sangat gembira itu, maka Jamil tidak mau ketinggalan dengan penonton yang sudah memberikan uang. Jamil pun bergegas merogoh kantongnya, lantas menunjukkan uang ke atas, agar diambil oleh barongsai itu.


    "Hiaaap ...." barongsai itu meloncat tinggi menyambar uang yang ada di tangan Jamil.


    Namun, ada hal aneh yang terjadi saat barongsai itu menghampiri Jamil yang berdiri bersama istri dan anaknya. Tiba-tiba, tangan Melian bergerak naik, dan ....


    "Gdubraaaght ....!" barongsai itu terjengkang jatuh, gelangsaran di tanah.


    Para penontong yang ada di dekatnya langsung menolong membangunkan barongsai yang terjatuh itu.


    "Hati-hati ...." kata salah seorang penonton yang menolong.


    "Naga besar apa ...?!" tanya yang lain.


    Barongsai yang satunya langsung berhenti. Penarinya menurunkan barong yang dikenakan, lantas berlari menolong temannya yang terjatuh. Demikian juga para pemukul alat-alat musik yang mengiringi barongsai. mereka berlarian menolong temannya.


    "Ada apa ...?!" tanya teman-temannya.


    "Ada liong besar menghantam kami ...." sahut penari yang jatuh tadi, dan kini memegangi pinggangnya yang kesakitan.


    "Liong besar apa ...?!" teman-temannya jadi bingung.


    "Tadi di situ .... Saat saya menyaut uang di situ ..., tiba-tiba muncul naga besar menghantam barongsai yang kami mainkan." kata dua orang penari itu.

__ADS_1


    "Ah ..., kalian itu ada-ada saja .... Jangan sok mengada-ada .... Paling-paling kamu tidak kuat mengangkat temanmu ...." kata teman-temannya yang lain yang tentu tidak percaya dengan alasan penari yang jatuh tersebut.


    "Ada apa, Kang ...? Kok penarinya jatuh ...?" tanya Juminem yang ikut khawatir saat menyaksikan penari yang mengambil uang dari tangan suaminya itu dan tiba-tiba terjatuh.


    "Tidak apa-apa .... Biasa, Jum ..., kalau orang yang ada di bawah tidak kuat menyangga temannya yang ada di atas, maka mereka akan terjatuh." kata Jamil memberi penjelasan kepada istrinya.


    "Ooo ...." Juminem menganggukkan kepalanya.


    Setelah temannya yang terjatuh di tolong, dan barongsai itu dibawa ke pinggir, selanjutnya, para penabuh kembali memainkan alat musiknya.


    "Dang ..., dungdeng ..., dungdeng .... Creeeng .... Dang ..., dungdeng ..., dungdeng .... Creeeng ...." kembali musik itu berbunyi. Kali ini, liong-liong keluar. Ya, seekor naga warna merah dengan garis-garis sisik warna kuing emas meliuk-liuk dimainkan oleh sekitar sepuluh orang yang memegangi tongkat bambu yang dinaikkan, diturunkan, digoyang ke kanan dan ke kiri, memainkan naga liong tersebut.


    "Pa ..., Pa ...! Ma ..., Ma ...!" Melian kegirangan menyaksikan liong-liong yang berputar-putar, meliuk-liuk menari sangat indah.


    "Iya, Sayang .... Bagus kan ...?!" sahut Juminem yang senang melihat anaknya kegirangan.


    "Pa ..., Pa ..., Pa ...! Ma ..., Ma ..., Ma ...!" lagi-lagi, Melian kegirangan. Tangannya dijulur-julurkan, seakan ia ingin ikut menari dengan naga liong tersebut.


    Dan tiba-tiba, naga itu sudah sampai di depan Juminem dan Jamil, menghampiri Melian. Tangan bocah bayi itu pun menyentuh kepala naga. Dan sungguh aneh, seakan naga itu menurut saja pada Melian. Tangan bocah kecil itu mengelus-elus kepala naga.


    "Hek ..., hiq ..., hik ..., kikkiq ...." Melian tertawa. Lantas melepaskan tangannya dari kepala naga.


    Naga itu lantas meloncat tinggi, seakan terbang di atas awan. Meliuk-liuk di udara, seakan tanpa menginjak bumi.


    "Horeee ......!" tepuk tangan meriah diberikan oleh penonton, menyaksikan kehebatan yang ditunjukkan oleh naga liong tersebut.


    Namun sebenarnya, bagi teman-temannya, baik penabuh musik maupun penari barongsai yang sudah istirahat, merasa sangat heran dengan atraksi yang ditunjukkan oleh liong-liong tersebut. Ini benar-benar loncatan-loncatan yang sangat luar biasa, yang belum pernah disaksikan sebelumnya. Dan loncatan ke angkasa ini tidak mungkin dilakukan oleh teman-temannya.

__ADS_1


    Sebuah keajaiban tarian liong yang luar biasa. Namun, benarkah itu semua memang merupakan kemampuan para penari liong dari klenteng Tjong Hok Bio itu?


__ADS_2