
Seperti yang telah direncanakan sebelumnya, Pan Endang ingin mengajak Melian jalan-jalan. Ya, hanya sekadar jalan-jalan. Namun rupanya, Pak Endang sudah tidak sabar ingin segera bertemu dan melihat Melian. Tantu Pak Endang sudah kangen dengan kepandaian dan kebaikan Melian. Gadis cantik yang pintar dan baik hati itu. Ia pun bergegas ke Kampung Transformasi lebih awal.
Jam setengah empat sore, Melian bersama anak-anak sudah berada di Gubug Pasinaon, tempat anak-anak pemulung itu pada belajar. Melian belajar bersama anak-anak para pemulung itu. Pembelajaran nonformal yang paling pas untuk model pembelajaran untuk anak-anak yang tidak bersekolah. Melian tentu mengajarkan hal-hal tentang kebaikan dan terutama bagi Millian, anak-anak yang dianggap sebagai aset generasi muda itu, aset milik bangsa Indonesia itu, akan dijadikan menjadi anak-anak yang mempunyai karakter, menjadi anak-anak yang mempunyai pengetahuan, dibentuk agar menjadi anak-anak yang cerdas, terampil, dan bisa berwirausaha. Nantinya akan menjadi anak yang sukses di kemudian hari.
Setidaknya, Mellian mengajarkan tentang hal-hal yang prinsip dalam kehidupan sehari-hari. Terutama bagaimana cara mencari nafkah, bagaimana cara mengolah bahan-bahan hasil pulungan, bagaimana bisa mengolah barang-barang limbah itu menjadi sesuatu yang lebih berharga, menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi. Tentu harus dengan pembelajaran secara kontekstual. Pembelajaran yang mengarah pada kenyataan yang ada di kehidupan sehari-hari.
"Permisi ....." tiba-tiba ada seorang laki-laki muda yang ganteng, datang ke tempat Gubug Pasinaon itu.
Anak-anak langsung pada menoleh ke orang yang memberi salam tersebut. Demikian juga Melian. Namun alangkah kagetnya Melian saat melihat laki-laki muda yang datang ke Gubug Pasinaon itu adalah Pak Endang, dosennya yang sudah berjanji akan mengajak ia jalan-jalan.
"Maaf, Pak Endang .... Kami sedang belajar dengan anak-anak ...." begitu kata Melian yang sudah menghampiri orang yang berdiri di depan Gubug Pasinaon itu. Melian tahu, kalau Pak Endang datang ke situ, ingin mengajak dirinya jalan-jalan.
"Tidak apa-apa, Melian .... Saya senang melihat kamu seperti ini .... Melian benar-benar sangat menginspirasi .... Melian benar-benar sangat membanggakan saya. Saya senang dengan sikapmu yang seperti ini, Melian .... Saya bangga dengan perbuatanmu yang seperti ini .... Kamu tidak peduli dengan siapa dirimu, tetapi kamu sudah mengorbankan kehidupanmu untuk mengurusi anak-anak bangsa ini. Kalau bukan kamu, saya yakin tidak ada orang yang peduli dengan mereka itu, tidak ada orang yang peduli dengan para pemulung ...." begitu kata-kata dari Pak Endang yang memuji Melian.
"Tidak, Pak .... Ini biasa saja kok .... Ini sudah kewajiban saya, sudah menjadi tanggung jawab saya. Ketika dulu saya sempat membangun tempat ini bersama teman-teman, tujuan saya memang pengin menjadikan anak-anak di sini untuk berubah pola pikirnya, ingin mencerdaskan anak-anak yang ada di Ssni beserta dengan para pemulung-pemulung yang lain, dan tentunya saya ingin semua anak di Indonesia, baik itu anak pemulung maupun siapa saja mereka menjadi cerdas mereka menjadi terampil, mereka bisa menghidupi dirinya sendiri, dan bahkan mungkin saja mereka bisa membuka kesempatan kepada orang lain untuk bekerja, mereka bisa membuka peluang usaha." begitu kata Melian pada Pak Endang.
"Bagus sekali .... Saya suka pemikiran seperti itu .... Silakan dilanjutkan mengajarnya, Melian ..... Saya tidak tergesa kok. Saya justru senang melihat kamu seperti ini, dan saya akan menunggu sampai nanti petang." begitu kata Pak Endang yang tentu tidak ingin mengganggu aktivitas Melian.
"Tapi maaf, Pak Endang ..., ini kami harus mengajar anak-anak dahulu karena memang ini sudah jadwalnya, Pak .... Jadi tidak mungkin kami akan meninggalkan begitu saja. Terus terang Pak, bahwa kami ini kan ya ..., namanya volunteer, kerja sosial mengurusi anak-anak yang tidak beruntung, anak-anak yang tidak bisa bersekolah .... Jadi, ya mohon maaf ya, Pak Endang ...." begitu kata Melian yang tentunya tidak bisa meninggalkan jadwal mengajarnya kepada anak-anak di Gubug Pasinaon.
"Tidak apa-apa, Melian .... Silahkan dilanjutkan .... Saya akan duduk di sini bersama anak-anak. Saya akan melihat kamu, saya akan menunggu kamu, dan saya memang dari dulu sudah terpesona untuk melihat kamu akting di depan anak-anak ...." kata Pak Endang yang memuji Milian.
"Aah ..., Pak Endang bisa saja .... Saya jadi malu, Pak ...." begitu kata Melian yang memang langsung memerah pipinya karena tersipu malu mendengar pujian dari dosen muda itu.
Akhirnya, Melian kembali menghadapi anak-anak. Pak Endang pun duduk bersila bersama anak-anak, mengikuti apa yang akan disampaikan oleh Melian, yang akan diajarkan kepada anak-anak di Gubug Pasinaon itu.
Melian memulai kembali berbicara di depan anak-anak.
"Anak-anak ..., sore ini Kakak kedatangan tamu ...." begitu kata Mellian saat berdiri kembali di depan anak-anak.
"Hore .....!!" anak-anak bersorak ramai.
"Kak Melian ada yang nyari ...."
"Kak Melian ada yang nyamperin ....!"
"Kak Melian ..., ada yang ngapelin ...!!"
Begitu suara anak-anak yang malah menjadi ramai, bahkan seakan memberi support kepada Melian. Tentu Melian bertambah tersipu malu. Pipinya langsung merona merah. Dan justru ia menjadi bingung dengan apa yang akan diajarkan. Tentunya karena dia malu dengan Pak Endang yang sudah mengamatinya bersama dengan anak-anak.
__ADS_1
"Maaf anak-anak .... Saya mau kenalkan, siapa tamu yang datang di tempat kita ini .... Nah, dia ini adalah pak dosen yang pandai .... Pak dosen ini mengajar di universitas .... Siapa yang pengen jadi dosen? begitu tanya Melian kepada anak-anak saat memperkenalkan Pak Endang.
"Saya Kak ..... Saya Kak ..... Saya Kak ...." begitu sahut anak-anak yang tentunya punya cita-cita yang sangat luhur, cita-cita yang sangat tinggi.
Pak Endang pun tersipu karena dia dianggap sebagai orang yang hebat di situ. Ya, memang yang namanya profesi dosen di kalangan masyarakat masih menjadi profesi yang sangat berkelas. Dosen itu boleh dibilang sebagai orang yang hebat. Dosen itu dianggap sebagai orang yang pengetahuannya tinggi. Termasuk di hadapan anak-anak, begitu mendengar ada dosen yang datang, maka anak-anak pun menjadi gembira dan langsung semua mata tertuju melihat Pak Endang.
"Nah adik-adik, karena saat ini di Gubug Pasinaon ada Pak Dosen, sekarang kita dengarkan bersama, biar Bapak Dosen kita yang sore ini datang di Gubug Pasinaon memperkenalkan dirinya, kemudian memberikan ilmunya kepada kita semua .... Nah adik-adik, sore ini Pak Dosen tentu akan memberikan ilmunya kepada kita semua. Yuk kita dengarkan apa yang akan disampaikan oleh Pak Doden .... Setuju?" kata Melian yang mengenalkan Pak Endang.
"Setuju, Kak ....!!" begitu teriak anak-anak menyahut apa yang disampaikan oleh Melian.
"Mari Pak Endang .... Silahkan maju ke sini, silakan Pak Endang memperkenalkan diri kepada anak-anak, kemudian mohon Pak Endang menyampaikan ilmu-ilmunya kepada anak-anak. Mari Pak Endang ...." begitu kata Melian yang meminta dosennya itu untuk mengajar anak-anak.
Ternyata, menghadapi anak-anak, apalagi ini adalah anak-anak pemulung, berbeda dengan menghadapi mahasiswa. Tentu Pak Endang jadi bingung. Saking bingungnya dan grogi, saat Pak Endang akan maju ke depan, justru tersandung dan terjatuh.
"Hahahaha ....!!!" anak-anak pada tertawa, menertawakan Pak Endang yang terjatuh kebingungan itu. Tentu Pak Endang jadi malu.
"Maaf ..., maaf .... Hehe ..., saya tersandung ...." kata Pak Endang yang tentu sangat malu diketawakan oleh Melian.
"Kami yang minta maaf, Pak .... Ini tempatnya kurang rata ...." sahut Melian yang juga geli menyaksikan kejadian itu.
Akhirnya, Pak Endang yang disuruh maju, yang disuruh mengajar, sudah berdiri di depan anak-anak. Walau anak-anak pada tertawa, Pak Endang berusaha untuk tetap bisa menguasai diri. Terutama di depan Melian, yang pastinya ia akan berharap untuk menaruh namanya di hati Melian.
"Pak Dosen .... Kak Melian tertawa terus melihat Pak Dosen terjatuh .... Pak Dosen lucu ...." celetuk salah seorang anak yang blak-nlakan pada Pak Dosen. Ya, itulah sikap anak-anak, terus terang dan jujur.
"Iih ..., enggak, ya .... Hahaha ...." kata Melian yang inginnya protes, tetapi justru tertawa lagi.
"Nah, kan .... Itu, Kak Melian tertawa lagi ...." kata si anak itu sambil menunjuk Melian.
Tentu Pak Endang bertambah grogi, karena ditertawakan oleh Melian.
"Sudah ..., sudah .... Kita berhenti tertawa, sekarang biar Pak Dosen yang mengajari kita." begitu kata Melian, yang meminta anak-anak memperhatikan Pak Endang.
Akhirnya, Pak Endang memulai bicara. Ia mulai memperkenalkan diri. Lantas juga menceritakan kehidupannya yang juga dimulai dari keluarga yang kurang beruntung. Kemudian Pak Endang menyampaikan nasehat-nasehat yang bisa dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Terutama Pak Endang meminta kepada anak-anak untuk rajin belajar, karena kepandaian itulah yang akan menentukan nasib seseorang. Tentu Pak Endang mencontohkan dirinya sendiri, yang dulunya bersusah payah untuk sekolah, dan kini sudah berhasil menjadi dosen. Tentu anak-anak sangat memperhatikan kata-kata Pak Dosen itu, semua karena terpesona dengan nasehat Pak Endang.
"Nah ..., sekarang saya mau tanya kepada kalian semua, Kak Melian kalau di sini baik apa nggak? tanya Pak Endang pada anak-anak.
"Baiiiiikk .....!!" tentu anak-anak langsung berteriak menjawab.
"Pak Endang ..., Pak Endang .... Pak Endang ini pacarnya Kak Melia, ya ...?" tiba-tiba terdengar suara dari salah seorang anak yang menyeletuk menanyakan tentang hubungan Pak Endang dengan Kak Melian.
__ADS_1
Tentu PaK Endang langsung merah pipinya, seperti terbakar karena saking malunya dikatakan sebagai pacarnya Kak Melian. Walau sebenarnya hati dari Pak Endang ingin mengatakan seperti itu. Tapi tentunya kalau seorang yang beradab, seorang yang berpendidikan, seorang yang punya etika, seorang yang punya tata krama, seorang yang memiliki karakter, tidak akan mengatakan pacar atau tidak akan mengatakan cinta dengan mudah begitu saja, walaupun rasa itu sudah terpendam di dalam hati Pak Endang. Tetapi dia tetap tidak akan mengungkapkan dengan gampang, tidak akan mengatakan secara diobral seperti layaknya orang-orang yang tidak punya etika.
Demikian juga Melian, pipinya langsung memerah, tentu karena Melian juga malu saat dikatakan Pak Endang pacarnya Kak Melian. Hal ini tentu membuat hati Melian menjadi tidak karuan, membuat diri Melian menjadi bingung. Bahkan dia menjadi salah tingkah.
"Begini .... Aduh ..., saya mau bicara apa ini .... Saya jadi bingung .... Masak pertanyaannya seperti itu ...." begitu kata Pak Endang yang tentu bingung untuk menjawabnya.
"Tapi Pak Endang .... Ini Kak Melian suka sama Pak Endang ...." tiba-tiba seorang gadis kecil mengatakan hal itu kepada Pak Endang.
Pak Endang tidak langsung menjawab. Bingung untuk mencari jawaban. Tetapi hatinya senang, walau semakin malu. Apalagi Melian yang tampak semakin bingung. Dia tersenyum, tetapi berkali-kali membuang-buang mukanya, menoleh ke kanan dan ke kiri, karena tidak ingin dilihat oleh anak-anak.
"Waduh ..., bagaimana ya ...? Ah ..., begini saja .... Tanyakan kepada Kak Melian .... Yang bisa menjawab Kak Melian." begitu kata Pak Endang yang terus terang memang sangat malu untuk mengatakan kata-kata cinta ataupun senang, ataupun apa saja, karena itu tentu tidak sesuai dengan etika yang dia miliki.
Kemudian anak-anak langsung melihat pada Melian. Semua anak-anak langsung menyaksikan wajah Melian yang tersenyum-senyum, tetapi juga malu-malu.
"Kak Melian ..., Kak Milian ..... Apakah Kak Melian suka dengan Pak Endang?" anak-anak balik bertanya kepada Melian.
"Ini pada ngomongin apa sih ...?" begitu kata Melian yang tentu malu dengan anak-anak. Padahal dalam hatinya, Melian justru merasa senang, bahkan seakan hatinya itu mengatakan "ayo anak-anak, katakan lagi .... Ayo diulang lagi kata-kata itu ...." Begitu yang tersirat dalam hati Melian.
"Ayo ..., sudah ..., sudah .... Belajar kita hari ini sudah cukup .... Kita akhiri. Hari sudah sore. Ayo pulang, segera mandi." kata Melian yang langsung mengakhiri pertemuan sore itu. Tentu ia ingin tidak semakin bingung.
"Terima kasih Kak Melian .... Selamat sore Kak Melian .... Doa kami semoga kita semua menjadi orang yang berguna bagi nusa, bangsa dan negara ...." begitu teriak anak-anak, yang sudah tertata dengan aturan pembelajaran di Gubug Pasinaon itu. Anak-anak pun menurut kata-kata Melian. Mereka pun langsung pada berhamburan keluar dari pendopo tempat belajar itu.
"Wah .... Lagi-lagi, saya harus kagum denganmu, Melian ...." kata Pak Endang yang memuji Melian.
"Terima kasih, Pak Endang .... Tapi mohon jangan terlalu memuji saya seperti itu." sahut Melian.
"Kita jadi jalan-jalan apa enggak, ini ...?" tanya Pak Endang.
"Jadi, Pak ...." jawab Melian sambil tertunduk malu.
"Sekarang apa nanti ...?" tanya Pak Endang.
"Besok saja, Pak .... Hehe .... Ya sekarang, lah, Pak ...." jawab Melian.
"Oo ..., saya kira besok nunggu lebaran ...." balas Pak Endang yang menggoda.
"Saya mau ganti baju dahulu, Pak ...." kata Melian.
"Eeh ..., tidak usah .... Aku lebih suka Melian seperti ini .... Begini saja sudah cantik .... Aku tidak mau kepalsuan ...." begitu kata Pak Endang, yang tentu tidak sabar mengajak jalan-jalan Melian.
__ADS_1
Melian pun menuruti kata-kata dosennya itu. Selanjutnya, mereka berdua berjalan menuju tempat parkir, menuju ke mobil sedan milik Pak Endang. Mereka akan jalan-jalan, menikmati Malam Minggu.