GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 159: MENCARI TEMPAT USAHA


__ADS_3

    Indra kembali menjadi pembicaraan mertua perempuannya. Tentu karena pulang dari Semarang dengan membawa jajanan yang sangat banyak jumlahnya. Seperti biasa, anak perempuan dan menantu serta cucu-cucunya diundang, untuk diberi oleh-oleh khas dari Semarang, yang tentu di Lasem tidak ada.


    "Ini ..., ayo jajanan dari bude Indra,dimakan .... Ini ..., enak-enak semua...." kata ibu mertuanya yang langsung menyodorkan jajanan kepada cucu-cucunya. Tentu dua cucunya yang sudah bisa memilih itu langsung mengambil jajanan yang ditawarkan neneknya.


    Ya, sore itu, semua keluarga Irul berkumpul di rumah orang tuanya. Tentunya karena ada oleh-oleh yang dibawa oleh Irul dan Indra dari Semarang. Namun bagi orang tuanya, mereka diajak makan bareng-bareng. Ibunya sudah masak besar-besaran.


    "Nah ..., sekarang makan bareng .... Nenek sudah masak sayur sup sama ayam goreng ...." kata sang ibu.


    "Ayo, Pak .... Njenengan duluan, biar nanti adik-adik ngikuti ...." kata Irul pada bapaknya.


    "Yooo .... Wong Pak-e mengko yo ra popo kok ...." kata bapaknya.


    "Kalau nanti-nanti, sudah keburu dihabiskan sama anak cucu, Pak ...." jawab Indra yang tentu menggoda mertuanya.


    "Yooh ...." kata mertuanya laki-laki yang langsung mengambil makan.


    "Mas Irul .... Ayo, ambil ...!" kata adiknya Irul yang menyuruh kakaknya untuk mengambil makan, mengikuti bapaknya.


    Irul langsung mengambil piring, mengikuti bapaknya yang sudah mengambil makan. Dan tentu adik-adiknya mengikuti. Mereka langsung makan bersama di ruang depan. Ada yang duduk di kursi tamu, ada juga yang duduk di kursi panjang, di tempat untuk menaruh makanan. Tentu ramai. Suasana seperti inilah yang membuat makan menjadi nikmat.


    "Pak ..., rencananya, saya sama Indra mau buka usaha warung sembako ...." kata Irul pada bapaknya, yang saat makan mereka berhadapan.


    "Di mana ...?" tanya bapaknya yang ingin tahu tempatnya.


    "Belum dapat tempat kok, Pak .... Mungkin Pak-e, Mak-e apa adik-adik punya pandangan?" kata Irul yang tentu minta pendapat kepada keluarganya.


    "Di pasar tidak ada ...?" tanya bapaknya lagi.


    "Tidak ada kok, Pak .... Kalau di los saya tidak mau. Butuhnya yang agak luas, biar dagangannya gampang ditata." jawab Irul yang tentu juga punya kriteria untuk membuat toko. Setidaknya seperti punyanya Babah Ho yang dulu ia pernah bekerja.


    "Halah ..., lha mbok buka warung di rumah saja .... Rumah kita kan tempatnya luas ...." kata ibunya yang ikut mengusulkan.


    "Mak .... Kalau buka warung di rumah, tempatnya kurang strategis. Nanti yang beli cuma tetangganya sendiri. Malah-malah ngutang. Barang habis duwit habis, Mak .... Bangkrut ...." kata Irul yang tentu kurang setuju kalau disuruh buka warung di rumahnya.


    "Kalau di luar pasar, gimana, Pakde ...?" kata adik iparnya, suami dari adik Irul, yang memanggil Irul dengan sebutan Pakde, karena untuk memanggilkan anaknya.


    "Di mana?" tanya Irul.


    "Di sebelah timur Pasar Lasem, ada rumah yang mau dijual, Pakde .... Lumayan besar." kata adik iparnya, yang mungkin sering melihat atau mendengar kalau ada rumah yang akan dijual.


    "Yang sebelah mana? Gandeng Pasar Lasem?" tanya Irul yang tentu penasaran ingin tahu.


    "Itu lho, Mas .... selang satu rumah, yang dipakai jualan kayu bakar, ada tumpukan kayu ...." kata adik iparnya.


    "Ayo, kita lihat ke sana sekarang ...." kata Irul yang langsung mengajak adik iparnya.


    Tentu adiknya tidak berani menolak. Maka ia pun setuju dengan ajakan kakak iparnya. Akhirnya setelah makan, adik iparnya itu berboncengan dengan Irul, menuju Pasar Lasem, untuk melihat rumah yang katanya akan dijual. Meski sudah gelap, tetapi karena Irul menghendaki cepat-cepat, maka begitu diberi tahu oleh adik iparnya, ingin segera melihat.


    Hanya sebentar, kakak beradik yang berboncengan itu sudah sampai di sebelah utara pasar. Lantas adik ipar itu menghentikan motornya di pinggir rumah, dekat dengan toko bangunan.


    "Ini, Pakde .... Rumah yang akan dijual." kata adik iparnya kepada Irul.


    Irul yang sudah turun dari boncengannya, mengamati lingkungan rumah yang katanya akan dijual tersebut. Tentu ingin tahu kondisi sekitarnya. Memang dekat pasar dan strategis, tetapi bersebelahan dengan toko bangunan. Pasti kurang nyaman. Dan setelah beberapa saat mengamati, pasti sudah punya gambaran, berniat beli atau tidak.


    "Bagaimana, Pakde ...?" tanya adik iparnya.


    "Nanti dulu .... Kita lihat-lihat di tempat yang lain. Coba kita berjalan ke arah alun-alun ...." kata Irul yang meminta adik iparnya ke jalan raya, menuju alun-alun.


    "Di jalan raya, Pakde ...? Harganya mahal, De ...." kata adik iparnya yang sudah menjalankan motornya.

__ADS_1


    "Mahal kalau strategis, gak maslah .... Orang mau buka toko, mesti dipertimbangkan lokasi dan sasaran pembelinya. Jadi jangan asal buka toko. Kalau lokasinya kurang mendukung, itu juga akan mengurangi pembeli yang berminat belanja. Demikian juga kalau kita buka toko di tempat yang sepi, yang tidak ada penghuninya, atau jauh dari pemukiman, ya pasti pembelinya juga sedikit. Contohnya pasar, kalau didirikan di kuburan ya malah yang belanja para hantu. Tapi kalau pasar dibangun di tengah perumahan, pasti ramai. Begitu, Dek ...." kata Irul memberi gambaran kepada adik iparnya.


    "Gitu ya, Pakde .... Ya coba, kita cari-cari di daerah arah menuju alun-alun. Tapi caranya nyari bagaimana, De?" tanya adik iparnya itu.


    "Cari rumah yang sepi atau lampunya tidak nyala. Biasanya tidak ditempati. Mungkin saja mau dijual." kata Irul pada adik iparnya.


    "Iya, Pakde ...."  adik iparnya itu melajukan motornya perlahan-lahan. Tentu sambil melihat-lihat, tengok kanan kiri, mencari rumah yang kondisinya mungkin tidak dipakai.


    "Coba berhenti dulu .... Coba lihat yang itu." kata Irul menyuruh berhenti.


    "Mana, Pakde ...?" tanya adik iparnya.


    "Yang itu .... Kanan jalan .... Kelihatannya kurang terawat. Lampunya juga remang-remang. Mudah-mudahan saja mau dijual." kata Irul yang langsung turun dari boncengan dan berjalan menuju rumah yang ditunjuk itu.


    "Walah .... Apa tidak mahal itu, Pakde ...?" adik iparnya sudah menyusul masuk ke pekarangan.


    Irul sudah masuk ke teras, mengetuk pintu, ingin menemui pemilik rumah.


    "Tok ..., tok ..., tok ...." suara pintu di ketuk.


    "Assalamualaikum .... Kulanuwun ...." kata Irul beruluk salam. Tahu kalau di dalam rumah itu ada orangnya.


    "Monggo ...." terdengar suara dari dalam rumah.


    Ada orang keluar membuka pintu. Laki-laki setengah baya yang hanya mengenakan sarung dan kaos oblong.


    "Cari siapa, ya ...?" tanya laki-laki yang mebuka pintu rumah itu.


    "Mau tanya, Pak .... Apakah rumah ini mau di jual, ya?" tanya Irul langsung pada pokok keinginannya.


    "Hehe ..., betul  .... Mas-e ini tahu dari mana? Monggo masuk ...." kata laki-laki itu, yang langsung menyuruh masuk tamunya.


    Adik iparnya yang semula mau masuk, balik keluar lagi, karena tidak ada tempat duduknya. Maka ia memilih duduk di jok motornya.


    "Mas-e ini mau beli apa maklarnya?" kata laki-laki itu yang meminjam kursi anaknya sebentar.


    "Saya yang mau beli .... Kalau bisa tidak usah pakai maklar ...." jawab Irul yang tentu ingin langsung antara penjual dan pembeli.


    "Kalau begitu, besok pagi saya sampaikan dahulu ke yang punya .... Biar orangnya kemari ...." kata laki-laki itu.


    "Lhoh ..., lha yang punya rumah ini siapa?" Irul bingung, karena ternyata bukan orang itu yang punya rumah.


    "Yang punya rumah ini orang Surabaya .... Saya hanya nempati sama bersih-bersih. Nanti kalau memang Mas-e sungguh-sungguh berniat beli, akan saya sampaikan. Soal tawar menawar langsung saja kepada yang punya." kata orang itu.


    "Lha katanya mau dijual berapa?" tanya Irul.


    "Dulu mintanya seratus lima puluh juta .... Sudah ada yang menawar seratus dua puluh lima juta, tetapi tidak diberikan." kata laki-laki itu.


    "Ya, sudah .... Sampaikan saja kepada yang punya, saya mau beli. Kapan saya bisa ketemu yang punya?" kata Irul yang tentu sudah berminat untuk membeli tanah dan rumah itu.


    "Kalau Mas-e memang serius, besok pagi yang punya saya telepon. Rumahnya Mas-e mana, namanya siapa? besok kalau orangnya datang saya kabari." kata laki-laki itu.


    "Saya serius banget .... Makanya saya pengin ketemu yang punya. Nama saya Irul .... Rumah saya di kampung Babagan. Kalau mau cari, tanya saja sama tukang ojek Pasar Lasem. Pada kenal saya. Orang yang punya rumah ini punya nomer telepon apa tidak?" jawab Irul yang tentu sangat berharap bisa ketemu yang punya rumah itu.


    "Punya .... Besok saya telepon." kata orang itu.


    "Saya minta nomer teleponnya, ini nanti mau saya telepon. Besok pagi sampeyan ya telepon. Jadi biar meyakinkan." kata Irul yang minta nomer telepon pemilik rumah.


    "Oh, nggih ...." laki-laki itu terus menuju ke tempat belajar anaknya. Di meja itu dia menyimpan nomer telepon pemilik rumah. Lalu anaknya yang masih belajar itu disuruh menuliskan nomor telepon itu di kertas.

__ADS_1


    "Ini nomer teleponnya yang punya. Tapi besik kalau jadi dibeli, saya diperseni ya, Mas .... Idep-idep buat bayar Wartel sama beli rokok .... Hehe ...." kata laki-laki itu yang menyerahkan sobekan kertas catatan nomor telepon pemilik rumah.


    "Ya .... Maturnuwun ...." kata Irul yang langsung berpamitan pulang.


    Di rumah, tentu bapak, ibu, adik-adik dan keponakan serta istrinya sudah menunggu kepulangan Irul bersama adik iparnya itu. Tentu ingin tahu hasilnya.


    "Bagaimana, Mas?" tanya istrinya, yang tentu sangat ingin tahu.


    "Yah ..., sudah ada gambaran. Tolong nomor ini, Dek Indra teleponkan. Bilang saja kalau kita berminat beli rumahnya, tanyakan kapan bisa ketemu. Masalahnya ini yang punya rumahnya Surabaya." kata Irul pada istrinya, sambil memberikan secarik kertas bertulisan nomor telepon.


    "Iya, Mas ...." kata istrinya yang langsung menerima kertas itu, dan pergi ke kamar untuk mengambil handphone. Tentu menelepon di luar rumah, sambil mencari sinyal agar suaranya terdengar baik.


    Di ruang tamu, adiknya tentu mendengarkan cerita dari suaminya yang tadi pergi mengantarkan Irul. Bapak dan ibunya serta adik dan iparnya, ikut mendengarkan penjelasan. Tentu ingin tahu tempatnya di mana, seperti apa, serta harganya berapa. Tentu berbagai pendapat langsung bermunculan.


    Sementara di luar rumah, Irul menemani istrinya yang sedang menelepon pemilik rumah yang akan dijual itu. Tentunya mereka mereka berkesepakatan untuk bertemu. Bahkan Indra juga sudah menanyakan harga serta cara pembayarannya serta surat-suratnya. Indra yang pernah bekerja di bank, tentu sangat paham dengan cara-cara penjualan tanah, karena di tempatnya bekerja sering terjadi transaksi jual beli perumahan.


    Akhirnya, sudah terjadi kesepakatan. Pemilik rumah akan bertemu dengan calon pembelinya. Irul dan Indra.


    "Bagaimana, Dek?" tanya Irul pada istrinya.


    "Besok pagi kita ketemuan sama yang punya rumah, Mas .... Katanya dia akan berangkat dari Surabaya pagi hari." jawab Indra yang sudah mematikan teleponnya. Lantas mereka berdua masuk ke dalam rumah.


    "Jadinya mau beli yang sebelah mana, Le ...?" tanya bapaknya yang sudah mendengar cerita dari menantunya yang tadi mengantarkan Irul.


    "Belum, Pak .... Masih membandingkan. Cari yang paling baik." jawab Irul yang tentu belum bisa memastikan pilihannya.


    "Pilih yang di dekat pasar saja .... Pasti lebih laris ...." kata ibunya.


    "Tempatnya gandeng dengan toko bangunan, Mak .... Itu kurang baik untuk toko sembako .... Mosok beras kok campur semen .... Pembelinya kurang senang." kata Irul yang menjelaskan pada ibu dan keluarganya. Memang secara letak sangat strategis, di pasar. Tetapi secara kesehatan kurang mendukung.


    "Lha, terus ..., berarti memilih yang dekat alun-alun?" tanya adik-adiknya.


    "Besok kita lihat dulu, Mas ...." kata Indra yang tentu juga ingin tahu.


    "Harganya berapa?" tanya bapaknya yang tentu juga menduga kalau rumah di pinggir jalan raya pasti mahal.


    "Seratus lima puluh juta ..., Pak ...." jawab Irul yang tadi dibilangi sama yang jaga.


    "Walah .... Lha itu bayarnya pakai apa ....?! Uangnya siapa sebanyak itu ...?!" tentu bapaknya sangat kaget. Dan tentunya juga yang lain. Mendengar sebutan uang sebanyak itu, bagi orang desa sangat mustahil.


    "Lha, Pak-e ki piye, to .... Bude Indra ini dulu kan pegawai bank, ya uangnya pasti banyak ...." tiba-tiba adiknya Irul nyeletuk.


    "Itu tabungan saya sama Mas Irul, Dek .... Saya pegawai biasa di bank. Tidak punya uang sebanyak itu, Dek .... Kami berhemat untuk bisa ngumpulin duit." kata Indra pada adik iparnya, yang tentu juga ingin mengajarkan agar adik-adiknya bisa menabung.


    "Oo ..., gitu ya, Cik ...." tentu adik-adiknya terbengong dengan apa yang disampaikan oleh mbakyu iparnya itu.


    "Ya nanti kalau kurang minta tambahan Pak-e sama Mak-e ...." Irul menggoda orang tuanya.


    "Halah ..., Pak-e sama Mak-e ki dapat uang dari mana .... Jual singkong paling-paling lakunya cuman lima ratus rupiah ...." sahut ibunya yang tentu beralibi kalau mencari uang di desa itu sangat susah.


    "Yo wis ..., terserah bagaimana baiknya .... Yang penting nanti ditata yang bagus, dislameti, ben rezekine lancar ...." kata bapaknya yang pasti memberi nasehat untuk anak-anaknya.


    "Hiya .... Yang namanya tempat mencari rezeki itu ya harus dibersihkan, ditata dan jangan lupa selalu berdoa, agar dilimpahkan rezekinya ...." timpal ibunya.


    "Nggih, Pak ..., Mak .... Juga adik-adik semuanya .... Mohon doanya besok dimudahkan rebugannya, bisa jadian, dan baik untuk membuka usaha." kata Irul yang tentu mohon doa restu sama keluarganya.


    "Ee ..., iyo, Le .... Pasti kami doakan." jawab ibunya.


    Indra tersenyum. Tentu bayangan untuk menjadi pedagang sembako bisa terlaksana. Dan tentunya, ia bisa bersama dengan suami, mengelola toko bareng-bareng.

__ADS_1


__ADS_2