GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 174: KARMA


__ADS_3

    "Permisi .... Kulanuwun .... Assalamualaikum ...." seorang laki-laki dengan pakaian rapi, memakai celana warna biru tua, kemeja biru muda lengan panjang, serta mengenakan dasi. Rambutnya disisir rapi memakai pomade, sehingga kelihatan klimis. Berdiri di depan toko beruluk salam.


    "Iya ..., mau beli apa, Pak ...?" tanya Nujanah, perempuan pelayan toko dari balik dagangan, yang tidak lain dia itu adiknya Irul.


    "Caciknya ada?" tanya laki-laki itu lagi.


    "Maaf, kami tidak menerima promosi ...." sahut Nurjanah yang menghadapinya dari dalam toko.


    "Bukan .... Saya tidak mau promosi .... Saya mau ketemu Cacik-e ...." jawab laki-laki itu.


    "Lha mau apa ...?" tanya adiknya Irul yang ada di toko.


    "Ini benar Toko Laris, kan ...?! Saya mau ketemu Cacik-e yang kemarin ke bank tempat saya kerja." kata laki-laki itu.


    "Ada apa, Nur ...?!" tiba-tiba Indra keluar dari gudang dan menuju ruang toko, tentu mendengar ada yang ribut langsung menanyakan.


    "Ini, ada orang mencari Cik Indra .... Katanya dari bank." sahut Nurjanah, yang melayani pembeli di toko itu.


    "Ooh .... Iya, ada apa ya, Pak ...?" tanya Indra yang langsung keluar, menemui pegawai bank yang kemarin ditemuinya.


    Lantas tamu itu disuruh duduk di kursi yang ada di teras, dekat dengan aquarium yang penuh ikan warna-warni. Nurjanah menyuguhkan teh botol pada tamu dari bank itu.


    "Saya ikut prihatin, Pak ..., atas musibah kebakaran yang menimpa kantor bank Bapak ...." kata Indra yang sudah tahu berita itu dari suaminya.


    "Iya, Bu .... Terima kasih simpatiknya. Kami semua tidak menyangka .... Dan itu terjadi tiba-tiba saat kami akan pulang." kata pegawai bank itu.


    "Tapi, karyawan semuanya selamat kan, Pak ...?" tanya Indra.


    "Pimpinan kami yang tidak bisa diselamatkan. Semua karyawan langsung berlari keluar, untuk menyelamatkan diri. Dan memang kebetulan kami sudah pada bersiap mau pulang. Tapi naas bagi Bapak Direktur. Pimpinan kami yang masih berada di ruangannya, tidak bisa keluar. Pintunya terkunci tidak bisa dibuka. Bahkan sudah didobrak, juga tidak bisa. Namun karena api yang semakin membesar, teman-teman pada lari menyelamatkan diri. Walau menyaksikan dari luar, tetapi sudah tidak berani masuk. Yach .... Bapak Direktur tidak terselamatkan. Saat mobil pemadam kebakaran datang, langsung disemprot. Sebenarnya sangat cepat pemadamannya, dan api juga cepat padam. Tidak semua terbakar. Masih ada bagian-bagian yang terselamatkan. Namun memang ada yang aneh ...." kata pegawai bank itu.

__ADS_1


    "Apanya yang aneh ...?" tanya Indra pada pegawai itu.


    "Sebenarnya ruangan Pak Direktur tidak terbakar .... Tetapi Pak Direktur meninggal dengan posisi tubuhnya hangus ...." kata pegawai bank yang cerita tersebut.


    "Hah ...?! Lha terus ....?!" Indra terkejut mendengar cerita itu.


    "Kami sangat heran .... Padahal ruangan Pak Direktur itu masih utuh. Bahkan kertas saja tidak ada yang terbakar. Tetapi tubuh Pak Direktur bisa gosong. Dan yang paling menakutkan, kondisi Pak Direktur itu tangannya mau menerkam, matanya membelalak, kakinya menekuk, dan lidahnya menjulur keluar. Seperti anjing yang terpanggang api. Tentu para karyawan menjerit, menangis, dan ketakutan menyaksikan mayatnya Pak Direktur .... Dan yang lebih aneh, di tangan Pak Direktur memegang lembaran kertas yang saya bawa ini, yang ingin saya tunjukkan ke Ibu. Anehnya kertas itu kok tidak ikut hangus. Masih utuh dan bersih dari arang ataupun jelaga." kata pegawai bank urusan kredit itu yang menceritakan peristiwanya kepada Indra.


    Indra hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Tentu sangat prihatin mendengar kejadian itu. Tetapi ia juga teringat dengan kematian Koh Han, yang mayatnya juga seperti anjing, dan kemudian juga hangus terbakar di dalam peti jenazah.


    "Ini, Bu .... Kertas yang dipegang oleh Pak Direktur, saya ambil, ternyata isinya berkas yang Ibu tanyakan kemarin. Terus terang saya sudah berusaha mencari dan tidak ketemu. Namun saya justru mendapatkan dengan mudah saat mengevakuasi jenazah Pak Direktur yang hangus itu. Saya tidak mengada-adam Bu ..., berkas ini benar-benar dipegang oleh Pak Direktur. Mungkin Ibu tidak percaya, tetapi memang aneh seperti itu." kata pegawai bank itu sambil menyerahkan berkas yang sempat diminta oleh Indra hari kemarin.


    Indra menerima berkas itu. Lantas membuka pada bagian yang meng-ACC kredit. Benar seperti dugaan Indra, pasti orang-orang yang meninggal itu ada hubungannya dengan masalah kredit yang diajukan oleh Hartono dengan jaminan tanah dan bangunan milik Babah Ho.


    Lantas Indra mengamati nama-nama yang tertera dalam akad kredit. Benar, nama-nama orang yang menandatangani, ada direktur, ada mantri bank, ada kepala desa dan tentu Hartono sebagai pengaju kredit.


    "Berarti orang ini sudah meninggal, Bu ...?" tanya pegawai bank itu.


    "Betul .... Dan ..., Bapak tahu bagaimana kondisi jenazahnya ...? Mungkin sama dengan direktur Anda .... Terus ..., kemarin pagi, saat kami datang ke kantor bank Bapak, saya mendengar kabar kalau Pak Mantri, pegawai bank di tempat Anda, juga ditemukan meninggal dalam posisi yang mengenaskan. Sorena, direktur yang mengalami nasib tragis. Itu nama-nama yang tercantum dalam berkas ini, Pak ...." kata Indra memberi fakta tentang kematian itu, seperti semacam kutukan.


    Tentu pegawai bank itu diam tanpa bisa berkata apa-apa. Yang terlintas dalam pikirannya, kini siapa lagi yang akan menjadi korban. Masih ada nama dalam berkas itu, yaitu kepala desa yang ikut menjadi pengesah. Kini kepala desa itu yang menjadi fokus pengamatan sang pegawai bank tersebut, untuk membuktikan kebenaran kata-kata Indra. Benarkah nama-nama dalam berkas itu akan terkena kutukan semua?


    "Makanya, kalau bekerja itu yang benar ..., jangan mencari kesempatan-kesempatan untuk mendapatkan keuntungan, tetapi dengan cara menyakiti dan merugikan orang lain .... Kalau sudah meninggal, apa arti semua harta yang ia dapatkan. Hidup jangan serakah, selalu bersyukur dan berbagi kepada orang-orang yang tidak mampu .... Orang kalau terlalu serakah, nanti matinya ya seprti itu .... Kayak anjing yang tamak dan serakah .... Tulang saja dibuat rebutan .... Iya, kan ...?! Babah Ho yang sudah menjadi tulang di kuburan, dibuat rebutan untuk menumpuk harta haram ...." Indra memberikan ceramah pada pegawai bank itu.


    "Ya ..., betul,  Bu .... Sayangnya mereka langsung mati, tidak bisa mengoreksi diri ...." kata pegawai bank itu.


    "Bekerjalah dengan jujur, jangan serakah seperti anjing liar .... Nanti kalau mati mirip seperti anjing ...." kata Indra yang tentu sangat kecewa dengan sistem kerja pencairan kredit yang tidak benar.


    "Terima kasih atas nasehatnya, Bu .... Kami mohon pamit ...." kata pegawai itu yang langsung berpamitan untuk pulang.

__ADS_1


    Tentu pegawai bank itu mulai berpikir keras, menghubung-hubungkan kejadian-kejadian yang baru saja terjadi. Kemarin pagi Pak Mantri Bank yang kena musibah meninggal di kamar mandi. Posisinya memang persis dengan anjing yang menjulurkan lidah mau menerkam mangsa. Sorenya, Pak Direktur yang hangus bersamaan dengan peristiwa kebakaran bank. Namun anehnya, ruangan itu tidak ada yang terbakar. Dan posisinya juga sama dengan Pak Mantri Bank, seperti layangnya anjing rakus yang akan berebut tulang. Dan yang lebih aneh lagi, kenapa kertas yang dipegangnya tidak ikut hangus?


    Ya, semuanya adalah kekuasaan Tuhan. Kini tinggal membuktikan, apakah peristiwa kematian tidak wajar itu juga akan menimpa kepala desa yang ikut menandatangai berkas untuk meloloskan kredit? Jika iya, pasti kepala desa itu juga sudah menikmati hasil uang haram yang sudah menjadi kesepakatan dosa itu.


    Maka, pegawai bank itu, sepulang dari Toko Laris, tidak kembali ke kantornya. Bahkan juga tidak pergi ke rumah direkturnya untuk ikut berkabung di sana, karena toh jenazahnya sudah dimakamkan semalam. Tetapi pegawai itu pergi ingin mencari lurah yang ikut menandatangani pelolosan kredit yang bermasalah tersebut. Benarkah kepala desa itu juga akan mengalami nasib seperti Pak Mantri dan direktur bank itu.


    Maka diam-diam pegawai bank itu datang ke desanya, untuk melihat bagaimana kondisi kepala desa yang ia cari. Ia pun mulai tanya-tanya kepada warga di desa itu, ingin tahu keadaan kepala desanya.


    "Pak kepala desa sini namanya siapa, Bu ...?" tanya pegawai bank tersebut saat masuk di warung makan model kampung yang ada di desa itu. Tentu dasinya sudah di lepas, dimasukkan dalam tasnya.


    "Pak Dul Khamid .... Memang ada apa, Mas ...?" tanya ibu-ibu penjual nasi lotek itu, yang warungnya ada di depan rumahnya.


    "Ee ..., bukan, Buk .... Kalau tidak keliru namanya Pak Karyono ..., kok ...." kata pegawai itu.


    "Walah, Mas .... Pak Karyoso itu sudah nggak ada, ya .... Sudah meninggal ...." jawab ibu penjual makanan itu sambil membuatkan es teh pesanan pembelinya.


    "Pak Karyono sudah lama meninggal, Mas .... Sudah satu tahunan .... Lurah yang sekarang ini, Pak Dul Khamid yang menggangtikan. Dulunya Pak Dul Khamid ini carik .... Terus diangkat jadi kepala desa." jelas laki-laki yang sedang menikmati kopi dan rokoknya itu.


    "Ooo .... Sakit, Mas ...?" tanya pegawai bank itu kepada laki-laki yang duduk di sebelahnya.


    "Walah, Mas .... Ngeri ceritanya ...." sahut orang itu.


    "Ngeri bagaimana?" tanya sang pegawai bank penasaran.


    "Pak Kades Karyono itu tidak sakit .... Tidak ada gejala apa-apa .... Ya, sore itu masih nongkrong minum kopi begini ini .... Ngobrol sampai malam .... Tapi habis pulang dari warung, pagi harinya anak dan istrinya jerit-jerit minta tolong, Pak Kades itu sudah kaku .... Mayatnya mengerikan, matanya terbelalak, lidahnya terjulur melet-melet seperti anjing mau memerkam orang. Istri dan anaknya saja takut .... Apalagi orang lain. Tentu jadi cerita yang menakutkan." kata laki-laki yang bercerita menggebu-gebu itu.


    Pegawai bank itu diam tanpa komentar. Pikirannya langsung teringat kata-kata pemilik Toko Laris, yang menyebutkan kalau semua perilaku jahat manusia akan mendapatkan karmanya masing-masing.


    Empat orang sudah mendapatkan karmanya. Masihkah ada lagi orang-orang yang belum kebagian karma itu?

__ADS_1


__ADS_2