
Hari Sabtu sore. Di teras rumah keluarga Jamil.
Kini, setelah Irul menikah dengan Indra, Irul tidak lagi tinggal di perusahaan. Sudah hampir satu minggu Irul berada di rumah orang tuanya, di Lasem. Tentu karena memang pengantin baru yang belum boleh bepergian oleh orang tuanya, yang masih kuat menganut aturan adat istiadat.
Melian, adalah anak yang paling merasa kesepian. Biasanya, kalau pagi, berangkat sekolah diantar oleh Mas Irul. Demikian juga saat pulang sekolah, juga dijemput oleh Mas Irul. Kini, sudah satu minggu Melian berangkat dan pulang sekolah diantar dan dijemput oleh bapaknya. Pastinya, Melian tidak bisa bercerita atau ngobrol secara leluasa. Sangat berbeda jika yang mengantar atau menjemput Irul, Melian bisa bercerita secara leluasa tanpa menutupi rahasia. Bahkan sering diajak mampir beli bakso atau mie ayam. Pokoknya lebih enak kalau berangkat dan pulang sekolah bersama Mas Irul.
Namun, kini saat Mas Irul tidak ada di Kampung Naga, tidak ada di perusahaan bapaknya, Melian benar-benar baru merasakan betapa pentingnya arti Mas Irul dalam kehidupannya. Setidaknya, Mas Irul adalah tempat curhatnya. Kalau ada masalah apa-apa, Melian menyampaikan ke Mas Irul. Lantas meminta pendapat. Atau bahkan juga bersitegang kalau saling tidak cocok dalam berpendapat. Ya, dua orang itu, antara Irul dan Melian memang seperti kakak beradik, walau usianya selisih sekitar tujuh belas tahunan.
"Mak .... Melian kangen sama Mas Irul ...." kata Melian yang memanja pada ibunya, saat berada di teras rumah duduk berdua. Tentu sambil menunggu bapaknya pulang.
"Eeh ..., ndak boleh begitu, Nduk .... Mas Irul kan sekarang sudah punya istri, Cik Indra ..., masih pengantin baru .... Ya, dia harus mulai mengurusi keluarganya, Ndik ...." kata ibunya yang tentu menasehati anaknya agar tidak mengganggu pengantin baru.
"Mak ..., kapan Mas Irul balik ke sini?" tanya Melian lagi, yang tentu sudah sangat ingin agar Irul segera pulang.
"Belum tahu .... Mungkin masih belum boleh keluar rumah sama Pak-e dan Mak-e Mas Irul ...." jawab ibunya.
"Lhoh ..., kok tidak boleh keluar rumah, Mak ...?! Memang kenapa?" tanya Melian yang tentu tidak paham dengan adat istiadat orang kuno.
"Orang zaman dulu memang begitu, Nduk .... Kalau habis mantenan, tidak boleh pergi-pergi dulu kalau belum genap sepasar .... Mak-e sama Pak-e dulu juga begitu, kok ...." jelas Juminem kepada anaknya.
"Sepasar itu apa sih, Mak ...?" tanya Melian yang memang tidak paham.
"Sepasar itu lima hari, hitungan hari pasaran bagi orang Jawa .... Itu lho ..., Pon, Wage, Kliwon, Legi, Pahing .... Lhah itu, kemarin Mas Irul sama Cik Indra menikahnya kan Minggu Legi ..., hingga sampai Legi lagi, hari Jumat Legi ..., pengantin baru tidak boleh keluar rumah." kata JUminem yang menjelaskan ke anaknya.
"Walah .... Lha terus di rumah terus-terusan mau ngapain, Mak ...? Apa tidak bosan?" tanya Melian pada ibunya. "Ya ..., mau bagaimana lagi ...? Namanya juga adat. Mau dilanggar takut kuwalat, ora ilok .... Kalau dituruti, ya tentu bosan, Nduk .... Wong di rumah pagi, siang, malam .... Ketemunya ya cuman itu-itu saja." jawab ibunya.
"Apa biar cepat punya anak ya, Mak ...?" tanya Melian yang belum mudeng dengan proses punya anak.
"Ah, embuh ..., Nduk .... Nyatanya Mak-e sama Pak-e dulu menurut semua perintah orang tua, tapi sampai sekarang juga nggak punya anak ...." sahut Juminem yang tentu ingat kalau dirinya sampai saat ini belum punya keturunan.
"Lhah, kan sudah punya Melian ...." sahut anaknya yang tentu tetap ingin disebut sebagai anaknya yang asli.
"Iya .... Kita syukuri. Yang maha kuasa itu memang Maha adil. Dia sudah memberikan anak terbaik untuk Mak-e dan Pak-e .... Anak yang cantik dan pinter." kata Juminem yang tentu dalam hati kecilnya sebenarnya masih protes karena tidak punya keturunan. Melian hanyalah anak orang lain yang ia temukan. Dan besok kalau sudah besar, pasti Melian akan pergi mengikuti suaminya.
"Gak usah sedih, Mak .... Melian juga bersyukur bisa ketemu dan dirawat sama Mak-e dan Pak-e .... Mungkin Tuhan sudah menakdirkan kita sebagai orang tua dan anak yang saling menyayangi .... Saya juga senang dan bangga punya Mak-e sama Pak-e. Baik hati dan merawat Melian secara tulus." kata Melian yang juga membanggakan orang tuanya.
"Semua sudah ditakdirkan sama Yang Kuasa, Nduk ...." sahut ibunya.
__ADS_1
"Mak ..., kalau Melian ke rumah Mas Irul, bagaimana?" tanya Melian tiba-tiba.
"Hah ...?! Mau ngapain?" tentu ibunya bingung.
"Habis ..., Melian kangen sama Mas Irul .... Gak bisa ngobrol lagi ...." kata Melian.
"Jauh, Nduk .... Mau naik apa ke sana ...? Masuknya dari jalan raya saja masih jauh ...." kata ibunya yang tentu keberatan kalau anaknya harus menyusul Irul ke Lasem.
"Naik bus .... Terus turun di Pasar Lasem ..., dari pasar naik ojek ke rumah Mas Irul ...." jawab Melian.
"Jangan lah, Nduk .... Besok kalau sudah boleh keluar, kan Mas Irul juga balik kerja di sini .... Dia pulang ke sini ...." larang ibunya.
"Kalau gak balik ke sini ..., bagaimana?" Melian mencoba berandai.
"Pakaiannya saja masih banyak yang di kamar, kok .... Ya, pasti ke sini lah, Nduk ...." sahut ibunya.
"Lhah, terus ..., kalau Mas Irul balik kerja di sini, Cik Indra bagaimana?" tanya Melian yang tentu juga memikirkan nasib Cik Indra kalau ditinggal di rumah sendirian.
"Ya, nggak masalah ..., leh .... Kan Cik Indra sudah besar ...." sahut ibunya.
"Masalahnya, Cik Indra itu sekarang istrinya Mas Irul .... Kalau ditinggal di Lasem, yang tinggal di desa sepi seperti itu, apa Cik Indra betah?" kata Melian yang tentu melihat kesepian di desanya Irul.
"Mana mau .... Cik Indra itu orangnya tidak mau merepotkan orang lain. Dia itu sangat mandiri. Waktu di Semarang saja, punya saudara yang rumahnya besar, dia tidak mau tinggal di rumah saudaranya. Katanya nggak mau merepotkan orang lain .... Kok malah disuruh tinggal di rumah kita yang bukan siapa-siapanya .... Mana mau, Mak ...." jelas Melian.
"Ya ..., tinggalnya di pabrik, to .... Di kamarnya Mas Irul ...." sahut ibunya.
"Apalagi tinggal di pabrik .... Ya jelas malu sama karyawan-karyawan yang lain to, Mak ...." bantah Melian.
"Ooo .... Begitu, ya ...." Juminem memang sulit untuk membedakan antara perasaan dengan niat baik hatinya.
Dua perempuan, ibu dan anak itu terus bercerita. Hingga akhirnya, bapaknya datang, dengan mengendarai motor bebek, dan tentu langsung dinaikkan ke teras rumah.
"Horee ..., Pak-e pulang ...." kata Melian yang menyambut kedatangan bapaknya, dan tentu langsung menggandeng tangan bapaknya.
"Lagi pada ngapain, ini ...?" tanya Jamil yang tentu ingin tahu aktivitas anak dan istrinya.
"Lagi ngomongin Mas Irul .... Ini ..., Melian kangen, Kang ...." jawab Juminem yang juga sudah berdiri menyusul suaminya.
__ADS_1
"Besok kan juga balik ke sini lagi .... Biar bulan madunya puas duluan ...." sahut Jamil santai menanggapi kata-kata istrinya.
"Besok kapan, Pak ...? Bilang sama Pek-e, nggak ..., Mas Irul pulangnya ke Juwana kapan ...?" tanya Melian pada bapaknya.
"Tidak .... Tapi bagi orang desa, biasanya kalau belum sepasar, belum boleh keluar rumah ...." jawab bapaknya.
"Kok sama dengan jawabannya Mak-e .... Memang kalau belum sepasaran belum boleh pergi-pergi, Pak ...?" tanya Melian yang tentu ingin penjelasan dari bapaknya.
"Iya .... Biasanya kalau sepasaran itu ada acara selamatan .... Tapi mestinya selamatannya kemarin malam. Ini kan sudah sepasar lebih." kata bapaknya yang tentu sangat paham dengan adat desa.
"Memang kenapa harus ada selamatannya, Pak?" tanya Melian yang ingin tahu.
"Ya ..., namanya selamatan .... Berarti memanjatkan doa-doa agar pengantin selamat dalam menjalankan hidup berumah tangga. Biar keluarganya aman, tenteram, damai, dan bahagia selamanya, sampai kaken-kaken dan ninen-ninen ...." jelas bapaknya.
"Apalagi itu, Pak ...? Kok saya jadi bingung." sahut Melian.
"Bahagia sampai tua .... Sampai kakek nenek ...." jawab bapaknya.
"Ooo ...." Melian melongo.
"Pak-e sama Mak-e juga pengin seperti itu, Nduk .... Nanti bisa momong cucu, anak-anak kamu .... Hehe ...." timpal Juminem.
"Iih ..., Mak-e .... Melian masih pengin sekolah, Mak .... Jangan bilang begitu ..., malu ...." kata Melian yang tentu tidak mau kalau disuruh cepat-cepat menikah.
"Iya .... Sekolah dulu yang pintar .... Biar besok bisa mengatur rumah tangga secara baik dan indah." kata bapaknya.
"Pak ..., kalau Melian besok mau ke rumah Mas Irul, bagaimana? Boleh nggak?" tanya Melian pada bapaknya.
"Eit ..., jangan ...! Tidak boleh ...!" bapaknya langsung melarang.
"Memang kenapa, Pak ...? Melian kan kangen ...." tanya Melian.
"Mas Irul sama Cik Indra itu pengantin baru .... Jangan diganggu dahulu .... Tidak baik mengganggu pengantin baru. Biar Mas Irul dan Cik Indra bersenang-senang dahulu .... Kamu tahu kan, Mas Irul itu joko kasep ..., sudah tua baru menikah. Demikian juga Cik Indra, perawan juga sudah agak tua .... Biar mereka menikmati indahnya hidup berumah tangga dulu ..., hidup sebagai suami istri .... Kalau kamu ke sana, wee ..., malah mengganggu." jelas bapaknya.
"Gitu, ya ..., Pak ...?" Melian mencoba berpikir.
"Walau misalnya mereka bilang tidak apa-apa ..., tapi itu hanya kata-kata yang terucap dari mulut. Kita harus bisa menjaga perasaan orang lain. Apalagi Melian yang datang menemui Cik Indra sama Mas Irul, pasti mereka akan repot-repot cari segala macam untuk menyenangkan kamu .... Jadi ..., kita sendiri yang harus bisa menempatkan diri. Jangan menuruti hawa nafsu kita, memaksakan kehendak untuk orang lain. Gitu, Nduk ...." jelas bapaknya, yang tentu untuk menasehati anak dan istrinya.
__ADS_1
"Iya, Pak ...." jawab dua perempuan, anak dan istrinya.
"Kita tunggu saja .... Besok Mas Irul dan Cik Indra pasti kemari ...." kata Jamil yang meyakinkan dan menenangkan anak istrinya.