GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 45: STRES


__ADS_3

    Karyawan Babah Ho yang bernama Irul sudah sampai di halaman Pasar Lasem. Tentu sudah banyak yang menanti kedatangannya. Bukan hanya Babah Ho atau Cik Jun, tetapi juga para pedagang pasar yang lain, yang ingin kepastian kabar berita tentang pembakaran rumah di Desa Sarang.


    Namun, anak muda yang mengendarai motor yang biasa digunakan untuk mengantar belanjaan ke para pelanggan itu, sesampai di halaman pasar, di depan kios Babah Ho, setelah menghentikan motornya, saat akan turun dari motor, tiba-tiba tubuhnya limbung. Orang itu langsung jatuh tersungkur di tanah. Beruntung tidak menimpa motor yang mesinnya masih panas tersebut.


    "Heh ..., heh ..., heeeh ....!!! Ada orang jatuh dari motor ...!!!" teriak salah seorang pedagang yang melihatnya.


    "Walah ..., Irul .... Karyawannya Babah Ho ...."


    "Kenapa, dia ...?!"


    "Eeee ..., pingsan ...!"


    "Waduh ...?!"


    "Pingsan ...?"


    "Cik Jun ..., ini lho Mas Irul pingsan ...!"


    "Halah, biasa .... Paling itu pura-pura .... Irul biasa ndagel ...."


    Karyawan Babah Ho yang satu lantas keluar kios, mencoba menengok temannya yang masih tergeletak di pinggir motor itu. Pasti temannya itu sedang berpura-purapingsan. Ia mencoba untuk menggoda temannya dengan cara mengilikitik bagian perutnya. Namun berkali-kali bagian perut itu dicolek-colek, bahkan ditusuk dengan jari dan dicubit, ternyata temannya yang tergeletak di pelataran itu tidak juga bergeming. Barulah iasadar kalau temannya itu pingsan beneran.


    "Wee .... Mas Irul pingsan beneran ...!!" teriak temannya yang menengok.


    "Walah .... Pingsan beneran ...?!"


    "Tolooong ...! Bantu mengangkat ...!"


    "Ya ..., ya .... Ayo bantu angkat  ...!"


    Akhirnya beberapa orang mengangkat karyawan Babah Ho yang pingsan itu, dibawa ke teras kios Babah Ho. Ada yang menggelar kardus besar di lantai, untuk tempat menidurkan yang pingsan. Ada yang mencari teh hangat, ada pula yang membawa minyak gosok.


    Tubuh karyawan Babah Ho yang pingsan itu diblonyo dengan minyak gosok. Di bagian leher, bagian dada, serta bagian hidung diusapi juga. Seorang laki-laki datang, lantas memijit-pijit kaki dan tangannya.


    "Bocah ini kenapa to ya ...? Kok pakai pingsan segala si Irul ini ...."


    "Dari mana leh, ini tadi ...?"


    "Apa belum sarapan?"


    "Saya suruh da Sarang ..., da tempat rumah yang dibakar itu .... Dia yang biasanya pergi da rumah Jamil .... Memastikan rumah yang dibakar itu, benar apa tidak rumah itu tempat Melian dimomong sama Juminem ...." jawab Cik Jun.


    "Ooo .... Lha kenapa datang-datang malah pingsan ...?" tanya pedagang yang dekat dengan kios Babah Ho.


    "Wah ..., kalau itu saya tidak tahu ...." jawab Cik Jun.


    "Paling-paling belum sarapan itu ...." sahut yang lain.

__ADS_1


    "Untung tidak jatuh di jalan ...."


    Orang-orang masih berusaha menyadarkan yang pingsan itu. Ada yang mengurut otot-otot tangan, dan tentu ada pula yang menggoyang-goyang tubuhnya agar mau bangun.


    "Uuh ...." Akhirnya, orang yang pingsan itu siuman.


    "Alhamdulillah .... Syukur ya Allah .... Mas Irul sudah sadar ...." orang-orang langsung mengucap syukur, karena yang dikhawatirkan tidak terjadi.


    "Ayo minum teh anget dulu, Rul ...." seorang bakul perempuan memberikan gelas berisi teh hangat dan membantu meminumkannya.


    "Jan-jan-ne, kamu itu kenapa ...?"


    "Ada apa sih, Rul ...? Kok sampai pingsan .... Belum sarapan, ya ...?"


    "Apa saya ambilkan nasi rawon dulu ..., untuk sarapan ...."


    "Tidak usah .... Saya sudah sarapan, kok ...." jawab Irul yang baru sadar itu mulai bangkit.


    "Lha kamu itu kenapa ...?"


    "Anu .... Anu .... Cik Jun mana?" kata karyawan itu, yang lantas tengak-tengok mencari majikannya.


    "Aku da sini .... Piye, Rul ...?" sahut Cik Jun yang langsung menanyakan hasilnya. Ya, kabar tentang rumah yang dibakar itu.


    "Anu, Cik Jun .... Anu ...." anak muda itu bingung mau menyampaikan.


    "Anu, Cik .... Rumah yang dibakar itu ...." lagi-lagi kata-katanya terhenti.


    "Dari tadi kok ona-anu ..., ona-anu .... Mbok ngomong sing ceto ...!" tentu Cik Jun tidak sabar.


    "Sebentar .... Kepalaku pusing lagi ...." kata Mas Itul. Laki-laki muda itu memegang kepalanya, takut kalau pingsan lagi.


    "Weee .... Awas dipegangi .... Dipapah ...."


    "Ambilkan kursi .... Suruh duduk saja ...."


    Tentu orang-orang yang masih mengerubung di situ kembali ribut dan khawatir. Akhirnya, karyawan Babah Ho itu langsung didudukkan di kursi plastik yang biasa digunakan duduk oleh Babah Ho.


    "Piye ...?!"


    "Ada apa sebenarnya ...?"


    Cik Jun dan Babah Ho kembali meminta laporan. Pasti mereka berdua juga sudah tidak sabar untuk mendengar berita dari pembantunya itu, untuk memastikan bagaimana kondisi cucunya.


    "Kong ..., Cik .... Saya tadi sudah sampai di Sarang. Sudah sampai di tempat tujuan ...." kata laki-laki muda yang sering dipanggil Mas Jo itu.


    "Haiya .... Bagaimana da sana, ha ...?" tanya Babah Ho.

__ADS_1


    "Iya, Rul .... Bagaimana Me Me ...?" timpal Cik Jun.


    "Kong ..., Cik .... Rumah Kang Jamil sudah ludes terbakar .... Tidak ada sisa sama sekali, tinggal abu yang berserakan di bekas lantainya." kata pembantunya itu.


    "Me Me bagaimana ...?" tanya Cik Jun yang khawatir.


    "Kata orang-orang kampung yang ketemu saya, malam itu rumah Kang Jamil pintunya diikat, lantas dibakar. Penghuninya tidak bisa keluar. Katanya bau panggangan tubuh yang terbakar hingga menyengat hidung .... Di depan rumah Kang Jamil sebenarnya saya sudah tidak kuat, saya sudah mau pingsan .... Saya tidak sanggup menyaksikan abu yang berserakan itu. Tapi saya tahan, saya kuat-kuatkan agar bisa pulang." jawab Irul, karyawannya yang baru saja pingsan itu tadi.


    "Terus ..., cucuku bagaimana, Rul ...?!" lagi-lagi Cik Jun menanyakan cucunya, yang tentu sudah menipis harapannya.


    "Tidak ada sisa sama sekali .... Semua jadi abu ...." jawab Mas Irul.


    "Huaaaa ..., huk ..., huk ..., huk .... Me Me bagaimana ...? Hua, huk ..., huk ...." seketika itu, tangis Cik Jun pecah, mengaketkan orang-orang yang ada di situ.


    Demikian pula Babah Ho. Meski tidak menangis meraung-raung seperti istrinya, tetapi lelaki keturunan Cina yang sudah cukup tua itu terlihat sangat terpukul. Aliran air matanya langsung membasahi pipi. Tentu ia sangat sedih sekali. Duka itu datang bertubi-tubi, menerpa keluarga Babah Ho.


    Orang-orang se pasar langsung berusaha menenangkan Babah Ho dan Cik Jun. Memberi semangat, memberi motivasi, bersimpati kepada Babah Ho maupun istrinya. Tidak sedikit pula yang ikut menangis, karena rasa empatinya terhadap Cik Jun.


    Demikian juga dengan dua laki-laki yang membantu jualan Babah Ho. Ia ikut menangis. Tentu ikut merasakan kesedihan majikannya, yang datang terus menerus, menerpa keluarga Babah Ho. Satu persatu anggota keluarganya meninggal, dengan kejadian-kejadian yang tragis.


    "Ya ampun, Babah Ho .... Kok terus-terusan bencana menimpa keluarganya ...." kata tetangga kiosnya.


    "Kasihan, ya .... Menantu dan anaknya sudah tidak ada, kini cucunya juga ikut meninggal .... Malah tragis, dibakar oleh warga hingga jadi abu .... Tidak tahu jasadnya. Ya Allah, ampuni hamba-Mu ya Allah ...." sahut yang lain.


    "Orang-orang kampung itu lho, kok ya tega membakar tetangganya sendiri. Padahal belum tentu salah yang kayak gitu iyu .... Itu kan namanya main hakim sendiri .... Polisi kok ya diam saja ...." timpal yang lain lagi.


    "Lha iya .... Me Me itu kan masih bayi, belum tahu apa-apa, belum punya dosa ..., lha kok ya ikut dibakar itu, lho ...!"


    "Wah, jian .... Ini benar-benar keterlaluan ...."


    "Ini harusnya diusut tuntas, siapa yang membakar rumah itu harus dimasukkan penjara. Masak membakar orang semaunya sendiri .... Kayak orang-orang jaman bar-bar saja. Memang negara kita itu sudah tidak ada hukum, apa?"


    "Kasihan Cik Jun dan Babah Ho itu .... Bayi yang dititipkan kok ya ikut dibakar ...."


    "Memang benar si Jamil itu pelihara pesugihan hantu cekik?!"


    "Lha wong beras saja yang ngirimi Mas Irul tiap bulan, dari pemberian Babah Ho. Semua kebutuhan hidupnya yang ngirimi Babah Ho ..., kok dituduh memelihara hantu cekik .... Jian keterlaluan warga Sarang itu."


    "Wis, pokoknya saya bersumpah tidak akan lewat atau menginjakkan kaki ke Desa Sarang ...."


    Berita yang diterima tentang pembakaran rumah Jamil itu tentu menjadi perbincangan yang heboh di pasar. Dan yang paling terpukul dengan peristiwa itu, adalah Babah Ho dan istrinya.


    Babah Ho sudah tidak kuasa lagi untuk bergerak. Pikirannya sudah kosong, tidak sanggup untuk berbuat apa-apa. Ia stres. Tentu karena beban penderitaan mengalami kesedihan berturut-turut. Duka silih berganti, kematian datang bergantian. Apa keluarganya mau ditumpas oleh Yang Kuasa?


    Demikian juga Cik Jun. Istri Babah Ho itu tidak habis pikir. Mengapa dirinya, keluarganya, terus menerus dirundung duka? Ada salah apa dalam keluarganya? Hukum karma apa yang diberikan oleh Yang Kuasa, sehingga duka itu bertubi-tubi.


    Akhirnya, Cik Jun mengajak pulang suaminya. Babah Ho yang gontai, minta dipapah oleh pelayannya, untuk diantarkan ke rumah. Tentu kakek nenek ini ingin menenangkan pikirannya yang stres.

__ADS_1


    "Irul, Jo ..., kiosnya tolong kamu urusi. Saya tidak sanggup berpikir." kata majikan putri itu kepada pelayan kiosnya.


__ADS_2