GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 160: MEMBELI RUMAH


__ADS_3

    Pagi itu, sekitar jam sepuluh, dengan mengendarai motor butut, Irul berboncengan dengan istrinya, menuju rumah yang semalam sudah dilihatnya. Tentunya ia memperkirakan kalau pemilik rumah yang tinggal di Surabaya itu jadi ke Lasem. berangkat subuh, maka sekitar jam sepuluh lewat sedikit dia sudah sampai. Makanya, Irul mengajak istrinya datang lebih awal, dengan tujuan agar bisa mengamati rumah yang akan dibelinya itu lebih dahulu. Setidaknya bisa memeriksa bagaimana kondisi rumah yang akan dibelinya itu.


    Irul langsung memasukkan motornya di halaman rumah itu. Lantas diparkirkan di bawah pohon mangga. Semalam memang tidak terlihat bagaimana kondisi rumah dan pekarangannya. Kini setelah pagi dan sangat terang, Irul dan Indra bisa mengamati secara seksama.


    "We, ada tamu, to ...." laki-laki yang semalam ditemui Irul membuka pintu dan keluar dari rumah itu. Masih bebetan sarung dan mengenakan kaos oblong yang dipakai semalam.


    "Kulanuwun, Pak .... Maaf, saya yang tadi malam ke sini, menanyakan tanah ini." kata Irul saat ditemui orang yang menghuni di rumah itu.


    "Hiya ..., tadi saya sudah telepon ke rumah yang punya .... Tapi katanya, Bapak-e pergi sejak subuh .... Jadi saya belum bisa matur masa Bapak-e ...." kata laki-laki itu.


    "Istri saya sudah telepon tadi malam, Pak .... Ini kami janjian mau ketemu di sini. Kita tunggu saja, nanti Bapak-e datang." kata Irul yang memberi tahu.


    "Oo .... Sudah dikasih tahu, to ...." kata orang itu.


    "Pak, boleh kami lihat-lihat rumahnya dahulu ...?" tanya Irul pada penghuni rumah itu, yang tentunya ingin melihat bangunannya.


    "O, boleh .... Monggo." sahut laki-laki itu.


    Irul dan Indra langsung berjalan, yang tentunya didampingi oleh laki-laki yang menempati rumah itu. Melihat bangunan bagian luarnya dahulu. Tentu sambil tanya-tanya.


    "Pak, ini panjang tanah dari depan sampai belakang, ada berapa meter?" tanya Irul sambil menduga-duga panjang tanah pekarangan itu. Karena selain bangunan, masih ada sisa tanah yang cukup puas, sehingga ditanami aneka tanaman oleh yang menempati. Terutama tanaman singkong.


    "Ini dari depan sampai belakang kalau tidak salah sekitar dua puluh meteran. Lha kalau lebarnya hanya lima belas meter. Luasnya itu kalau tidak salah ada tiga ratus meteran, gitu ...." jawab laki-laki yang sarungan itu.


    "Kalau bangunannya, luasnya berapa, Pak?" tanya Irul lagi.


    "Kalau bangunannya itu ukuran enam kali sembilan. Tapi di belakangnya masih ada dapur dan kamar mandi. Lha yang samping itu dulu sebenarnya mau dibuat garasi, tetapi tidak jadi. Karena yang punya keburu pindah tugas ke Surabaya." laki-laki itu menjelaskan.


    "Ini yang menanami singkong ..., siapa, Pak?" tanya Irul lagi.


    "Halah .... Itu cuman untuk kesibukan, Mas .... Daripada tanahnya ditumbuhi rumput." jawab laki-laki itu.


    "Bangunannya masih bagus ya, Pak?" tanya Irul yang ingin tahu keadaan bangunan.


    "Oo, masih bagus .... Ya, paling-paling cat temboknya saja yang harus diperbarui. Maklum sudah lama ...." kata si penghuni.


    "Ada yang bocor-bocor tidak, Pak ...?" tanya Irul ingin tahu atapnya.


    "Tidak, Mas .... Itu gentingnya bagus, kok .... Genting super ...." tentu laki-laki itu akan selalu menjawab yang terbaik.


    "Bagaimana, Dek ...?" tanya Irul pada Indra.


    "Kelihatannya saya suka, Mas .... Yah, nanti kalau jadi, kita tetap perbaiki. Terutama bagian depan pasti kita ubah." jawab Indra yang tentunya sangat cocok dengan tempat itu. Setidaknya sangat strategis, karena letaknya yang berada di pinggir jalan raya. Dan harga itu tentu lebih murah jika dibandingkan dengan tempat usaha yang ada di kota-kota besar.


    "Saya juga senang, Dek .... Kalau kita nanti juga tinggal di sini, bagian belakang tetap ada kamar dan dapur." timpal Irul.


    Setelah lama berbincang dengan penghuni rumah itu, dan sudah berkeliling mengamati bangunannya, saat itu datang seorang laki-laki, belum terlalu tua, usia sekitar lima puluh tahun, masuk ke halaman rumah. Ia baru saja turun dari bus.


    "Kulanuwun ...." laki-laki itu memberi salam dan terlihat tergesa.


    "Monggo, Pak Agus .... Lha, ini yang punya rumah, Mas ...." laki-laki yang menempati rumah itu menemui laki-laki yang baru datang, yang disapanya Pak Agus, pemilik rumah yang akan dijual tersebut.


    "Kenalkan, saya Irul dan ini istri saya .... Maaf lho, Pak Agus, kami sudah merepotkan ...." kata Irul yang menyalami laki-laki pemilik rumah yang baru datang tersebut.


    "Nggih, saya Agus ..., yang punya rumah ini. Sampeyan yang tadi malam telepon mau beli rumah ini, kan?" tanya pemilik rumah itu.


    "Betul, Pak .... JIka memang nanti terjadi kesepakatan, tentu kami sangat senang, Pak. Terus terang kami pengantin baru, Pak ...." kata Irul pada laki-laki yang enerjik tersebut.


    "Iya ..., asal sesuai dengan yang kami tawarkan semalam. Harga itu sudah terlalu murah. Kalau saya buat beli di Surabaya, paling-paling hanya dapat perumahan sederhana." kata laki-laki itu.


    "Ya pasti lah, Pak .... Surabaya kota besar .... Uangnya juga besar .... Hehehe ...." sahut Irul mencairkan suasana.

__ADS_1


    "Iya, betul. Jadi ..., bagaimana? Sepakat, kan ...?!" tanya laki-laki itu yang tentu sudah siap untuk mendengar jawaban dari pengantin muda yang akan membeli rumahnya, pasti mau.


    "Maaf, Pak ..., bisa kita bicara empat mata sebentar?" kata Irul yang berbisik di dekat telinga laki-laki pemilik rumah tersebut.


    Tanpa diajak, laki-laki itu justru menarik tangan Irul, menjauh ke tempat lain, menuju pojok rumah. Seolah melihat bangunan belakang.


    "Ada apa ...?" kata laki-laki itu ingin tahu yang akan disampaikan oleh calon pembelinya.


    "Masalah orang yang tinggal di rumah ini bagaimana, Pak?" tanya Irul yang tentu tidak mau bermasalah dengan penghuni rumah itu.


    "Ooh, itu urasan saya. Nanti saya yang suruh mereka pindah, kalau kita sudah jadian." kata laki-laki itu.


    "Terus terang kami akan segera menempati setelah rumah ini nanti kami bayar. Jadi, kami mohon nanti rumah ini dalam minggu ini segera kosong, untuk kami perbaiki, Pak." kata Irul yang ingin kepastian.


    "Tentu .... Bila perlu, nanti saya suruh untuk berkemas dan pindah. Artinya, Sampeyan sudah sepakat, kan?" kata pemilik rumah itu.


    "Surat tanahnya sudah dibawa, Pak? Kalau sertifikat itu memang sudah dibawa, kita langsung ke notaris untuk jual beli." kata Irul yang sudah berjalan lagi untuk kembali mendekati istrinya.


    "Sudah siap. Ini sudah saya bawa, karena saya yakin dari telepon tadi malam, pasti rembugan hari ini membuahkan hasil. Semalam saya bermimpi ketemu malaikat penolong .... Hahaha ...." laki-laki pemilik rumah itu langsung tertawa, karena ketemu dengan pembeli yang baik. Sekali rembugan langsung jadi. Ibarat kata seperti beli pisang goreng.


    "Dek, kita mau ke notaris, untuk pembuatan akta jual beli." kata Irul pada istrinya.


    "Tapi pembayarannya kami transfer, Pak .... Kami tidak berani menyimpan uang cash." kata Indra yang langsung memberi tahu cara pembayarannya.


    "O, ya .... Tentu. Kami juga maunya pembayaran lewat transfer. Lebih aman." sahut pemilik rumah.


    "Terus ..., ini kita bagaimana? Ke kantor notaris dahulu, baru ke bank?" Irul menawarkan alternatif.


    "Iya, Mas .... Sebaiknya begitu. Bila perlu nanti notarisnya sekalian di ajak ke bank, sebagai saksi pembayaran." sahut Indra.


    "Baiklah, kita naik Tosa saja, biar cepat. Maaf, Pak ..., kita naik angkot roda tiga, ke Rembang. Karena kantor bank yang untuk transfer adanya di Rembang Kota." kata Irul pada laki-laki pemilik rumah itu.


    "O, ya .... Ndak papa. Yang penting hari ini beres semua. Sehingga saya bisa langsung pulang ke Surabaya." jawab si pemilik rumah.


    Sebuah angkot roda tiga melintas di jalan itu. Irul langsung mencegat. Kebetulan kosong, belum ada penumpangnya. Irul meminta kepada sopirnya, untuk diantar ke kantor notaris dan bank yang ada di Rembang. Tentu ongkosnya dianggap sebagai carteran. Tukang angkot itu setuju. Mereka bertiga, Irul bersama istrinya dan laki-laki pemilik rumah itu langsung naik. Tentu memburu waktu agar prosesnya bisa selesai dalam satu hari.


    Motor Irul yang butut itu ditinggal di rumah yang sudah dibelinya. Dititipkan kepada orang yang menjaga rumah itu, dan tentunya langsung sibuk untuk meringkasi barang-barangnya akan dibawa pergi dari rumah itu. Maklum, oleh pemilik rumah yang lama, ia hanya diberi waktu dua hari untuk pindah.


    Tukang angkot yang mengendarai motor roda tiga itu langsung melaju. Lumayan cepat, karena si pengendara tidak mencari penumpang lagi. Dan tidak lama, sudah sampai di Kota Rembang. Menuju kantor notaris.


    Indra bersama Irul jalan bergandengan, mendampingi laki-laki dari Surabaya. Di kantor notaris itulah mereka akan mengadakan kesepakatran perjanjian jual beli rumah. Dan seperti kesepakatan awal, biayanya ditanggung dari dua belah pihak. Lima puluh persenan.


    Tentu butuh wakyu yang agak lumayan. Karena harus menyiapkan berita acar dan berkas-berkasnya. Sembari menunggu proses itu, Indra keluar dari kantor notaris, menengok kanan kiri. Lalu bertanya kepada tukang parkir, keberadaan bank tempat Indra menyimpan uang,bank yang dulu merupakan tempat kerja Indra, yang nantinya ia akan ke bank tersebut.


    "Pak, tahu tempatnya bank ini ...?" tanya indra kepada tukang parkir, yang biasanya paham tempat-tempat terkenal.


    "Lha itu, Cik .... Kelihatan dari sini ...." jawab si tukang parkir sembari menunjukkan gedungnya yang megah.


    "Walah, iya .... Terima kasih, Pak ...." kata Indra pada tukang parkir itu.


    Lantas Indra masuk ke ruang notrariat itu lagi, membisiki suaminya. Inginnya Indra melakukan proses transfer lebih dahulu, agar tidak keburu banknya tutup.


    Tentu Irul langsung setuju. Tentang perbankan Irul memang belum mudeng. Makanya ia pasrah pada istrinya.


    "Maaf, Pak Agus ..., boleh minta foto copy nomer rekening dan KTP Bapak? Saya akan memasukkan form transfer lebih dulu. Biar nanti rekening bank Pak Agus dicek terlebih dahulu oleh petugas clearing bank. Saya khawatir kalau terlalu lama di sini nanti banknya keburu tutup, Pak." kata Indra pada Pak Agus yang menjual rumahnya itu.


    "O,ya .... Saya setuju." lantas Pak Agus membuka tas yang dicangklong, mengambil lembaran kertas foto copy buku rekening dan KTP. Lalu diserahkan kepada Indra.


    "Nanti kalau prosesnya di sini sudah selesai, Mas Irul sama Bapak bersama petugas dari notariat, langsung menyusul ke bank. Biaya notarisnya kita bayar di bank sekalian. Terima kasih, Pak Agus ...." kata Indra yang langsung keluar dari kantor notaris itu, dan langsung minta diantar tukang angkot menuju bank yang ditunjukkan oleh tukang parkir tadi.


    Sesampai di bank itu, Indra langsung masuk. Dan tentu sudah paham hal-hal yang harus dilakukan saat mau transfer. Ia pun langsung menuju ke tempat form. Memilih form untuk transfer antar bank dan form pengambilan, karena banknya berbeda. Lantas mengisinya di meja tempat form tersebut. Dan setelah selesai mengisi, langsung meletakkan di kotak antrian, untuk menunggu dipanggil. Ya, masa itu memang masih banyak yang manual. Apalagi bank di daerah yang jauh dari kota besar, pasti prosesnya agak lama. Antri pun harus sabar. Bahkan untuk mengambil lewat mesin ATM pun sangat dibatasi jumlahnya.

__ADS_1


    Indra duduk di kursi antrian. Menunggu gilirannya untuk dipanggil. Tentu ia sambil mengamati fasilitas yang ada di bank itu. Masih jauh dengan kantornya dulu di Semarang. Walau lebih maju dari bank-bank pemerintah, tetapi masih tertinggal dengan yang ada di kota besar.


    "Saudari Indra ...." nama Indra sudah dipanggil oleh teler.


    Indra bergegas maju, menuju ke teler yang memanggilnya. Ia langsung menghadap ke dinding kaca yang ada lobangnya separo di bagian atas meja.


    "Lhoh ..., Cik Indra, ya ...?" tanya petugas teler tersebut saat melihat Indra yang berdiri di depannya.


    "Iya, betul ...." jawab Indra, yang bingung karena merasa belum kenal dengan petugas bank itu.


    "Cik Indra dari kantor cabang Semarang?" tanya petugas itu lagi.


    "Iya, betul ...." jawab Indra lagi, yang masih belum ingat dengan orang yang ada di hadapannya tersebut.


    "Lhih, kok Cik Indra ada di sini? Sedang ngapain? Tugas keliling, ya?" tanya wanita petugas teler tersebut.


    "Maaf, saya sudah mengundurkan diri dari bank, kebetulan saya dapat suami orang Lasem. Dan kebetulan ini kami mau transfer ke bank lain, rekening milik orang Surabaya. Mohon dibantu, ya ...." kata Indra yang tentunya tidak mau banyak ngobrol dengan pegawai bank yang sedang bekerja tersebut. Tidak baik ditunggu oleh para nasabah yang lain.


    "Oke, siap .... Transfer banyak sekali? Buat apa ini?" tanya teler itu pada Indra.


    "Bayar rumah ...." jawab Indra singkat. Sebenarnya secara etika tidak boleh seorang teler menanyakan seperti itu kepada nasabah. Sebenarnya Indra ingin memarahi. Tetapi ia sadar, sekarang ia bukan pegawai bank itu lagi. Tidak punya hak untuk campur tangan.


    "Di mana?" tanya teler itu lagi.


    "Di Lasem." jawab Indra.


    "Tunggu sebentar, silahkan duduk. Akan kami ajukan clearing bank dahulu." kata petugas teler.


    Indra duduk di kursi tunggu. Memilih duduk di kursi yang menyamping, agar bisa melihat kalau suaminya datang. Tentu sambil membaca majalah yang disediakan di situ. Agar tidak diajak ngobrol lagi oleh teler yang kurang etik tadi. Hanya sebentar Indra membuka majalah, suaminya datang bersama dua laki-laki. Pak Agus pemilik rumah yang dibelinya, dan satu lagi petugas dari notariat.


    "Bagaimana, Dek ...?" tanya Irul yang barusan datang pada istrinya, dan langsung duduk di debelahnya.


    "Sedang diajukan. Sabar, Pak .... Baru proses clearing bank." kata Indra pada si penjual rumah.


    "Saudari Indra ...." Teler itu kembali memanggil.


    Indra langsung maju, dan tentunya mengajak Pak Agus yang akan menerima transferan. Dan tentu diikuti oleh suaminya.


    "Cik Indra, ini transfer sudah beres. Karena ini bank pemerintah di Surabaya, tidak sama dengan bank kita, mungkin proses transfernya butuh waktu dua hari. Mohon di tunggu ya, Pak .... Ini bukti transfernya, yang asli dipegang Cik Indra, yang tindasan untuk penjual." kata petugas teler itu menjelaskan.


    "Jadi uangnya akan sampai di rekening saya sekitar dua hari lagi ya, Mbak ...?" tanya Pak Agus penjual rumah itu.


    "Betul, Pak .... Dua hari dari sekarang, nanti Bapak cek rekening. Mestinya sehari sudah selesai, tapi saya kurang yakin dengan petugas bank tempat Bapak menabung." kata teler itu memberi penjelasan kepada laki-laki yang menerima transferan tersebut.


    "Baik, Mbak ..., terima kasih." kata orang itu.


    "Cik Indra, ini ambil cash-nya lima belas juta. Mohon dilihat, akan saya hitung dengan mesin." kata teler itu yang menunjukkan penghitungan uangnya.


    Indra, Irul dan Pak Agus mengamati mesin penghitung tersebut. Tiga bendel uang kertas berwarna biru. Orang-orang menyebut gambar Pak Harto Mesem. Uang lima puluhan ribu kala itu.


    "Genap ya, Cik ...." kata teler itu yang langsung memasukkan uang ke dalam amplop coklat, lalu menyerahkan kepada Indra.


    Setelah selesai urusan dengan bank, mereka bertiga dan ditambah dengan petugas dari kantor notaris, kembali ke kantor notaris itu, tentu untuk membereskan pembayaran. Indra yang memegang amplop coklat berisi lima belas juta, siap membayarkan. Tentu sesuai perjanjian, biaya ditanggung berdua.


    "Berapa biaya notarisnya?" tanya Indra yang siap membayar, mereka berempat di meja notaris.


    "Biaya notaris, pajak penjualan serta balik nama, seluruhnya habis sembilan juta lima ratus ribu rupiah." kata notaris tersebut.


    Indra langsung membayar sejumlah uang itu, yang tentu meminta bukti pembayaran. Dua rangkap. Untuk pembeli dan penjual. Dan ternyata, masih ada sisa uang yang diambil dari bank. Sesuai kesepakatan, sisa itu pun dibagi dua. Tentu sama. Yang satu bagian diberikan kepada Pak Agus, sebagai sisa uang milik Pak Agus yang diambil oleh Indra. Sedangkan dua juta tujuh ratus lima puluh ribu sisanya adalah bagiannya Indra, yang langsung dimasukkan dalam dompetnya yang ada di tas kecilnya.


    "Sudah ya, Pak .... Beres semua, ya .... Kami sudah tidak punya utang lagi, mohon doanya kami akan menempati rumah bapak yang sudah dijual kepada kami. Kami sangat berterima kasih sama Pak Agus, semoga pertemuan kita ini akan terus berlanjut dalam silaturahmi persaudaraan." kata Irul yang menyalami Pak Agus.

__ADS_1


    "Sama-sama, Mas Irul ..., Mbak Indra .... Semoga Mas Irul dan Mbak Indra betah dan krasan di rumah baru." kata Pak Agus yang juga langsung berpamitan.


    Mereka bertiga kembali naik angkot roda tiga. Tetapi Pak Agus minta diantarkan ke terminal, untuk naik bus Surabaya dari terminal Rembang. Sedangkan Irul dan Indra langsung diantar lagi ke rumah yang sudah dibelinya. Tentu Irul dan Indra sangat gembira, bisa membeli rumah yang rencananya untuk usaha jualan sembako, di tempat yang strategis di tengah kota. Pasti bapak ibunya serta adik-adiknya juga ikut senang.


__ADS_2