
Malam itu memang sudah terlalu larut, saat Melian dan Putri pulang dari jalan-jalan di Monas. Setelah masuk ke taksi dan menyampaikan tujuannya, taksi itu pun melaju keluar dari tempatnya parkir. Lantas menyusuri Jalan Majapahit dan terus ke Jalan Gajahmada. selanjutnya membelok ke kiri. Mestinya ke arah Karawaci.
"Kok tidak lewat tol, Pak ...?!" tanya Putri kepada sopir taksi itu. Tentu karena ia masih ingat, tadi saat berangkat taksinya lewat tol.
"Sudah malam, lewat kota sudah sepi .... Kalau lewat tol bayarnya mahal." jawab sopir taksi itu, yang seakan tidak mau didekte oleh penumpangnya.
"Tapi kan sebenarnya kalau lewat tol ongkosnya kami yang bayar ...." kata Putri lagi, yang tentunya agak kecewa.
"Iya, Pak .... Kalau lewat tol kan bisa lebih cepat ...." timpa Melian.
Sopir taksi itu diam tidak menjawab. Malah seakan pura-pura tidak mendengat orang bicara. Akhirnya Putri dan Melian pasrah dengan kemauan si sopir taksi itu. Toh kalaupun agak lambat, paling juga selisih sekitar sepuluh sampai lima belas menit. Tetapi yang jelas berbeda adalah jarak tempuhnya. Karena taksi argo, maka membayarya berdasarkan putaran argo yang menghitung jarak tempuh. Semakin jauh jaraknya, maka semakin mahal penumpangnya harus membayar. Yah, pasti alasan ongkos yang harus dibayar inilah maka sang sopir taksi tersebut lebih memilih lewat jalur jalan melintas kota. Setidaknya, sopir ini akan dapat tambahan sekitar dua puluh hingga lima puluh ribu. Uang yang sangat banyak waktu itu.
Memang sudah terkenal, sopir-sopir taksi di Jakarta banyak yang nakal, yaitu dengan cara berputar-putar melewati jalan yang jauh, dengan tujuan agar argo meternya bisa jauh. Maka nanti ongkosnya pun jadi tinggi. Apalagi kalau penumpangnya orang dari daerah yang belum kenal Jakarta. Itu sasaran empuk sopir-sopir taksi yang nakal tersebut.
"Mel ..., kelihatannya kita diputar-putarkan sama si sopir ...." bisik Putri ditelinga Melian.
"Biarin saja ...." Melian membalas berbisik ke telinga Putri.
"Aku takut, Mel ...." bisik putri lagi, yang tentu khawatir.
"Ini kita pakai argo kan, Pak?" tanya Melian pada si sopir.
"Ya .... Tadi kan kesepakatannya pakai argo." jawab sang sopir, yang saat akan naik sudah sepakat kalau taksinya menggunakan argo, bukan carter atau borongan.
"Oke .... Hanya memastikan, Pak .... Siapa tahu lupa ...." kata Melian lagi yang terlihat tenang.
"Kalau sudah minta argo ya dihitung pakai argo .... Jangan coba berubah pikiran." kata si sopir dengan nada suara agak kaku. Pasti ada sesuatu.
"Nggak, Pak .... Saya hanya memastikan .... Saya juga kepikiran begitu .... Kalau sudah pakai argo, ya nanti kami bayarnya sesuai dengan ongkos yang tertera di argo meter ...." Melian masih menegaskan kepada sopir.
Di kursi penumpang, Putri yang mulai khawatir, tangannya sudah memegang lengan Melian. Pastinya Putri mulai takut. Yang jelas Putri merasa sudah ada yang aneh dengan si sopir itu. Mungkin si sopir taksi ini sengaja berputar-putar mencari jarak yang jauh. Ya, seperti dugaan awal, pasti akan menambah jarak agar membayarnya lebih besar.
"Mel ..., perasaan kok sudah lama gak sampai-sampai, ya ...?" Putri kembali berbisik di telinga Melian.
"Iya .... Si sopir ini mau ngerjain kita ...." jawab Melin yang juga membisik di telinga Putri.
"Terus ..., bagaimana ...?!" Putri kembali bingung.
"Tenang saja .... Ndak papa .... Yang penting kita sampai asrama. Sekarang nikmati saja perjalanan malam kita dari dalam taksi." jawab Melian.
"Iya .... Tolong jagain aku ya, Mel .... Aku takut." kata Putri yang kemudian pura-pura duduk tenang sambil menyaksikan pemandangan di luar. Namun Putri yang sebenarnya takut, punya rasa tenang karena berada di samping Melian. Setidaknya kalau nanti terjadi apa-apa, Melian pasti bisa mengatasi. Jangankan hanya sopir taksi seorang diri, brandal enam orang saja bergelimpangan semua.
Melian pun sudah menyadari kalau sopir taksi itu berusaha untuk berputar-putar menjauhkan perjalanan. Tentu nanti bayarnya sesuai argo akan mahal.
__ADS_1
"Pak .... Ini jalannya salah .... Mesyinya Bapak tadi ambil belokan yang ke kiri. Masak malah ke kanan ...." kata Melian memprotes si sopir taksi yang menyetir itu.
"Sudah, diam saja ...! Yang penting nanti sampai ...!" sahut si sopir agak jengkel saat diingatkan Melian.
"Tapi terlalu jauh dan lama, Pak ...." kata Melian lagi.
"Yang nyopir itu saya ...! Ini mencari jalan tercepat. Saya sudah tahu tempatnya ...!!" sang sopir taksi itu membentak. Tentu ia merasa kalau penumpangnya mungkin tahu akan dikerjai.
"Masalahnya kalau Bapak nyopir caranya begini, nanti bisa-bisa sampai di asrama pagi hari ...." kata Melian yang mencoba memberi tahu bahwa sopirnya itu keliru jalan.
"Karawaci itu jauh .... Ya pasti lama ...!" sahut sopir lagi dengan nada emosi.
"Tadi dikasih tahu lewat tol, Bapak tidak mau ...." bantah Melian.
"Sudah, diam ...!! Jangan mengganggu orang nyopir ...!!" sopir itu tidak mau dibantah, tentunya ia tetap ingin mendapatkan penghasilan yang lebih dengan cara yang tidak benar.
Melian yang merasa akan dikerjai oleh sopir taksi itu, dan tentu sudah diingatkan, tetapi sang sopir itu tetap ingin melakukan kecurangan dalam mencari rejeki. Hal itu membuat Melian juga jengkel. Terutama menemui orang yang tidak benar yang sudah diperingatkan masih saja ngeyel dan tidak mau berubah berbuat baik.
"Putri ..., sini, rebahkan kepalamu di pundakku ...." kata Melian pada temannya itu. Putri menurut saja. Karena ia memang pasrah keselamatan dirinya pada Melian, yang ia tahu pandai silat.
Entah apa yang akan dilakukan oleh Melian, ia minta Putri untuk bersandar di pundaknya. Seperti layaknya putri itu mengantuk dan disuruh merebah tidur di pundak Melian. Namun tiba-tiba, jemari Melian sudah mematahkan beberapai helai rambut Putri yang lumayan panjang. Dan entah teknik wushu dari mana, rambut Putri yang tentu lembut itu tiba-tiba dikelebatkan oleh tangan Melian, rambut itu sudah berubah menjadi kaku seperti lidi kecil yang panjang. Dan rambut itu sudah bergerak ke angka-angka merah pada argometer. Dan argo meter itu sudah berubah menjadi nol.
"Pak Sopir .... Kalau cara mencari rezeki seperti ini, Bapak tidak bisa menghidupi keluarga Bapak. Bapak akan rugi ...." kata Melian mencoba lagi untuk menasehati sopir taksi itu.
"Saya itu tahu .... Bapak itu mau mencurangi kami dengan menjauhkan perjalanan, biar kami bayar mahal, kan ...? Saya kasih tahu ya, Pak .... Kalaupun Bapak puter-puter keliling Jakarta sampai besok pagi, Bapak gak bakalan dapat duit .... Itu rezekinya gak berkah .... Yang Maha Kuasa itu maha tahu ...." kata Melian yang kini ganti ngerjain sopir taksi yang menjengkelkan itu.
"Deg ...!!"
Mendengar kata-kata Melian itu, sopir taksi tersebut langsung menoleh ke bawah, ke arah argo meter. Tentu ia sangat kaget begitu melihat angka yang terdapat diargo meter menunjuk pada angka nol semua. Artinya tidak ada ongkos yang keluar.
"Ciiiittt ............!!!"
Di tempat agak gelap, sopir taksi itu langsung mengerem mobilnya tiba-tiba. Ia langsung berhenti mendadak. Beruntung Putri sudah dipeluk oleh Melian, sehingga tidak tersentak dan jatuh. Melian yang sudah mempertimbangkan hal itu akan terjadi, maka ia sudah bersiap. Justru si sopir itu sendiri yang kaget dan kepalanya tentu membentur setir. Ia meringis kesakitan.
"Dasar perempuan kurang ajar ..!!!" sopir taksi itu langsung membalikkan badannya, tangannya mengepal dan berusaha memukul penumpangnya.
"Blakkght ...!!"
Namun tangan si sopir taksi yang berusaha memukul itu ternyata justru membentur jok di sampingnya. Walaupun jok kursi itu empuk, namun kenyataannya ia meringis kesakitan, sambil memegangi tangannya yang baru saja menghantam jok kursi itu.
Sayangnya, si sopir itu rupanya tidak sadar dan tidak jera. Ia merogoh barang di bawah jok tempat duduknya. Ternyata sopir taksi itu sudah menggenggam pisau belati. Lantas mengarahkan belati itu ke Putri dan Melian.
"Serahkan semua barang milikmu ...!!! Kalau tidak ..., aku akan membunuh kalian ...!!!" sopir taksi itu mengancam.
__ADS_1
"Maaf, Pak .... Saya ingatkan sekali lagi, carilah rezeki yang halal, dengan cara yang benar ...." kata Melian masih sempat mengingatkan.
"Mana dompet ...?!!!! Serahkan tas itu, cepat ...!!!! Apa kamu minta diperkosa ...!!!" lagi-lagi sopir taksi itu kembali mengancam dan sudah mendekatkan pisau belatinya ke wajah Putri yang ketakutan.
Tentu Putri sangat ketakutan diancam dengan pisau belati itu. Dua tangannya memegang erat lengan Melian. Saat itu, tiba-tiba saja kaki Melian sudah melesat menendang tepat di ulu hati sopir taksi yang berada disela antara dua kursi depan.
"Dueeesss .....! Bugh ....!" sopir taksi itu sudah ngelimpruk di kolong dasbord depan jok sisi kiri sopiran. Pingsan tak berdaya.
"Putri ..., kamu bisa nyopir, kan? Ayo disopiri taksi ini." kata Melian menyuruh Putri.
"Tapi aku gak hafal jalannya ...." sahut Putri.
"Gampang ..., sampai di tempat terang dan ramai saja. Nanti kita cari taksi di sana." jawab Melian.
"Iya, betul .... Pokoknya kita nyari yang ada taksi-taksi saja, ya .... Oke, siap ...." kata Putri yang langsung berpindah ke sopiran. Lantas menghidupka mesin dan langsung menyetir.
"Tenang saja, Put .... Gak usah khawatir. Sopir ini cuman pingsan. Nanti sebantar lagi akan sadar." kata Melian yang tentu ingin menenangkan temannya, yang mestinya takut kelau terjadi apa-apa dengan si sopir taksi yang meringkuk di kolong dasbord itu.
Putri lumayan ngebut, tentu takut kalau si sopir segera sadar. Maka hanya sekejap saja, ia sudah sampai di sebuah perempatan yang masih cukup ramai. Kebetulan terlihat ada beberapa taksi yang mangkal di sana. Maka ia langsung menepikan mobil taksi yang disetirnya. Mereka berdua, Putri dan Melian turun. Dan langsung menuju ke tempat taksi yang mangkal di perempatan itu.
"Taksi, Pak ...." kata Melian memberi aba kalau pesan taksi.
"Siap, Neng .... Mau ke mana?" tanya salah seorang sopir yang langsung menuju ke taksinya dan membuka pintu untuk penumpangnya.
"Asrama mahasiswa Harapan di Karawaci, Pak." jawab Melian yang tentu lebih tenang jika dibanding Putri yang masih ketakutan.
"Siap .... Lhoh, kok sudah naik taksi malah turun terus ganti taksi lain ...? Kan sudah dekat." tanya sopir itu yang tentu bingung.
"Sopirnya taksi yang tadi sakit, Pak ...." jawab Melian santai.
"Ooo .... Ya, namanya juga kerja siang malam .... Kalau tubuhnya nggak fit, pasti mudah terserang sakit. Neng-neng ini mahasiswa di sana ...?" tanya sopir taksi itu lagi.
"Betul, Pak ...." jawab Putri yang mulai bisa bicara.
Dan ternyata memang tidak jauh. Hanya sebentar saja taksi itu sudah masuk di halaman asrama. Putri merasa bisa bernafas lega.
"Berapa, Pak ...?" tanya Putri yang akan membayar ongkos taksinya.
"Dua puluh lima ribu, Neng." jawab sang sopir.
"Ini, Pak .... Kembaliannya diambil saja, karena ini tadi mestinya juga untuk sopir yang pertama, sayangnya dia tidak mau dibayar." kata Putri yang memberikan lembaran uang lima puluh ribu.
"O, iya .... Terima kasih, Neng ...." kata sopir taksi itu yang tentu sangat senang dapat tip sangat besar jumlahnya.
__ADS_1
Putri dan Melian langsung masuk ke asrama. Sudah sangat larut malam. Asrama sudah sangat sepi. Hanya satpam yang berjaga. Begitu sampai di kamar, mereka langsung merebahkan tubuhnya. Merenungi nasib yang baru saja dialaminya. Putri merasa beruntung punya teman Melian yang pandai membela diri. Dan bagi Melian, ia menemukan pengalaman baru, bahwa sulit untuk percaya pada orang dengan profesi apapun.