
Seperti yang diharapkan oleh Putri maupun Melian, yaitu bisa jalan-jalan keliling Jakarta, hari itu bisa terlaksana. Kebetulan ada libur nasional hari Jumat secara bersama. Kampus ikut diliburkan. Jadi liburnya bisa tiga hari berturut-turut, Jumat, Sabtu dan Minggu. Lumayan bisa istirahat cukup lama.
Namun tentunya bagi Melian atau Putri, untuk pulang ke rumah, rasanya masih kurang panjang liburannya. Malah jadinya kurang puas dan capek. Waktunya habis di perjalanan. Apalagi seperti Melian, yang rumahnya jauh dari Bandara. Waktunya habis di jalan. Untuk penghilang rasa kangen, toh mereka sudah punya telepon yang sudah dilengkapi dengan aplikasi BBM atau BlackBerry Messenger yang kala itu memang cukup ngetren. Jadi masih bisa menulis cerita dan berkirim gambar sepuasnya.
Memang banyak temannya yang pada pulang. Bahkan orang tua Putri juga minta anaknya untuk pulang. Namun Putri malah memilih tidak pulang. Putri dan Melian memilih jalan-jalan di Jakarta. Mereka ingin menyaksikan obyek-obyek wisata yang ada di Jakarta.
"Mel ..., bagaimana kalau besok liburan, kita jalan-jalan keliling Jakarta? Mosok kita di Jakarta, sudah kuliah hampir satu semester, tapi belum pernah melihat Jakarta sebagai Kota Metropolitan ...." kata Putri yang mencoba menawarkan rencananya pada Melian.
"Iya ..., ya .... Tanpa terasa kita sudah hampir satu semester kuliah .... Hooh ..., aku setuju .... Mumpung asrama sepi. Teman-teman kita banyak yang pulang, kita jalan-jalan yuk ...." sahut Melian yang tentu juga senang menerima ajakan temannya itu.
"Enaknya jalan-jalan ke mana?" tanya Putri.
"Bagaimana kalau malam nanti, kita pergi ke Monas?" usul Melian.
"Iya .... Aku setuju ...." sahut Putri.
"Putri bawa kamera, ya .... Yah, untuk foto-foto di Monas .... Hehe ...." pinta Melian pada temannya, yang tentu ingin foto-foto di Monas, sebagai bukti kalau ia sudah sampai di Jakarta.
"Oke .... Kita naik apa?" lantas Putri bertanya, transportasi yang akan dinaiki.
"Naik taksi aja .... Biar cepat dan nyaman ...." jawab Melian yang tentu ingin mencari kemudahan.
"Oke ...." Putri terlihat ceria, senag akan berjalan-jalan di Monas, salah satu ikon nasional bangsa Indonesia.
Monas, nama sebenarnya adalah Tugu Monumen Nasional. Tugu ini dibangun pada bulan Agustus tahun 1959. Setelah selesai pembangunannya, Tugu Monas ini diresmikan oleh Presiden Indonesia pertama, Ir. Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1961, bertepatan dengan peringatan ulang tahun kemerdekaan Indonesia. Namun waktu itu belum dibuka untuk masyarakat umum. Para wisatawan hanya bisa menyaksikan di bagian luar saja. Kemudian Monumen Nasional ini mulai terbuka untuk umum pada tanggal 12 Juli 1975.
Tujuan didirikannya Tugu Monas adalah untuk mengenang dan mengabadikan perjuangan Pahlawan Revolusi Indonesia. Selain itu, Monumen Nasional juga sebagai wahana membangkitkan semangat patriotisme bagi generasi sekarang dan di masa depan. Saat ini, Monas menjadi salah satu pusat wisata sekaligus pusat edukasi bagi masyarakat. Makanya banyak anak sekolah yang diajak piknik ke Monas.
Malam itu, Melian dan Putri piknik ke Monas. Dengan mengenakan sepatu kets, celana jean panjang, baju kotak-kotak khas mahasiswa, serja jaket jean, Melian terlihat agak tomboi. Sedangkan Putri juga mengenakan sepatu, celana jean panjang serta atasan kaos yang dirangkapi sweater. Dua gadis cantik-cantik ini menyusuri Monas. Saat masuk ke taman Monas, mereka langsung menyaksikan lampu-lampu yang cantik menyala di sana sini. Pemandangan ini pasti sangat spesial banget bagi Melian maupun Putri, yang di daerahnya tidak ada.
__ADS_1
"Lihat Mel ...! Ini Monas, Mel ...!" Putri terkagum dengan obyek wisata Tugu Monas itu. Tentu terlihat sangat menakjubkan.
"Wao .... Ini keren, Put .... Tamannya sangat luas .... Lampunya gemerlap indah .... Tugu Monas itu menjulang tinggi bagai tombak yang menerobos langit .... Indah sekali ...." kata Melian yang juga terkagum.
"Memang Melian belum pernah kemari?" tanya Putri yang tentu menyangka kalau orang Jawa pasti sudah pernah ke Monas.
"Dulu waktu piknik ke sini, siang hari, Put .... Tidak seindah ini, ada lampu-lampu yang menghiasnya." jawabMelian.
"Ooo .... Suasananya lebih indah kalau malam, ya ...?" tanya Putri.
"Iya, betul .... Lihat saja air mancur itu .... Kalau siang, ya hanya air begitu saja .... Tapi kalau malam, begitu dihiasi oleh lampu, air mancur itu benar-benar terlihat seperti menari-nari ...." jawab Melian sambil menunjukkan air mancur yang seakan terlihat sedang menari.
Malam itu memang malam libur. Pada hari libur Monas pasti akan ramai pengunjung. Seperti halnya malam itu. Jalan-jalan di Monas saat malam hari tentu menjadi pilihan bagi masyarakat untuk berlibur sambil menikmati suasana yang mengasyikkan. Bagi warga yang tidak punya uang pun bisa menikmati tanpa harus mengeluarkan uang, jika hanya sekadar jalan-jalan.
Namun, malam itu Melian dan Putri, tidak sekadar berjalan-jalan di taman yang dihiasi lampu-lampu menawan. Mereka tertarik untuk naik ke puncak Monas. Ya, sensasi piknik ke Monas di malam hari adalah menyaksikan keindahan Kota Jakarta dari puncak Monas. Puncak Monas yang memiliki ketinggian seratus tiga puluh dua meter itu, tentu akan memberikan spot yang menarik untuk memotret Kota Metropolitan dari sebuah ketinggian. Dari puncak Monas, mereka bisa melihat lampu-lampu malam ibukota, dan juga bisa meneropong bangunan di sekelilingnya. Harga tiket masuk hanya lima belas ribu rupiah saja. Wisata yang cukup murah untuk menikmati pemandangan ibukota dari ketinggian.
"Iya .... Saya juga ingin menyaksikan indahnya Kota Jakarta di malam hari." jawab Melian.
Memang naik ke puncak Monas inilah yang paling diincar oleh para wisatawan. Karena panorama Kota Jakarta dilihat dari puncak Monas saat malam hari akan benar-benar nampak indah dan mengagumkan. Apalagi ditambah gemerlap lampu Kota Metropolitan yang warna-warni, menambah indahnya pemandangan tersebut. Namun tentunya pihak pengelola wisata Monas membatasi penjualan tiket. Untuk malam hari hanya menjual sekitar tujuh ratus tiket. Itu pun waktunya berada di puncak Monas juga dibatasi. Untuk bergantian dengan pengunjung yang lain.
Putri dan Melian langsung membeli tiket. Syukurlah, mereka berdua masuh dapat tiket masuk. Kalau datangnya terlambat sedikit, pasti sudah kehabisan.
"Asyiiiik .....!! Kita dapat tiket, Mel .... Ayo kita naik ....!" seru Putri yang gembira karena masih kebagian tiket naik ke puncak Monas.
"Syukurlah, Put .... Ayo .... Aku ingin menyaksikan seluruh kawasan Metropolitan. Pasti bentangan Kota Jakarta akan terlihat semua ...." sahut Melian yang juga tersenyum senang.
Mereka berdua langsung menuju lift. Mengikuti petunjuk dari petugas yang mengatur. Namun saat naik tidak hanya berdua, melainkan bersama-sama dengan wisatawan yang lain. Petugas itu tentunya sambil menjelaskan obyek wisata Monas. Oleh petugas, yang lebih tepat disebut dengan pemandu, disebutkan bahwa Monas terdiri dari tiga bagian, yaitu Pelataran Bawah atau yang sering disebut dengan istilah Cawan Monas, kemudian Pelataran Puncak, dan bagian paling atas yaitu Lidah Api.
Di pelataran bawah, yang mempunyai ketinggian sekitar tujuh belas meter dari dasar monumen, para wisatawan dapat menyaksikan taman dan sekitarnya. Bahkan juga dapat menyaksikan sebagian keindahan Kota Jakarta. Bagi yang takut dengan ketinggian, cukup naik di Cawan Monas saja. Tempatnya luas dan tidak begitu menakutkan. Di Cawan Monas pun sudah cukup menarik untuk berfoto dengan pemandangan yang cukup indah.
__ADS_1
Sedangkan di bagian Pelataran Puncak, berada di ketinggian seratus lima belas meter dari dasar monumen. Tempat yang sangat tinggi. Dan tentunya tempat pelataran ini lebih sempit. Pasti sangat menakutkan bagi orang-orang yang pobia dengan ketinggian. Di Pelataran Puncak ini terdapat teropong untuk para pengunjung yang dapat digunakan untuk melihat keindahan di seuluruh penjuru Kota Jakarta, dan tentunya bisa dipakai untuk melihat gedung-gedung pencakar langit yang menghiasi ibu kota.
"Nah .... Ini yang namanya Pelataran puncak ...." kata petugas yang mengantar para wisatawan yang naik ke pelataran puncak. Di situ terdapat semacam ruangan yang diberi pengaman dari besi dan tertutup kaca. Ruangan yang mengelilingi tubuh tugu. Dalam ruangan itulah para wisatawan bisa berkeliling untuk menyaksikan keindahan ibu kota dari tempat yang sangat tinggi.
"Wao .... Keren ...." Melian mengucap kagum.
"Indah sekali ...." Putri pun melongo saking kagumnya.
"Ini sebuah keajaiban, Putri .... Bukti kehebatan yang luar biasa ...." kembali Melian kagum dan bangga dengan peninggalan pembangunan masa Bung Karno yang benar-benar mengagumkan itu.
"Mel .... Sayang aku gak bawa tele .... Kalau kamera ini aku lengkapi tele, pasti bisa memotret hingga ke tempat yang jauh. Dari ketinggian ini pasti terlihat sangat bagus ...." Putri menyesal karena kameranya kurang tele.
"Ya sudah, pakai apa adanya dahulu .... Besok kalau Putri pulang, bawa telenya .... Lantas kita ke sini lagi .... Hehe ...." Melian menggoda temannya.
"Iya, betul .... Aku penasaran, Mel ...." sahut Putri yang agak kecewa.
Lantas Putri langsung ceprat-cepret, memotret keindahan Metropolotan. Berkali-kali dan sangat banyak. Mengambil posisi dari seluruh penjuru, sambil mengelilingi pelataran puncak Monas. Memotret keindahan lampu yang bergemerlap, memotret gedung-gedung pencakar langit. Ia juga memotret perkampungan Jakarta. Memotret jalanan-jalanan yang indah dengan lampu-lampu kendaraan yang berlalu lalang. Dan tentunya, mereka pun saing memotret. Melian dipotret oleh Putri. Lantas Putri juga minta difoto oleh Melian. Tentu berkali-kali dengan berbagai pose. Bukti kalau dirinya sudah sampai di puncak Monas.
"Pak ..., apakah kita masih bisa naik lagi?" tanya Melian pada petugas yang menjaga di pelataran puncak tersebut.
"Ini tempat yang paling tinggi yang bisa kita kunjungi. Di bagian paling atas sana adalah lidah api. Lidah api ini merupakan pucuk filosofis pembangunan Monas sebagai pengobat semangat kebangkitan Indonesia. Lidah api Monas terbuat dari perunggu, kemudian bagian luarnya dilapisi oleh emas murni seberat tiga puluh lima kilo, yang konon sebagian besar emas tersebut merupakan pemberian atau sumbangsih seorang pengusaha dari Aceh yang bernama Teuku Arkam, sebagai bukti berbaktinya untuk negeri Indonesia." petugas itu menjelaskan kepada Melian dan Putri.
"Sumbangan emas sebanyak tiga puluh lima kilogram ....???! Wao .... Benar-benar luar biasa baktinya pada negeri ini, sehingga terabadikan di Monas yang menjadi kebanggaan bangsa kita. Aku sangat kagum pada orang itu ...." kata Melian yang sangat terkesan dengan sumbangsih anak bangsa. Sementara yang lain pada korupsi, orang ini dengan ikhlas menyumbangkan emasnya untuk pembangunan bangsa. Pengorbanannya patut dicontoh.
"Maaf .... Para pengunjung semua .... Waktunya berkunjung sudah habis .... Silahkan menuju lift untuk turun ...." kata petugas yang menginformasikan kalau waktunya berada di pelataran puncak sudah habis.
Para pengunjung pun turun. Dan ternyata memang waktu sudah larut malam. Tidak terasa karena bergembira di puncak Monas.
Jam sembilan malam, Melian dan Putri langsung menghampiri taksi yang banyak menunggu penumpang di area Monas. Mereka naik taksi, dan pulang. Tentu dengan perasaan yang senang sudah menikmati keindahan malam di Monas.
__ADS_1