GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 230: ARAK-ARAKAN


__ADS_3

    Melian akan diarak oleh warga Kampung Transformer. Pak Bejo yang memimpinnya. Katanya Melian sudah berhasil menjadi sarjana, lulus ujian dengan nilai sangat istimewa. Para warga kampung yang sebagian besar adalah pemulung, menyewa banyak bajai, transportasi bemo roda tiga warna oranye yang khas hanya ada di Jakarta. Mereka beramai-ramai mengiring Melian dari kampusnya menuju Kampung Transformer. Itu bukti kebanggaan warga kampung bantaran Sungai Ciliwung yang memang sangat senang sudah dibantu oleh Melian beserta teman-temannya. Dan yang paling membuat para pemulung itu senang, kampungnya, usahanya, bahkan foto-foto kegiatannya, sudah tersiar dan akan terdokumentasikan di kampus yang sangat megah. Dan tentunya, baru kali itu mereka masuk di kampus megah, tempatnya para profesor yang sangat terkenal.


    Barisan bajai sudah memenuhi halaman parkir di kampus Manajemen Bisnis. Ada sekitar dua puluh lima bajai yang dihias dengan aneka warna kertas marmer. Di bagian depan dan belakang, terdapat kembang manggar yang menjuntai. Lima bajai sudah bersiap laki-laki yang berada di atasnya, dengan mengenakan pakaian adat Betawi, bersarung serta berpecis. Orang-orang ini pada membawa peralatan musik rebana, dan sudah menabuh rebananya sambil melantunkan lagu-lagu khas Betawi. Mereka memainkan rebana menyambut Melian yang akan diarak pulang ke kampungnya.


    Tentu suasana riuh ramai itu membuat kaget orang-orang di kampus. Mereka pun langsung menuju ke luar. Menyaksikan apa yang sedang terjadi di halaman.


    "Ada apa ini ...?!" para dosen yang keluar, bertanya-tanya. Ingin tahu ada keributan apa yang terjadi di luar.


    Ternyata grup musik rebana yang sudah berbaris bersama banyak orang, dan semuanya pada mengenakan pakaian adat Betawi. Mereka memeriahkan suasana dengan musik rebana. Seperti layaknya akan menyambut iring-iringan pengantin. Bahkan tiba-tiba, Pak Bejo yang tadi hanya mengenakan pakaian baju lengan panjang, kini sudah memakai pakaian ala Betawi. Mereka berbaris di pintu keluar kampus, menyambut Melian.


    "Melian ........!!!"


    "Neng ....!!"


    "Cik Melian .......!!"


    "Selamat, Melian ...!!"


    Orang-orang itu mulai mengelu-elukan Melian, yang disambut meriah oleh warganya.


    "Apaan ini ...?" tentu Melian sendiri kaget menerima sambutan seperti itu. Tidak menyangka sebelumnya.


    "Selamat ya, Neng .... Sudah menjadi sarjana ...." seorang ibu langsung menghampiri Melian. Lantas ia menyalini Melian, dengan mengenakan pakaian ala Betawi.


    Musik rebana terus bertalu-talu mendendangkan lagu-lagu khas Betawi. Orang-orang dari warga Ciliwung itu pun terus mengelu-elukan Melian. Menyambut kesuksesan orang yang sudah membangun kampungnya.


    "Melian .... Kamu benar-benar hebat .... Bahkan seluruh rakyat sudah menyambut kamu seperti seorang pahlawan yang sudah mengalahkan angkara murka." kata Ketua Program Studi yang berkali-kali sudah memberikan ucapan selamat kepada Melian. Tetapi kali ini, mata dan hatinya benar-benar ditunjukkan, betapa Melian memang orang yang sangat berarti bagi para pemulung itu.


    "Terima kasih, Pak .... Ini acara mereka. Saya tidak tahu sama sekali akan terjadi seperti ini." jawab Melian.


    "Tidak apa-apa. Saya bangga sama kamu. Boleh saya ikut mengiring kamu?" kata dosen itu yang justru meminta izin untuk ikut mengiring.


    "Ini bajai, Pak .... Gambaran transportasi rakyat kecil .... Apa Bapak tidak malu?" jawab Melian.


    "Tidak. Selama Melian menganggap ini baik, saya juga akan mengatakan demikian." jawab Ketua Prodi itu.

__ADS_1


    "Kalau memang Bapak menghendaki, silahkan, Pak ...." kata Melian yang tentu tidak berani menolak.


    Dosen itu langsung menuju ke bajai yang terparkir di halaman. Beberapa warga langsung mengikuti. Pastinya akan menemani dosen itu.


    "Putri ...! Ayo, ikut aku ...." Melian memanggil Putri, tentu akan diajak ke kampung para pemulung itu.


    "Terima kasih, Mel ...." kata Putri yang langsung mengikuti barisan arak-arakan itu.


    Semua pengiring sudah pada masuk bajai. Lima bajai yang berada paling depan, barisan orang membawa rebana. Tentu sambil mengumandangkan musik-musik khas rebana. Namun tentunya, setelah bajai-bajai itu mulai menyalakan mesinnya, dan seluruh bajau menderum dengan suaranya yang khas, suara rebana itu agak kalah. Walau demikian para penabuh rebana itu terus memainkan irama-iramanya. Dan yang pasti, arak-arakan itu sudah didokumentasikan oleh pihak kampus Melian.


    Melian berada dalam bajai nomer enam. Setelah pasukan rebana. Ia ditemani istri Pak Bejo, yang juga mengenakan pakaian encim. Tentu sambil bercerita tentang acara iring-iringan bajai itu. Terus terang rencana itu sangat mendadak. Bahkan suaminya juga tidak tahu.


    "Kok pakai acara arak-arakan segala sihm Bu ...?" tanya Melian kepada istrinya Pak Bejo, yang kelihatannya jadi pemimpin arak-arakan itu.


    "Hehehe .... Ini tadi, saat kamu sama Pak Bejo berangkat ke kampus, ada beberapa sopir bajai datang ke kampung kita. Katanya pengin belajar tentang bagaimana menata kampung kita ini .... Saya menceritakan tentang dirimu .... Lha, mereka itu memaksa pengin ketemu kamu, Neng .... Makanya terus muncul ide, menyusul Neng Melian ramai-ramai ke kampus.  Kalau makan-makan itu memang sudah kami siapkan. Tapi kalau acara arak-arakan, memang sangat mendadak sekali. Makanya tadi datangnya hampir terlamabat." cerita Bu Bejo pada Melian.


    "Ya ampun, Bu Bejo .... Saya jadi bingung ini tadi .... Pasti para dosen mengira kalau saya menyewa ini semua." kata Melian yang merasa sangat tersanjung.


    Sementara itu, di dalam bajai yang berada di belakang Melian ada Pak Kaprodi, dosennya Melian, yang duduk bersama Pak Bejo. Dalam bajai itu pun, pasti dosen itu juga banyak bertanya dan ingin tahu seluk beluk kampungnya kepada Pak Bejo.


    "Pak Bejo ..., orang tuanya Melian ikut arak-arakan ini?" tanya dosen itu.


    "Pak Bejo ...,  ini kesenian rebana juga dilatih oleh Melian?" tanya dosen itu.


    "Tidak tahu, Pak .... Saya belum pernah melihat orang-orang ini pada latihan rebana." jawab Pak Bejo.


    "Kalau arak-arakan ini, apakah juga sudah dipersiapkan sejak lama?" tanya pak dosen itu lagi.


    "Saya juga tidak tahu, Pak .... Kemarin juga tidak ada yang membicarakan masalah ini .... Kalau masakan makanan yang tadi disajikan, memang kami yang menyiapkan. Itu pun hanya untuk syukuran karena Melian akan lulus. Karena cerita para mahasiswa yang jadi sukarelawan di tempat kami, kalau selesai ujian, biasanya ada makan-makannya. Makanya, kami menyiapkan masakan khas dari kampung Ciliwung. Dan ternyata kurang .... Hehe .... Tidak menyangka kalau yang datang banyak. Tapi kami malah senang, pulang tempat makannya sudah kosong semua." kata Pak Bejo menjelaskan.


    "Lhah, ini ada bajai sebanyak ini, sewanya berapa uang ...? Kan justru menghambur-hamburkan uang .... Kan membuat kerugian besar .... Dalam manajemen bisnis, ini dinamakan pemborosan." kata dosen itu.


    "Tidak, Pak .... Kami tidak merasa boros. Kami tidak merasa menghambur-hamburkan uang." Tiba-tiba sopir bajai itu menyahut. Lantas lanjutnya, "Ini ide kami, dari paguyuban sopir bajai. Terus terang kami tertarik dengan perubahan kampung pemulung di Ciliwung, yang dulunya hanya gubug-gubug sangat kumuh, dalam waktu singkat sudah berubah menjadi tempat wisata yang sangat menarik. Terus terang kami ingin belajar kepada mereka. Ternyata yang mengajarkan kemajuan pada mereka adalah Melian. Dan saat kami mau ketemu, katanya Melian sedang ujian kelulusan. Karena orang-orang yakin kalau Melian itu akan lulus, dan bahkan ada yang menyusul untuk mengirimkan makanan, ya ..., sekali jalan, kami semua bersepakat akan mengarak Melian. Jadi arak-arakan bajai ini adalah ide kami para sopir bajai untuk menjemput calon dewi penolong kami. Ibarat anak sekolah, Pak ..., kami harus mengeluarkan biaya untuk membayarnya." jelas sopir bajai itu.


    "Hemm ...." dosen yang jadi Kaprodi itu hanya bisa mengangguk-anggukan kepalanya. Tanda sangat takjub dengan kepercayaan masyarakat pada Melian. Sampai sebegitunya orang-orang ini mendewakan Melian. Kalau saja Melian itu mau mencalonkan jadi anggota dewan, pasti terpilih. Jangankan anggota dewan, mencalonkan gubernur atau presiden sekalipun, pasti akan menang.

__ADS_1


    Sementara itu, Putri berada di bajai paling belakang. Ia bersama laki-laki muda. Meski juga mengenakan pakaian adat betawi, tetapi kelihatan sekali kalau pemuda itu bukan warga dari bantaran Ciliwung. Terlihat halus tutur bahasanya, dan sangat sopan.


    "Abang ini berasal dari mana? Kok sepertinya bukan orang Betawi?" tanya Putri kepada laki-laki yang duduk di sebelahnya itu.


    "Dari Sumatera." jawab pemuda itu singkat. Tanpa memandangi orang yang menanyai.


    "Abang ini sukarelawan, teman Melian ya ...?" tanya Putri lagi.


    "Iya ...." jawab pemuda itu, lagi-lagi sangat singkat dan tanpa ekspresi.


    "Kuliah di mana?" tanya Putri lagi, yang tentu sangat ingin tahu.


    "ITB ...." jawab pemuda itu juga tetap biasa saja.


    Tentu Putri kaget dengan jawaban terakhir pemuda itu. Ternyata cowok yang duduk di sebelahnya itu adalah mahasiswa ITB. Sebuah perguruan tinggi yang sangat angker, karena terkenal sebagai perguruan tinggi yang mencetak orang-orang hebat, perguruan tinggi tempatnya orang-orang pintar. Dan kali ini, salah satu mahasiswanya duduk di samping Putri.


    "Kenalkan ..., nama saya Putri." Putri menyebut namanya dan langsung menjulurkan tangannya mengajak bersalaman. Salam perkenalan.


    "Akbar ...." kata laki-laki itu yang juga mengulurkan tangannya menyalami Putri.


    Namun setelah berkenalan, dua orang itu justru terdiam semuanya. Putri yang tadi sempat bertanyaptanya, kini ikut diam. Pandangannya kelihatan bingung. Pura-pura melihat ke depan, tetapi sesekali terlihat melirik si pemuda ganteng yang duduk di sampingnya itu. Pasti pemuda ini mahasiswa baik, seperti halnya Melian. Ya, mahasiswa-mahasiswa yang mau jadi relawan, kebanyakan memang orang-orang baik yang berhati mulia.


    Beruntung tidak lama kemudian, bajai-bajai itu sudah sampai di tempat parkir di Kampung Transformer. Sehingga dag dig dug di hati Putri segera mengendur.


    Rebana-rebana itu kembali ditabuh keras serta dengan lantunan lagu-lagu khas Betawi. Anak-anak serta warga Kampung Transformer yang lain langsung keluar. Berhamburan mendatangi sumber keramaian. Melian kembali diarak oleh warga. Kali ini, Melian yang berada di depan, berjalan bersama dosen Kaprodi yang ikut bersamanya, didampingi Pak Bejo dan Bu Bejo. Lantas di belakangnya, iring-iringan penabuh rebana. Dan tentu sudah berhambur bersama anak-anak yang riang gembira. Termasuk warga yang lain, yang mengiringi perjalanan Melian melintasi jalan kampungnya menuju rumah unik tempat tinggal Melian. Suasananya sangat meriah dan ramai sekali. Bahkan juga, ada turis yang ikut menyambut dan mengiring Melian.


    Dan saat sampai di rumah unik, yang dijadikan tempat tidur Melian bersama para volunteer lain, tiba-tiba ada kejutan lagi.


    "Byuuuuurrrr .........!!!"


    Para mahasiswa yang menjadi sukarelawan memasang ember berisi air di bagian atas pintu, dan saat pintu dibuka, ember berisi air itu terjatuh dan mengguyur sekujur tubuh Melian.


    "Horeeee .....!!!!" seluruh warga bersorak riang. Menyaksikan Melian terguyur air.


    "Selamat dan sukses, Melian ....!!!" kata teman-temannya para volunteer yang sudah melakukan kejahilan kepada Melian. Lantas mereka langsung mengerubung Melian dan memberi salam dan ucapan selamat.

__ADS_1


    "Ayo, makannya ada di cafetaria ....!!" teriak Bu Bejo.


    Arak-arakan itu pun langsung berhenti di depan rumah unik tersebut. Lantas para pengiring itu berhamburan menuju ke cafetaria, tempat disediakan makanan untuk seluruh warga, termasuk Pak Dosen dan para sopir bajai. Sebagai syukuran atas kelulusan Melian menjadi sarjana. Kampung pemulung yang tidak ada orang atau anak yang bersekolah, ternyata ada yang menjadi sarjana. Sungguh senangnya mereka, yang baru mendengar kata-kata sarjana.


__ADS_2