GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
EPISODE 251: WISUDA


__ADS_3

    Hari Selasa pagi, matahari belum muncul, hari masih terlalu pagi. Tetapi Melian sudah meminta kepada bapak dan ibunya untuk bergegas bersiap berangkat.


    Jamil, Juminem dan Irul, langsung tergesa bersalin. Bersiap untuk berangkat menghadiri acara wisudanya Melian. Ya, pagi itu mereka berempat sudah bersiap untuk berangkat menuju ke kampus Melian, untuk mengikuti acara wisuda bagi anak satu-satunya itu.


    "Hari ini kamu di wisuda, Nduk .... Wah ..., sudah jadi sarjana, Nduk .... Sudah punya pacar belum, Nduk?" tanya ibunya, yang tentu ingin tahu jodoh anaknya.


    Setidaknya, Juminem berharap setelah anaknya diwisuda, Melian langsung mendapatkan jodoh dan langsung  menikah. Memang seperti itu kebiasaan orang desa. Anak perempuan yang sudah besar, harus segera menikah. Kalau tidak segera menikah, biasanya akan digunjing oleh para tetangga, yang mengatakan kalau anak gadisnya tidak laku menikah. Pasti juminem juga ingin anak perempuannya itu sudah punya pacar. Dan tentu Juminem juga sudah kepingin untuk memomong cucu.


    "Iih .... Mak-e itu loh ..., pertanyaannya kok aneh-aneh." kata Melian yang tentu lebih konsen untuk dandan menyiapkan dirinya mengenakan pakaian wisuda. Walau di bangunan unik itu juga ada teman-temannya yang merias Melian.


    "Lho .... Mak-e kan juga ingin tahu toh, Nduk .... Kamu itu kan sudah besar, sudah akan diwisuda, sudah akan jadi sarjana .... Lah, saya itu kan juga pengin segera momong cucu .... Makanya, saya tanya, ingin tahu, kamu itu sudah punya pacar apa belum?" kata ibunya lagi yang tentu ingin tahu persis tentang keadaan Melian saat ini.


    "Ya sudahlah, Mak ...." jawab Melian yang hanya sekadar saja, sekadar menyenangkan hati ibunya. Agar tidak tanya terus-terusan.


    "Lah .... Kalau sudah punya pacar, kok pacarmu tidak dikasih tahu kalau hari ini kamu wisuda? Kok pacarmu tidak dikasih tahu kalau Mak-e sama Pak-e  datang ke Jakarta ...." kata ibunya lagi.


    "Dia sudah tahu ..., Mak ...." jawab Melian.


    "Lha kok tidak diajak ke sini? Lha kok tidak dikenalkan kepada Pak-e dan Mak-e ...? Lha kok juga tidak dikenalkan sama Mas Irul ...? Mumpung kita-kita ini ada di Jakarta .... Mestinya kan pacarmu itu dikenalkan kepada kita semua .... Biar Mak-e bisa tanya, kapan kira-kira akan ke Juwana, nakokke .... Hehehe ...." kata Juminem yang tentu sudah sedikit nyicil ayem karena anaknya bilang kalau sudah punya pacar.


     "Mak-e itu loh, aneh-aneh saja .... Yang namanya pacar itu ya nanti kalau sudah mau rembugan melamar ..., itu baru ketemu dengan orang tua .... Kalau begini, ya belum lah Mak ...."  sahut Melian yang tentu juga tidak ingin merepotkan orang lain yang sudah dianggap pacarnya itu yaitu pak dosen yang ganteng, Pak Endang.


    "Apa orangnya nanti mau datang menyaksikan kamu wisuda?" tanya bapaknya ganti, yang tentu juga ingin tahu seperti apa pacarnya.


    "Iya, Pak ...." jawab Melian yang yakin kalau Pak Endang nanti akan hadir dalam wisudanya.


    "Nanti dikenalkan sama Pak-e dan Mak-e, ya ...." kata bapaknya lagi.


    "Iya, Pak ...." sahut Melian yang sudah menyelesaikan dandanannya.


    "Sudah selesai, ini ...? Ayo kita berangkat ...." kata Irul yang sudah bersiap untuk menyopir mobilnya.


    "Ya sudah ..., ayo kita berangkat .... Mak-e sudah kepengin ketemu pacarmu, Nduk .... Ini nanti pacarmu datang, kan ...? Ini lho, Mak-e sama Pak-e itu pengin tahu kayak apa orangnya ...." kata Juminem lagi yang tentu juga ingin tahu seperti apa laki-laki yang akan menjadi suami Melian, yang akan menjadi menantunya.


    "Iya ..., iya ..., Mak .... Nanti orangnya pasti datang .... Sudahlah .... Ayo cepat kita berangkat .... Nanti kita kena macet, bisa terlambat." kata Melian yang langsung melangkah masuk mobil.


    Melian tentu yakin bahwa Pak Endang nanti akan hadir dalam wisuda itu. Melian pun juga yakin kalau Pak Endang juga berharap nanti akan ketemu dengan orang tua Melian. Tentu karena Pak Endang adalah dosen di perguruan tingginya, yang tahu persis bagaimana prosesi upacara wisuda yang akan dilaksanakan, maka Melian pun tidak akan membebani Pak Endang untuk pergi ke Kampung Transformer hanya sekadar menemui orang tuanya. Karena Melian juga tahu bahwa Pak Endang pasti terlibat di dalam kepanitiaan wisuda tersebut. Tentu karena pandang Pak Endang adalah dosen muda yang kreatif dan cerdas. Maka pasti beliau ikut sibuk untuk mempersiapkan tempat dan acara wisuda.


    "Semoga saja nanti di sana kita ketemu pacarmu ya, Nduk ...." ibunya masih saja membahas pacarnya Melian.

__ADS_1


    "Sudah .... Pokoknya kita segera saja berangkat .... Jakarta itu tidak seperti di Pati, jalannya di mana-mana Macet .... Kalau kita tidak cepat-cepat berangkat pagi ..., nanti kita terlambat. Kita bisa terjebak macet berjam-jam lamanya ...." kata Melian yang mengingatkan kepada bapak ibunya serta Irul yang bersiap menyetir.


    "Oh iya .... bener, kita harus segera berangkat .... Karena kalau tidak segera berangkat, nanti kita kena kemacetan di jalanan, malah tidak bisa ikut wisudanya Melian ...." kata Irul yang sudah menghidupkan mesin mobilnya dan bersiap berangkat.


    Akhirnya, mereka berempat langsung bersiap berangkat menuju ke kampus Melian. Meski hari masih terlalu pagi, tetapi bagi mereka yang penting tidak terkena macet di jalanan. Sehingga bisa sampai di kampus Melian lebih awal dan tidak terlambat.


    Mobil Taruna itu pun disetir oleh Irul melaju lumayan cepat. sementara Jamil dan Juminem duduk di kursi belakang. Yang tentu masih mengobrol dengan tema yang belum berubah. Berharap akan ketemu dengan pacarnya Melian.


    Sedangkan Melian berada di depan, duduk di samping Irul yang menyetir mobilnya. Pasti Melian yang akan menunjukkan jalan untuk menuju ke kampusnya.


    Perjalanan dari rumah singgah yang ada di Ciliwung menuju ke pusat kampus Melian, memang sangat jauh. Namun ketika mereka berangkat pagi, maka jalanan belum begitu macet walaupun tentu yang namanya Jakarta, jalan itu tidak pernah sepi. Selalu ramai. Tetapi kali ini karena Melian menghendaki untuk berangkat pagi dan meminta kepada keluarganya untuk berangkat lebih awal, maka kendaraan yang dikendarai oleh Irul itu tidak mengalami hambatan, tidak kena kemacetan, bisa melaju cepat. Hingga akhirnya, Irul yang menyetir mobil itu sudah sampai di gerbang kampus.


    "Terus saja, Mas Irul .... Masuk terus .... Terus lagi ..., masih maju terus ...." kata Melian yang memberi aba-aba kepada Irul. Hingga akhirnya sampai pada halaman yang sangat luas.


    "Nah .... Ini ..., mobil-mobilnya pada parkir di sini ...." kata Irul yang tentu masih bingung untuk memarkirkan mobilnya.


    "Belum, Mas Irul .... Ini baru parkiran di kampus fakultas. Nanti jalannya ke auditorium terlalu jauh. Maju lagi saja, kita menuju auditorium. Itu ..., tuh .... Yang ada satpam melambaikan tangan .... Tempatnya ada di sana. Lumayan, Mas .... Kalau datang awal bisa parkir lebih dekat. Jadi jalannya tidak capai dan tidak kepanasan. Sebab nanti siang kalau acara selesai, keluar dari auditorium sudah sangat panas sekali." kata Melian yang mengarahkan tempat parkirnya.


    "Ayo ..., maju terus Mas Bro .... Ambil kiri, pol mentok gedung auditorium ...." kata petugas keamanan yang menunjukkan posisinya.


    Ya, Irul bersama Melian dan bapak ibunya akhirnya bisa mendapatkan parkiran yang lumayan dekat dengan auditorium. Tentu tidak terlalu jauh untuk menuju auditorium, ataupun nanti kalau pulang, jiga tidak terlalu jauh jalannya. Meskipun mereka berangkat sangat pagi, kenyataannya toh di tempat parkir itu sudah hampir penuh dengan mobil-mobil yang terus berdatangan. Pasti mereka itu juga keluarga dari para mahasiswa yang akan diwisuda.


    "Walah, kalau masuk jarus bawa undangan, to ...?" sahut Juminem yang tentu bingung.


    "Tolong, Mas Irul .... Ini nomor undangannya berapa, nanti untuk mencari kursinya ...." kata Jamil yang tentu pasrah dengan Irul yang lebih berpendidikan.


    "Iya .... Nanti kita bersama-sama ...." kata Irul.


    "Iya, ini berjejeran tiga orang. Sedangkan saya nanti duduknya berada di bagian mahasiswa yang akan di wisuda. Tempatnya ada di depan." kata Melian yang sudah terlihat cantik dengan dandanannya itu, hasil riasan teman-temannya, yang sudah terlihat anggun dengan mengenakan toga.


    "Ayo ..., Pak-e, Mak-e, Mas Irul .... kita langsung saja masuk auditorium. Dan saya juga langsung ke ruangan saya, supaya saya tidak terlambat. Karena saya dibariskan dulu di ruangan transit. Nanti masuknya melalui proyokoler dari pembawa acara. Pak-e sama Mak-e dan Mas Irul, nanti bisa menyaksikan barisan para wisudawan." kata Melian yang menyuruh keluarganya untuk segera masuk. Dan tentunya, Melian pun bergegas ke ruangnya. Ia sudah ditunggu oleh panita.


    "Iya, Nduk .... Walah, ya ampun .... Ini sekolahan Melian kok bagusnya tidak karuan ... Besar sekali ...." kata Juminem yang tentu terkagum dengan bangunan kampus Melian. Merke bertiga masuk ke ruang auditorium sambil memperhatikan semua bangunan yang megah tersebut.


    "Pantesan Melian senang kuliah di Jakarta .... Lha wong kampusnya bagus begini kok ...." begitu juga kata Jamil dan Irul yang juga terkagum dengan bangunan kampus Melian tersebut.


    Apalagi setelah mereka masuk ke ruang auditorium, semacam ruang aula yang sangat besar dan megah. Ini benar-benar kampus yang luar biasa.


    "Di Pati tidak ada lho, sekolahan yang seperti ini apalagi di Lasem, ya Mas Irul .... Sekolahannya kecil-kecil. Ini benar-benar megah, besar dan luar biasa." Jamil terkagum-kagum dengan bangunan kampus yang sangat megah itu.

__ADS_1


    Melian sudah masuk pada pintu satu, yaitu pintu masuk untuk para wisudawan. Sedangkan bapak dan ibunya serta Irul tadi, masuknya lewat pintu dua,  yaitu pintu yang digunakan untuk masuk para orang tua wisudawan dan tamu undangan yang akan menyaksikan anak-anaknya di wisuda menjadi sarjana. Ruangan itu pun sudah penuh sesak oleh tamu undangan yang sudah datang lebih awal.


     "Melian ...!! Ayo cepat kemari ...! Posisi kamu di sini ...." kata panitia yang mengatur barisan, yang nantinya para wisudawan ini akan memasuki ruangan secara berbaris, dan sudah ditata sangat menarik, membentuk formasi barisan yang unik. Itulah kreasi dari para koreografer yang sangat lihai. Meski hanya sebuah barisan wisudawan, tetapi memang dibentuk seperti layaknya karya seni yang indah.


    "Maaf, saya harus menujukkan tempat orang tua saya yang datang dari desa ...." kata Melian yang langsung menempatkan diri.


    "Iya .... Tidak apa-apa .... Masih ada waktu .... Nanti Melian kalan paling depan, ya .... Jangan terlalu cepat tetapi juga jangan terlalu lambat, agar yang dibelakangnya bisa mengikuti." kata panitia yang mengatur.


    "Iya ...." sahut Melian yang sudah punya gambaran nanti saat berjalan. Melian langsung menempatkan diri seperti yang sudah diatur oleh panitia kebetulan.


    Setelah beberapa saat panitia mengatur para wisudawan, dan saudah tiba waktunya, acara wisuda pun segera dimulai. Seorang perempuan dengan suara mendayu-dayu, bagian pembawa acara, langsung menyuarakan runtutan acaranya. Tentu dengan suara khas yang bisa membius telinga para undangan. Semua mata langsung tertuju ke bagian depan, panggung dan ruang depan.


    "Hadirin tamu undangan yang kami hormati, marilah kita berdiri sejenak, untuk memberi tanda hormat kita kepada para wisudawan yang akan masuk ke ruangan ...." kata-kata yang mendayu-dayu dari pembawa acara yang meminta semua undangan berdiri. Lantas selanjutnya.


    "Inilah dia .... Kita sambut dengan tepuk tangan yang meriah, apresiasi yang sebesar-besarnya, untuk para wisudawan .... Dipersilahkan, wisudawan untuk memasuki ruangan." kata pembawa acara itu.


    "Plok ..., plok ..., plok ...!!!" tepuk tengan meriah menggema membahana di ruang auditorium tersebut.


    Barisan para wisudawan yang memasuki ruangan itu, pasti membuat bangga bagi para orang tuanya yang ikut menyaksikan upacara wisuda hari itu. Dan tentunya, para anggota keluarga langsung tertuju pada pasukan orang yang mengenakan toga itu, pastinya mereka ingin mengamati anaknya yang diwisuda.


    Setelah beberapa saat para wisudawan duduk di kursi yang sudah disiapkan, kembali pembawa acara menyampaikan rangkaian ceremoninya. Kali ini, yang diundang masuk oleh pembawa acara itu adalh Dewan Senat perguruan tinggi. Ya, Rektor beserta pembantu rektor, para ketua program studi dan jurusan, serta para profesor. Semuanya juga menggunakan toga kebesaran. Dan kali ini, toga yang dikenakan oleh Dewan Senat itu adalah tanda-tanda kebesaran, yang semuanya terlihat megah dan glamour.


    Ceremony terus berlanjut. Hingga pada acara inti dari wisuda itu. Yaitu pembacaan surat keputusan, penetapan kelulusan wisudawan dan wisudawati. Satu persatu maju, menerima pemberian ijazah dan pengenaan Samir wisudawan yang tentu dilakukan oleh Rektor dan didampingi oleh para ketua program studi yang ada di perguruan tinggi tersebut. Satu persatu mahasiswa yang di wisuda dipanggil untuk maju menerima penghargaan ijazah, serta menyampaikan pemindahan kuncir toga dan mengalungkan samir yang diberikan kepada setiap wisudawan sesuai dengan irutan yang sudah diatur oleh panitia.


    Pembawa acara kembali menyampaikan kata-katanya. Membacakan wisudawan yang pertama kali dipanggil untuk maju, menerima kehormatan dari Dewan Senat Universitas.Para undangan langsung diam. Ingin mendengar nama-nama yang disebut untuk maju, serta predikat yang diperolehnya.


    "Inilah dia ..., lulusan terbaik ..., dan lulusan tercepat .... Lulusan yang benar-benar menjadi sorotan dan buah bibir di universitas .... Dengan indeks prestasi empat koma enol, lulus dengan predikat Summa Cumlaude yang telah memperoleh "Kehormatan tertinggi" atau "With Highest Praise" .... Serta menjadi mahasiswa sebagai lulusan tercepat, dengan menempuh waktu kuliah hanya tiga tahun enam bulan. Gadis cantik dengan segudang penghargaan dari dalam dan luar negeri .... Dia adalah .... Me .. li .. an ...." suara MC itu benar-benar sudah membuat orang terpukau.


    "Plok ..., plok ..., plok ...!!!" tepuk tengan kembali menggema seakan mau meruntuhkan ruang auditorium.


    Melian berdiri dengan gagahnya, maju untuk menerima penghargaan dan ijazah serata pengalungan samir.


    Jamil yang mendengar kata-kata terakhir dari pembawa acara itu, langsung kaget. Dan tentu seperti tidak percaya. Jika para undangan yang lain bertepuk tangan, Jamil justru terduduk dan meneteskan air mata. Saking harunya menyaksikan anaknya yang benar-benar luar biasa itu.


    Demikian juga Irul, walaupun ikut berdiri, tetapi ia hanya melenggong. terkagum dengan prestasi yang diukir oleh gadis yang sangat ia sayangi sejak kecil.


    "Kang ..., Melian, Kang .... Itu, Melian, Kang ...." kata Juminem yang sangat gembira melihat anaknya berjalan maju menuju ke barisan Dewan Senat tersebut, dan menerima ucapan selamat serta menerima penghargaan.


    Jamil, Irul dan Juminem, sangat bangga menyaksikan Melian yang diwisuda pertama kali, dengan memperoleh banyak penghargaan yang diberikan oleh perguruan tinggi maupun dari pihak lain yang sudah mengakui karya-karya Melian. Bahkan juga dari Jurnal Internasional yang sengaja datang memberikan penghargaan atas tulisan karya ilmiahnya.

__ADS_1


    Sebenarnya, selain Jamil, Juminem, dan Irul yang bangga dengan prestasi Melian sebagai lulusan terbaik dan tercepat, ada seorang lagi yang juga hadir di ruang auditorium itu, yang tersenyum bangga menyaksikan Melian yang maju mendapat penghargaan dari Rektor Universitas. Dia adalah dosen muda yang juga penuh prestasi yaitu Pak Endang, yang membanggakan Melian karena cinta yang istimewa.


__ADS_2