GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 119: KECELAKAAN DI JURANG


__ADS_3

    "Toloooong ........!!! Toloooooong ......!!! Ada kecelakaan .....!!!"


    Mendengar teriakan orang yang mengatakan ada kecelakaan, orang-orang kampung di daerah Bandungan langsung pada keluar, menuju ke arah suara orang minta tolong itu. Di tikungan jalan tempat terjadi kecelakaan.


    "Ada apa ...?!"


    "Kecelakaan ...!"


    "Di mana ...?!"


    "Di sana ....!! Itu ..., di bawah ...."


    "Di Jurang?!"


    "Ya ..., di sana ...!!"


    Beberapa orang langsung menyorotkan lampu batery atau lampu senter ke arah jurang. Ada banyak orang yang menyorotkan senternya. Cahaya senter itu mengarah ke jurang. Menyorot ke berbagai arah. Berusaha mencari posisi keberadaan orang yang diperkirakan jatuh. Namun karena rimbunnya tumbuhan dan tanaman yang ada di bawah, lahan pertanian bagi warga setempat, tentu agak sulit untuk mengetahui, bisa jadi orang yang mengalami kecelakaan tertimbun tanaman. Dan setelah beberapa saat mencari dari atas jurang.


    "Itu ..., itu ..., itu ...!!" teriak salah seorang yang menyorotkan lampu.


    "Mana ..., mana ..., mana ...?!" tanya yang lainnya, yang tentu penasaran ingin tahu.


    "Itu .......!!" kata orang yang sudah melihat tadi, langsung menyorotkan lampu senternya ke arah yang diduga sebagai orang yang mengalami kecelakaan.


    "Ngawur ...!! Itu bagor pupuk ...!!" bantah orang-orang yang ikut menyorotkan senter ke arah yang ditunjuk oleh orang tadi.


    Tentu orang yang mengaku melihat itu tersipu malu, karena ternyata dugaannya salah.


    "Tolong ada yang turun ...." salah seorang memerintahkan.


    Tiga orang laki-laki langsung berjalan menyusur pematang, turun menuju bawah. Tentu membawa lampu senter besar, untuk memudahkan pencarian. Sambil jalan menyusuri pematang di ereng-ereng pun mereka sambil menyorotkan lampu, tentu sambil mencari korban.


    "Lha, itu ...!!" teriak salah seorang dari yang berjalan menuruni lembah itu.


    "Ya, benar .... Itu motornya ...." sahut yang lainnya.


    "Ini, sudah ketemu ...!!" teriak orang yang berada di bawah, memberi tahu para tetangganya yang ada di atas.


    "Ya ...!!" sahut yang berada di jalanan di atas lembah berteriak dan langsung ikut menyorotkan lampu besar ke arah motor yang menggelempang.


    Langsung beberapa orang menyusul turun, menuju ke arah motor yang menggelempang di jurang itu. Motor itu sudah tidak berbentuk. Rodanya jadi angka delapan, setangnya membalik ke belakang, tangkinya penyok sampai gepeng. Motor itu sudah hancur. Tentu mereka langsung berusaha mengangkat motor yang rusak parah tersebut.


    "Orangnya mana ...?" tanya salah seorang yang tengak-tengok mencari pengendara yang jadi korban.


    "Lhah ..., iya .... Yang nunggang mana ...?!' tanya yang lain lagi.


    "Orangnya dicari ...!!"


    Maka lampu senter itu langsung disorotkan ke semak-semak di sekitar tempat jatuhnya motor. Mencari pengendara motor yang jatuh itu.


    "Coba ke arah agak depan sana .... Bisa jadi mencelat ke depan ...." salah seorang berpendapat.


    Maka orang-orang yang memegang lampu senter menelusur ke depan, mencari korban yang belum ditemukan.


    "Itu ...!! Itu, orangnya ...!!" teriak salah seorang yang sorot lampunya sudah menyinari sosok manusia.


    "Ya, benar .... Itu pasti orang yang naik motor ini. Ayo dilihat ...!!" sahut yang lain.


    Akhirnya beberapa orang langsung menuju tempat keberadaan orang tergeletak. Ya, itu adalah pengendara motor yang jatuh. Pasti mengalami luka parah, karena tempat jatuhnya cukup tinggi. Dan orang-orang yang akan menolong itu sampai di tempat orang yang tergeletak.


    "Waduh ..., parah ...!! Korbannya luka parah ...!!" teriak yang sudah mengamati korban kecelakaan itu.


    "Keadaannya bagaimana?!" tanya yang lain.


    "Waduh ..., kelihatannya meninggal ...!" sahut yang mengamati.

__ADS_1


    "Pingsan apa meninggal?!" tanya yang lain.


    "Belum tahu .... Tapi ini luka parah .... Banyak darah yang berlumuran ...!" sahut yang sudah mencoba menolong.


    "Cepat dibantu .... Ayo ditolong ...!!" ada yang menyuruh untuk segera mengangkat korban.


    "Tolong ada yang ke Polsek, lapor Polisi ...!!" teriak salah seorang, meminta ada yang laporan.


    Dua orang berboncengan, menuju kantor Polsek.


    "Motornya bagaimana?!" tanya salah seorang yang masih ada di dekat motor.


    "Motornya besok pagi saja kalau sudah terang ..., ini masih gelap susah ngangkatnya. Nanti kalau kena knalpot malah panas. Yang penting kita bantu orangnya dulu." sahut yang lain.


    "Ini yang menunggang sendiri apa boncengan?!" tiba-tiba yang lain bertanya.


    "Coba dicari lagi .... Siapa tahu ada yang membonceng yang ikut terjatuh." sahut yang lain.


    "Tidak ada ...!!" sahut orang-orang yang sudah berusaha mencari.


    Akhirnya korban yang jatuh ke jurang itu diangkat bersama-sama, dibawa naik ke atas, dan diletakkan di pinggir jalan. Menunggu mobil polisi.


    Dan sebentar kemudian, petugas dari Polsek Bandungan datang. Membawa mobil pick up dinas kepolisian. Dua orang polisi turun dari mobil itu.


    "Bagaimana?" tanya petugas kepolisian itu.


    "Ini, Pak .... Parah banget ...." orang-orang langsung menunjukkan korbannya, seorang laki-laki muda bertubuh besar dan gemuk.


    Dua petugas kepolisian itu langsung mengamati korban yang tergeletak di pinggir jalan, dengan dilambari tikar bekas.


    "Waduh .... Ini sudah meninggal ...." kata salah seorang petugas kepolisian itu.


    "Hah ...?!! Sudah Meninggal ...?!!" orang-orang yang menolong itu memlongo, kaget.


    "Ya .... Korbannya sudah meninggal." sahut petugas kepolisian itu.


    "Siapa namanya, rumahnya mana?" timpal yang lain.


    Polisi itu langsung meraba kantong korban. Berusaha mencari dompet, yang tentu ada identitas di dompet itu. Dan petugas itu sudah mengambil dompetnya.


    "Orang Semarang .... Belum punya SIM, tidak ada KTP. Ini hanya ada kartu OSIS, sama STNK nama orang lain, mungkin nama bapaknya. Alamatnya Tanah Mas .... Nanti biar petugas kepolisian yang mengirimkan berita ke Semarang." kata petugas kepolisian yang membuka dompet korban kecelakaan tersebut.


    "Bagaimana tadi peristiwanya?" tanya petugas yang lain.


    "Tidak tahu, Pak .... Hanya ada yang dengar motor jatuh, terus ditengok. Ternyata motor masuk jurang." jawab salah satu warga.


    "Motornya mana?" tanya petugas itu lagi.


    "Motornya masih di bawah, Pak .... Itu ...!!" para warga menunjukkan motor yang masih ada di bawah, jauh dari jalan.


    "Tadi pengendaranya juga jatuhnya di sana .... Kami ramai-ramai menggotong ke atas, biar segera mendapat pertolongan." jelas warga yang lain.


    "Oke, terima aksih .... Ini akan langsung kami bawa ke Rumah Sakit Ambarawa. Tolong korbannya dinaikkan ke bak belakang. Jika ada yang tanya tolong sampaikan, njih ...." kata petugas kepolisian itu.


    Para warga pun langsung mengangkat jenazah korban kecelakaan tunggal tersebut, langsung digulung dengan tikar yang tadi digunakan untuk landasan. Tikar itu milik warga, tetapi karena sudah digunakan untuk melambari korban, maka biasanya diikhlaskan. Apalagi untuk korban meninggal.


    Mobil polisi itu langsung berjalan. Menuju Rumah Sakit Ambarawa, untuk mengantarkan jenazah korban kecelakaan, yang tentu akan disimpan di ruang kamar mayat. Para warga yang tadi membantu, melepas jalannya mobil petugas kepolisian itu. Tidak ada yang ikut. Tentu mereka tidak jadi tidur malam itu, langsung ngobrol dengan berbagai spekulasi maupun dugaan peristiwa kecelakaan yang barusan terjadi.


*******


    "Kriiiiingngng .......! Kriiiiingngng .......! Kriiiiingngng .......!" dering suara telepon rumah.


    "Yu Mun ...! Ada telepon ...!!" teriak majikan perempuannya.


    "Ya, Nyah ...!" sahut pembantu rumah tangga itu yang langsung berlari menuju meja telepon. Lantas mengangkat telepon tersebut.

__ADS_1


    "Halo .... Ya, halo .... Dari mana, mau bicara dengan siapa?" kata Yu Mun yang mengangkat telepon.


    Tentu Yu Mun langsung mendengarkan kata-kata dari orang yang menelepon tersebut.


    "Nyah ...!! Tuan ...!! Ada telepon dari kepolisian ...!!" teriak Yu Mun yang tentu bingung begitu ada berita dari kepolisian, mencari tuan rumahnya.


    "Ada apa, Yuk ...?!" tanya majikan perempuannya.


    Namun majikan laki-laki sudah mendekat ke tempat telepon tersebut. Meminta gagang telepon yang dipegang oleh Yuk-e.


    "Halo..., bagaimana, Pak?" tanya sang majikan laki-laki itu di telepon.


    "Apakah saya bisa bicara dengan orang tua dari anak yang bernama Jonatan? Dengan alamat Tanah Mas ...." suara dari dalam telepon tersebut.


    "Iya, betul, Pak .... Saya sendiri ayahnya. Ada apa, Pak?" jawab papinya Jonatan.


    "Mohon maaf Bapak, ini kami dari kepolisian, mau menyampaikan berita, kalau nak Bapak yang bernama Jonatan mengalami kecelakaan kendaraan di Bandungan. Mohon maaf, Bapak .... Ini kondisi anak yang bernama Jonatan, posisi ada di Rumah Sakit Ambarawa." kata petugas kepolisian yang menelepon tersebut.


    "Terus ..., anak saya bagaimana, Pak ...?!" tanya papinya Jonatan yang sudah mulai resah dan khawatir.


    "Bapak segera saja ke Rumah Sakit Ambarawa .... Sudah ada petugas dari kepolisian yang menunggu di sana." kata polisi itu memesan.


    "Mi ...!! Jonatan kecelakaan, Mi ...!!" papinya Jonatan langsung berteriak memberi tahu istrinya.


    "Lhah ..., Pi .... Di mana, Pi ...?! Bagaimana keadaannya ...?! Waduh ...!!" tanya istrinya.


    "Kecelakaan di Bandungan .... Kita harus segera ke Rumah Sakit Ambarawa .... Cepat, Mi ...!! Sudah ditunggu petugas dari kepolisian ...!!" sahut suaminya.


    "Ya, Pi .... Ayo, Pi ...!! Ayo cepetan ...!" sahut maminya.


    "Mas Jo ...!! Tolong keluarin mobil .... Kita ke Rumah Sakit Ambarawa. Jonatan kecelakaan ...!!" kata juragan laki-laki pada sopirnya.


    Sopir itu langsung membuka garasi, mengeluarkan mobil. Tentu langsung bersiap jalan, karena kondisi mendadak. Beruntung hari Minggu, tentu tidak begitu ramai.


    "Yu Mun .... Tolong kunci toko nanti diantar ke Kranggan .... Suruh Rini sama Yayuk untuk membuka. Nanti habis Mami dari Ambarawa, langsung menuju toko." kata Sang Mami yang mengatur pembantunya.


    "Iya, Nyah .... Hati-hati, Nyah ..., Tuan ...." sahut pembantu rumah tangga tersebut.


    Mobil sedan Civic Genio meninggalkan rumah, langsung melaju ke arah selatan. Menuju Ambarawa. Mas Jo, sang sopir yang halus itu, langsung menancap gas. Walau kencang, tetapi tidak terasa. Memang sedan bagus di masanya tersebut, sangat nyaman untuk dinaiki.


    Namun bagi Mami dan Papi Jonatan, tentu ingin Mas Jo menyetir lebih cepat. Beruntung hari Minggu, jalanan tidak begitu ramai. Sehingga Mas Jo masih bisa ngebut. Dan tidak lama, mobil Civic Genio itu sudah sampai di halaman Rumah Sakit Ambarawa.


    Mami dan Papi Jonatan langsung turun di depan pintu rumah sakit. Tentu langsung bablas ke petugas bagian depan, dan menanyakan tentang anak yang mengalami kecelakaan.


    Seorang polisi datang menghampiri pasangan suami istri tersebut. Dari mata dan kulitnya, polisi itu sudah menduka, pasti ini orang tua anak yang kecelakaan dari Semarang.


    "Maaf, Ibu dan Bapak orang tuanya anak yang bernama Jonatan?" tanya polisi itu.


    "Betul .... Di mana anak saya?" sahut sang suami, papinya Jonatan.


    "Mari, kami antar ...." kata petugas dari kepolisian tersebut.


    Tiga orang itu langsung menyusuri lorong rumah sakit. Polisi yang berada paling depan, dengan langkah agak cepat. Papi dan maminya Jonatan agak tertinggal mengikuti langkah polisi itu. Hingga akhirnya sampai di sebuah bangunan yang agak menyendiri, dan sepi.


    Tentu dua orang suami istri itu agak bingung. Dan pasti menduga yang aneh-aneh.


    "Di sini .... Mohon diperiksa, apakah itu anak Bapak Ibu atau bukan. Dari identitas, kami hanya menemukan STNK dan kartu OSIS. Dia mengalami kecelakaan tunggal. Motor yang dikendarai masuk jurang di Bandungan tadi malam. Sendirian, tidak ada siapa-siapa. Ditemukan oleh warga sudah menjelang pagi." kata petugas kepolisian itu, sambil menunjukkan bed tempat orang yang terbujur dan ditutup selimut dari ujung kaki hingga kepala.


    "Pi .......?!" tentu perempuan itu sudah sangat khawatir dengan kondisi anaknya.


    Perlahan suami istri itu mendekat ke pembaringan. Petugas kamar mayat membuka selimut penutup. Hanya dibuka pada bagian wajahnya.


    "Mohon kebenarannya, Bapak, Ibu .... Benarkah ini anak Bapak Ibu?" tanya polisi itu, setelah diperlihatkan wajah orang yang terbujur di bed itu.


    "Hua ..., huk ..., huk ..., hu .... Hua ..., huk .... Nyonyo ...!! Jonatan ...!! Hua ..., huk ..., huk ...." perempuan itu langsung menangis menggerung-gerung, tahu kalau anaknya sudah meninggal. Hancur harapannya, anak kesayangannya, anak yang dicintainya kini sudah tiada.

__ADS_1


    Suaminya tidak bisa berkata apa-apa. Begitu melihat anaknya terbujur, tubuhnya langsung lemas. Tidak berdaya lagi, dan tentu tidak sanggup apa-apa lagi. Jonatan, anak yang disayangi telah meninggal. Tragis karena mengalami kecelakaan.


__ADS_2