
Toko Laris kini semakin laris. Seperti namanya, Laris, berarti banyak pembeli. Dan itu memang sesuai kenyataan. Banyak pembeli datang dan pergi. Keluar masuk silih berganti. Barang dagangannya semakin banyak jenis dan jumlahnya. Hampir semua kebutuhan rumah tangga ada di tokonya. Tentu, karena Irul dan Indra ingin memberikan pelayanan yang prima. Mau mengantarkan belanjaan orang-orang yang jumlahnya besar, yang tidak mungkin dibawa sendiri, bahkan juga orang memang minta belanjaannya diantarkan.
Tidak hanya itu, Indra juga sudah memasang telepon di tokonya. Melayani pembelian lewat telepon. Tentu bagi orang-orang kaya yang tidak mau ribet untuk pergi belanja, bisa pesan melalui telepon. Ini pada zaman itu, merupakan pelayanan yang sangat luar biasa canggihnya. Sehingga, orang-orang mampu di Lasem banyak yang memesan belanja melalui telepon. Tidak hanya telepon rumah, tetapi Indra juga menerima pesanan melalui SMS. Pastinya nomor telepon HP-nya yang sudah diketahui terlebih dahulu. Ini biasanya pelanggan yang sudah baik. Kalau zaman sekarang, ini pelayanan online. Bisa menggunakan aplikasi pesan antar.
Dan apa yang pernah dikatakan oleh Indra, kalau tokonya bukan sekadar toko sembako kecil-kecilan, ia ingin menjadi agen untuk menyuplai kebutuhan toko-toko di Lasem dan sekitarnya, itu menjadi kenyataan. Banyak toko dan pedagang pasar yang kulakan di Toko Laris. Tentu harga bakul dan eceran akan berbeda. Bahkan, Toko Laris sudah menyuplai barang-barang dagangannya sampai ke daerah Rembang dan Tuban.
Untuk melayani semua permintaan pelanggan yang ada di berbagai tempat tersebut, tentu Toko Laris membutuhkan armada. Maka Irul meminta adik iparnya untuk membantu. Daripada bekerja sebagai buruh yang tidak pasti, lebih baik membantu tokonya. Demikian juga dengan dua adik perempuannya, disuruh membantu melayani dagangan di toko. Tentu Irul dan Indra lebih senang meminta adiknya untuk membantu jualannya, daripada mempekerjakan orang lain yang belum tahu karakternya. Walau demikian, adik-adiknya tetap digaji sebagai pekerja.
Untuk urusan manajemen, mendatangkan barang dari pemasok, serta urusan keuangan dipasrahkan kepada Indra. Istrinya yang ahli dalam hal bisnis. Sedangkan urusan penjualan serta pengiriman-pengiriman barang kepada pembeli diserahkan kepada Irul. Tentu Irul sangat piawai untuk urusan pelayanan pembeli, sudah berpengalaman di tokonya Babah Ho. Dan saat ini, ia harus mengurusi tokonya sendiri, pasti jauh lebih baik. Ya, karena saking larisnya. Bahkan Irul sudah membeli motor dan mobil bak terbuka. Semuanya untuk sarana transportasi pengiriman barang. Terutama untuk tempat pelanggan yang jauh. Toko Laris yang benar-benar Laris.
Meski begitu, Irul maupun Indra, Toko Laris, tetap melayani eceran kecil-kecilan, yang pembelinya dari kalangan rakyak miskin. Toko Laris tidak membedakan orang kaya dan miskin, partai besar atau kecil, grosir maupun eceran. Bahkan, saking baiknya Irul dan Indra, jika ada orang yang beli rokok batangan, atau kalau orang Lasem menyebut dengan istilah sak ***, juga diladeni. Pasti orang-orang yang demikian ini saking-sakingnya tidak punya uang.
"Dek ..., kita sudah lama tidak komunikasi dengan Pak Jamil, Mbak Juminem dan Melian, ya ...." kata Irul saat merebahkan tubuhnya di kamar pada tokonya, sehabis menutup pintu toko. Sudah jam lima sore lebih. Tokonya tutup jam lima sore. Dan adik-adiknya sudah pulang semua.
Indra yang berdiri di pintu kamar itu, memandangi suaminya dengan senyum. Lalu katanya, "Kangen, ya ..., Mas ...."
"Bukan hanya kangen .... Tetapi ada sesuatu yang mengganjal dalam hati ini ...." kata Irul.
Lantas Indra mendekati suaminya yang masih merebag di atas kasur. Indra duduk di pinggiran kasur itu, sambil mengamati wajah suaminya yang menurutnya memang ada rasa kerinduan pada keluarga Pak Jamil.
"Iya, Mas .... Sudah dua bulan lebih .... Saya juga kangen sama Melian .... Kapan kita ke sana?" tanya istrinya, yang tentu sangat menghargai suaminya.
"Saya pengin anjangsana .... kunjungan untuk melepas rasa rindu, kunjungan silaturahmi ke rumah Pak Jamil .... Mereka itu bukan sekadar bos saya waktu kerja di sana, bukan saudara karena sudah menjadi wali nikah kita, tetapi ada ikatan batin yang sangat kuat antara saya dengan mereka. Terutama dengan Melian, Dek .... Jika ingat masa susah saya, Babah Ho dan Cik Lan itu yang menolong saya. Sekarang toko kita sudah seperti ini, tentu semua ini tidak terlepas dari mereka. Bahkan pertemuan kita, itu juga karena keluarga Pak Jamil. Dek Indra dolan bersama Melian, saya karyawan di tempat Pak Jamil. Bahkan saat saya menderita lahir batin, Pak Jamil itulah yang menolong saya. Saya mengiba untuk ikut mereka. Pak Jamil dan Mbak Juminem sudah menganggap saya sebagai keluarganya sendiri. Kalau ada senangnya, pasti saya juga kebagian. Apalagi Melian. Sejak bayi selalu memanja kepada saya. Dulu setiap diajak ke toko, kalau belum saya gendong, pasti menangis minta digendong. Sampai kematian ibunya yang sangat tragis, saya benar-benar merasakan kesedihan itu. Itulah kenapa saya sangat menyayangi Melian. Bahkan lebih sayang Melian daripada adik-adikku sendiri. Saya tidak pernah tega untuk melihat anak itu menderita." Irul mengungkapkan isi hatinya, yang jelas merupakan gambaran dari kerinduannya pada Melian.
"Bagaimana kalau kita tengok keluarga Pak Jamil, besok Minggu? Toh Pak Jamil libur, dan Melian juga libur." kata Indra yang mencoba memberi pendapat.
"Toko kita bagaimana?" Jamil kembali ragu dengan tokonya, yang tentu kalau tutup banyak pembeli yang kecewa.
"Kan ada adik-adik ...." kata Indra yang tentu tidak khawatir untuk pelayanan tokonya.
"Apa mereka bisa?" tanya Irul.
"Mereka sudah mahir melayani, Mas ...." sahut Indra meyakinkan.
"Kalau begitu, mereka besok kita kasih tahu .... Biar siap datang gasik." kata Irul yang sepakat dengan usulan istrinya.
*******
Hari Minggu pagi. Seperti yang sudah disampaikan oleh Irul kepada adik-adiknya, mereka datang ke toko gasik. Tentu karena anak-anaknya libur sekolah. Bahkan anak-anaknya diajak ke toko. Sekalian momong. Ibunya Irul juga ikut ke toko. Tentu untuk momong cucu-cucunya. Maklum, karena Irul dan Indra akan pergi ke Juwana, maka mereka semuanya bersiap untuk melayani pembeli semaksimal mungkin. Seperti yang dipesankan oleh Indra, melayani pelanggan secara maksimal adalah kunci pelanggan itu tidak akan berpindah tempat belanja.
"Le ..., Rul .... Kalau ke rumah Pak Jamil, kamu harus bawakan Bu Juminem wujud daganganmu .... Bawakan beras, gula, kopi, minyak dan apa yang pantas .... Untuk oleh-oleh .... Walaupun mereka sudah kaya, mampu beli, tapi kamu datang jangan hanya tangan kosong .... Saru, Le ...." kata ibunya Irul yang memesan pada anaknya.
"Nggih, Mak ...." jawab Irul, yang tentu langsung menyampaikan ke istrinya. "Kita bawakan apa saja, Dek ...?" tanya Irul pada istrinya.
__ADS_1
"Macam-macam, Mas .... Biar mereka tahu jenis dagangan kita ...." jawab istrinya.
"Kalau begitu, gak bisa naik motor .... Harus bawa pickup, Dek ...." kata Irul yang tentu kalau barang bawaannya banyak, susah untuk dibawa pakai motor.
"Ya, pakai mobil saja ...." sahut Indra.
"Yah .... Sekali-sekali jalan-jalan naik mobil. Apa saja barangnya, ayo saya angkut ke pickup ...?" kata Irul yang langsung menyetujui.
Beruntung Irul orangnya cerdas. Walau baru sebulan punya mobil pickup, tetapi sudah lihai menyetir. Bahkan kalau adik iparnya sedang pergi ke tempat lain, Irul sendiri yang mengantar barang dengan pickupnya itu. Pasti saat di Bima Sakti, Mas Tarno sudah mengajari Irul menyetir kalau pas ngantar barang ke luar kota. Ya, memang orang itu harus prigel, harus bisa segala macam aktivitas. Tidak harus pandai dalam segala hal, tetapi setidaknya paham dan bisa. Sehingga tidak selalu bergantung pada orang lain.
"Saya saja yang ngangkat, De ...." kata adik iparnya, suami adiknya Irul yang sudah mulai mengangkati barang ke bak belakang mobil brondol tersebut. Orang Lasem menyebutnya mobil tepak atau mobil bukaan. Walau mobil tepak, di daerah Lasem ke selatan, masih digunakan untuk angkutan penumpang orang. Karena memang di sana jarang ada angkutan. Bahkan truk saja juga dipakai untuk angkutan orang.
Tentu banyak barang yang dibawakan. Yang jelas ada beras satu bagor, kemudian ada kardus-kardus yang berisi macam-macam barang seperti gula pasir, gula jawa, minyak, sirup, serta berbagai barang kebutuhan dapur lainnya. Ada dua kardus besar yang juga diletakkan di bak belakang mobil tepak tersebut. Yang mengepak dan menata barang adik-adiknya Irul. Tentu sepengetahuan kakak iparnya, Indra.
"Mas Irul .... Sudah siap, ayo berangkat ...!" Indra mengajak berangkat suaminya, ia sudah duduk di samping sopiran.
"Ya ...!" Irul langsung menuju ke mobil, menyetarter dan langsung berangkat.
Lasem - Juwana tidak jauh. Paling hanya sekitar satu jam perjalanan. Dan tentu tidak membosankan, karena jalannya melintas di pinggir laut yang mengasyikkan. Hingga akhirnya, Irul sudah berbelok dan masuk ke halaman rumah Pak Jamil di Kampung Naga.
Tahu ada mobil pickup masuk ke halaman rumahnya, tentu Jamil bertanya-tanya, siapa yang datang? Kebetulan Jamil sedang santai di teras depan. Habis bersih-bersih kebun.
"Kulanuwun, Pak Jamil ...." Irul turun dari mobil, dan langsung uluk salam dan menghapiri mantan pimpinannya itu.
"Mana ...?! Mana ...?!" Juminem dan Melian langsung berlari keluar, tentu ingin segera ketemu denga Mas Irul dan Cik Indra.
Irul dan Indra yang sudah berada di teras, langsung ditubruk oleh Melian. Tentu Indra dan Irul langsung bersalaman dengan Juminem. Sedangkan Melian setelah merangkul Cik Indra dan menciumnya, langsung memeluk Mas Irul.
"Mas Irul ..., aku kangen ...." kata Melian yang tidak mau melepas pelukannya pada Irul.
"Sama .... Kami juga kangen .... Makanya Cik Indra sama Mas Irul datang kemari ...." jawab Irul yang tentu sangat sayang pada Melian. Bahkan Melian yang sudah SMA itu masih diciumi oleh Irul, layaknya mencium adiknya. Tentu karena saking kangennya.
"Wes, jangan di luar saja .... Ayo masuk ...." ajak Jamil agar semuanya masuk ke dalam rumah.
"Mas Irul ..., barangnya tolong diangkat ...." kata Indra menyuruh suaminya. Yang tentu tidak kuat untuk mengangkat beras satu bagor.
"Oh, ya .... Sebentar ...." kata Irul yang langsung balik ke bak mobil, mengangkat karung beras.
"Walah ..., bawa apa ini ...?!" Juminem langsung bertanya.
"Itu jualan-jualan kami, Mbak Jum ...." kata Indra sambil tersenyum dan mengelus lengan kepada Juminem.
Jamil langsung membantu, mengangkat kardus yang ada di bak mobil. Demikian juga Melian yang ikut ke mobil, langsung ikut membantu mengangkat kardus, Tentu agak keberatan, karena isinya penuh.
__ADS_1
"Ini isinya apa sih, Mas Irul ...? Kok berat sekali ...." tanya Melian yang tentu ingin tahu isinya.
"Macam-macam .... Itu barang-barang yang kami jual. Seperti yang dulu dijual oleh engkong ...." jawab Irul pada Melian, yang tentu mengingatkan dagangannya Babah Ho jaman dulu.
Barang-barang itu langsung dibawa ke dapur. Tentu karena isinya semua adalah kebutuhan dapur.
Di dapur, Juminem sudah membuat minuman. Teh hangat untuk tamunya. Cik Indra sudah duduk di kursi tamu. Lantas Pak Jamil yang sudah menaruh kardus di meja dapur, langsung menuju ruang tamu. Demikian juga Irul, yang selalu dibuntuti oleh Melian. Bahkan saat mau duduk di ruang tamu, Irul diseret Melian diajak duduk bareng di kursi panjang. Lantas Melian menempel dan memanja pada Irul.
Tentu Indra hanya bisa diam. Tidak berani melarang maupun memisahkan suaminya dengan Melian. Maklum, Melian ini anaknya terlalu manja. Bahkan dengan Irul manjanya sangat keterlaluan. Tapi Indra memaklumi hal itu, karena rasa kangennya pasti sangat membara. Lebih dari dua bulan tidak ketemu.
"Cik Indra itu jualan apa saja, kok dibawa kemari semua ...?" tanya Juminem yang menyuguhkan minuman kepada tamunya, dan tentu untuk suaminya juga.
"Aneka macam sembako, Mbak Jum .... Katanya Mas Irul kayak dagangannya Babah Ho ...." jawab Indra.
"Walah ..., berarti komplit, leh ...." sahut Juminem.
"Saya jadi teringat waktu Melian masih bayi, Mas Irul datang ke rumah mengirimi susu sama sembako. Lalu kalau Mas Irul datang, pasti menjunjung Melian lalu diumbul-umbulkan ke atas .... Hehe ...." kenang Juminem waktu hidupnya masih kekurangan.
"Pantesan Melian kalau ketemu Mas Irul langsung manja .... Hehe ...." ledek Cik Indra pada Melian.
Melian yang diledek hanya tersenyum, bahkan langsung memeluk Irul. Seperti ingin menunjukkan manjanya.
"Maklum Cik Indra .... Waktu itu kami sangat miskin. Saya hanya sebagai kuli penggali batu kapur. Bayarannya tidak cukup untuk membelikan susu Melian. Beruntung Mas Irul ini selalu mengirimi kami sembako. Ee ..., ternyata, sekarang Mas Irul dan Cik Indra malah jadi juragan sembako. Kami bersyukur, Cik Indra ...." tambah Jamil yang juga ingat betul dengan masa susahnya dahulu.
"Terus, warungnya ada di Pasar Lasem?" tanya Juminem, yang mengira kalau kios sembako Mas Irul dan Cik Indra ada di pasar seperti milik Babah Ho dulu.
"Tidak, Mbak Jum .... Tokonya di pinggir jalan raya, dekat dengan alun-alun. Namanya Toko Laris. Monggo silahkan ke Lasem, lihat toko kami." jawab Indra.
"Besar ya, Mas Irul?" tanya Jamil.
"Alhamdulillah, lumayan, Pak Jamil .... Yang penting bisa untuk mencukupi kebutuhan hidup." jawab Irul.
"Ya lebih dari cukup, lah .... Lha wong sudah bisa beli mobil tepak segala gitu, kok ...." kata Juminem yang tentu menyanjung.
"Armada untuk angkut-angkut barang, Mbak Jum ...." sahut Irul.
"Ayo, Pak ..., Mak ..., kita ke Lasem .... Melian pengin lihat tokonya Mas Irul sama Cik Indra ...." kata Melian yang tentu langsung kepengin pergi ke Lasem.
"Besok habis testing .... Kalau liburan kenaikan kelas, biar lebih nyaman ...." jawab bapaknya yang tentu agar Melian belajar untuk ulangan kenaikan kelas.
"Betul ya, Pak .... Pokoknya besok kenaikan kelas langsung ke Lasem." kata Melian yang memastikan janji bapaknya.
"Iya ...." jawab bapaknya.
__ADS_1
Dan mereka berlima ngobrol macam-macam, tiada habisnya. Bahkan hingga saat diajak makan siang pun, mereka masih mengobrol di ruang makan. Pasti rasa kekeluargaan antara Jamil, Juminem, Melian dengan Iru dan Indra sangat kental dan sulit untuk dipisahkan. Maklum, mereka semua terikat oleh Melian, bayi kecil yang ditemukan Juminem, yang kini sudah tumbuh menjadi remaja cantik. Anjangsana itu pun terasa sangat menyenangkan.