
Habis tes semester, anak-amak pasti langsung plong. Soal hasil, itu urusan nanti. Yang penting beban belajarnya sudah lunas. Tentu di hari terakhir, mata pelajaran terakhir, begitu tes selesai, anak anak langsung berlari keluar kelas dan berteriak, bersorak melampiaskan emosinya setelah penat seminggu memikirkan soal-soal tes yang tentu sangat memberatkan pikirannya.
Demikian juga Melian. Meski tidak harus pakai loncat-loncat, tidak harus dengan berteriak-teriak, rasa gembira sudah menyelesikan tes semester itu terlihat dari wajahnya. Hanya tinggal menunggu besok hari senin. Apakah ada remidi atau tidak. Yang penting tes hari ini sudah selesai.
Apalagi Jonatan. Tubuhnya yang besar itu langsung meloncat ke tengah lapangan sambil berteriak. Tanda penatnya sudah plong. Tidak hanya Jonatan yang berlari ke tengah lapangan. Tetapi anak laki-laki umumnya seperti itu. Walau juga ada anak perempuan yang ikut-ikutan berlompatan dan berteriak-teriak di tengah lapangan.
Beberapa anak yang lain hanya melihat reaksi dari anak-anak yang berlompatan bahagia di lapangan, dari teras kelas. Umumnya nak-anak yang merasa bisa mengerjakan soal. Biasanya anak-anak pintar dan yang benar-benar siap mengerjakan tes. Pasti harapannya nilainya bagus dan tidak ada yang remidi. Tapi anak-anak yang otaknya pas-pasan, yang di sekolah hanya sekadar hadir dan ikut pelajaran, tapi soal kemampuan hanya sebatas level dua atau tiga, pasti testing merupakan beban tersendiri.
Termasuk Melian. Ia hanya melihat anak-anak yang pada bergembira di tengah lapangan. Hanya berdiri dari depan kelasnya. Karena memang kelas I D berada di pojok dekat dengan lapangan sekolah. Walau hanya melihat, tetapi ikut tertawa geli menyaksikan tingkah lucu-lucu dari anak-anak yang melampiaskan kegembiraannya itu.
"Mel ..., kamu mudik, nggak?" tiba-tiba Jonatan menemui Melian yang berdiri di pojok depan kelas.
"Tidak .... Besok minggu depan, sekalian menunggu kalau semua mata pelajaran nilainya sudah beres, kalau tidak ada yang remidi." jawab Melian yang masih tetap berdiri di depan kelasnya.
"Jalan-jalan, yuk ...." ajak Jonatan.
"Kemana, John?" tanya Melian.
"Yaa ..., cari udara segar saja .... Menghilangkan suntuk belajar terus .... Mendinginkan pikiran, biar otaknya agak kendor ...." jawab Jonatan.
"Lha, iya .... Jalan-jalannya ke mana?" tanya Melian lagi.
"Bagaimana kalau ke Bandungan? Nanti kita bisa beli sate kelinci .... Enak, lho ...." jawab Jonatan.
"Ke Bandung? Jauh amat ...." kata Melian yang tentu kaget mau di ajak ke Bandung.
"Bukan Bandung, Mel .... Bandungan ...." tegas Jonatan.
"Mana itu?" tanya Melian yang belum tahu.
"Loh, kamu belum ngerti Bandungan, to ...? Itu, tempat wisatanya orang-orang Semarang .... Tempatnya di lereng Gunung Ungaran .... Udaranya sejuk. Pokoknya asyik ...." jelas Jonatan pada Melian.
"Kelihatannya asyik .... Jauh, nggak ...?" sahut Melian.
"Nggak .... Kita boncengan. Biar leluasa lihat pemandangan pegunungan. Nanti juga bisa ke Candi Gedung Songo." jelas Jonatan yang tentu sangat berharap agar Melian mau diajak.
"Sama siapa?" tanya Melian lagi.
"Cuma kita berdua." jawab Jonatan.
"Kapan?" tanya Melian.
"Sekarang .... Lha, apa Melian mau lain waktu?" tanya Jonatan pada Melian.
"Ya, nggak papa .... Tapi aku ganti baju dulu ...." sahut Melian yang setuju mau diajak pergi Jonatan.
"Oke .... Ya, udah ayo sekalian saya antar ke kost.
Jonatan langsung mengambil motornya dari parkiran. Memboncengkan Melian pulang ke tempat kost. Tentu untuk berganti baju dan langsung berangkat ke Bandungan.
"Mau ke mana, Mel?" tanya Ivon, teman kostnya yang sudah sampai di rumah lebih dahulu.
"Jalan-jalan, Cik ...! Refresing ...." teriak Melian yang sudah keluar rumah.
"Hati-hati ...!" sahut Ivon dari dalam rumah.
"Ya, Cik ...! Makasih ...!" kata Melian sambil menutup pintu pagar.
"Sudah?" tanya Jonatan yang sudah menunggu di luar.
"Sudah .... Ayo ...." sahut Melian yang mengenakan celana jean, kaos dan jaket.
"Yuk .... Nih, pakai dulu helmnya. Biar aman dan tidak ditangkap polisi." kata Jonatan yang langsung menyetarter motornya, siap untuk berangkat.
Melian naik ke boncengan. Tentu langsung berpegangan, memeluk perut Jonatan.
Plong rasa hati Jonatan. Ternyata benar kata-kata papinya. Cewek harus diajak senang-senang. Maka motor RXZ itu langsnung berjalan meninggalkan depan rumah kost Melian. Tidak terlalu kencang. Jonatan masih berhati-hati saat melintas di jalan-jalan sempit dan ramai. Termasuk melintas di depan sekolah, yang rata-rata murid-muridnya baru saja menyelesaikan tes semester. Pasti ramai karena semua murid ingin refresing.
__ADS_1
"He, he ..., John ...! Mau ke mana?!" teriak beberapa murid dari sekolah lain, yang tahu saat Jonatan melintas di depannya. Pasti teman-temannya Jonatan.
"Refresing ...!" jawab Jonatan sambil melaju pelan.
"Kami ikut ...! Ke mana?! Bandungan ...?!" teriak temannya yang bertanya.
"Ya ...!" teriak Jonatan sambil tetap menjalankan kendaraannya. Dan lantas bablas.
Kini Jonatan sudah melintas ke jalan raya. Laju kendaraannya sudah ditambah kecepatan. Agak kencang. Apalagi motor RXZ ini memang sebenarnya dirancang untuk motor cepat. Maka hanya ditarik sedikit saja gasnya, motor itu sudah lari cukup kencang.
"Mel, kita makan dulu, ya ...." kata Jonatan di perjalanan itu.
"Apa ...?!" sahut Melian yang kurang mendengar kata-kata Jonatan. Tentu karena suara bising di jalan raya.
"Kita makan dulu ...!" Jonatan kembali berteriak.
"Saya tidak dengar, John ...!" kata Melian lagi, yang juga tidak paham dengan kata-kata Jonatan.
Akhirnya Jonatan meminggirkan motornya, membuka helm dan kembali berkata pada Melian, "Kita makan dulu .... Saya lapar."
"Oalah .... Katanya mau makan sate kelinci di Bandungan ...." kata Melian yang tentu heran.
"Tempatnya masih jauh, perutku sudah sangat lapar ...." sahut Jonatan yang sambil memegangi perutnya.
"Ya, ayo .... Mau makan apa?" sahut Melian yang pasrah pada ajakan Jonatan karena memang dia sendiri juga sudah merasa lapar.
"Aku mau bakmi .... Kita makan bakmi dulu, ya ...." jawab Jonatan yang tidak betah lapar. Pantas tubuhnya besar, tentu karena banyak makan.
"Ya .... Makan di mana?" tanya Melian yang belum tahu tempat-tempat makan.
"Sambil jalan. Nanti ada warung bakmi, kita belok." sahut Jonatan yang langsung menjalankan kembali motornya. Pelan-pelan, sambil mencari tempat makan.
Akhirnya, di daerah Undip Jonatan membelokkan motor. Berhenti di rumah makan bakmi dan seafood. Untuk mengisi asupan gizi terlebih dahulu. Demikian juga Melian yang sebenarnya juga sudah sangat lapar. Mereka berdua memesan bakmi seafood. Bakmi yang ada cumi dan udangnya. Bumbunya pakai saus merah. Mereka berdua menikmati makanan panas yang pedas, enak dan lezat. Jonatan habis satu piring penuh. Sedangkan Melian tidak habis. Masih ada sisa sepertiga. Sisa itu langsung dihabiskan oleh Jonatan.
Melian tertawa menyaksikan Jonatan makan. Habis banyak dan sangat cepat. Bibirnya langsung merah. Megap-megap karena kepedasan. Es teh gelas besar langsung habis. Tentu untuk menghilangkan rasa pedasnya.
"Sudah ...?" tanya Melian.
Kini mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan menuju Bandungan. Tentu sudah tenang. Perutnya sudah tidak lapar lagi. Jonatan menyetir kendaraan juga sangat enak dan nyaman. Melian langsung merebahkan tubuhnya di punggung Jonatan. Tidak hanya badannya yang direbahkan, tetapi juga kepalanya, menempel di bahu Jonatan. Kedua tangannya memeluk erat orang yang menyetir kendaraan itu. Sangat asyik dan mesra.
Jonatan yang menyetir merasakan kenikmatan dari pelukan orang yang ditaksirnya. Angannya langsung melambung, membayangkan sedang berpacaran dengan Melian. Pasti dalam pikiran Jonatan, Melian sudah kena ditembak dirinya.
Demikian halnya Melian yang membonceng dan menempel di tubuh Jonatan. Sangat beda ketika membonceng bapaknya. Ada rasa lain dengan membonceng Jonatan. Entah apa sebenarnya yang dirasakannya, tetapi yang jelas, angannya juga melayang ke tempat yang indah bersama Jonatan. Tempat yang membuat dirinya selalu tersenyum, tempat yang membuat hatinya bahagia. Apakah ini yang namanya pacaran? Begitu yang terpikir oleh Melian.
Ya, Melian memang belum pernah pacaran Melian belum pernah mengenal apa itu laki-laki spesial. Melian belum pernah tahu apa itu cinta. Tetapi rupa-rupanya, kali ini darah birahinya mulai muncul. Anak baru gede yang berasal dari kota besar itu, ketika diajak teman cowok untuk bepergian, diajak laki-laki berboncengan, ia mulai merasakan getaran-getaran asmara yang tumbuh dalam hatinya.
Jalan menuju Bandungan itu indah. Berkelok-kelok, naik turun. Alam pegunungan yang asri dengan udara sejuk yang segar, membuat suasana perjalanan semakin terasa nikmat. Apalagi saat ada kabut turun, udara dingin itu seakan meresap dan menembus pori-pori kulit. Rasanya langsung menyebar ke seluruh tubuh. Meski dingin, tetapi sangat segar. Itulah kenapa orang-orang sering berefresing ke Bandungan mencari hawa sejuk.
Demikian pula yang dirasakan oleh Melian. Sejak motor RXZ yang dikendarai oleh Jonatan itu menanjak ke arah Bandungan, udara dingin yang menyambut mereka langsung dirasakan oleh Melian. Melian berasal dari daerah pantai yang biasa hidup dengan udara panas, maka begitu masuk Bandungan, tidak bisa dipungkiri, ia langsung kedinginan. Maka Melian langsung memeluk tubuh Jonatan lebih erat. Bahkan tubuh Melian sudah dipepetkan ke tubuh Jonatan, untuk mencari kehangatan.
Jonatan yang juga sedang mengalami masa pubertas, yang sedang jatuh cinta, menerima perlakuak Melian yang memeluk erat tubuhnya, yang sudah memepetkan tubuhnya pada dirinya, langsung gejolak pubertasnya, jiwa laki-lakinya seketika bergelora. Darahnya mendidih. Jantungnya berdetak kencang. Rasa cinta yang sedang tumbuh dalam hatinya, kini berubah menjadi eros. Yaitu cinta yang selama ini dikenal ketika seseorang sedang jatuh hati pada lawan jenis secara romantis. Cinta yang mengubah perasaan untuk ingin menjadi pasangan lawan jenisnya, kemudian menjalani hubungan asmara secara fisik atau seksual. Itulah kekuatan Dewa Eros, yang dipercaya oleh masyarakat Yunani sebagai dewa cinta yang menyebarkan panah asmaranya.
Dan akhirnya, setelah menahan gejolak asmara yang menggelora saat mengendarai motor, sore itu Jonatan sudah sampai di Bandungan. Menghentikan motornya yang sudah terlalu panas dan minta untuk didinginkan sejenak di tempat parkir.
"Mel .... Kita sudah sampai Bandungan ...." kata Jonatan yang menegakkan tubuhnya, yang tentu capek karena menahan beban tubuh Melian dari Semarang hingga sampai Bandungan.
"Aaach ...." Mekian juga menegakkan tubuhnya, dan langsung menggeliat karena capek.
"Ini Bandungan ...." kata Jonatan lagi, memberitahu ke Melian.
"Lhah, kok cuman pasar ...?" tanya Melian, karena hanya melihat orang-orang yang berjualan aneka sayur hasil ladang para petani. Ada kubis, wortel, kentang, ubi, tomat, pisang dan aneka sayur serta buah-buahan lainnya.
"Kita istirahat sejenak, Mel .... Mendinginkan mesin motor, sambil ke kamar kecil .... Aku mau pipis ...." kata Jonatan yang langsung lari ke kamar kecil. Tentu sudah tidak kuat menahan kencing sejak tadi. Melian langsung ditinggal begitu saja.
Tentu Melian juga kebelet pipis. Udara dingin membuat perut berubah keadaan. Maka Melian juga menyusul ke kamar kecil yang tersedia diantara tempat parkir dan pasar itu, untuk pipis.
Setelah keduanya selesai, mereka kembali ke motor. Tentu Jonatan ingin melanjutkan jalan-jalan mengajak Melian keliling Bandungan.
__ADS_1
"Kita Jalan lagi ya, Mel ...." ajak Jonatan.
"Ke mana?" tanya Melian yang belum tahu, baru pertama kali ini ia diajak ke Bandungan.
"Ya, kita keliling .... Lihat-lihat .... Sambil nanti cari sate kelinci." jelas Jonatan yang sudah naik ke motor.
Melian yang sudah kedinginan, dengan tubuh setengah menggigil, langsung naik ke motor. Mungkin kalau naik motor dinginnya akan beda. Setidaknya lebih hangat karena bisa memeluk tubuh Jonatan.
Motor itu kembali berjalan. Perlahan melintas di jalan Bandungan. Tentu sambil menyaksikan keindahan aneka bunga yang dijajakan oleh bakul-bakul kembang di sepanjang jalan Bandungan.
"Asyik sekali, John .... Bunganya indah-indah." kata Melian yang membonceng Jonatan, sambil melihat bunga-bunga yang bergantungan di kios-kios.
"Inilah Bandungan .... Pusat bunga aneka rupa ...." sahut Jonatan yang semakin memperlambat motornya, tentu agar lebih luluasa untuk melihat bunga-bunga itu.
"Ini turis-turis pada beli bunga di sini, ya ...?" tanya Melian.
"Iya .... Harganya murah-murah." jawab Jonatan.
"Setiap hari ramai begini?" tanya Melian lagi.
"Kalau malam Minggu penuh sesak. Banyak orang yang menginap di Bandungan, untuk refresing dan mencari udara segar." jawab Jonatan.
"Oo .... Pantesan ini jalannya ramai dan banyak turis ...." sahut Melian yang menyaksikan padatnya jalan serta ramainya orang-orang yang pada membeli bunga serta jalan-jalan.
"Kita makan sate kelinci dulu, ya ...." ajak Jonatan.
"Ya .... Aku belum pernah makan sate kelinci. Enak nggak?" sahut Melian.
"Kita coba .... Tapi menurut saya sih, enak banget ...." jawab Jonatan.
Akhirnya, mereka berdua masuk ke warung sate kelinci yang ada di pinggir jalan Bandungan itu. Tentu warung sate kelinci itu sangat ramai.
Jonatan langsung pesan dua porsi. Sate kelinci pakai lontong. Tentu harus menunggu beberapa saat. Harus sabar, karena yang beli juga ramai.
"Nah ..., dalah ...!!! Ketemu sekarang ...!!!" suara mengagetkan Jonatan.
Ada tiga orang laki-laki masuk ke warung sate itu, tiba-tiba menggertak Jonatan yang masih asyik ngobrol dengan Melian saat menunggu pesanan sate.
"Walah .... Kok ya nyusul itu, lho .... Kok tahu kalau aku di sini ...?" sahut Jonatan, yang ternyata tiga orang itu adalah teman-temannya tadi yang ketemu waktu di jalan depan sekolah mereka.
"Iya, lah .... Motormu kan aku apal .... Kita ini kan teman baik .... Masak mau senang-senang kok tidak ajak teman-temannya." kata salah seorang teman itu.
"Pak ..., sate kelinci tiga porsi." kata yang satu lagi memesan sate.
"Ini pacarmu, John?" tanya teman satunya lagi.
"Ya, kenalin ...." sahut Jonatan.
Tiga teman laki-laki dari sekolah lain itu pun langsung menyalami Melian dan mengenalkan dirinya. Tentu sambil tersenyum senang melihat Melian yang cantik.
"Sudah sewa hotel?" tanya teman Jonatan itu.
"Belum .... Rencananya kami pulang, kok." jawab Jonatan.
"Pulang ...? Ngapain pulang ...? Ini sudah malam, John ...! Jalan gelap ...! Nginep bareng kami saja .... Kami ada vila .... Gratis ...." kata teman Jonatan yang tubuhnya kurus.
"Iya, John .... Bermalam Minggu di Bandungan saja .... Kasihan cewekmu, malam-malam pulang, nanti kedinginan ...." kata yang satu lagi.
Jonatan memandang Melian. Tentu bingung untuk memutuskan. Takut mengajak Melian bermalam di Bandungan.
"Gimana, Mel ...?" Jonatan bertanya pada Melian.
"Terserah kamu saja ...." jawab Melian.
"Ya, sudah .... Kami bermalam Minggu di Bandungan sama kalian. Di mana vilanya?" Jonatan akhirnya memutuskan.
"Nah ..., begitu John .... Itu baru namanya teman .... Susah bareng, seneng bareng, John ...." sahut teman Jonatan yang bertubuh kurus.
__ADS_1
"Vilanya ada di atas. Kita nanti naik bersama. Yang penting malam Minggu kita pesta, John ...." sahut teman-temannya yang langsung bergembira.
Begitu juga Jonatan, yang pasti senang akan bermalam Minggu bersama Melian di Bandungan.