GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 223: KECEWA


__ADS_3

    "Halo, Putri .... Ngana sehat-sehat saja, kan ...?!" Mamanya Putri menelepon dari Manado.


    "Iya, Ma .... Kele kita sehat, Ma ...." jawab Putri singkat, seperti kurang semangat.


    "Melian bagaimana kabarnya?" tanya mamanya lagi.


    Tentu Putri langsung syok. Kaget saat ibunya menanyakan keadaan Melian. Pasti ibunya tidak tahu kalau Melian sudah tidak ada dalam kamarnya lagi.


    "Bae, lah ..., Ma ...." Putri mencoba membohongi ibunya.


    "Kau belajarlah sama Melian .... Dia itu ana bae ...." kata ibunya lagi, yang tentu bisa menilai anak baik dari sikap dan tindak-tanduknya.


    "Iya, Ma .... Kita pasti, lah ...." lagi-lagi Putri bingung untuk menjawabnya.


    "Melian ada di kamar ...?" tanya ibunya, yang tentu juga rindu dengan Melian, setelah lama tidak ketemu lagi.


    "Ma ..., kan sibuk masing-masing awak .... Melian masih di kampus ...." tentu Putri bingung untuk menjawabnya.


    "Ngana tidak ke kampus ...? Kenapa ...?" tanya ibunya yang tentu heran, kenapa tidak ke kampus bersamaan.


    Putri semakin bingung. Akhirnya, ia harus cari alasan. "Ma .... Kita kuliah beda-beda waktu .... Tidak sama ...."


    "Ya udah .... Ngana jaga kesehatan .... Hati-hati di rantau orang ...." kata ibunya yang langsung mengakhiri teleponnya.


    "Uuhh ........" Putri menarik napas lega. Tapi ia tetap merasa berdosa, sudah berbohong kepada ibunya.


    Putri yang sudah memabnting tubuhnya di tempat tidur, matanya langsung menatap langit-langit. Ia melamun. Ia teringat dengan kata-kata mamanya, yang bilang kalau Melian itu orang baik. Tentu dalam hati kecil Putri, juga mengatakan demikian. Tidak bisa dipungkiri, Melian sahabatnya itu memang orang baik.


    Apalagi saat teringat kata-kata dosen yang memberi kuliah tadi siang. Seakan dosen itu mencolokkan di depan mata Putri, bahwa Melian itu orang hebat. Kenapa Putri mesti bertengkar dengan Melian? Ini semua gara-gara Kim Bo. Tak sabar, Putri ingin marah pada Kim Bo. Ia pun langsung mengangkat HP-nya, menelepon Kim Bo.


    "Halo ..., Kim Bo ...." Putri menelepon Kim Bo. Orang yang sudah menyebabkan putusnya persahabatan antara dirinya dengan Melian.


    "Halo, Putri .... Ada kabar apa?" tanya Kim Bo menjawab teleponnya Putri.


    "Aku mau tanyam nih .... Memang Melian ngapain sama Kim Bo, kok sampai sebegitunya kamu merasa gak senang sama Melian?" tanya Putri yang ingin tahu kejadian yang sebenarnya. Tentu kalau mendengar penuturan dari dosennya siang tadi, dimana Melian mempunyai aktivitas yang sangat banyak di kawasan Sungai Ciliwung, pasti Melian tidak mengurusi kedatangan Kim Bo. Bahkan mungkin juga tidak mau menemui Kim Bo. Putri tahu presis, kalau Melian kerja atau belajar tidak pernah setengah-setengah. Orangnya serius.


    "Halah, Putri .... Gak usah dipikiran, lah .... Gue udah gak mut dengan Melian. Banyak cewek lain yang mengejar-kejar diriku .... Ngapain cari cewek yang gak ada artinya ...." jawab Kim Bo yang tentu tidak mau urusan lagi.


    "Lhoh ..., kok gitu ...?!" mendengar jawaban itu, tentu Putri langsung kaget.


    "Elo, tau kan .... Sehari saja gue bisa ganti cewek lima kali, Putri .... Hehehe ...." jawab Kim Bo yang tentu di luar dugaan Putri.


    Deg ...! Putri seperti dihantam jantungnya. Kaget mendengar jawaban Kim Bo. Ternyata cowok ini memang suka mempermainkan wanita dengan harta bendanya. Berarti apa yang dikatakan Melian dulu itu benar adanya. Tetapi mengapa Putri sudah lebih percaya kepada cowok begundal itu?

__ADS_1


    Putri langsung berusaha menelepon Melian. Rasa penyesalannya sangat-sangat menyelubungi hatinya. Ia kecewa dengan tingkah laku yang dilakukan oleh Kim Bo yang tentu sudah membohonginya. Kecewa dengan Kim Bo yang sudah menghancurkan persahabatannya dengan Melian. Dan Putri tentu sangat kehilangan teman yang sangat baik, yang selama ini selalu melindungi dirinya.


    Berkali-kali Putri menghubungi nomor HP Melian. Tetapi benar-benar tidak bisa dihubungi. Operator selalu mengatakan, "Maaf, nomor yang Anda hubungi sedang tidak aktif. Cobalah beberapa saat lagi." Sampai Putri jengkel sendiri karena Melian tidak bisa ditelepon. Di SMS juga tidak pernah dibaca. Bahkan BBM juga tidak ada respon. Benar-benar sudah diputus oleh Melian. Hingga tanpa terasa, Putri sudah sesenggukan menangis di tempat tidur. Hingga akhirnya terlelap.


    Pagi harinya, saat pergi ke kampus, Putri menemui Wijaya. Di kampus Fakultas Ekonomi, tempat Wijaya berkuliah. Tentu ingin menyampaikan masalah Melian.


    "Wi .... Aku semalem nelpon Melian kok gak pernah direspon, ya ...." kata Putri pada Wijaya.


    "Sudahlah, Put .... Tidak usah mikirin Melian terus ...." jawab Wijaya.


    "Tapi Kim Bo itu pembohong, Wi .... Dia sudah menyebabkan putusnya persahabatanku dengan Melian ...." kata Putri lagi pada cowoknya.


    "Bohong gimana ...? Kim Bo itu orangnya baik, ya .... Kamu lihat sendiri kan, setiap kali dengan cewek-ceweknya dia selalu bagi-bagi uang .... Bahkan cewek-cewek yang bersamanya, mau minta apa saja dibelikan .... Masih kurang apa lagi Kim Bo itu ...? Melian-nya saja yang nggak gaul ...." jawab cowoknya.


    "Ih .... Itu si Kim Bo berbohong, bilang kalau dikeroyok orang-orang suruhan Melian .... Bahkan ia juga bilang kalau Melian nyuruh orang ngrampok dirinya .... Saya yakin Melian gak pernah dan gak bakalan mau seperti itu. Itu semua kebohongan-kebohongan Kim Bo, agar kita percaya dan menganggap kalau Melian itu orang jelek ...." kata Putri lagi.


    "Putri .... Itu kenyataan. Itu fakta .... Kalau Melian memang orang jelek, gak usah ditutup-tutupi. Kim Bo itu sudah menunjukkan kepada kita. Itu artinya memang kita harus menjauhi Melian. Bersyukurlah kamu, kalau Melian sudah pergi dari asrama dan tidak bersama kamu lagi ...." kata Wijaya yang justru menganggap kalau Melian memang pantas menjauhi Putri.


    "Lhoh ..., kok begitu ...?! Jadi kamu tidak senang ya kalau aku dekat dengan Melian ...?! Perlu kamu tahu ya, Wi ..., Melian itu orang baik, dia sudah berhasil memberdayakan masyarakat, dan dia itu sudah mendapatkan berbagai penghargaan dari pemerintah maupun pihak-pihak swasta. Tidak seperti Kim Bo yang hanya menghambur-hamburkan kekayaan orang tuanya dengan hal-hal yang tidak berguna." kata Putri yang tentu tetap menunjukkan prestasi Melian.


    "Lhoh ..., kamu kok malah membela Melian ...?!" Wijaya gusar.


    "Ya iya, lah .... Memang kenyataannya begitu ...." sahut Putri.


    Putri langsung terdiam. Begitu dibentak untuk memilih, jantung Putri langsung bergetar. Seakan berhenti untuk beberapa saat. Pasti hati Putri langsung terasa sakit. Putri pun langsung menunduk karena merasa sudah disakiti oleh Wijaya. Laki-laki pertama tempat pencurahan isi hatinya, kini tiba-tiba membentak. Bahkan akan meninggalkannya jika dirinya masih ingin berteman dengan Melian. Sungguh keterlaluan. Padahal Putri sudah menyerahkan segalanya demi cintanya. Kenyataannya, begitu mudah Wijaya mengatakan putus.


    Tanpa disadari oleh Putri, saat ia menunduk karena hatinya terasa disayat sembilu, sakit yang amat sangat terlalu, ternyata Wijaya sudah pergi meninggalkan dirinya.


    "Wi ...!! A Wie ...!! Wijaya ...!!" Putri berteriak memanggil pacarnya yang pergi begitu saja meninggalkan dirinya.


    Tetapi, Wijaya tak menghiraukan. Ia terus pergi. Pasti tidak urus lagi dengan Putri. Yang penting bagi dirinya sudah mendapatkan kenikmatan yang diharapkan dari Putri.


    Putri yang sudah sangat kecewa, mau tidak mau harus meninggalkan tempat itu, menuju ke ruang kuliahnya di ruang jurusan Manajemen Bisnis. Jalannya gontai tanpa daya. Membawa hati yang hancur. Hati yang remuk dan penuh kekecewaan ditinggal begitu saja oleh pacarnya. Seakan dicampakkan seperti tiada arti. Ini mungkin yang dimaksud oleh peribahasa, habis manis sepah dibuang.


    Namun saat sampai di depan ruang jurusannya, Putri berhenti. Bahkan menepi. Ada ramai-ramai di depan ruangan para dosennya.


    "Melian ...!! Melian ...!! Melian ...!!" para mahasiswa dari jurusan Manajemen Bisnis, dari berbagai angkatan berteriak-teriak menyebut nama Melian. Bahkan ada juga beberapa mahasiswa dari jurusan lain. Seperti sedang melakukan demo. Penuh sesak dan sangat riuh.


    "Hidup Melian ...!!" teriak salah seorang yang mungkin menjadi pimpinannya. Ya, dia komting kelasnya Melian.


    "Hidup ........!!!" teriak yang lainnya menyambut teriakan sang komting.


    "Hidup Melian ...!!"

__ADS_1


    "Hidup ........!!!"


    Putri yang semalam sudah menelepon Melian berkali-kali tidak diangkat, tentu ingin tahu tentang apa yang dilihatnya saat ini. Pastinya ingin tahu, ada apa Melian? Maka Putri langsung mendekat, meski hanya bisa berada di belakang.


    "Ada apa sih, ini ...?" tanya Putri pada mahasiswa yang ikut ramai-ramai dan beryel-yel menyebut-sebut nama Melian.


    "Kamu belum tahu ...? Kamu kan temannya Melian?" kata mahasiswa yang ditanyai.


    "Belum .... Melian sudah pindah dari asrama .... Saya tidak tahu, betul ...." jawab Putri yang tentu menyesal tidak tahu ramai-ramai yang terjadi di depan jurusannya.


    "Melian mendapat penghargaan, diundang Pak Presiden, diacara kenegaraan ...." jawab mahasiswa itu.


    "Penghargaan apa ...?" tanya Putri lagi.


    "Banyak .... Itu ..., di depan ada panduknya .... Baca sendiri. Pokoknya hari ini jurusan kita sedang bersenang-senang menyambut keberhasilan Melian." jawab mahasiswa itu lagi.


    Putri tidak bisa berkata-kata apa-apa lagi. Kekagumannya tentang Melian, yang minggu lalu telah terbuang, kinimulai muncul kembali. Apalagi saat semalam ditelepon mamanya, yang mengatakan kalau Melian adalah anak yang baik, hari ini benar-benar terbukti. Hampir seluruh mahasiswa satu jurusan terjun ke depan kampusnya, mengelu-elukan kehebatan Melian. Tentu Putri akan malu saat nanti ketemu Melian. Ia sudah terlanjur menyakiti sahabatnya itu, bahkan menyebabkan Melian pergi meninggalkan asramanya. Dan kini, ia harus mengakui kebaikan dan kehebatan Melian itu.


    Putri sudah memutuskan, untuk ikut bergabung dengan para mahasiswa yang ramai-ramai berorasi di depan kampusnya. Putri ikut berteriak-teriak mengucapkan yel-yel yang mengelu-elukan Melian.


    "Hidup Melian ...!!" teriak si komting itu lagi. Laki-laki dengan badan besar dan suara lantang.


    "Hidup ........!!!" teriak yang lainnya menyambut teriakan sang komting.


    "Hidup Melian ...!!"


    "Hidup Melian ........!!!"


    "Horeeee .......!!!"


    "Melian ....!! Selamat, ya ....!!"


    Teriakan itu semakin ramai. Bahkan mereka pada bergerak mendekat ke ruang jurusan, saat Melian keluar dari ruang jurusan, setelah selesai menerima sambutan dari para dosen dan ketua program studi. Teman-temannya ingin mengucapkan selamat. Teman-temannya ingin bersalaman. Bahkan ada yang berniat mengangkat tubuh Melian untuk dilempar-lemparkan ke atas, layaknya kejuaraan di sepak bola piala dunia. Tapi beruntung ada yang tidak mau karena takut jatuh. Maka mereka hanya berdesakan memberi ucapan selamat dan menyalami Melian.


    Putri yang berusaha mendekat, sangat kesulitan untuk menembus rapatnya barisan teman-temannya. Ingin sebenarnya, bagi Putri untuk memberi ucapan secara khusus sebagai seorang sahabat. Paling tidak bisa memeluk atau mencium Melian. Namun sayang, para mahasiswa yang lain, tidak mau disibak barisannya oleh Putri yang ada di belakang. Putri pun tidak sanggup untuk menyalami Melian.


    "Melian ........!!" Putri berteriak keras, dengan harapan Melian akan mendengar dan melihat Putri.


    Namun sayang, Melian tidak memandanginya. Bahkan seakan tidak menghiraukan. Hingga Melian masuk ke dalam mobil milik kampus. Mobil rektorat. Melian akan ke rektorat, diundang oleh rektor. Setidaknya akan mendapat ucapan selamat dri rektor.


    Teman-temannya terus mengerubungi dan terus meneriakkan yel-yel. Hingga mobil rektorat itu keluar dari halaman parkir.


    Putri kembali kecewa. Melian sudah tidak lagi menghiraukannya. Putri menyesal, kenapa kemarin-kemarin hari ia menyakitinya. Kini, kembali sakit rasa hati Putri, setelah tidak sanggup menyalami sahabatnya. Tanpa terasa, air mata sudah berlinang di pipinya.

__ADS_1


__ADS_2