GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 124: ADA YANG ANEH


__ADS_3

    Melihat kembali apa yang ada di vila milik Pak Pieter, setelah peristiwa kematian tiga remaja.


    Dari RSUD, Pak Pieter yang naik mobil sedan putih bersama sopirnya. Di depan mobil yang dikemudikan oleh sopir Pak Pieter, melaju cukup kencang mobil polisi. Kada kala membunyinkan sirine. Pertanda mobil itu harus diberi jalan. Polisi-polisi itu akan menunjukkan bukti-bukti yang ada di dalam vila Pak Pieter. Tentu sebagai bukti kalau kematian itu adalah over dosis.


    Setelah sampai di halaman vila, Pak Pieter turun dari mobil, langsung menatap ada mobil Feroza di garasi vila itu. Bukan milik anaknya. Demikian juga polisi yang sudah menghentikan mobilnya lebih dulu. Dua orang polisi itu langsung menuju teras vila.


    Di teras vila sudah ada dua petugas dari kepolisian. Tentu petugas-petugas ini mengumpulkan bukti-bukti sebagai pelengkap laporannya.


    "Selamat pagi, Ndan ...." polisi yang sudah berada di vila itu langsung menghormat, lalu memberi salam kepada polisi yang baru datang, yang pasti pangkatnya lebih tinggi.


    "Ini bukan mobil anak saya ...." kata Pak Pieter kepada polisi yang ada di situ.


    "Nanti akan kami lakukan penyelidikan, Pak .... Mari silahkan masuk. Banyak bukti yang harus Bapak lihat." kata petugas kepolisian yang mengenakan pakaian preman, bahkan rambutmuya agak gondrong dan dikucir itu.


    Empat orang polisi mendampingi pemilik vila tersebut, untuk menyaksikan ruang dalam yang menjadi fokus penyelidikan.


    "Ini, Pak .... Barang-barang bukti belum tersentuh." kata polisi yang dipanggil komandan itu kepada Pak Pieter pemilik vila tersebut.


    "Yaampun ......... " Pak Pieter langsung geleng-geleng, pasti heran dengan apa yang dilihatnya.


    Tentu Pak Pieter kaget saat menyaksikan ruang keluarga yang berserakan. Di meja masih ada botol-botol minuman keras. Cukup banyak. Dan jenisnya juga bermacam-macam. Gelas-gelas juga pada mengguling di meja itu. Di situ juga masih ada kacan oven satu plastik. Kulit kacang itu juga berserakan.


    Di lantai lebih parah kondisinya, karena kulit kacang yang berserakan dan botol-botol minuman keras yang bergelimpangan tidak karuan. Bahkan ada gelas yang menggeletak di lantai. Bau menyengat masih sangat menusuk hidung.


    "Lihat yang itu, Pak .... Bungkusan plastik kecil di atas meja itu termasuk obat-obatan terlarang. Plastiknya sudah terbuka, berarti ada yang dikansumsi. Itu menambah berat nge-fly-nya, Pak ...." tandas polisi yang menunjukkan butiran-butiran pil dalam plastik kecil.


    "Ya ampun ......" Pak Pieter geleng-geleng kepala, menyesali apa yang dilakukan anaknya.


    "Minuman sebanyak ini, untuk tiga anak terlalu banyak, Pak .... Apalagi ditambah baby king (nama jenis pil koplo) ....Makanya saya meyakini kalau mereka over dosis." kata polisi itu lagi.


    "Mari, Pak .... Tempat kematiannya di kamar ...." salah satu polisi mengajak pemilik vila itu menuju kamar.


    Pak Pieter mengikuti dua polisi yang sudah melangkah menuju kamar. Lantas masuk ke kamar tempat terjadinya kematian.


    "Di sini, Pak .... Ini tempat mayat pertama .... Tergeletak di lantai ini. Yang dua ada di kasur. Ini kondisi kasur masih seperti semula. Belum ada perubahan." kata petugas polisi yang menunjukkan tempat-tempat tergeletaknya mayat-mayat.


    "Ya ampun ......." Pak Pieter kembali menggeleng-gelengkan kepala.


    "Ini pakaian-pakaian mereka .... Masih tergelatak utuh, belum ada yang menyentuh." kata polisi yang tadi menunjukkan posisi tempat mayat.


    Polisi itu menunjukkan pakaian-pakaian yang berserakan. Ada yang tergeletak di kasur, ada yang tercecer di kursi, ada pula yang tersebar di lantai. Baju, kaos, celana panjang, juga palaian dalam. Semuanya berserakan. Pasti membuat kepala Pak Pieter semakin pusing membayangkan kejadiannya.


    "Kenapa pakaian mereka pada dilepas semua?" tanya Pak Pieter yang tentu sangat terpukul dengan kejadiannya.


    "Kami menemukan mayat-mayat tiga anak itu sudah dalam keadaan telanjang, tanpa busana. Tetapi setelah kami selidiki, tidak ada tanda-tanda aktivitas kelakuan menyimpang ataupun persetubuhan lainnya. Kami tidak menemukan adanya tanda-tanda melakukan hubungan. Tidak ada bukti cairan ataupun lendir apapun. Semuanya bersih. Artinya mereka tidak melakukan pesta foya-foya dengan perempuan." kata polisi yang bertugas itu menjelaskan.


    Pak Pieter yang menyaksikan keadaan kamar itu semakin prihatin. Ngenas memikirkan perbuatan anaknya, yang tentu sudah mencoreng keluarganya. Dan tentu sangat memalukan. Pasti nanti koran-koran akan menyebarkan berita itu, dan tentu kolegan maupun masyarakat akan membaca berita yang sangat memalukan itu. Hancurlah hati dan perasaan Pak Pieter.

__ADS_1


    "Bagaimana, Pak Pieter ...? Apakah kasusnya akan ditutup?" tanya komandan polisi itu.


    "Sebaiknya ditutup saja. Saya sudah bisa menerima kenyataan. Dan mohon izin, saya harus segera kembali ke rumah untuk mengurus segalanya." kata Pak Pieter lemas dan berat.


    "Baik, Pak Pieter .... Mohon tanda tangani berkas ini, kami akan menutup kasus ini atas permintaan dari pihak keluarga." kata komandan polisi yang membawa map berisi berkas, untuk ditanda tangani oleh pihak keluarga.


    Setelah menandatangani berkas, Pak Pieter tentu ingin vilanya dibersihkan.


    "Apa boleh ruangan ini dibersihkan?" tanya Pak Pieter pada petugas polisi.


    "Karena pihak keluarga sudah menyatakan kasusnya dihentikan, maka kami serahkan sepenuhnya vila ini kembali kepada pemilik. Di kemudian hari Bapak sudah tidak boleh mengajukan tuntutan lagi. Dan semoga tidak ada masalah apa-apa. Silahkan kalau memang harus segera dibersihkan." kata petugas dari kepolisian.


    "Pak Jan ......!!" Pak Pieter berteriak memanggil orang yang dipasrahi.


    "Nggih, Pak ...." Pak Jan yang sudah ada di luar vila langsung masuk.


    Di luar vila sudah banyak para warga yang ingin menyaksikan, pasti mereka ingin tahu. Ada yang dari pertama kali ke situ, belum pulang. Walau mereka tidak boleh masuk ke vila, setidaknya kasak kusuk dan cerita-cerita kemungkinan, pasti menjadi bahan pembicaraan mereka.


    "Pak Jan .... Tolong vila ini dibersihkan." kata Pak Pieter yang menyuruh orang yang dipasrahi mengurus vila itu.


    "Nggih, Pak .... Siap." jawab Pak Jan sambil membungkukkan badannya.


    "Pak Jan .... Nanti kalau kami butuh keterangan tambahan, saya ke Pak Jan, ya ...." kata polisi yang juga memesan kepada Pak Jan, yang dianggap sebagai orang yang bertanggung jawab atas vila itu.


    "Ya, Pak .... Siap." sahut Pak Jan lagi.


    Dua polisi yang tadi bersama dari RSUD, langsung masuk ke mobil dinasnya. Keluar dari halaman vila, dan langsung turun ke arah Bandungan. Sementara satu polisi lagi, membawa mobil Feroza yang terparkir di garasi vila, pasti akan dibawa ke kantor Polsek, untuk diamankan. Sedangkan polisi yang satu lagi menghidupkan motor, naik motor sendirian.


    Pak Pieter lagi-lagi memesan kepada Pak Jan, yang tentunya juga agak marah, kerena sudah kecolongan anaknya yang membawa teman-temannya mabuk-mabukan di vilanya.


    Pasti Pak Jan yang dimarahi hanya bisa menjawab "Nggih" sambil membungkuk-bungkukkan badannya. Bagaimapun juga, Pak Jan sudah bersalah. Apalagi sampai ada yang datang dan masuk ke vila tanpa sepengetahuan Pak Jan. Padahal vila itu dipasrahkan ke dirinya untuk menjaga dan membersihkannya.


    Pak Pieter langsung menuju mobil sedan putih. Meminta sopirnya untuk memutar mobil. Lantas mengajak pulang. Pasti Pak Pieter ingin segera pulang, karena harus mengurus persiapannya di rumah duka. Maka sopir sedan putih itu pun langsung melajukan mobilnya. Keluar dari halaman vila tanpa terdengar suaranya saking halusnya mobil itu, dan langsung bablas menuju Semarang.


    Pak Jan melepas kepergian majikannya, dari gerbang, hingga mobil sedan putih itu hilang tidak terlihat lagi.


    "Bagaimana, Pak Jan?"


    "Iya, Pak Jan .... Bagaimana?"


    "Kasusnya apa?"


    "Apa ada pembunuhan?"


    "Siapa yang jadi tersangka?"


    "Pembunuhnya siapa?"

__ADS_1


    Tentu setelah para polisi dan pemilik vila itu pergi, para warga yang tadi pada melihat dari pagar, langsung menggeruduk Pak Jan, menanyai dengan berbagai pertanyaan, ingin tahu kejadian yang sebenarnya.


    "Over disis ...!" jawab Pak Jan tegas.


    "Oooo ...." orang-orang kampung itu langsung paham.


    "Do mabuk-mabukan, to?"


    "Cah enom-enom ya ngono kuwi .... Senangnya minum-minum ...."


    "Lha kalau sudah njedet gitu itu ..., hayo bablas sak nyawane ...."


    Para warga pun langsung berseloroh macam-macam. Tentu menyalahkan orang yang suka minum-minum. Lantas satu persatu pulang meninggalkan lokasi vila tersebut.


    Pak Jan yang hanya ditemani istri dan anak-anaknya, langsung membersihkan vila itu. Terutama membersihkan bagian ruang keluarga yang berceceran sampah kulit kacang dan plastik serta botol-botol bekas minuman. Minuman keras yang masih utuh dibawa oleh polisi.


    Anaknya juga ikut membantu menyapu lantai. Rencananya nanti akan dipel bersih, dengan cara dikosek pakai sapu.


    "Pak ..., membersihkan kamarnya sama Pak-e, ya .... Saya takut ...." kata istrinya yang tentu berdiri bulu kuduknya saat mau masuk ke kamar, tempat meninggalnya tiga remaja tadi.


    "Ya, bareng-bareng saja ...." jawab Pak Jan yang langsung menuju kamar, menemani istrinya.


    Pakaian yang berserakan itu langsung diambil satu persatu, dimasukkan dalam karung. Mulai dari celana, kaos dan pakaian-pakaian lainnya. Baik yang berserakan di lantai maupun di tempat tidur. Istrinya yang menjumputi pakaian-pakaian itu, Tentu agak miris, karena pakain itu milik anak-anak yang meninggal di situ.


    "Pak ..., ini kok aneh ya, Pak ...." tanya istrinya.


    "Ada apa to, Mbok ...?" tanya Pak Jan yang langsung mendekat ke tempat istrinya yang masih mengambili pakaian.


    "Ini lho, Pak .... Ini kan celana wanita .... Lha ini kan kotang ***** milik wanita ...." kata istrinya sambil menunjukkan pakaian milik wanita.


    "Lhoh ..., kok ...??!!" tentu Pak Jan juga berpikiran yang tidak-tidak. Tetapi karena kasusnya sudah ditutup oleh Pak Pieter, maka menurutnya tidak perlu dilaporkan lagi. " Sudah, Mbok ..., pokoknya masukkan ke bagor saja. Kita tidak usah ngulik-ulik .... Nanti malah berurusan dengan polisi .... Berat, Mbok-ne ...!" kata Pak Jan yang tidak mau berurusan.


    "Ya, Pak-ne .... Tapi menurut saya, kok ada yang aneh ...." sahut istrinya.


    "Sudahlah .... Kita tidak tahu maslahnya. Ini urusan polisi. Yang penting kita bersihkan saja." kata Pak Jan pada istrinya, yang tentu dirinya lebih merasa ketakutan, karena sunah pernah dibentak polisi, kalau sampai ada apa-apa dirinya bisa jadi tersangka dan dipenjara. Itu yang membuat Pak Jan ketakutan.


    Memang jika melihat ada pakaian wanita, berarti sebenarnya semalam ada wanita yang berada di kamar itu.  Tetapi siapa dan di mana wanita itu. Kenapa tiga remaja laki-laki meninggal, sedangkan wanitanya tidak ada?  Apa tiga laki-laki itu dibunuh oleh si wanita? Tapi mengapa kalau hanya satu wanita, mosok tiga laki-laki kalah. Tidak masuk akal.


    "Pak ..., sebenarnya tamu vila tadi malam itu ada berapa? Kok gelasnya ada lima?" tanya anak perempuannya yang membantu mencuci gelas di dapur.


    "Tiga orang, Nduk .... Mati semua ...." jawab bapaknya.


    "Tiga orang kok ndadak pakai gelas lima .... ngotor-ngotori gelas." sahut anaknya yang ikut membantu bersih-bersih, tapi pasti mulutnya mencucu karena jengkel.


    "Yang sabar, Nduk .... Ini semua kan juga demi kamu .... Bayarannya Pak-e kan juga untuk kamu ...." kata bapaknya menyabarkan anaknya.


    "Iya, Pak .... Tapi kok aneh, gitu lho ...." sahut anaknya.

__ADS_1


    Ya, memang istrinya sudah menemukan keanehan. Anaknya juga menemuka keanehan. Bahkan anak laki-lakinya, meskipun masih sekolah SMP, ia bisa mengamati bukti yang janggal. Anak itu juga menemukan keanehan di garasi, ada bekas roda motor, yang meninggalkan jejak lumpur tanah yang tertinggal. Namun akhirnya, keanehan-keanehan itu hanya menjadi rahasia keluarga Pak Jan. Tentu karena mereka tidak mau berurusan dengan masalah hukum. Yang penting vila itu sudah kembali bersih. Pak Jan pun sudah mengunci pintu-pintunya, seperti telah mengunci rahasia keanehan yang mereka temukan.


__ADS_2