
Sepulang dari Surabaya, setelah tahu jika anaknya ternyata tidak mengalami kecelakaan, tentu Pak Bos marah-marah, jengkel, menggerutu, mgomel-ngomel tidak karuan. Ia merasa dikerjai orang. Ia merasa ditipu. Ia merasa dibohongi.
"Kurang ajar .... Berani sekali orang ini ngerjai kami ...." begitu gerutunya.
Maka Pak Bos langsung gusar, mencari orang yang berani menelepon ke rumah Pakde, dan berbohong mengatakan kalau anaknya mengalami kecelakaan. Ia ingin menemukan, siapa yang sudah berani telepon bohong itu. Dan tuduhan pertama ternyata, ternyata mengarah ke Jamil.
"Pasti ini kerjaan Jamil ...." gumam Pak Bos yang langsung menuduh Jamil.
Pak Bos tentu beralasan. Perusahaan yang kini dtiangani Jamil akan diminta kembali oleh Pak Bos. Kemarin hari, Jamil sudah didatangi, dan diancam akan dikeluarkan dari perusahaan. Bahkan di ruang tamu para pelanggan, Pak Bos sudah sempat bersitegang dengan Jamil dan para karyawan. Dan sepulang dari tempat itu, ada telepon bohong yang mengaku-aku sebagai polisi dan mengatakan kalau anaknya mengalami kecelakaan. Itu pasti kerjaan orang yang tidak suka pada dirinya, yang lantas menggandeng-gandengkan dengan keluarganya. Siapa lagi kalau bukan Jamil yang melakukannya.
"Ini tidak bisa dibiarkan ...." gumam Pak Bos lagi.
Serta merta, Pak Bos mendatangi perusahaan Bima Sakti. Tentu dengan watak amarahnya.
"Jamil ...!! Jamil ...!!" Pak Bos berteriak keras memanggil Jamil dari depan toko kerajinan itu.
"Ada apa. Pak ...? Masuk dulu ...." sambut Mbak Ika yang memang bertugas berjaga di toko itu.
"Mana Jamil ...?!! Kurang ajar ...!!" tanya Pak Bos dengan nada marah.
"Saya panggilkan dulu, Pak ...." kata Ika yang langsung menuju belakang, bagian tempat kerja Jamil.
Di tempat finishing yang bersebelahan dengan ruang packing, Jamil sedang mengamplas barang-barang hasil produksi, bersama beberapa karyawan yang lain. Mbak Ika masuk dan memberitahu ke Jamil.
"Pak Jamil .... Dicari Pak Bos ..., itu berteriak-teriak di luar memanggil Pak Jamil." kata Mbak Ika memberi tahu kepada pimpinannya.
"Ada apa lagi ...?" Jamil bertanya.
"Tidak tahu, Pak .... Kayaknya orangnya emosi." jawab Mbak Ika.
Jamil pun meletakkan pekerjaannya, Ia berdiri, dan melangkah ke depan. Dan setelah sampai di depan, di ruang toko, benar ada Pak Bos yang sudah bertolak pinggang.
"Jamil ...! Kurang ajar kamu, ya ...!!" Pak Bos itu langsung menyambut dengan kata-kata kasar.
"Maaf, Pak .... Ada apa? sebaiknya kita masuk dulu ke ruang dalam, biar nyaman dan tidak dilihat orang jalan." kata Jamil yang menyambut mantan majikannya itu. Tentu ia tidak nyaman dan merasa risih kalau ada yang berteriak-teriak marah di ruang tokonya. Nanti jika ada tamu atau pembeli, pasti tidak jadi beli karena takut ada yang marah-marah. Atau paling tidak, membuat suasana toko itu menjadi tidak baik.
"Tidak perlu ...!!" bentak Pak Bos itu yang masih berdiri bertolak pinggang menghadapi Jamil.
"Memang ada apa, Pak ...?" tanya Jamil yang tetap kalem dan tidak membalas dengan emosi.
"Jangan pura-pura tidak tahu, kamu, Mil .... Kamu sudah meneror keluarga kami ...!!" kata Pak Bos itu sambil jari tangan kanannya sudah menunjuk ke muka Jamil.
"Memangnya ada apa, Pak? Saya kok jadi bingung ..." kata Jamil yang tetap menjaga ketenangan, agar tidak bertambah ribut di tokonya.
__ADS_1
"Kemarin kamu nelepon Pakde .... Bilang kalau anakku mengalami kecelakaan. Kamu mengaku-aku sebagai polisi, biar kami percaya ...! Begitu kan ...!! Dan setelah kami ke Surabaya, jauh-jauh dengan rasa was-was karena anaknya mengalami kecelakaan, ternyata telepon itu bohong. Kamu sengaja ingin menyusahkan saya, kan ...?!!" tuduh Pak Bos itu yang meluap-luap emosinya. Bahkan telunjuk tangannya sudah menekan-tekan dahi Jamil.
Dueg! Dada Jamil bergetar. Ia kaget dituduh menelepon saudara Pak Bos itu. Pasti ini sebuah fitnah.
"Maaf, Pak ..., saya tidak menelepon siapapun .... Sepulang Pak Bos dari sini kemarin, kami tidak ada yang memegang telepon. Bahkan kebetulan kantor juga tidak ada telepon. Sungguh, Pak ...." kata Jamil menjelaskan kepada mantan majikannya itu dengan tetap tenang, meskipun sebenarnya hatinya sudah mulai emosi.
"Halah ...!! Jangan mungkir kamu, Jamil ...!!" kata Pak Bos yang langsung menekan jarinya di dahi Jamil itu. Maka mengakibatkan kepala Jamil terdorong ke belakang.
"Sungguh, Pak .... Saya tidak melakukan itu .... Tidak ada niatan saya untuk berbuat jelek ...." kata Jamil meyakinkan mantan majikannya itu.
"Kalau bukan kamu siapa lagi ...?!!! Di sini yang ada telepon cuman tempatmu ..., berarti benar apa yang saya duga, pasti kamu yang menelepon Pakde!!" kata Pak Bos itu lagi yang tetap menuduh Jamil.
"Ya ampun, Pak Bos .... Sungguh, Pak Bos .... Kami tidak melakukan hal itu .... Bahkan saya juga tidak tahu nomor teleponnya Pakde .... Bagaimana saya bisa meneleponnya, Pak?" kata Jamil yang mencoba menjelaskan.
"Halah ...!! Paling-paling kamu yang meneror ...!! Awas kalau sampai benar ..., jangan harap ampun kamu ...!!" kata Pak Bos itu lagi yang tetap menuduh Jamil, dan tentu mengancam. Lantas berbalik meninggalkan toko Jamil.
Jamil memandangi mantan majikannya yang berlalu meninggalkan tokonya, tentu dengan wajah gundah. Lagi-lagi, ada masalah dengan mantan majikannya tersebut.
"Kenapa, Pak ...?"
"Ada apa, Pak ...?"
"Apa lagi, Pak ...?"
Para karyawan yang tadi ikut nguping Pak Bos marah-marah kepada Jamil, kini pada keluar dan menanyakan masalah apa yang dimarahkan oleh mantan majikannya dulu itu.
"Tapi kok Pak Bas marah-marak pada Pak Jamil ...?" tanya karyawannya.
"Yah ..., namanya orang marah .... Mau marah di mana saja, kepada siapa saja ..., itu urusan dia. Namanya saja sedang dikuasai oleh nafsu setan, maka dia pasti melampiaskannya sesukanya ...." jelas Jamil pada karyawannya.
"Lhah, kok bilang kalau Pak Jamil meneror telepon keluarganya? Ceritanya bagaimana, Pak?" tanya karyawan yang lain, yang kini sudah pada keluar semua di toko. Padahal tadi waktu ada Pak Bos marah-marah, malah mumpet tidak berani keluar. Hanya Pak Jamil dan Ika yang menghadapi langsung.
"Iya .... Katanya saya menelepon Pakde, kakaknya dia, dirumahnya, mengatakan kalau anaknya, itu lho Mas Danang yang kuliah di Surabaya, mengalami kecelakaan .... Tentu mereka langsung khawatir. Namun waktu disusul ke Surabaya, ternyata Mas Danang tidak apa-apa ...." jelas Jamil.
"Lha kok marah .... Piye leh ...?!" kata karyawan yang lain.
"Ya jelas jengkel, to .... Sudah sangat khawatir, takut kalau terjadi apa-apa, dan mereka langsung menyusul ke Surabaya, ternyata anaknya yang dikabarkan kecelakaan itu tidak ngapa-ngapa .... Kan jengkel, sudah dikerjani sama yang menelepon ...." kata Jamil yang menjelaskan.
"Ooo .... Terus menuduh Pak Jamil yang menelepon pakdenya itu?" tanya para karyawan.
"Iya .... Kan yang dia tahu, yang punya telepon, yang ada telepon, itu cuma pabrik ini .... Makanya, Pak Bos langsung menuduh ke kita .... Bukan saya tok, lho .... Kita .... Berarti seluruh karyawan." jelas Jamil.
"Bukan saya, Pak ...."
__ADS_1
"Saya juga tidak .... Caranya nelepon bagaimana saja saya tidak bisa."
"Bukan saya, Pak ...."
"Lha yang biasa menggunakan telepon siapa?"
"Yang biasa telepon kan Mbak Ika ...." kata salah seorang karyawan.
"Eee ...., jangan nuduh saya, ya ...! Tidak bakal saya menelepon Pak Galak itu ...!" Ika langsung membantah.
Tentu para karyawan jadi gusar, siapa sebenarnya yang sudah melakukan telepon bohong itu.
"Halah, itu telepon penipuan ...." kata salah seorang karyawan tiba-tiba.
"Penipuan bagaimana?" tanya yang lain.
"Kemarin Pak Lurah tempat saya juga mengalami ditelepon seperti itu. Malah sudah memberikan uang ke yang telepon. Ternyata Pak Lurah tempat saya itu ditipu." jawab orang itu.
"Lha iya ..., nipunya itu bagaimana?" yang lain ingin tahu ceritanya.
"Jadi waktu itu, Bu Lurah yang menerima telepon. Katanya anaknya mengalami kecelakaan luka parah. Terus harus operasi di rumah sakit. Untuk biaya operasi itu, pihak keluarga harus transfer dulu sebagai jaminan operasi dan biaya dokter. Ya pasti Bu Lurah nangis jempling-jempling. Spontan Pak Lurah langsung bertanya kepada yang telepon. Dan akhirnya Pak Lurah langsung mau mentransfer uang ke bank." cerita salah satu karyawan itu.
"Terus ..., tahu kalau itu menipu bagaimana?" tanya yang lain penasaran.
"Lha ..., saat Pak Lurah pulang dari bank, ternyata anaknya Pak Lurah yang dikabarkan mengalami kecelakaan itu, sudah berada di rumah tidak apa-apa. Di rumah Pak lurah sudah banyak orang yang mengabarkan hal itu, tetapi kenyataannya, yang dibilang harus operasi itu orang sehat-sehat saja dan tidak mengalami kecelakaan. Pak Lurah yang pulang dari bank, kaget melihat itu. Baru sadar kalau dirinya ditipu. Ya sudah, Pak Lurah sudah kehilangan uang." cerita orang itu.
"Ooo .... Jadi ini telepon tipu-tipu, to .... Lha terus, Pak Bos apa juga sudah kena uangnya?" tanya karyawan yang lain.
"Belum .... Hanya merasa kecewa karena harus sampai ke Surabaya karena khawatir dengan anaknya ...." kata Jamil yang tadi sudah dimarahi oleh mantan bosnya.
"Oalah .... Lha wong ke Surabaya juga nengok anak, bisa ketemu dengan anak kok kecewa .... Piye leh ...." sahut para karyawan.
"Iya, ya .... Dia itu kok selalu menuduh orang tanpa bukti." sahut karyawan yang lain.
"Gak gitu, Pak Jamil .... Bapak kok diam saja dituduh seperti itu?" tanya Mbak Sri yang sebenarnya juga tidak rela menyaksikan perlakuan tidak baik itu.
"Tidak apa-apa, Mbak Sri .... Tuhan itu tidak tidur .... Gusti mboten sare .... Pasti nanti akan ada imbalannya masing-masing ...." jawab Jamil yang sebenarnya juga ingin membuat karyawannya itu tidak emosian.
"Lhah, yang susah itu kan membuktikannya kalau Pak Jamil memang tidak melakukan, Mbak ...." timpal yang lain, yang tentu bingung bagaimana cara membuktikan.
"Bisa saja .... Kita ke kantor telepon, lalu minta data siapa saja nomor-nomor yang menelepon ke tempatnya Pakde itu. Terutama pada hari, tanggal dan Jam saat Pakde menerima telepon yang menipu itu. Itu bisa dilacak ...." kata Ika yang tahu prosedur perteleponan, karena yang ngurus pembayaran telepon di kantor itu memang Ika.
"Ooo .... Bisa seperti itu, ya .... Jadi kita bisa tahu kalau ada teror itu telepon dari mana?" tanya teman-temannya yang lain, yang memang masih awam dengan barang yang namanya telepon. Maklum, mereka memang tidak punya telepon.
__ADS_1
"Ya, benar .... Waktu itu, Pak Lurah langsung lapor ke kepolisian. Dan langsung dicari .... Tapi katanya bukan orang sini. Yang telepon tipu-tipu itu orang luar kota." timpal karyawan yang menceritakan kejadian di tempat Pak Lurahnya.
Namun bagi Jamil, ini sebenarnya adalah masalah baru yang harus dihadapi. Karena bagaimanapun juga, mantan bosnya itu memang etikatnya tidak baik. Selalu ingin menyalahkan Jamil. Selalu ingin mencari kelemahan-kelemahan orang yang sudah mengambil alih perusahaannya itu. Apapun yang dikatakan Jamil, apapun yang dilakukan Jamil, menurut pandangannya adalah salah dan keliru. Tentu karena Pak Bos ini ingin kembali memiliki tempat usahanya yang sudah maju tersebut. Apalagi baru saja ada masalah di keluarga kakaknya yang juga menyangkut anak dan dirinya, maka wajar kalau Jamil langsung yang dituduh melakukan teror melalui telepon tersebut.