
"Halo, Cik Yen .... Ini Indra ...." kata Cik Indra saat menelepon temannya, yang bekerja di bank, dulu tempat ia bekerja.
"Hai, Cik Indra .... Waah ..., gimana ini kabarnya pengantin baru ...? Enak, nggak ...?!" sahut temannya yang ada di Semarang, yang tentu juga masih bekerja di bank tempat kerja Indra dulu. Tentunya mereka berteleponan menggunakan handphone masing-masing. Maklum pegawai bank, sudah mengalami kemajuan lebih dahulu. Apalagi bank swasta terkemuka. Jadi penampilan dan gaya harus mengimbangi para nasabahnya, Tentu sebagai prestise untuk lebih menarik minat nasabahnya. Pegawai yang cantik, pakaian yang menarik, serta penampilan yang serba wah, harus ditonjolkan untuk pelayanan prima pada sebuah bank swasta.
"Enak lah, yao .... Hehe .... Kalau gak enak, mana ada orang mau menikah .... Ayo buruan nikah .... Sayang kalau nggak cepet-cepet dinikmatin ...." sahut Cik Indra yang tentu memprovokasi temannya agar cepat-cepat menyusul menikah.
"Malam pertama bagaimana rasanya, Cik ...?" tanya temannya yang ditelepon itu.
"Enaknya cuman sedikit .... Tapi lainnya, Cik ..., uenak banget .... Hahaha ...." kata Cik Indra yang tentu menggoda temannya.
"Iih ..., bikin pengin aja .... Dasar Cik Indra ...." sahut temannya.
"Eh, Cik Yen .... Aku mau minta tolong, nih ...." kata Cik Indra yang memang tujuannya telepon ingin minta bantuan temannya.
"Apaan ...?" tanya temannya.
"Punya telepon dari nasabah-nasabah kita yang usahanya di jual beli perhiasan, nggak? Atau mungkin nama dan alamatnya ...? Tokonya juga nggak papa ...." tanya Cik Indra pada temannya.
"Buat apaan ...?! Mau borong perhiasan? Pasti mau dibelikan perhiasan sama suami kamu .... Siapa nama suami kamu ...? Aku lupa terus ...." sahut temannya itu, yang tentu pasti menduga akan beli perhiasan.
"Mas Irul .... Aku nggak mau beli, Cik Yen .... Tapi ini justru mau jual ...." jawab Cik Indra.
"Hah ...?! Masak pengantin baru kok malah mau jual perhiasan .... Kebalik, Cik ...! Di mana-mana tempat, yang namanya pengantin baru itu beli perhiasan, hadiah dari suaminya .... Ini kamu kok aneh, Cik ...?!" kata temannya yang tidak percaya dengan kata-kata Indra.
"Masalahnya ini mau dipakai modal untuk usaha, Cik Yen .... Jadi kami butuh uang untuk modal usaha, Cik ...." jelas Indra.
"Lhah ..., klo butuh modal ngapain jual perhiasan ...?! Ambil kredit di bank, lah ...." sahut Cik Yen.
"Mas Irul tidak mau utang .... Mas Irul itu hidupnya bersahaja, tidak mau macam-macam. Kata Mas Irul, hidup itu jangan membebani diri dan orang lain. Katanya, utang itu nanti akan dipertanggungjawabkan di akherat. Jadi, ia minta hidup itu secukupnya, jangan bergaya dan berlebihan, apalagi kalau harta bendanya hanya berasal dari uang utang. Itu tidak baik ...." Indra menjelaskan pada temannya kalau tidak diperbolehkan utang oleh suaminya.
"Walah .... Hebat sekali suami kamu .... Memang bisa hidup tanpa utang?" kata temannya yang tentu merasa heran. Di zaman yang serba susah ini orang tidak mau hutang.
"Yah ..., namanya prinsip hidup, Cik Yen .... Tapi kalau misalnya semua orang berprinsip seperti Mas Irul ..., wah, pasti dunia ini makmur." kata Indra yang memaklumi prinsip suaminya, bahkan ia sangat setuju setelah punya suami Irul. Jadi prinsip-prinsip perbankan yang ia geluti selama ini sangat bertolak belakang dengan prinsip hidup suaminya. Tetapi, justru Indra sangat terkagum dengan suaminya yang berprinsip hidup tidak mau hutang dan juga tidak mau menghutangkan.
"Oke, Cik Indra .... Ini ada bebarapa nama pengusaha yang bergerak di bidang perhiasan .... Aku kirim SMS, ya ...." kata temannya yang tentu tetap akan membantunya.
__ADS_1
"Ya ..., terima kasih Cik Yen ...." sahut Indra yang kemudian mengakhiri teleponnya.
Selang beberapa saat, Cik Indra menerima SMS dari temannya dari Semarang yang masih bekerja di bank. Tentu nama-nama pengusaha perhiasan, tokonya, serta nomor-nomor teleponnya. Itu menjadi referensi untuk dihubungi.
Sudah kelewat sepasar, saat pernikahan Indra dan Irul. Tentu ia sudah boleh keluar rumah. Namun orang tuanya tetap meminta, kalau bisa jangan pergi jauh-jauh. Setidaknya untuk bisa tinggal di rumah agak lama, sebagai obat rasa kengen dengan keluarganya. Dan tentunya, ibu mertuanya, sangat berharap menantunya yang cantik itu tetap tinggal di rumahnya. Pasti akan menjadi kebanggaan bagi keluarganya Irul, punya menantu yang cantik, baik dan rajin.
Namun yang namanya masih muda, Apalagi bagi Indra tinggal di desa adalah pengalaman yang baru dialami, tentu punya keinginan untuk jalan-jalan melihat kampungnya.
"Mas Irul ..., kita sudah boleh apa belum kalau jalan-jalan ke luar?" tanya Indra pada suaminya.
"Mau ke mana, Dek?" tanya Irul, yang tentu siap mengantar, walau hanya naik motor butut miliknya, yang sudah lama ditinggal di rumah orang tuanya.
"Malam Minggu, pengin jalan-jalan lihat suasana di Lasem, Mas .... Masak dapat nikah dengan orang Lasem kok belum pernah diajak keliling Lasem. Nanti sekalian mau beli pulsa handphone, sama lihat tempat yang ada wartel-nya. Soalnya rencana saya mau menelepon pengusaha-pengusaha perhiasan yang mungkin bisa saya hubungi untuk menawarkan berlian milik Mas Irul itu." jawab istrinya, yang tentu sudah sangat ingin melihat dunia luar. Maklum setelah habis menikah sampai hampir mau satu minggu, belum pernah keluar dari rumah mertuanya.
"Iya ..., nanti habis makan bersama Mak-e dan Pak-e, sekalian izin mau jalan-jalan. Bagaimana?" kata Irul yang tentu masih menjaga tata krama dengan orang tuanya.
"Iya, Mas ...." jawab Indra yang menurut suaminya.
Dan benar, setelah makan malam bersama, Irul mengajak istrinya jalan-jalan. Tentu menuju arah jalan raya ke Pasar Lasem. Ya, tempat yang paling ramai di Lasem. Maklum, Lasem hanyalah kota kecil di pinggir laut, hanya sebagai daerah perlintasan orang-orang menuju kota besar, seperti dari Jakarta, Semarang yang akan menuju Surabaya atau kota-kota besar di Jawa Timur. Kota Lasem bukan sebagai tempat tujuan orang bepergian. Apalagi yang tinggal di daerah pantai, hanya nelayan tradisional yang tinggal di sana. Sehingga, kalau hari sudah malam, maka daerah ini sepi.
"Kota Lasem kalau malam sepi, Dek ...." kata Irul sambil menyetir kendaraan, melintas di jalan menuju pusat kotanya Lasem.
Irul pun mengajak keliling istrinya, menyaksikan sudut-sudut Kota Lasem, mulai dari peninggalan cagar-cagar budaya bangunan kuno, yang kebanyakan peninggalan bangunan dari budaya Tiongkok. Oleh sebab itulah Lasem sering disebut dengan julukan Tiongkok kecil, karena memiliki lanskap bangunan-bangunan kuno seperti di negeri tirai bambu. Salah satu bangunan yang kini menjadi salah satu daya tarik wisata Lasem adalah Rumah Merah.
"Ini yang terkenal dengan sebutan rumah merah, karena bangunannya selalu dicat dengan warna merah. Biasanya sering dikunjungi oleh orang-orang keturunan Cina saat bepergian ke Lasem." kata Irul yang menjelaskan pada istrinya.
"Sayangnya kurang kerawat, ya ...." kata Indra yang tentu agak menyayangkan cagar budaya itu.
"Butuh dana besar untuk memperbaikinya .... Pasti pemerintah tidak sanggup mebiayai," sahut Irul.
"Kalau rumah yang katanya milik engkongnya Melian ada di mana, Mas?" tanya Indra pada suaminya.
"Ada di dekat pasar. Nanti akan saya ajak lewat ke sana. Kita ke alun-alun dulu, ya .... Ke pusat kotanya Lasem." kata Irul yang tentu ingin menunjukkan Kota Lasem pada istrinya, yang selama ini memang belum pernah diajak ke sana.
"Iya, Mas .... Aku ngikut saja .... Kan aku gak tahu apa-apa di sini." sahut istrinya yang hanya membonceng, dan tentu sambil melihat ke kanan kiri, untuk mengamati tempat-tempat yang dilewatinya.
__ADS_1
Irul pun terus melajukan kendaraannya, pelan-pelan ke arah alun-alun. Tentu setiap malam Minggu daerah itulah yang menjadi pusat keramaian warga Lasem. Tidak hanya sebagai tempat kegiatan perekonomian rakyat, tetapi juga sebagai tempat hiburan. Untuk refresing setelah seminggu capek bekerja.
"Mas ..., setop dulu, Mas Irul .... Itu ke Wartel .... Saya akan coba untuk menelepon orang-orang yang tadi sudah diberikan kontaknya oleh teman saya. Untuk menawarkan berliannya Mas Irul ...." kata Indra yang meminta suaminya untuk berhenti di depan Wartel (Warung Telepon), tempat telepon umum berbayar.
Irul langsung berhenti, tepat di depan Wartel. Tentu akan mengantar istrinya untuk telepon. Siapa tahu kalau memang rezeki, pasti akan berjodoh dalam tawar menawar. Dan tentu harapannya Irul keinginannya bisa terkabul.
"Selamat malam Pak Andi Ming .... Ini saya Indra, dulu pegawai bank tempat Bapak menjadi nasabah. Bisakah saya bicara sebentar, Pak?" kata Indra saat menelepon.
"Iya .... Saya masih ingat sama Cik Indra .... Bagaimana, ada apa, ya?" sahut laki-laki yang disebut dengan panggilan Pak Andi Ming itu.
Memang dulu Cik Indra waktu bertugas di bank, sangat baik dan ramah dengan semua pelanggan serta nasabahnya. Makanya banyak nasabahnya yang kenal dengan dia.
"Maaf mengganggu waktunya, Pak Andi Ming .... Ini kemarin saya dapat nomor Bapak dari teman saya di bank, saya ingin menawarkan permata ..., berlian, Bapak .... Barangkali Bapak berkenan, kapan saya bisa ketemu untuk memperlihatkan barangnya ...." kata Cik Indra pada orang yang ditelepon.
"Tempo hari waktu saya ke bank, juga diberitahu oleh pegawai di sana, Cik Yen .... Menceritakan ke saya juga tentang Cik Indra .... Termasuk mau menjual perhiasan ...." kata laki-laki yang ditelepon.
"Terima kasih, Bapak Andi Ming .... Sekiranya Bapak bisa bantu saya .... Kalau mungkin Bapak kurang berminat, bisa bantu saya untuk menawarkan kepada teman Bapak yang mungkin mau ...." kata Indra yang tentu langsung meminta bantuan.
"Untuk apa barang berharga kok dijual? Apa tidak sayang ...?" tanya laki-laki yang ditelepon.
"Untuk modal usaha, Pak .... Maklum, saat ini kami lebih butuh uang untuk modal. Rencananya mau buat beli kios, Pak." jawab Indra yang memang sangat membutuhkan uang. Tentu karena ia sudah tidak bekerja, dan mestinya harus punya kegiatan. Setidaknya membuka toko agar punya aktivitas.
"Oke, lah .... Bagaimana kalau besok Senin kita ketemu? Langsung saja ke toko saya di Kranggan." kata laki-laki yang ditelepon.
"Siap, Pak Andi Ming .... Saya akan ke toko Bapak." kata Indra yang langsung tersenyum.
"Gimana Dek ...?" tanya Irul yang tentu ingin tahu.
"Besok Senin kita ke Semarang, Mas .... Kita akan menawarkan permata itu pada Pak Andi Ming. Pengusaha perhiasan di Toko Emas Kranggan." kata Indra yang tentu sudah merasa senang, keinginannya akan terkabulkan.
"Alhamdulillah ...." sahut Irul yang juga tersenyum senang.
"Sebentar, Mas .... Saya mau beli pulsa HP, siapa tahu nanti ada telepon atau SMS. Kalau habis tidak bisa komunikasi lagi, Mas ...." kata Indra yang membayar telepon dan juga membeli pulsa handphone.
Selanjutnya, dengan penuh senyum mereka kembali berboncengan, melintasi Kota Lasem, menikmati enaknya jalan-jalan di masa pengantin baru.
__ADS_1