
"Halo, Melian .... Gimana kabarmu, Nduk ...?" kata Juminem saat menelepon anaknya.
"Mak-e ...! Melian kangen, Mak .... Melian di Jakarta baik-baik saja ...." jawab Melian yang tentu rindu pada ibunya. Akhir-akhir ini Melian memang agak jarang menelepon bapak maupun ibunya. Mungkin karena kesibukan ngurusi warga pemulung yang menjadi binaannya.
Tapi beruntung orang tuanya mau mengerti saat Melian menceritakan kalau dirinya kini membantu memberdayakan para pemulung. Bahkan Jamil, bapaknya Melian, ikut senang dengan aktivitas anaknya tersebut. Setidaknya bisa memahami dan membantu warga miskin. Tentu Jamil ingat tentang latar belakangnya dahulu, yang memang berasal dari rakyat jelata yang lebih sering mengalami kekurangan.
"Mak-e juga kangen, Nduk .... Kapan pulangmu, Nduk ...?" tanya ibunya.
"Nanti, Mak .... Kalau liburan semester. Ini Melian tinggal nyusun skripsi saja, kok .... Doakan cepat rampung ya, Mak ...." kata Melian pada ibunya.
"Iya, Nduk .... Eh, Nduk ..., kemarin Mas Irul telepon Pak-e .... Katanya Mas Irul, Melian masuk tivi .... Apa benar, Nduk? Acara apa. to ...?" tanya ibunya pada Melian, ingin memastikan kabarnya.
"Iya, Mak .... Itu lho, masalah pemebrdayaan masyarakat kampung kumuh di Jakarta .... Berarti Mas Irul pas nonton acaranya itu ...." jawab Melian.
"Acara apa itu, Nduk ...? Bukan sinetron, ya ...?" tanya ibunya lagi.
"Cuma wawancara dengan wartawan kok, Mak .... Bukan filem apa sinetron itu ..., bukan, Mak ...." jawab Melian.
"Ooo .... Saya kira kamu itu jadi bintang filem sinetron gitu lho, Nduk .... Hehehe ...." sahut ibunya, yang tentu berbeda tanggapannya kalau orang masuk televisi, dikiranya jadi bintang filem.
"Iih ..., Mak-e itu lho .... Pak-e mana, Mak?" Melian menanyakan bapaknya.
"Ini ..., di samping Mak-e .... Telepon bareng, Nduk ...." sahut ibunya, yeng tentu langsung menyerahkan HP kepada Jamil.
"Halo, Nduk .... Gimana kabarmu? Sehat kan ...?" tanya bapaknya.
"Baik, Pak .... Saya sehat-sehat saja ...." jawab Melian.
"Itu ceritanya Mas Irul, katanya kamu dapat penghargaan itu apa benar, Nduk ...?" tanya bapaknya.
"Betul, Pak .... Itu penghargaan untuk warga Kampung Transformer .... Kebetulan yang yang mewakili." jawab Melian.
"Jan-jane ..., itu kampung apa to, Nduk?" tanya bapaknya yang tentu ingin tahu.
__ADS_1
"Itu dahulunya kampung kumuh, Pak .... Kampung itu tempat tinggal para pemulung. Jadi rumahnya hanya terbuat dari gardus atau triplek .... Ya, semacam gubug emplek-emplek itu .... Nah, saya dengan teman-teman, mengajak para warga untuk merubah perkampungan itu menjadi kampung yang indah, bagus dan menarik. Sekarang ramai dikunjungi wisatawan, Pak .... Pak-e sama Mak-e datang saja ke Jakarta. Nanti ke tempatnya Melian bersama teman-teman yang mengembangkan kegiatan di kampung itu ...." Melian menjelaskan kepada bapaknya.
"Walah .... Kamu hebat, Nduk .... Iya, Nduk .... Besok kalau kamu lulus, Pak-e, Mak-e dan Mas Irul mau nyusul kamu ke Jakarta .... Mau lihat kampung yang kamu bangun itu lho. Nduk ...." kata bapaknya yang tentu tertarik dan ingin segera menyusul anaknya ke Jakarta.
"Iya, Pak .... Besok ikut hadir saat Melian diwisuda .... Terus sama piknik keliling Jakarta ...." kata Melian yang tentu ingin orang tuanya menjenguk ke Jakarta.
Memang, selama kuliah di Jakarta, Jamil maupun Juminem belum pernah menjenguk anaknya yang ada di Jakarta. Jadi memang belum tahu sebenarnya keadaan Melian di Jakarta itu seperti apa. Kini hanya tinggal menunggu skripsi, dan sebentar lagi kalau Melian lulus, pasti akan diwisuda. Dan harapan Melian, keluarganya bisa menghadiri acara wisuda itu. Setidaknya, ibu bapaknya bisa menyaksikan anaknya diwisuda.
Memang bagi Juminem maupun Jamil, sekolah itu buta sama sekali. Dulu Juminem yang hanya lulus SD dari kampungnya, ya biasa-biasa saja. Begitu juga Jamil. Sekolah itu bukan urusan orang tua. Hanya anak yang tahu permasalahan sekolah. Mau naik kelas, tinggal kelas sampai kelulusan, itu anaknya saja yang berurusan dengan guru dan sekolahan. Bagi orang tua, pokoknya anaknya sudah sekolah. Walau hanya lulus SD, itu sudah cukup. Yang penting anak sudah bisa baca tulis dan berhitung.
Dan kini, saat Melian bisa sekolah sampai perguruan tinggi, menjadi mahasiswa, Jamil maupun Juminem juga tidak paham sekolahnya itu seperti apa. Bahkan yang dinamakan kuliah itu kayak apa, dua orang desa ini tidak tahu sama sekali. Mereka pasrah sepenuhnya pada Melian, anak kesayangannya yang memang dipandang pandai itu. Bagaimana cara belajar, apa tugasnya, dan lain sebagainya, Juminem maupun Jamil tidak pernah tahu. Masih lumayan waktu SMP dan SMA, setiap penerimaan rapor, orang tuanya dipanggil ke sekolah, yang menerima rapor orang tuanya. Tapi saat kuliah, orang tidak pernah mendapat panggilan ke universitasnya. Yang penting membayarnya lancar, sudah.
"Mas Irul pernah nelpon kamu apa tidak, Nduk ...?" tanya bapaknya.
"Tidak pernah, Pak .... Blas .... Dulu waktu masih ada Cik Indra, saya sering SMS dan BBM-an. Tapi setelah kematian Cik Indra, tidak pernah sama sekali, Pak .... Kabarnya Mas Irul bagaimana, Pak?" jawab Melian yang langsung menanyakan kabarnya Irul.
"Kamu yang SMS to, Nduk .... Tanyakan kabarnya .... Mas Irul itu kalau mau telepon kamu takut mengganggu. Wong Mas Irul pernah bilang tidak mau mengganggu Melian, biar fokus kuliahnya .... Gitu kok, Nduk ...." kata bapaknya.
"Ooo .... Ya, sudah .... Nanti saya akan SMS menanyakan kabarnya Mas Irul ...." kata Melian.
Hampir satu semester Melian tidak menelepon Mas Irul. Ya, memang Melian sedang fokus mengembangkan Kampung Transformer. Mengurusi pemulung yang jumlahnya hampir seratus orang, tentu membutuhkan energi ekstra. Setidaknya harus sabar meladeni satu persatu warga yang memang kebanyakan tidak bisa baca tulis tersebut. Makanya, Melian meminta kepada teman-temannya para volunteer untuk mengajarkan baca tulis. Sebut saja namanya pemberantasan buta aksara. Tetapi memang para volunteer ini lebih menekankan kepada anak-anak yang tidak bersekolah. Yang penting anak-anak ini bisa baca tulis. Makanya di kampung itu, ramai mahasiswa yang dengan suka rela membantu membelajarkan pada anak-anak. Tempay belajarnya dinakan "Gubug Pasinaon" yang berarti gubug tempat belajar. Meskipun bentuknya semacam pendapa. Tetapi pembelajarannya sangat mengasyikkan. Tentu lebih banyak diselingi permainan-permainan yang menarik. Dan yang paling ditekankan adalah pembelajaran lifeskill atau kecakapan hidup. Kalaupun kelak mereka akan jadi pemulung, diharapkan menjadi pemulung yang cakap dan cerdas.
Melian agak ragu-ragu untuk mengangkat teleponnya. Awalnya ingin SMS, namun tidak jadi. Ingin menelepon Irul, tetapi bingung mau telepon masalah apa. Apa hanya sekadar menanyakan kabar saja? Terus setelah dijawab langsung ditutup lagi? Nanti malah cuman mengganggu saja.
Melian masih menggoyang-goyangkan HP yang ada dalam genggaman tangannya. Antara akan SMS atau telepon, dia masih bingung. Dan akhirnya, ia menutul nomor Mas Irul. Lantas menekan tombol warna hijau. Menelepon Irul.
Panggilan itu langsung dijawab oleh Irul.
"Halo, Melian .... Bagaimana kabarmu?" tanya Irul setelah mengangkat panggilan Melian.
"Baik, Mas Irul .... Mas Irul sehat, kan ...?" tanya Melian balik.
"Alhamdulillah, sehat .... Ada apa ini, kok malam-malam telepon? Belum tidur, ya ....?" tanya Irul lagi, yang tentu kaget setelah lama tidak pernah ditelepon oleh Melian, dan tentu juga tidak tahu beritanya. Paling-paling kalau Iryul berteleponan dengan Pak Jamil atau Juminem, ia menanyakan kabar Melian.
__ADS_1
"Gak papa, Mas .... Ini tadi HP-nya kepencet, kok ...." jawab Melian yang rupanya justru menjadi bingung mau bicara apa.
"Ooo .... Kok sudah lama tidak pulang? Apa belum liburan?" tanya Irul.
"Belum, Mas Irul .... Nunggu skripsi belum selesai, Mas ...." jawab Melian yang suaranya agak bergetar karena jantungnya mulai berdetak aneh.
"Skripsi itu apa? Karya tulis itu, ya ...?" tanya Irul yang memang tidak mudeng perkuliahan. Kalau saja Indra, istrinya, masih ada, pasti akan ditanyakan pada istrinya.
"Iya, Mas .... Karya tulis hasil penelitian." jawab Melian.
"Ooo .... Eh, Melian .... Kemarin Mas Irul lihat kamu masuk tivi. Wah, kamu hebat, Mel .... Melian dapat penghargaan lingkungan hidup .... Mas Irul bangga sama kamu, Mel ...." tentu Irul mengatakan hal itu dengan gembira, melihat kesuksesan Melian di Jakarta.
"Terima kasih, Mas .... Itu saya hanya mewakili warga pemulung, Mas ...." jawab Melian yang tetap membesarkan pemulung yang dibinanya.
"Ooo .... Bagus, lah .... Tapi Melian harus tetap fokus dengan kuliahnya lho ya .... Jangan sampai nanti kamu ngurusi warga pemulung, malah kuliah kamu keteteran .... Nanti bisa gak lulus-lulus ...." pesan Irul.
"Iya, Mas ...." jawab Melian gemetar mendengar pesan dari Irul.
"Lha mbok itu karya tulis Melian, menulis kampung kumuh yang kamu bina itu saja .... Kan menarik .... Katanya sekarang sudah menjadi obyek wisata baru di Jakarta." kata Irul memberi saran kepada Melian.
"Iya, Mas ...." jawab Melian linglung.
Tapi kali ini, kata-kata Irul, orang yang dikangeni itu, ternyata merubah wajah Melian. Seakan ada dewa penolong yang memberi ide cemerlang. Di luar dugaan, ternyata teleponnya dengan Mas Irul, sudah memunculkan ide cemerlang. Ide luar biasa. Kenapa selama ini Melian tidak memikirkan apa yang sudah dilakukannya. Yah, ini saran yang sangat luar biasa.
"Melian sudah ngantuk apa belum ini ...? Sudah larut malam, lho .... Besok kuliah kan ...? Jangan datang terlambat .... Nanti gurunya bisa marah ...." kata Irul yang selalu menasehati.
"Dosen, Mas .... Guru di perguruan tinggi namanya dosen ...." Melian membenarkan kata-kata Irul.
"Iya .... Hati-hati di tempat orang, ya .... Jangan sembrono, jangan sombong, jangan takhabur .... Berbaik pada setiap orang, membantu yang butuh bantuan. Jangan pernah mengambil hak milik orang lain. Bicara yang baik-baik, jangan pernah menyakiti hati orang lain ...." Irul lagi-lagi menasehati.
"Iya, Mas Irul ...." jawab Melian, yang memang selalu menurut dengan kata-kata Irul.
"Sudah ..., sana tidur, biar besok tidak kesiangan ...." kata Irul lagi yang meminta Melian segera tidur. Tentu karena hari memang sudah larut malam. Sudah jam sepuluh.
__ADS_1
Melian diam dalam rebahannya. HP-nya diletakkan di atas dadanya. Matanya memandang atap bangunan rumahnya. Angannya melayang jauh di awang. Ia heran, kenapa setiap kali telepon dengan Irul, selalu sulit untuk mengungkapkan kata-kata. Setiap kali bicara, seakan dirinya menjadi nerves. Padahal tadi saat akan telepon, sangat banyak hal yang ingin dibicarakannya. Terutama rasa kangennya. Kangen dengan Mas Irul. Tetapi begitu mendengar suara Mas Irul, semuanya sirna.
Lamunan Melian terus membayang pada Mas Irul. Banyak nasehat yang selalu diberikan kepadanya. Tapi semuanya hal yang baik. Dan Melian harus menuruti nasehat-nasehat Mas Irul itu. Hingga akhirnya, mata sipit itru pun sudah terpejam. Mimpi bertemu laki-laki yang dirindukan dalam telepon. Anehnya, Melian mimpi bertelepon rindu dengan Irul.