GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 114: NEMBAK


__ADS_3

    RXZ yang dinaiki siswa SMA berboncengan cowok dan cewek itu melintas di gang. Berjalan lambat, karena saking hati-hatinya. Lantas berhenti di depan rumah Mei Jing.


    Melian turun dari boncengan. Lantas masuk ke halaman rumah.


    "Ayo ..., John .... Masuk sini ...." kata Melian mengajak Jonatan.


    Jonatan menyetandarkan motor, kemudian mengikuti Melian. Masuk ke halaman rumah Mei Jing.


    Pintu rumah Mei Jing tertutup.


    "Tok ..., tok ..., tok ...." Melian mengetuk pintu.


    "Permisi ...." lantas memberi salam. Berharap ada orang yang mendengar dan keluar.


    Namun beberapa saat lamanya Melian dan Jonatan menunggu, belum ada orang yang keluar. Melian langsung menempelkan mukanya di jendela kaca. Mengintip ke dalam rumah. Tidak nampak ada orang di dalam.


    "Tok ..., tok ..., tok ...." Melian kembali mengetuk pintu rumah yang sudah diintip itu.


    "Permisi ...! Permisi ...!" Ia juga mengulang untuk memberi salam. Namun tetap saja sepi.


    "Mencari siapa?!" tiba-tiba ada seorang perempuan tetangga sebelah rumah yang menengok dari teras rumahnya dan bertanya.


    "Mencari Mei Jing ...." jawab Jonatan yang lebih dekat dengan orang itu.


    "Mei Jing-nya tidak ada .... Rumahnya kosong ...!"


    "Mei Jing pergi ke mana, ya?" tanya Melian pada perempuan separo baya yang hanya mengenakan daster tipis tersebut.


    "Tidak tahu .... Katanya mau menyusul papinya ...!" kata perempuan itu dari teras rumahnya.


    "Ya, makasih ...." sahut Melian yang kemudian meninggalkan pintu rumah. Berjalam keluar.


    "Bagaimana, Mel?" tanya Jonatan.


    "Kita pulang, John. Orang Mei Jing tidak ada, dan rumahnya juga kosong." sahut Melian yang mengajak pulang.


    "Mel ..., aku laper .... Bagaimana kalau kita beli bakso dulu ...? Aku yang traktir." kata


     "Yakin, mau belikan aku bakso ...?" tanya Melian meyakinkan.


    "Iya, betul .... Aku yang bayari ...." sahut Jonatan terlihat serius.


    "Boleh ...." kata Melian yang setuju.


    "Ayo naik ...." Jonatan menyuruh Melian membonceng motornya.

__ADS_1


    "Di mana tempatnya?" tanya Melian.


    "Ada .... Lumayan jauh dikit .... Tapi rasanya enak. Pegangan ...." kata Jonatan yang langsung menjalankan motornya.


    RXZ itu melaju ke arah timur. Menuju daerah Semarang bagian timur. Lumayan agak jauh dari rumah kost Melian. Tetapi juga lumayan bagi Jonatan bisa berboncengan mengajak Melan agak lama. Apalagi motor yang ditunggangi pendek bagian depan, sehingga Jonatan kalau menyetir tubuhnya harus membungkuk. Akibatnya, Melian yang membonceng juga ikut merebahkan tubuhnya membungkuk ke depan, menempel pada punggung Jonatan. Yang lebih menyenangkan Jonatan, Melian berpegangan perut. Memeluk perut Jonatan. Tentu ini menambah kemesraan perasaan Jonatan.


    Betapa bahagianya Jonatan bisa memboncengkan Melian dengan posisi menempel di tubuhnya. Pelukan tangan Melian yang sangat kencang di perut Jonatan, pasti membuat Jonatan jadi senang. Angan Jonatan, pasti kalau ditembak, Melian yakin akan mengatakan mau.


    Setelah hampir setengah jam, hingga akhirnya, Jonatan menghentikan kendaraan di depan "Warung Bakso Cinta".


    "Turun, Mel .... Ini tempat kita makan bakso." kata Jonatan yang meminta Melian untuk turun dari motor.


    Melian langsung turun. Lantas melihat warung bakso yang ada di depannya itu. Konsep rumah kampung dengan tatanan meja dan kursi juga ala jadul. Asri dan menyenangkan. Lalu Melian membaca tulisan besar yang terpajang di atas atap, "Warung Bakso Cinta". Melian tersenyum.


    "Kok kamu ajak aku kemari, John?" tanya Melian sambil tersenyum.


    Jonatan tidak bisa menjawab. Diam tersipu malu. Takut kalau apa yang mau dikatakan salah. Ia khawatir nanti malah membuat Melian marah. Maka lebih baik diam dan hanya mengajak Melian melangkah masuk.


    Melian menuruti ajakan Jonatan. Lantas dua anak berseragam SMA itu duduk di pojok. Meja yang hanya ada dua kursi berjejeran. Melian duduk di dekat dinding papan. Sedangkan Jonatan ada di sisi sebelah kanan Melian.


    Seorang pelayan datang memberikan lembaran buklet menu. Ada bakso cinta biasa, bakso cinta penuh kasih sayang, bakso mencari cinta, dan bakso kemesraan. Tidak hanya tulisan, tetapi juga gambar foto yang menarik beserta harganya. Menu minumannya juga bervariasi. Ada es rindu berat sampai teler, ada es buah-buah asmara, ada jus mabuk kepayang, ada juga es campur kasih sayang.


    "Pilih yang mana?" tanya Jonatan kepada Melian.


    "Namanya lucu-lucu .... Aku jadi bingung .... Kamu aja yang pilih." sahut Melian yang menyerahkan booklet menu itu kepada Jonatan.


    "Kok kamu maunya bakso mencari cinta, John?" tanya Melian ingin tahu.


    "Iya .... Aku saat ini sedang mencari cinta .... Aku tunjukkan melalui bakso .... Siapa tahu di sini nanti dapat cinta ...." kata Jonatan yang mencoba menembak hati Melian.


    "Ooo .... Seperti itu .... Lhah, kalau aku, kenapa kamu pilihkan bakso cinta penuh kasih sayang?" tanya Melian lagi yang ingin tahu alasannya.


    "Semoga saja saat aku mencari cinta, ada yang memberikan cinta dengan penuh kasih sayang ...." jawab Jonatan sambil tersenyum lebar pada Melian.


    "Gombal ...." sahut Melian mengejek.


    "Kamu mau, nggak ...?" tanya Jonatan yang ingin jawaban dari Melian.


    "Boleh, lah .... Aku mau ...." sahut Melian sambil tersenyum memandangi Jonatan.


    "Minumnya apa?" tanya Jonatan pada Melian, sambil menunjukkan gambar menu minuman dengan nama-nama yang unik itu.


    "Aku mau es buah-buah asmara." jawab Melian.


    "Kalau begitu aku pesan es campur kasih sayang." kata Jonatan.

__ADS_1


    Jonatan lantas menulis pesanannya di nota pesan. Kemudian diserahkan kepada pelayan yang sudah menunggu.


    Kemudian pelayan bakso cinta itu ke tempat penjualan. Menyampaikan order kepada bagian peracik penjualan. Tidak lama, hanya sebentar pesanan sudah siap. Nampan berisi dua mangkok besar berisi bakso dan dua  mangkok sedang berisi kuah, langsung dibawa pelayan itu, untuk disajikan di meja pemesan.


    "Yang ini bakso mencari cinta .... Yang ini bakso cinta penuh kasih sayang .... Ini kuahnya." kata pelayan itu yang menyodorkan dua mamgkok bakso dan kuah di atas meja yang ditempati Jonatan dan Melian. Ya, di warung bakso cinta ini, antara bakso dengan kuahnya disendirikan. Biasanya mangkok yang besar berisi mi dan bakso aneka variasi sesuai namanya, sedangkan kuahnya disendirikan dalam mangkok ukuran sedang. Sedangkan di meja sudah tersedia ada saus, sambal dan kecap serta sendok, sumpit dan garpu.


    Selanjutnya, sebentar kemudian, datang pelayan satu lagi yang membawa baki berisi gelas mangkuk berisi es.


    "Yang ini es campur kasih sayang, yang ini es buah-buah asmara .... Silahkan menikmati ...." kata pelayan yang menyajikan es pesanan Jonatan dan Melian tersebut.


    "Terima kasih, Mas ...." kata Jonatan kepada pelayan yang sudah menyajikan tersebut.


    "Wao .... Keren banget ...." Melian senang melihat hidangan yang ada di atas mejanya itu.


    "Ayo ..., dimakan .... Aku sudah lapar, nih ...." kata Jonatan yang langsung menuang kuah ke mangkok besar berisi bakso-bakso yang dibelah bagian ujungnya. Baksonya tidak bulat sempurna, tetapi bagian bawah agak mengecil, sedangkan bagian atas agak membulat basar, seperti layaknya bentuk jantung. Tetapi yang atas dibelah jadi empat bagian. Dan di dalam bakso yang terbelah itu keluar urat-urat dan rajangan daging. Ada dua bakso berbentuk jantung dibelah dalam mangkok itu, serta mi tergulung yang terlihat sangat enak. Bentuknya sangat menarik.


    Melian juga menarik mangkuk besarnya. Mangkuk itu berisi mi yang digulung dan terdapat bakso berbentuk daun waru jumlahnya sangat banyak, sehingga mangkuk itu penuh dengan bakso kecil berbentuk lope-lope. Dan di atas bagian tengahnya terdapat bakso cukup besar berbentuk hati yang ditusuk panah.


    Melian tersenyum melihat hal itu. Dan senyum itu dilempar ke tatapan Jonatan.


    "Kenapa ...?" tanya Jonatan ingin tahu apa arti senyuman orang yang mulai dikagumi itu.


    "Kamu mau nembak aku, ya ...?" tanya Melian.


    Jonatan tersenyum, tetapi lalu menundukkan wajahnya. Agak malu pada Melian. Apalagi untuk menjawabnya.


    "John .... Apa arti bakso ini? Benar kan, kamu mau nembak aku ...?" Melian mengulangi pertanyaannya.


    "Kalau iya ..., bagaimana?" Jonatan yang masih menunduk balik bertanya.


    "Iya juga nggak papa ...." sahut Melian langsung menusuk jantung Jonatan, seperti bakso yang tertusuk panah yang ada di mangkuk Melian.


    "Kamu mau ...?" tanya Jonatan dengan penuh harap.


    Melian diam. Tidak menjawab. Tangannya mengambil sumpit. Lantas menuangkan saus ke mangkuk, ditambah sambal dan kecap. Kemudian menuangkan sedikit kuah dari mangkuk satunya. Lantas mengaduk bakso penuh kasih sayang tersebut. Selanjutnya menikmati bakso itu.


   Jonatan diam. Hatinya kembali galau. Memikirkan Melian, apakah menerima tembakannya atau tidak? Mau ditembak apa tidak? Kini ia merasakan bakso yang mestinya enak itu, menjadi hambar. Meski lapar, tidak lahap lagi untuk memakan hidangannya. Khawatir tembakannya akan gagal. Dan lebih khawatir dan akan malu jika teman-temannya tahu hal itu.


    "Kok nggak dihabisin ...? Katanya tadi lapar ...." tegur Melian melihat Jonatan belum habis memakan baksonya.


    "Iya, sebentar .... Perut kenceng ...." sahut Jonatan agak ogah-ogahan.


    "Cepetan dihabisin, kita segera pulang .... Khawatir nanti aku dicari sama cacik-cacikku yang rewel di kost-an." kata Melian lagi.


    "Iya ...." kata Jonatan yang justru berdiri dan langsung ke kasir untuk membayar. Lantas balik menghampiri Melian, "Ayuk kita pulang." ajak Jonatan.

__ADS_1


    Setelah naik motor, Melian membonceng dan pegangan perut Jonatan, dan tentu merebahkan badannya di punggung Jonatan, motor itu langsung dikebut oleh Jonatan. Jonatan diam seribu bahasa. Tidak bicara sedikitpun. Bablas menuju rumah kost Melian. Dan begitu sampai di rumah kost, Melian turun, Jonatan langsung memutar motornya, digas kencang. Ngebut meninggalkan Melian tanpa pamit tanpa bicara tanpa menoleh.


    "John ...!! Hati-hati ...!!!" Melian berteriak mengingatkan Jonatan.


__ADS_2