
Sesuai perintah Pak RT, Jamil pergi ke desa hari itu.Tentu saja untuk bertemu Walikota.Setidaknya dia akan melapor sebagai penduduk desa.
"Selamat siang Pak Lurah....Nama saya Jamil....Saya orang baru yang menempati rumah di sana pak....Pagi ini Pak RT menemui saya, dan meminta saya untuk segera menemui Pak Lurah."kata Jamil usai bertemu dengan Pak Lurah.
"Oh ya….Kami sangat senang Mas Jamil mau tinggal di rumah itu.Semoga dia tinggal di Kampung Naga...." kata Pak Lurah yang menyebutkan bahwa wilayah yang ditempati Jamil adalah Kampung Naga.
“Daerah itu namanya Kampung Naga, Pak…?”tanya Jamil.
"Ya….Daerah itu memang bernama Kampung Naga….Cerita berlanjut bahwa orang-orang yang tinggal di sana mengatakan bahwa tempat itu adalah pusat naga yang berbentuk seperti naga.Para penari barongsai yang memainkan naga, sangat hebat dan terampil.Dan tentunya sangat terkenal di berbagai daerah.Orang keturunan Tionghoa dari luar kota jika ingin menerima barongsai, harus datang ke Desa Naga.”jelas Pak Lurah.
"Ooo.... Maaf Pak.... Saya tidak tahu itu. Kalau begitu, Desa Naga ini masuk wilayah mana, Pak?"tanya Jamil yang masih bingung keberadaannya.
“Ini adalah provinsi Juwana.Secara administratif termasuk dalam Kabupaten Pati.Jangan khawatir.... Orang-orang di sini pedesaan..., maajemuk.... Semua suku ada di sini.Ada orang Jawa, ada orang Arab, ada juga orang Tionghoa.Nah, jika Kampung Naga, daerah tempat Anda tinggal, dulunya merupakan pemukiman keturunan Tionghoa.Itu sebabnya ada banyak toko dan ada juga kuil.Tapi tidak apa-apa.Orang-orang di sini semua baik dan sangat toleran.Jangan khawatir tentang keyakinan atau masalah agama,"kata Pak Lurah kepada distriknya.
"Ya pak….Terima kasih untuk informasi."jawab Jamil.
"Omong-omong, bagaimana Mas Jamil bisa membeli rumah itu...?"tanya Walikota.
“Saya tidak tahu, Pak… Ada yang mengantar saya ke sana.Tiba-tiba pemilik rumah menyuruhku masuk."Jamil mengingat peristiwa yang dialaminya.
"Orang yang memiliki rumah wanita tua itu...?"tanya Walikota.
"Betul pak... Tapi saya lupa seperti apa wajahnya. Kami tidak terlalu memperhatikan karena masih pagi."kata Jamil yang memang sudah melupakan wajah pemilik rumah tersebut.
"Mas Jamil sangat beruntung.. Kami ingin bertemu berkali-kali tetapi tidak pernah bisa. Dan dulu, banyak orang ingin membeli rumah, tetapi tidak pernah setuju. Harganya terlalu tinggi..." kata Pak Lurah berbicara tentang rumah.
“Ohh…, benar Pak..” Jamil yang diberi tahu langsung mengangguk.
“Ya…, kami sendiri sering mengantar pembeli…Tapi, ya itu..., kata wanita tua itu tidak mungkin karena orang yang ingin membelinya adalah orang yang tidak cocok untuk menempati rumah tersebut.Ada juga yang bilang uang itu hasil korupsi, dia tidak mau menerima uang haram... Tapi, ada berbagai alasan."Pak Lurah menjelaskan proses jual beli rumah tersebut.
__ADS_1
"Seperti itu, Pak...?"jawab Jamil.
"Betul Mas Jamil... Wanita tua itu aneh sekali. Kalau kita mencarinya susah menemukannya. Tapi kalau kita tidak mencarinya, tiba-tiba dia ada di dekatku. Aneh...." kata Pak Lurah, menceritakan pemilik rumah yang kini ditempati Jamil.
“Ooo…, benar Pak.” kata Jamil.
“Omong-omong, berapa Mas Jamil beli rumah itu?”tanya Pak Lurah tiba-tiba.
“Kami tidak tahu Pak…Berapa, kita tidak tahu.Kemarin pagi wanita itu mengambil uang dari kantong plastik begitu cepat.Dia segera mengambilnya.Tidak dihitung.Dia segera menyerahkan rumah itu kepada kami.Tapi dia memerintahkan agar kita merawat rumah itu sebaik mungkin.Tidak ada yang bisa kotor."jawab Jamil.
"Wow, benar... Wanita itu aneh sekali. Padahal dulu dia digaji miliaran oleh pengusaha, tapi dia tidak dibebaskan. Tidak mungkin... Nah, itu rejeki Mas Jamil."kata Pak Lurah lagi.
"Njih, Pak Lurah.... Terima kasih..." kata Jamil.
Jamil berbincang lama dengan Pak Lurah.Berbagai hal tentang rumah yang ia tinggali, yang tentunya menambah kebahagiaan Jamil.Apalagi sikap Pak Lurah yang baik dan terbuka pasti akan membuat Jamil betah tinggal di Kampung Naga.Bahkan Pak Lurah berempati ketika Jamil menceritakan rumahnya yang terbakar.Dan tentunya Pak Lurah akan membantu segala sesuatu yang berhubungan dengan administrasi dan kehadirannya di Kampung Naga.Bahkan Pak Lurah juga menawari Jamil pekerjaan sebagai karyawan di industri kuningan.
Tentu saja Jamil sangat senang, dan menerima tawaran pemimpin baru itu.Pemimpin yang baik yang mengerti kebutuhan rakyatnya.Tak lama kemudian masyarakat di Kampung Naga terlihat sejahtera.
"Jumat...! Juminem...!!"Jamil menelepon istrinya, setelah kembali dari desa.
"Ada apa, Kak...?Kenapa kamu berteriak seperti anak kecil...." tanya Juminem yang berada di ruang tamu, Momong Melian sambil menonton televisi.
"Ini saya dari desa.. Saya diundang untuk berbicara dengan Pak Walikota tentang rumah ini. Pak Walikota menceritakan banyak hal tentang rumah ini dan pemiliknya.... Betul, Jum..." kata seorang antusias Jamil.
"Halah.... Andai saja pemilik rumah ini yang dulu memilikinya, nenek yang baru pulang dari sini tadi pagi. Dia menemaniku memasak dan merawat Melian. Dia banyak bercerita padaku. Dia bahkan memberiku nasehat. Dia memberiku banyak pesan, Kang.... Yang penting kita diperintahkan untuk menjaga kebersihan rumah ini, agar tidak terkontaminasi dengan rezeki yang tidak halal."kata Juminem yang sedang menyiapkan makanan untuk suaminya.
"Benarkah, Jum...?Jadi nenek yang memiliki rumah ini baru saja datang ke sini?”tanya Jamil.
“Benar Kang…. Pokoknya kita harus hidup jujur…. Jangan menyusahkan orang lain, jangan ambil hak yang bukan milik mereka, dan jangan merugikan orang lain…. Ayolah. , sini sambil makan.... Pasti lapar."kata Juminem.
__ADS_1
“Hehe… Iya, Jum…” kata Jamil yang langsung melahap makanan istrinya dengan lahap.Apalagi kali ini dia makan di tempat yang bagus, di meja makan yang bagus, dan duduk di kursi empuk.Pastinya makanan yang dinikmati menjadi lebih enak.
“Wah, Jum…, masakanmu kali ini enak sekali…” kata Jamil yang memuji masakan istrinya.
“Nenek membantu saya dengan itu sebelumnya. Sambil mengajari saya cara menggunakan berbagai peralatan dapur. Tidak, Kakak …, ternyata alat-alat di dapur ini semuanya modern …. Ini disebut kompor gas … .Dulu saya tidak bisa menyalakannya, terus diajar oleh nenek. Sekarang bisa, Kakak.... Terus diajari cara membuat es .... Nah, kata nenek, jika kita membeli bahan masakan seperti itu seperti ikan, sayur atau buah, agar lebih tahan lama kita disuruh masukin ke dalam lemari es ya Kak.... Lihat ini, saya taruh kolka di beberapa sayuran. Ini saya sudah buat minuman segarnya, es batunya. sirup...," kata Juminem yang langsung menyerahkan segelas es sirup yang terlihat segar.
"Walah, Jum.... Enak banget..." kata Jamil yang sudah meneguk segelas es sirup.
“Yang ini Kak…, namanya mesin cuci. Kita bisa mencuci baju-baju ini secara otomatis. Tidak perlu digosok atau diperas. Begitu selesai, tinggal keluarkan dan keringkan sebentar. kering."kata Juminem yang menunjukkan mesin cuci itu kepada suaminya.
"Tidak mungkin.... Kenapa kamu sekarang begitu enak...?"kata Jamil yang tentu saja senang melihat istrinya bahagia.
"Nah, ini Kang.... Ternyata namanya piano. Itu alat musik untuk mengiringi penyanyi-penyanyi hebat itu...." kata Juminem sambil menunjuk piano.
"Yah..., kalau begitu aku tidak apa-apa, Jum..." kata Jamil.
“Iya Kang… Besok buat anak kita. Eh, Kak… Kata Nenek tadi, Melian bukan anak sembarangan. Katanya Melian punya aura mistik yang sangat kuat. Kita harus menjaganya dengan baik, don 'Jangan mengajarkan hal yang buruk, akibatnya bisa fatal nanti..." kata Juminem yang sudah dinasihati oleh nenek tadi.
“Benar juga, Jum.... Kita sudah tahu sejak beberapa hari yang lalu bahwa Melian bukanlah anak sembarangan. Dan aku yakin, nasib kita semua pasti ada hubungannya dengan Melian. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati. anak kita sebaik mungkin."kata Jamil kepada istrinya.
“Iya Kang…. Sekarang, Kang Jamil kerja gimana? Tempat kerja Kang Jamil di Pamotan Lasem jauh, Kang.…” Tiba-tiba Juminem menanyakan pekerjaan suaminya.
"Jangan khawatir, Jum.... Baru saja Pak Lurah menawari saya pekerjaan di pengrajin kuningan. Saya akan bekerja di sana."jawab Jamil yang tentunya juga senang karena mendapat pekerjaan baru.
“Alhamdulillah…, alhamdulillah, Kang…. Setidaknya kita bisa mencukupi kebutuhan makan dengan membelikan susu untuk Melian…. Dan kalau boleh, Kang…, saya mau meluangkan waktu untuk menjahit ya Kang...." kata Juminem tentunya juga ikut senang.
"Ya..., silakan. Tapi yang terpenting pekerjaanmu adalah anak Melian. Mengasuh putra tercinta kita...," kata Jamil.
"Tentu saja, Kakak .... Melian dan aku tidak dapat dipisahkan."kata Juminem yang langsung mencium kening Melian.
__ADS_1
"Ma..., ma..., ma...." Melian langsung memegang hidung Juminem, yang tentu saja sudah dianggap ibunya.
Mereka bertiga tertawa bersama.Senang senang senang.