GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 110: PENYESALAN


__ADS_3

    "Kenapa kamu tidak masuk sekolah, Jing?" tanya Melian pada Mei Jing.


    "Aku malu .... Pikiranku kacau .... Orang tuaku bentrok terus .... Aku tidak bisa apa-apa, Mel ...." jawab Mei Jing yang menunduk dengan mengusap air mata.


    "Tapi kamu jangan mengorbankan dirimu seperti itu .... Sekolah itu masa depan kamu, lho ...." Melian mencoba memberi nasihat.


    "He ...! Ini aku bagaimana ...?!" tiba-tiba Jonatan berteriak menanyakan dirinya harus bagaimana.


    "John ..., kemari ...." tiba-tiba Mei Jing memanggil temannya yang tadi mengantar Melian tersebut.


    Jonatan langsung menyandarkan motor di pinggir jalan, di depan rumah Mei Jing. Lantas Jonatan masuk ke rumah Mei Jing.


    "John ..., mintalah maaf pada Melian .... Sebenarnya semua yang terjadi kemarin itu, aku yang salah. Aku yang keliru.


    "Maafkan saya, Mel ...." kata Jonatan yang langsung mengulurkan tangannya, meminta maaf kepada Melian.


    "Tidak apa-apa, John .... Aku sudah memaafkan semuanya." kata Melian yanglangsung menyalami Jonatan.


    "John, pulanglah .... Aku mau ngobrol sama Melian sendiri. Tidak baik kamu mendengar obrolan cewek." kata Mei Jing yang menyuruh pulang temannya itu.


    "Nanti Melian pulangnya bagaimana?" tanya Jonatan yang merasa bertanggung jawab sudah mengantar Melian.


    "Aku pulang sendiri ...." sahut Melian.


    Sepulang Jonatan, Mei Jing mengajak duduk Melian di ruang tamu. Rumahnya sepi. Hanya nenek yang tadi membuka pintu dan Mei Jing saja yang ada di rumah itu.


    "Memang kamu tidak masuk sekolah kenapa, Jing?" tanya Melian yang ingin tahu alasan yang sebenarnya.


    "Keluarga kami hancur, Mel .... Terus terang cacian saya kepadamu tempo hari itu, ternyata justru sebaliknya. Kata-katamu benar, Mel .... Ternyata di rumahku yang terjadi semua hinaan yang aku katakan padamu. Mohon jangan ceritakan masalah keluargaku pada siapapun .... Aku malu, Mel .... Huk ..., hu ..., hu ...." kembali Mei Jing menangis sambil menutup wajahnya.

__ADS_1


    "Sudah, Jing .... Jangan menangis terus .... Tangis tidak akan menyelesaikan masalah. Saya tidak akan cerita ke siapapun. Percayalah ...." kata Melian sambil mengelus punggung Mei Jing.


    "Mel ..., ternyata apa yang kamu katakan saat akan meninggalkanku di lapangan itu, terjadi di keluargaku ...." kata Mei Jing yang masih berlinang air mata.


    "Maksud Mei Jing?" tanya Melian.


    "Papiku menghamili pembantuku .... Papiku menghamili Yuk-e .... Huk ..., hu ..., hu ...." kembali Mei Jing menangis.


    "Ya ampun, Jing .... Itu beneran ...? Terus, sekarang ...?" tanya Melian, ingin tahu kondisinya.


    "Benar, Mel .... Mami marah-marah .... Yuk-e diamuk ..., bahkan dipukuli sama Mami .... Lalu diusir pergi ...." cerita Mei Jing.


    "Lha terus ..., sekarang?" tanya Melian.


    "Mami pergi .... Katanya ke Jakarta, mau nyusul Om kerja di Jakarta.  Papiku pergi entah kemana .... Katanya mau nyusul Yuk-e .... Karena adikku yang kecil dibawa Yuk-e, pulang kampung .... Di rumah ini tinggal aku sama Amak .... Aku bingung, Mel ...." kata Mei Jing, yang lagi-lagi langsung menangis.


    Melian bengong, tidak tahu mau berkata apa. Itu masalah keluarga Mei Jing. Urusan orang tua Mei Jing. Anak kecil tidak bisa ikut campur. Apalagi Melian hanya teman Mei Jing. Bukan urusannya.


    "Bukan kata-kata saya, Jing .... Itu kata-katamu sendiri .... Kamu kan yang mengucap babu dihamili majikan ...?! Makanya, Jing ..., orang itu harus bisa menjaga mulut. Ada pepatah mulutmu harimaumu .... Ini buktinya. Jadi jangan meminta maaf ke saya, tapi minta maaflah pada dirimu sendiri yang sudah mengucap kata-kata kasar. Itu tidak baik, Mei Jing .... Kamu harus bisa menguasai mulutmu. Hati-hati kalau bicara. Nah, kalau sudah mengena pada dirimu sendiri, sekarang kamu baru tahu rasa ...." terpaksa Melian menasihati Mei Jing. Karena hari-hari kemarin, Mei Jing tidak bisa diajak bicara baik.


    Mei Jing tentu membenarkan kata-kata Melian yang sudah pernahjadi sahabatnya itu. Tentu kata-kata Melian itu benar. Memang dirinya yang mengatkan hal tidak baik, bahkan membuat orang lain menderita karena kata-katanya. Dan sekarang, ia menerima getahnya. Apa yang dia katakan, ternyata terjadi justru pada keluarganya sendiri.


    "Saya menyesal, Mel .... Mungkinkah Tuhan mengampuni saya?" kata Mei Jing yang menyesali tutur katanya.


    "Tuhan itu maha pengasih lagi maha penyayang .... Tuhan itu maha pengampun dan maha pemurah .... Oleh sebab itu, sebenarnya bukan Tuhan yang tidak mau mengampuni, bukan Tuhan yang tidak mau mengasihi .... Tetapi kitalah yang tidak mau bertobat ..., kitalah yang tidak pernah sadar ..., kitalah yang tidak mau mnyesal .... Selama kita mau merubah kelakuan kita, selama kita mau memperbaiki kesalahan kita, selama kita mau berbuat yang baik dan benar, maka sebenarnya kasih sayang, pengampunan dan kemurahan Tuhan akan tercurah dalam diri kita, dalam keluarga kita, bahkan juga akan terpancar ke sekeliling kita. Percayalah itu, Mei Jing .... Lakukanlah yang terbaik." Melian menasihati sahabatnya.


    "Kamu tidak dendam kepada saya, Mel?" tanya Mei Jing yang ingin tahu sikap teman yang pernah menjadi sahabatnya itu.


    "Dendam itu milik setan .... Jauhkanlah dari hati kita." jawab Melian yang tidak suka mencari musuh.

__ADS_1


    "Terima kasih, Mel .... Kamu terlalu baik untuk saya ...." kata Mei Jing yang terus memegang tangan Melian.


    "Besok Mei Jing mulai berangkat sekolah?" tanya Melian, yang tentu ingin temannya itu tidak ketinggalan pelajaran.


    "Huk ..., huk ..., Mel .... Aku harus bagaimana, Mel ...? Papi dan Mamiku pada pergi .... Di sini kami tidak punya siapa-siapa lagi .... Terus, bagaimana dengan biaya sekolah dan biaya hidup kami ...?!" Mei Jing justru bersedih ketika ditanya tentang sekolah.


    "Posisi Mami Mei Jing ada di mana, kamu tahu?" tanya Melian.


    "Tidak tahu .... Dia hanya bilang mau ke Jakarta ikut Om ...." jawab Mei JIng.


    "Om itu saudara kamu?" tanya Melian lagi yang ingin tahu.


    "Aku tidak tahu .... Aku juga tidak kenal. Tempatnya di mana aku juga belum pernah dengar ...." kata Mei Jing yang mengungkapkan kalau dirinya tidak kenal saudara yang akan dituju oleh ibunya tersebut.


    "Kalau Papi Mei Jing sekarang ada di mana, kamu tahu?" tanya Melian lagi.


    "Papi ke kampungnya Yuk-e .... Kata Papi kasihan adik saya yang dibawa Yuk-e. Dia masih kecil, butuh perhatian." sahut Mei Jing.


    "Tunggu sementara waktu .... Jika Papi kamu pulang, tanyakan tentang kelanjutan sekolahmu. Tapi jika dalam waktu satu minggu ini Papi kamu tidak pulang, susullah .... Kamu cari Papimu ke tempat Yuk-e. Jangan kamu marahi Papimu, jangan kamu paksa untuk meninggalkan Yuk-e. Tapi mulailah hidup untuk tetap berbuat baik. Mak saya, itu bukan siapa-siapa saya, tetapi ia sangat sayang kepada saya. Maka wajar jika saya juga harus menyayangi Mak-e dan Pak-e." kata Melian menjelaskan kepada Mei Jing.


    "Jadi .... Kalau misal Papi memilih tinggal di tempat Yuk-e ..., terus aku bagaimana?" tentu Mei Jing menjadi bingung.


    "Hidup itu pilihan, Jing .... Pilihlah yang terbaik untukmu." sahut Melian yang tidak bisa memaksakan sahabatnya itu.


    "Aku menyesal sudah menghina kamu, Mel .... Aku menyesal sudah berkata tidak benar .... Aku menyesal sudah membuat cerita bohong .... Aku menyesal mengatakan kejelekan-kejelekan tentang dirimu, Mel .... Apakah ini tidak bisa dimaafkan? Apakah sekarang saya yang harus tinggal bersama pembantu? Kenapa semua ini langsung menimpa diriku? apakah tidak ada pengampunan dosa? Melian ..., tolonglah kami, Mel ...." Mei Jing yang menyesal dengan apa yang sudah menimpanya.


    "Tidak ada yang perlu disesali .... Tetapi mulailah dengan harapan-harapan baru, mulailah dengan kebaikan-kebaikan baru .... Mulailah untuk menatap masa depan dengan semangat yang lebih baik. Pasti kamu bisa ...." kata Melian yang memberi semangat pada teman baiknya itu.


    "Terima kasih, Mel .... Bolehkah aku tetap berteman denganmu?" tanya Mei Jing penuh harap.

__ADS_1


    "Siapa yang melarang ...? Berteman itu kan perbuatan baik, kenapa tidak boleh?" sahut Melian tersenyum.


__ADS_2