
Berita tentang kematian tiga murid dari SMA Majapahit tentu menggemparkan sekolah tersebut. Tidak hanya
menggegerkan murid-muridnya, tetapi juga guru-guru dan yayasan. Bahkan orang tua-orang tua wali murid juga ribut bertanya kepastian berita itu. Tentunya berita dari koran, radio maupun televisi, sudah dibaca, didengar dan dilihat banyak orang. Termasuk para orang tua murid.
Senin pagi itu, sudah ada beberapa orang pengurus POM, atau persatuan orang tua murid, yang sengaja datang ke sekolah, ingin memastikan berita yang mereka dengar. Bahkan ada yang datang dengan membawa koran yang memuat peristiwa kematian murid-murid SMA Majapahit tersebut. Para pengurus POM ini tentunya akan meminta kepada yayasan dan pihak sekolah untuk menyelidiki kasusnya.
Tidak ketinggalan, Bapaknya Cung Kek meski sedang berduka juga datang ke sekolah, marah-marah kepada guru-guru dan kepala sekolah di ruang guru. Bapaknya Cung Kek, atau Pak Pieter, yang biasa dipanggil Om Piet itu menyalahkan guru-guru yang dianggap tidak bisa mendidik murid-muridnya. Bahkan juga menuduh kalau SMA itu tempat anak-anak nakal. Tentu Om Piet ini berdasar pada bukti-bukti yang ditunjukkan oleh polisi di vilanya.
"Maaf, Om Piet, mari masuk ke ruang ke ruang kepala sekolah .... Silahkan duduk dahulu, kita bicara baik-baik .... Mari kita bicarakan bersama." kata Bapak kepala sekolah yang tentu bingung menerima kenyataan, tiga muridnya meninggal mengenaskan, dan pasti akan mencoreng nama baik SMA Majapahit.
"Pokoknya saya minta dipertemukan dengan orang dari teman-teman Cung Kek yang nakal-nakal itu ...! Saya tidak terima anak saya diajari yang nggak bener oleh teman-temannya! Dan lagi, anak-anak ini sudah merusak nama baik sekolah ini ...! Berapa duit yang saya keluarkan untuk membiayai sekolah ini ...! Nama sekolah kita menjadi jelek, Pak ...!" kata ayahnya Cung Kek yang marah-marah tidak terima itu, merasa kalau teman anaknya yang mengajari jelek.
Memang pantas kalau Om Piet marah-marah di sekolah itu, pasalnya Om Piet ini termasuk penyandang dana
penyelenggaraan pendidikan di yayasan sekolah itu. Om Piet ini salah satu donatur yang menyumbang sangat besar untuk pendanaan yayasan. Maka tentu kepala sekolah dan guru-guru agak takut dengan Om Piet.
"Maaf, Om Piet, kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mengajari anak berbuat baik .... Bahkan kami juga melarang anak-anak bepergian tanpa seijin sekolah .... Maafkan kami, nanti kami akan panggil kedua orang tua murid-murid kami ...." kata kepala sekolah itu.
"Kapan ...?!" tegas Om Piet.
"Tentunya setelah berkabung, Om .... Terus terang kami saat ini sedang berkabung. Bendera di lapangan kami pasang setengah tiang. Ini duka kita semua, Om ...." kata kepala sekolah itu, yang tentu sedih tetapi juga takut dengan salah satu orang dari yayasan itu.
Di luar kelas, murid-murid yang mestinya mengadakan class meeting, tetapi tidak jadi diselenggarakan. Alasannya sekolahan sedang berkabung. Tiga muridnya sekaligus meninggal dunia. Pasti mereka merasa ikut berduka yang mendalam. Setidaknya, teman-temannya itu sudah sering berbuat baik kepada mereka. Seperti Cung Kek, walau agak nakal, dia sering nraktir teman-temannya. Dan tidak pernah membuat masalah dengan teman-temannya. Apalagi Prendes, orang tuanya kaya, duitnya banyak. Tidak pelit pada teman-temannya. Masalah keuangan tidak perlu khawatir, anak ini sering ngebosi teman-temannya. Mobilnya gonta-ganti. Dasar anak orang kaya yang berlebihan harta, tentu minta apa saja pasti diberi oleh orang tuanya.
Dengan kenyataan meninggalnya tiga temannya itu, teman-temannya banyak yang tidak percaya. Apalagi kalau dikatakan meninggal akibat over dosis. Kelihatannya sangat tidak mungkin. Apalagi dituduh menggunakan obat-obatan terlarang. Cung Kek memang tubuhnya kurus kering. Tetapi dia bukan morvinis. Kata teman-teman dekatnya, Cung Kek ini anaknya susah makan. Makanya badannya kurus.
Teman-temannya yang tahu kondisi senyatanya tiga anak yang meninggal tersebut, jelas-jelas tidak percaya kalau kasus kematian tiga temannya itu karena over dosis. Menurut teman-teman dekatnya, anak-anak yang sering diajak dolan oleh Prendes, Kecik maupun Cung Kek, mereka minumnya biasa. Paling-paling congyang. Itu pun biasanya tidak sampai mabuk. Paling satu botol diminum banyak anak.
Tapi mendengar cerita dan penuturan dari orang-orang, kelihatannya sangat janggal kalau tiga anak ini meninggal karena over dosis. Apalagi menurut berita yang mereka dengar, di bagian ******** tiga anak ini terdapat ada semacam bekas luka seperti tertusuk ujung paki kecil. Setidaknya semacam ada gigitan hewan. Entah digigit tikus atau ular. Luka kecil dua titik di sebelah kanan dan kiri. Ketiga anak ini mengalami hal yang sama. Namun itu dianggap bukan masalah oleh pihak kepolisian, bisa terjadi karena terkena resleting celana.
__ADS_1
"Memang benar ada luka di bagian itunya ...?!" tanya salah satu teman, pada obrolan khusus sekelompok anak laki-laki. Umumnya mereka teman tiga anak yang meninggal.
"Itu kata papinya Kecik .... Saat diperlihatkan mayatnya, papinya Kecik mengamati semua. Saya diajak ngobrol, semalaman." sahut temannya yang sudah datang ikut menunggui Kecik di rumah duka semalam.
"Lukanya parah?" tanya yang lain.
"Katanya seperti digigit serangga. Hanya ada bekas semacam ditusuk dibagian itunya. Kecil-kecil bekasnya. Mungkin seperti digigit belalang." jawab anak yang tadi bercerita.
"Ini sudah di peti mati?" tanya yang lain.
"Sudah ditata dan dirias dalam peti." sahut yang semalam sudah datang.
"Boleh melihat lukanya, tidak?" tanya teman yang lain.
"Wah, ya tidak bisa .... Sudah ditata dalam peti." jawab lainnya.
"Tapi kok polisi tidak tahu kalau ada luka itu?" tanya yang lainnya.
"Benar juga .... Dulu tetangga saya saja mati bunuh diri, di periksa polisi di rumah sakit hampi setengah hari .... Padahal yang melayat sudah datang dari pagi .... Memang ribet." sahut yang lain ikut berpendapat.
"Tapi apa benar mereka over dosis?" ada yang bertanya lagi. Tentu karena kurang yakin.
"Kalau dengar ceritanya, memang iya .... Banyak botol berserakan di vilanya Cung Kek ...." sahut lainnya.
"Yuk, kita ke tempatnya Prendes .... Kita cari tahu dari orang tua Prendes ...." usul salah satu anak.
"Setuju ...!"
"Aku ikut ...!"
__ADS_1
Akhirnya, ada enam anak saling berboncengan, naik motor menuju rumah duka dimana Prendes disemayamkan. Tentunya mereka ingin berbela sungkawa, dan yang jelas ingin mencari kebenaran berita kematian teman-temannya itu dari keluarga Prendes.
Hanya beberapa menit, enam anak yang berboncengan motor itu sudah sampai di rumah duka. Mereka langsung masuk ke tempat penyemayaman peti mati. Ada mami dan papinya Prendes di sana. Banyak juga saudara-saudaranya. Ada pelayat-pelayat yang lain pula yang sudah duduk di dekat peti jenazah.
Enam anak berseragam SMA ini langsung disambut oleh papi dan maminya Prendes. Maminya yang sudah tahu teman-temannya Prendes ini, langsung merangkul dan memeluk anak-anak berseragam SMA tersebut. Tentu sambil menangis karena teringat anaknya.
"Maafkan anak saya ya, Koh ...." kata maminya Prendes yang lagi-lagi memeluk anak-anak yang baru datang.
"Iya, Tante .... Turut berduka cita, Tante ..., Om .... Kami ikut sedih mendengar berita ini. Sekolahan berkabung, Tante ..., Om .... Nanti teman-teman yang lain akan bergantian datang menjaga di sini." kata Beny pada papi dan maminya Prendes. Tentu karena Beny yang cakap bicara seperti itu, apalagi kepada orang tua yang sedang berduka. Tidak semua orang bisa bicara.
"Silahkan kalau mau memberikan doa lebih dahulu ...." kata papinya Prendes.
Enam anak itu langsung menuju ke samping peti mayat. Mereka menyaksikan Prendes yang sudah terbujur di peti mati, mengenakan pakaian resmi, setelan jas lengkap dengan dasi dan sepatunya. Rambunya di sisir rapi. Wajahnya terlihat bersih. Di tangannya yang bersilang di dada, ada sebuah alkitab yang dipegangnya. Prendes benar-benar terlihat ganteng dan sangat gagah. Seperti layaknya anak yang rajin berbakti di gereja.
Enam anak berseragam abu-abu putih itu menundukkan kepala, mendoakan temannya yang pernah akrab dan gojegan bersama di sekolahan.
Setelah selesai berdoa, enam teman sekolah itu menuju kursi yang tertata, mereka memilih duduk di dekat peti mati. Tentu karena mereka sebentar lagi tidak akan bisa melihat temannya itu.
"Maafkan Prendes ya, Koh ...." kata papinya Prendes yang mendatangi teman-teman anaknya itu.
"Iya, Om .... Kami tidak menyangka dan tidak percaya semua ini terjadi, Om ...." sahut Beny, lagi-lagi mewakili teman-temannya untuk bicara.
"Kejadiannya yang benar bagaimana sih, Om?" tiba-tiba ada yang ingin tahu kejadiannya.
"Huhhhhh ..... Om juga tidak percaya dengan semua ini .... Mobil Feroza yang dibawa itu kepunyaan caciknya. Mobil dia sendiri ada di rumah .... Caciknya yang bingung .... Caciknya merasa ikut bersalah sudah meminjami mobilnya .... Dan sekarang mobil caciknya itu masih ditahan polisi ...." jawab papinya Prendes.
"Tidak dicari penyebab sebenarnya, Om?" tiba-tiba ada yang nyeletuk lagi.
"Ahhhhh ......., sudahlah. Om mohon, tolong ceritakan yang baik-baik saja tentang anak kami. Jangan bicarakan yang jelek. Karena kalau bicara jelek, semua orang pasti punya kesalahan .... Setiap orang pasti punya kekurangan .... Tapi Om mohon, ceritakanlah yang baik-baik saja tentang Prendes .... Ya ...." kata papinya Prendes yang berpesan pada teman-temannya.
__ADS_1
"Ya, Om .... Kami berteman dengan Prendes sudah seperti sahabat, sudah kayak saudara .... Prendes itu orangnya baik, Om .... Yakin, kami tidak bohong, Om ...." kata Beny, tentu sambil menegaskan kepada teman-temannya.
Selanjutnya mereka berpamitan, untuk kembali ke sekolah. Namun rencana mereka untuk mengorek luka pada bagian yang dirahasiakan itu gagal.