
Melian sudah kembali berdiri kokoh. Nafasnya sudah kembali lega. Irul sudah memijit lengan dan pundak, agar tubuhnya yang terbentur kembali pulih. Tentu Melian sudah bersiap kembali untuk membela dirinya, dan tidak bakal mau kalau dibawa perempuan yang berusaha menculiknya itu. Melian tentu akan memberontak sebisa mungkin, melawan perempuan Sungai Kuning tersebut.
Perempuan yang merasa sanggup merobohkan Melian itu terlihat jumawa. Ia membusungkan dadanya, pamer kesaktiannya yang sanggup merobohkan Melian. Dan kini, ia sudah bersiap menunggu serangan Melian.
Sebenarnya, selain Irul yang ada di tempat itu yang menyaksikan pertarungan antara Melian melawan ajudan Raja Naga dari Sungai Kuning tersebut, di alam luar nalar manusia, terdapat banyak tokoh pemimpin kerajaan lelembut yang ikut menyaksikan pertarungan itu. Setidaknya mereka adalah pengawal raja, para jendral pimpinan perang, ataupun para raja yang sengaja turun ikut penasaran dengan tersohornya kesaktian pemakai gelang giok yang berukir naga, yang pernah memakmurkan Kampung Naga. Tokoh-tokoh dari berbagai negeri yang ada di alam gaib itu, ingin tahu kehebatan gadis cantik pemakai gelang naga tersebut.
Irul tidak bisa menyaksikan tokoh-tokoh gaib itu. Mata irul tidak sanggup melihat makhluk yang ada di luar dunia manusia. Irul tidak dapat melihat kehidupan di alam gaib. Makanya, walau di sekitar pemakaman itu terdapat banyak tokoh-tokoh hebat, Irul tetap tidak tahu dan tidak melihatnya. Irul hanya sanggup menyaksikan Melian dan perempuan aneh itu saja.
Melian melompat mendekat ke perempuan Sungai Kuning itu. Kakinya langsung memasang kuda-kuda yang kokoh dan kuat. Tangannya mulai bergerak lemah gemulai, seperti gerakan seorang penari. Tubunya juga meliak-liuk ke kanan dan ke kiri, ke depan dan ke belakang. Gaya pertarungan yang aneh.
Di depan Melian, pendekar Sungai Kuning itu juga sudah bersiap. Tangannya mengepal, siap melancarkan pukulan. Wajahnya kaku, pertanda menahan amarah.
"Hiyaaaaa .......!!!" perempuan dari Sungai Kuning itu sudah melompat, menyerang Melian dengan pukulan tangannya.
Namun Melian yang seolah menari itu, ternyata sudah bersiap dengan gaya wushu yang aneh. Wushu yang ia pelajari dari Pendeta Agung Klenteng Tay Kak Sie, tempat pemujaan Dewi Kwan Im di Semarang. Ya, seni wushu yang memadukan tarian klasik Tiongkok dengan seni bela diri untuk berperang melawan penjajah kala itu. Tentu gerakan Melian sangat indah meski terlihat lemah gemulai.
"Lihatlah, gadis itu sudah mempelajari teknik berperang dari Shaolin ...." komentar salah seorang tokoh bertubuh tinggi kurus yang mengenakan penutup kepala futou warna merah. Futou merupakan topi tradisional khas Cina.
"Itu bukan kungfu ...." sahut tokoh yang lain.
"Diriku lebih memilih gadis bergelang giok ...." kata salah seorang yang mengenakan pakaian kebesaran seorang raja.
__ADS_1
"Dirimu keliru .... Lihatlah perempuan yang mengenakan tusuk konde dengan permata indah itu .... gerakannya lebih kokoh dan gesit. Pukulannya pasti lebih kuat." kata tokoh yang lain, laki-laki gemuk berjenggot putih.
"Kalau begitu, kita bagi menjadi dua, siapa saja yang memilih gadis bergelang giok, silahkan duduk di sebelah sini. Sedangkan yang memilih perempuan dengan tusuk konde, silahkan duduk di seberang sana ...." kata laki-laki yang mengenakan topi futou tersebut.
Tanpa ada berdebatan lagi, orang-orang yang menyaksikan pertarungan Melian melawan perempuan dari Sungai Kuning itu langsung mengelompok menjadi dua bagian. Yang berada di sebelah utara, tempatnya para tokoh yang menganggap wanita dengan tusuk konde lebih hebat dan bakal menang. Sedangkan yang ada di sebelah selatan, tempat yang dipilih oleh orang-orang yang senang dengan gaya pertempuran dari gadis bergelang giok. Dua kelompok itu dipisahkan oleh ruang yang digunakan untuk pertempuran dua wanita yang dilihatnya. Jumlahnya berimbang antara kelompok yang ada di bagian utara maupun selatan. Mereka berharap, perempuan yang dipilihnya yang menjadi pemenang. Tentunya, dua kelompok ini saling totohan, bertaruh untuk membela petarungnya masing-masing.
Perlu diketahui, bahwa tokoh-tokoh ini adalah para penguasa negara atau kerajaan. Maka yang dipertaruhkan tentu bukan sekadar uang, melainkan wilayahnya masing-masing, negaranya, kerajaannya mereka.
Sementara itu, di arena pertempuran, Melian sudah berkali-kali melancarkan pukulan maupun tendangan. Namun perempuan dengan tusuk konde itu masih sanggup mengelak. Melompat kian kemari menghindari pukulan-pukulan Melian.
Demikian juga perempuan dari Sungai Kuning itu, yang setiap kali punya kesempatan, langsung berbalik melancarkan serangan-serangannya yang mengarah ke tubuh Melian. Tentunya dengan jurus-jurus yang dahsyat dan mematikan.
Namun Melian juga berusaha untuk tidak kalah begitu saja. Melian melompat kian kemari, menhindari setiap ada serangan yang datang ke arah dirinya. Tubuhnya meliak-liuk kian kemari, melompat kke kanan dan ke kiri, bahkan juga bersalto ke belakang, melenting ke depan, dan terus menghindari serangan-serangan maut yang dilancarkan musuhnya.
Sebenarnya, loncatan-loncatan Melian itu bukanlah cara untuk menghindari serangan dari musuhnya, tetapi Melian juga membuat celah agar bisa menyarangkan pukulannya ke tubuh lawannya. Tentunya Melian juga waspada kalau perempuan aneh yang akan menculiknya itu melakukan serangan mendadak yang tidak diketahuinya.
Hingga akhirnya, Melian melompat ke depan musuhnya, tentu dengan memberikan serangan ke bagian bawah tubuh wanita itu. Begitu melihat Melian akan menyerang bagian bawah, pasti wanita Sungai Kuning itu langsung menghadang serangan di bagian bawah. Ia membungkukkan badannya, dengan tangan yang bersiap membalas pukulan Melian. Namun tiba-tiba saja, saat hampir sampai di bagian kaki musuhnya, Melian justru meloncat ke udara, bersalto cepat, dan secepat kilat kakinya sudah mendarat di punggung wanita dengan tusuk konde itu.
"Dhught ...!" tendangan membalik Melian menghantam punggung musuhnya.
"Wadaouw .........!!" perempuan itu menjerit kesakitan. Ia terhuyung ke depan, dan langsung berguling di tanah.
__ADS_1
"Horeeee .........!!" sorak sorai dari para lelembut yang mendukung Melian langsung terdengar riuh. Pastinya bangga dengan gadis gelang giok yang sanggup menjatuhkan musuhnya itu.
Namun hanya berguling satu kali, perempuan Sungai Kuning itu sudah bangkit lagi. Tidak ingin disebut kalah, perempuan itu kembali melancarkan pukulan-pukulannya, menyerang Melian lebih cepat dan menakutkan. Melian yang berusaha menghindar, juga tidak sadar kalau ternyata musuhnya membalik arah serangan. Saat Melian menghidari pukulan ke arah kanan, justru tangan lawannya itu sudah berbalik arah.
"Plak ...!" pipi Melian tertampar telapak tangan musuhnya.
"Horeeee .........!!" sekarang berbalik. Sorak sorai itu terdengar dari para lelembut yang mendukung wanita dengan tusuk konde. Pastinya kelompok lelembut yang berada di sebelah utara, bangga denganperempuan tusuk konde yang bisa menampar pipi musuhnya.
Melian meringis kesakitan. Namun belum sempat mengelus pipinya yang terkena tamparan, tiba-tiba wanita tusuk konde itu sudah kembali melancarkan pukulannya yang mengarah pada bagian dada.
"Hiyaaa ....!!!" teriak wanita itu sambil menghentakkan kakinya.
"Duesh ...!!"
"Dug ....!!"
Tahu kalau pukulan itu sangat cepat dan kuat, Melian tidak sanggup untuk menghindar. Ia langsung memutar tangannya, sangat cepat. Seperti perputaran kitiran angin yang cepat. Tangan dua orang itu saling beradu kekuatan.
Melian terhuyung ke belakang beberapa langkah. Demikian juga wanita tusuk konde yang memukul dada Melian, ia langsung terpental ke belakang. Dua-duanya mengalami benturan tangan yang saling beradu secara kuat.
"Hati-hati Melian ...!" Irul berteriak mengingatkan Melian.
__ADS_1
Para tokoh lelembut itu kembali bersorak. Kali ini dua kubu yang saling mendukung jagonya, semuanya merasa senang, karena jagonya bisa menghantam musuhnya. Tentunya, mereka juga bangga dengan jago-jago mereka yang hebat luar biasa. Bisa melakukan serangan-serangan secara menarik bagi para tokoh yang tentunya juga memiliki ilmu bertempur cukup tinggi. Bayangkan saja, kalaudiantara mereka ada yang menjadi jendral pemimpin perang, pastilah ilmu pertempuran mereka tidak sembarangan.
Hingga matahari sudah condong di langit barat, dua perempuan yang saling bertempur itu belum juga terlihat siapa yang menang dan siapa yang nantinya bakal kalah. Para tokoh yang saling bertaruh tersebut, tentunya semakin gusar dengan perkelahian itu. Pertarungan yang semakin cepat dan semakin sengit. Meski berkali-kali ada yang terpukul, tetapi belum terlihat siapa yang lebih unggul.