
"Kamu dari mana saja, Mel ...?" tanya Putri saat Melian masuk kamar.
"Jalan-jalan ...." jawab Melian santai.
"Kok sampai larut malam ...?" tanya Putri lagi.
"Iya, lah .... Yang namanya jalan-jalan itu ya pasti lama, lah .... Kan banyak acara ...." sahut Melian.
"Acaranya apa saja ...?" tanya Putri lagi.
"Ceritanya nanti .... Aku mau mandi dulu ...." kata Melian yang langsung melepas bajunya dan masuk ke kamar mandi.
"Ups ..., bauk ...!!" Putri menggoda.
Melian pun langsung mandi. Ya, tentu tubuh Melian bau keringat, setelah sejak siang menjelang sore ia berada di tempat kumuh, dan harus berurusan dengan berandal-berandal. Tentu tubuhnya berkeringat. Belum lagi saat harus menangkap copet di BRT, ia juga berurusan dengan copet. Dan selanjutnya malah ketika Melian justru sengaja ingin menangkap copet-copet, ia harus masuk ke dalam bus yang penuh sesak dengan penumpang. Pasti harus bercampur baur dengan orang banyak. Bau keringat dari berbagai aroma, tentu menempel ke seluruh pakaian Melian. Pasti baunya beraneka macam. Apalagi jika saat berada di bus Kopaja yang penumpangnya rakyat jelata. Maka pakaiannya harus dimasukkan ke dalam mesin cuci.
Setelah mandi, Melian langsung berganti pakaian. Hanya mengenakan kaos oblong dan celana kulot. Selanjutnya, Melian langsung merebahkan diri di kasurnya.
"Uhh .... Capeknya ...." kata Melian yang sudah terlentang di atas kasur.
"Memang ngapain ..., kok capek ...?!" tanya Putri yang juga sudah rebahan.
"Terlalu banyak jalan-jalan ...." jawab Melian.
"Jalan-jalan ke mana, tadi?" tanya Putri, yang tentu juga penasaran.
"Aah, cuman lihat aktivitas para pemulung di kampung kumuh bantaran Sungai Ciliwung." jawab Putri.
"Haah ...?! Ngapain ...?!" Putri terheran.
"Yaah ..., lihat-lihat aja .... Siapa tahu ada yang menarik untuk studi saya ...." jawab Melian santai.
"Trus ...?! Kamu keliling di sana, gitu?" tanya Putri yang penasaran.
"Ya, iya lah .... Mosok duduk manis di jembatan .... Memangnya saya Si Manis Jembatan Ciliwung?" jawab Melian sambil gojekan.
"Sendirian ...?!" tanya Putri lagi.
"Ya, iya lah .... Tapi terus tadi banyak yang jalan sama saya .... Saya diantar keliling daerah itu .... Bahkan juga masuk ke gubug-gubug mereka ...." jelas Melian.
"Ya ampun, Mel .... Pantesan bajumu kotor semua dan baunya nggak enak ...." Putri langsung mencela.
Melian kembali teringat saat berada di daerah pemukiman kumuh tadi, dan sudah mengajak para warganya untuk melawan kejahatan. Yang ternyata ketika ada yang memotivasi, para warga itu juga berani melawan kejahatan. Bahkan mereka terlihat senang saat memukuli bahkan melempar para pecundang itu ke dalam sungai. Namun sebenarnya, Melian juga sudah mengajarkan kebersamaan diantara mereka. Melian sudah memberikan makna saling membantu dan bersatu padu. Yang kenyataannya, ketika mereka berjuang bersama-sama, orang-orang yang dianggap lemah itu sudah sanggup mengalahkan genk yang sering berbuat semena-mena.
"Eh, Mel .... Kamu dapat salam dari Kim Bo ...." kata Putri pada Melian. Ia duduk di kasurnya, sambil memandangi Melian. Tentu ingin tahu reaksinya.
"Kim Bo itu siapa ...?" tanya Melian yang tetap saja rebahan. Tidak tertarik dengan salam-salaman ala anak laki-laki yang paling hanya butuh kenikmatan saja.
"Itu .... Anak Ekonomi yang naik mobil mewah itu, lho ...." jelas Putri pada Melian, menerangkan anak laki-laki yang titip salam padanya.
"Mobil dia apa mobil papahnya?" tanya Melian yang tentu tidak senang dengan anak yang suka memamerkan kekayaan orang tuanya.
__ADS_1
"Ya mobil dia, lah .... Kan sudah dikasih sama papahnya ke dia .... Jadi, ya mobil Kim Bo ...." Putri menegaskan.
"Kasihan ...." sahut Melian.
"Kenapa, memang ...?!" tanya Putri yang jadi terheran.
"Fakir miskin .... Sukanya minta-minta. Kalau dekat sama aku, terus mau belikan makan atau minum, masuk cafe atau warung ..., uangnya hasil ngemis ...." kata Melian yang memang ekstrim didengar telinga.
"Iih ..., kamu kok gitu sih, Mel .... Yang penting kan punya uang .... Apalagi kalau jalan-jalan, bepergian, keluar masuk mall, naiknya mobil mewah .... Kan keren, Mel ...." kata Putri yang tentu lebih suka dengan pemandangan yang glamour.
"Bilang saja sama Kim Bo ..., aku tidak suka dengan hidup ala pengemis." sahut Melian yang tidak senang dengan gaya hidup teman-temannya.
"Eh ..., Mel .... Besok malam Minggu ikut aku, ya ...." ajak Putri.
"Ke mana ...?" tanya Melian.
"Udah, lah .... Pokoknya ikut saja ...." kata Putri setengah memaksa.
*******
Malam Minggu, sejak sore Putri sudah berdandan cantik. Ia sudah janjian dengan Wijaya, pacarnya, untuk menghibur diri. Dan seperti yang sudah diminta pada Melian, ia mengajaknya. Tentu ingin memperlihatkan bagaimana gaya hidup anak muda di Jakarta.
"Mel, kamu tidak pakai pakaian yang bagus ...? Tidak dandan yang cantik ...?" tanya Putri pada Melian yang akan diajak jalan-jalan.
"Aku lebih nyaman pakai celana sama kaos saja, Put .... Lebih leluasa gerakannku." jawab Melian yang hanya mengenakan celana jean, kaos oblong serta jaket.
"Dasar anak tomboi ...." kata Putri terlihat lebih feminin.
"Yah .... Begitulah diriku, Put .... Lebih suka kebebasan. Dan pakai pakaian seperti ini, aku lebih nyaman ...." sahut Melian.
Mereka pun turun bersama. Akan bermalam Minggu dengan mencari hiburan ala anak muda Jakarta. Tentunya nanti akan pulang larut malam.
Di bawah, di halaman depan lobi, ada banyak mobil yang terparkir. Semua bagus-bagus dan keluaran terbaru. Mereka tentunya para cowok yang pada menunggu pacarnya yang tinggal di asrama mahasiswi. Ya, rata-rata mereka akan bermalam Minggu bersama pacarnya.
Memang di asrama mahaisiswi ini, tidak diperkenankan tamu cowok naik atau masuk ke asrama. Kalaupun ada yang mau ketemu, hanya bisa bertemu di ruang lobi. Maka untuk ngobrol lebih leluasa, biasanya orang-orang lebih memilih keluar asrama. Entah itu ke warung makan, cafe atau hanya sekadar putar-putar di jalan raya. Setidaknya mereka bisa leluasa ngobrol atau saling janji-janji. Biasa, namanya juga anak muda, Pasti banyak acara yang dilakukan untuk bersenang-senang.
Seperti halnya Putri, yang sudah dijemput oleh Wijaya, yang katanya adalah pacarnya. Tentu Wijaya ini tidak boleh masuk asrama Putri. Makanya Putri yang keluar dan jalan-jalan bersama Wijaya untuk bisa saling bercurah kata cinta.
"Putri ...!!" terdengar suara laki-laki memanggil Putri.
"Itu Wijaya ...." kata Putri pada Melian, yang sambil menunjuk ke arah laki-laki yang berdiri di samping pintu mobil.
"Cakep juga pacar kamu, Putri ...." sahut Melian.
"Ayo .... Kita samperi dia ...." kata Putri yang langsung menuju ke mobil Wijaya. Sedan warna merah menyala yang masih baru. Keren.
Melian mengikuti ajakan Putri. Menuju ke mobil Wijaya yang sudah dibuka pintu samping kiri.
"Wi ..., kenalkan .... Ini Melian, teman satu kamar saya yang sering aku ceritakan itu." kata Putri mengenalkan Melian kepada pacarnya.
"Wijaya ...." cowok itu mengulungkan tangannya mengajak salaman sambil mengenalkan namanya.
__ADS_1
"Melian ...." sahut Melian yang menyalami cowok temannya itu.
"Ayo, kita jalan ...." kata Wijaya juga membukakan pintu belakang untuk Melian.
Tentu Putri langsung duduk di kursi depan, berada di samping kiri cowoknya.
Setelah menutup pintu di tempat yang diduduki Melian dan Putri, cowok itu langsung duduk ke sopiran. Namun sebelum jalan, cowok itu sudah mendongakkan mukanya ke arah Putri. Cowok itu mencium Putri. Dan tentu Putri juga meladeninya, menerima ciuman cowoknya itu dengan senyum gembira.
Cium-ciuman antara Putri dan cowoknya itu, tepat berada di depan Melian. Tentu Melian sangat risih dan jijik. Setengahnya jengkel ikut bepergian bersama orang yang pacaran. Namun terpaksa, ia sudah terlanjur duduk di dalam mobil itu.
Setelah beberapa kali berciuman, cowok itu menjalankan mobilnya. Mobil yang sangat halus, hingga hampir tidak terdengar suaranya. Jalannya pun sangat nyaman, tanpa terasa ada goncangan. Dasar orang kaya, kalau beli mobil pasti yang bagus-bagus. Dan sesaat kemudian, mobil itu sudah melaju kencang di jalan raya.
Wijaya menyetel audio. Entah musik apa, suaranya jedag-jedug memekakkan telinga. Salonnya sudah dimodifikasi dengan bas yang menggelegar. Mobilnya jalan tidak terasa, tetapi bas-nya berbunyi mobilnya langsung bergoyang-goyang. Itulah mobil anak muda.
Mobil itu berbelok ke sebuah bangunan. Masuk ke dalam gedung. Mobil menyusuri jalan sempit menurun. Lantas berhenti di arena parkir bawah tanah. Area parkir yang juga dipenuhi mobil-mobil mewah dan keren. Pasti ini mobilnya anak-anak orang kaya.
Wijaya langsung mematikan mesin mobilnya. Keluar dari mobil. Membuka pintu tempatnya Putri dan Melian. Putri dan Melian keluar. Tetapi si Putri langsung dirangkul oleh pacarnya. Melian mengikuti di belakangnya. Mereka menuju lift, dan naik ke ruang atas, tempat hiburan yang dituju.
Benar. Begitu keluar dari lift, suara jedag-jedug kembali terdengar. Musik tanpa irama itu sudah mulai memekakkan telinga. Begitu masuk ke ruang itu, Melian sudah tidak senang dengan kebisingannya. Namun anehnya, di ruang itu banyak muda-mudi yang jejingkrakan tidak karuan. Berjoget tanpa aturan. Yang perempuan pada mengenakan pakaian seksi-seksi, bergandengan bahkan memeluk mesra cowok-cowoknya. Begitu juga Putri yang baru saja masuk bersama cowoknya, langsung perbelukan dan berciuman. Lantas ikut jejingkrakan.
"Ini pasti pesta setan ...." begitu gumam Melian dalam batinnya.
"Hai ..., Melian .... Ayo berdansa sama saya ...." tiba-tiba ada seorang laki-laki yang mendatanginya, memegang tangan Melian, dan menarik mengajak dansa.
Melian langsung melepas pegangan tangan cowok itu. Ia tidak mau diajak berdansa. Apalagi dirinya belum kenal sama cowok itu, kenapa tiba-tiba mengajak dansa. Memangnya Melian ini wanita murahan.
"Melian ..., ini Kim Bo .... Cowok yang naksir kamu itu ...." tiba-tiba Putri datang menghampiri Melian, dan mengenalkan cowok yang tadi sudah menyeret tangannya.
Cowok yang bernama Kim Bo itu sudah mengulurkan tangan, mengajak salaman Melian. Tetapi Melian diam saja tidak bereaksi. Tidak mau menyabut ajakan salaman dari cowok di depannya itu.
Setelah mengenalkan cowok itu kepada Melian, Putri sudah kembali ke tengah arena goyang dombret. Sudah kembali rangkul-rangkulan dengan cowoknya.
"Ayolah, Melian .... Kita melantai .... Goyang-goyang sebentar ...." kata laki-laki bernama Kim Bo itu merayu Melian.
Melian yang duduk di sudut ruang itu tetap diam. Tidak menggubris dengan kata-kata cowok yang merayuna. Seolah ia tak mendengar perkataan cowok itu.
"Melian .... Aku mencintaimu .... I love you ...." kata cowok itu lagi, sambil tangannya mencoba meraih tangan Melian.
Tetapi, lagi-lagi Melian menghindar. Tidak mau disentuh oleh cowok yang merayunya itu.
"Melian .... Sungguh .... Aku sangat mencintai kamu .... Apapun yang kamu minta, akan aku berikan padamu .... Aku janji ...." lagi-lagi, cowok itu kembali merayu Melian.
Tetapi Melian bukanlah anak yang gila rayuan. Bukan anak yang gila dengan janji-janji. Melian justru tidak senang melihat cowok yang cengeng seperti itu. Sudah mengemis harta orang tuanya, kini mau mengemis cinta pada gadis-gadis. Apalagi bertemunya saja di tempat dugem, itu pastilah bukan orang baik. Orang yang hanya mengumbar hawa nafsu. Laki-laki yang hanya ingin menikmati kepuasan saja.
"Ayolah, Mel .... Kita bergoyang sebentar saja ...." cowok itu kembali berusaha menarik Melian untuk diajak berjoget.
Namun, kali ini Melian berdiri. Ia mengibaskan tangan cowok itu lagi. Lantas melangkah, menuju lift. Melian turun dari tempat para setan bergumul tersebut. Melian sudah bosan menyaksikan kemunafikan orang-orang yang mengaku moderen itu.
"Melian ........!!! Melian .........!!!" Kim Bo berteriak memanggil gadis yang sudah bisa menaklukkannya. Padahal selama ini, tidak ada satupun wanita yang menolak dirinya. Bahkan rata-rata para wanita ingin berdekatan deng Kim Bo. Anak orang kaya dengan mobil mewah, uang keluar tanpa hitungan.
Tentu Putri kaget. Ia langsung menemui Kim Bo yang berteriak memanggil Melian tersebut. Pasti Melian telah pergi meninggalkannya.
__ADS_1
Memang, sebenarnya ajakan Putri pada Melian, ingin mempertemukan Melian dengan Kim Bo. Tentunya sebagai makcomblang, Putri ingin temannya itu bisa pacaran dengan Kim Bo yang bilang kalau naksir Melian. Namun sayang, itu bukan kelasnya Melian. Melian hanya senang dengan orang-orang kecil, miskin, lemah dan butuh pertolongannya.
Tidak mudah untuk menjodohkan orang. Kawan dekat bukan berarti harus mengatur segala-galanya. Tidak juga untuk masalah pacar.