GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 65: BOS BARU


__ADS_3

    Hampir jam sembilan pagi. Seluruh karyawan kerajinan kuningan itu sudah pada datang. Semua disuruh duduk di ruang tamu tempat biasa para pelanggan atau pemesan bertemu dan berbincang dengan juragan kuningan. Meski kursi tamu itu hanya memuat enam orang, tetapi para karyawan itu disuruh mengambil tempat duduk sendiri-sendiri, agar bisa berkumpul bersama lima belas orang karyawan.


    Jamil tidak mau duduk di kursi bos. Ia sengaja membaur dengan teman-temannya. Tentunya Jamil tidak ingin dianggap angkuh dan sombong. Ia tidak enak dengan para karyawan yang lebih senior.


    "Mas Jamil duduk di kursi bos, to ...." kata salah seorang karyawan.


    "Ah, tidak baik .... Bukan hak saya .... Nanti kuwalat." sahut Jamil sambil tersenyum.


    "Ayo, Mil .... Segera dimulai .... Kami butuh pesangon itu ...!" kata salah seorang karyawan yang cukup tua. Pasti sudah tidak sabar ingin meminta pesangon.


    "Ya .... Saya mulai saja, ya ...." kata Jamil yang sudah duduk menghadapai para karyawan.


    "Ya, makin cepat makin baik .... Jangan terlalu lama .... Uang pesangon kami sudah ditunggu untuk membeli beras .... Buat makan keluarga ...!" kata orang itu tadi.


    "Baiklah, Bapak, Mas, Mbak saudaraku semua .... Di sini saya hanya menjalankan amanah dari Pak Bos, untuk melanjutkan usaha ini. Hal ini karena kita tahu Pak Bos masih berurusan dengan pihak berwajib. Kita doakan saja agar Pak Bos segera terbebaskan ...." kata Jamil membuka acara.


    "Sudah, Jamil .... Jangan terlalu lama .... Saya tidak butuh ocehan kamu. Yang penting sekarang pesangonnya tolong segera diberikan ...!!" lagi-lagi laki-laki yang hampir tua itu menuntut pesangon agar segera dibagi.


    "Sabar gitu, lo ...." kata karyawan yang lain.


    "Sabar ..., sabar .... Mau dibagi kapan ..?!" sahut laki-laki itu lagi. Rupanya memang ia tidak sabar untuk segera meminta pesangon.


    "Iya .... Akan saya bagikan pesangon itu .... Tapi terus terang, saya ingin memberikan pilihan .... Jadi tidak semata-mata saya memberikan uang pesangon, tetapi para karyawan juga harus tahu masalah yang dihadapi oleh perusahaan .... Biar nanti tidak kecewa atau menyesal ...." kata Jamil yang tetap tersenyum.


    "Kecewa-kecewa bagaimana ...?! Kami tidak pernah menyesal ...! Pokoknya cepat bagikan uang pesangon itu!" kata laki-laki yang mendekati tua itu tetap bersikeras untuk meminta pesangon.


    "Ya, betul ...! Yang penting kami diberi pesangon ...!" tiba-tiba ada karyawan lain yang ikut mendukung minta pesangon.


    "Baiklah .... Saya tidak bisa memaksa keinginan seseorang. Kalau begitu saya ingin tahu, siapa yang memang ingin keluar dari pekerjaan ini, akan saya beri pesangon ...." kali ini kata-kata Jamil agak keras, dan tentu Jamil tidak tersenyum. Bahkan wajah Jamil terlihat seperti marah.


    Semua orang terdiam. Lima belas karyawan itu tidak ada yang menjawab. Bahkan mereka pada menundukkan kepala. Seakan takut melihat wajah Jamil. Termasuk laki-laki hampir tua yang tadi meminta untuk segera diberi pesangin. Ia juga diam mematung.


    "Kok diam semua ...?! Bukankah kalian menghendaki diberi pesangon?" lagi-lagi Jamil menanyai karyawan-karyawan itu.


    Tetapi, lagi-lagi para karyawan itu terdiam. Tidak ada yang menjawab. Bahkan mereka menunduk. Tidak ada yang berani mendongakkan kepalanya.


    "Mbak Ika ...." kata Jamil memanggil karyawan perempuan yang bernama Ika, sebagai penjaga toko hasil kerajinan.


    "Iya saya, Mas Jamil .... Eh ..., maaf, Pak Jamil ...." kata karyawan penjaga toko tersebut.

__ADS_1


    "Saya minta tolong, Mbak Ika ambil kertas dan pulpen .... Tolong ditawarkan kepada teman-teman, siapa yang mau berhenti kerja dan minta pesangon ... Dan siapa teman-treman yang ingin tetap berada di tempat usaha ini, tentunya tetap kerja ..., dan yang tetap ingin berada di sini, berarti mereka tidak dapat pesangon." kata Jamil meminta kepada perempuan muda itu, yang sehari-hari menjaga toko barang hasil kerajinan kuningan tersebut.


    "Iya, Pak Jamil ...." perempuan bernama Ika itu langsung bergegas mengambil kertas dan ballpoint yang ada di toko.


    Lantas, Jamil tentu menyampaikan maksudnya kepada teman-temannya lagi. Ia kembali bicara dihadapan para karyawan.


    "Bapak-bapak, Mas-mas, dan Mbak semuanya .... Mohon dengarkan kata-kata saya. Saya mau menyampaikan kepada teman-teman semua, bahwa usaha kerajinan kuningan milik Pak Bos ini sebenarnya dalam keadaan bangkrut. Minggu kemarin, sebelum istri Pak Bos meninggal, tempat usaha ini akan disita oleh bank, karena tunggakan utang dan bunga yang sudah melebihi tenggat waktu. Tentu Bu Bos stres. Mungkin itu yang menyebabkan Bu Bos bunuh diri. Terus terang saja, perusahaan ini sudah tidak punya uang sama sekali. Kebetulan saya ada tabungan yang bisa digunakan untuk membayar utang perusahaan, dan tentu untuk menyelamatkan tempat usaha ini agar tidak disita oleh bank. Dan kebetulan, saat ini Pak Bos masih di tahanan kepolisian. Pak Bos memesan pada anak dan keluarganya, meminta tolong kepada saya untuk menangani masalah usaha kerajinan kuningan ini. Terus terang saya tidak sanggup melanjutkan usaha dalam kondisi krismon seperti ini. Tidak ada yangmau beli kuningan. Tidak ada pemasukan uang. Oleh sebab itu, perusahaan tidak punya uang alias bangkrut.  Dan saat ini, saya hanya mau memberi pilihan kepada Bapak, Mas, Mbak dan saudara semuanya ..., jika sampeyan mau membantu saya untuk mempertahankan tempat usaha ini, bekerjalah bareng-bareng bersama saya, namun tentu jangan berharap bayaran dahulu .... Besok kalau krismon sudah berlalu, mudah-mudahan usaha kita akan mendapatkan hasil. Namun jika sampeyan tidak mau kerja yang tanpa hasil, menunggu krismon yang belum tahu kapan berakhirnya, saya tidak keberatan sampeyan mencari pekerjaan lain alias keluar dari tempat usaha ini. Dan saya akan memberi pesangon. Silahkan sampeyan memilih sendiri ..., menentukan akan ikut kerja di sini dengan hasil yang saya tunda bayarannya, atau paling saya bantu dibayar sedikit, atau melmilih keluar dari sini dan mendapat pesangon. Mbak Ika yang akan mencatat pilihan sampeyan. Saya tidak akan memaksa." kata Jamil yang menjelaskan kepada para karyawan, lantas pergi meninggalkan tempat itu, tentu agar teman-temannya tidak sungkan untuk menentukan pilihan.


    "Gimana ini ...?" beberapa orang bingung memilih.


    "Apanya yang bagaimana ...?! Pilih saja .... Mau tetap kerja tanpa bayaran atau keluar diberi pesangon ...." sahut yang lain menjelaskan ke temannya lagi.


    "Kamu milih apa?"


    "Ya, terserah saya ...."


    "Jangan ikut-ikutan yang lain, tentukan sesuai hatinya sendiri-sendiri ...."


    "Kalau sudah tidak betah di sini mending keluar saja .... Mumpung diberi pesangon ...."


    "Yang mau keluar siapa saja ...?"


    "Ada .... Ya, pasti yang sudah tidak betah kerja di sini ...."


    "Mau cari pekerjaan yang enak, santai, bayarannya besar .... Hehehe ...."


    "Cepat nulis .... Biar cepat rampung ...."


    "Pak, kamu minta pesangon apa tetap kerja di sini ...?"


    "Haha .... Jelas minta pesangon lah .... Kerja di sini nanti mau makan apa?"


    "Lha terus, nanti mau kerja apa kalau keluar dari sini?"


    "Halah ..., tidak usah dipikir .... Nanti urusan nanti .... Yang penting kita dapat pesangon dahulu ...."


    "Mbak Ika ..., kalau sudah minta pesangon, kalau besok krismon sudah hilang, saya boleh kerja di sini lagi nggak?" tanya laki-laki muda yang bingung itu.


    "Enak saja .... Maunya untung sendiri .... Kalau sudah keluar ya sudah ..., jangan minta enaknya sendiri .... Kalau pengin enak yang mendirikan perusahaan sendiri, biar gampang keluar masuk ...!" sahut perempuan bernama Ika itu.

__ADS_1


    Akhirnya, semua sudah menentukan pilihan. Tentu dari lima belas karyawan itu punya keputusan sendiri-sendiri dengan alasan masing-masing. Tidak ada yang memaksa, dan tidak ada yang dipaksa.


    Jamil kembali masuk ke ruang itu. Kali ini ia duduk di kursi Pak Bos. Dan benar-benar menjadi Pak Bos.


    "Bagaimana, Mbak Ika ...?" tanya Jamil pada perempuan yang diminta untuk mencatatnya tadi.


    "Ini, Pak .... Mohon maaf jika tulisan saya kurang baik." kata Ika yang menyerahkan tulisan itu pada bos barunya.


    "Terima kasih, Mbak Ika ...." sahut Jamil yang langsung membaca daftar yang ditulis Ika.


    Semua karyawan terdiam. Kali ini mereka melihat Jamil yang duduk di kursi Pak Bos, benar-benar terlihat berwibawa. Ada aura yang menakutkan dari wajah Jamil. Sebenarnya bukan menakutkan, tetapi lebih pada sikap tegas.


    "Bapak, Mas, Mbak dan saudaraku sekalian .... Sampeyan sudah memberikan pilihan. Ada tujuh orang yang menentukan untuk keluar dari tempat kerja ini, dan tentu akan saya beri pesangon. Dan saya tidak akan pelit atau kikir kepada teman-teman yang sudah memutuskan keluar. Walau kondisi keuangan kita sedang morat-marit, tetapi saya akan memberi pesangon kepada sampeyan sebesar tiga kali gaji, dengan harapan selama tiga bulan ke depan sampeyan sudah dapat pekerjaan yang sesuai dengan harapan." kata Jamil sambil tersenyum.


    Ternyata benar seperti yang dikatakan anaknya, yaitu Melian. Orang-orang yang meminta keluar dan lebih mementingkan dapat pesangon itu memang para karyawan yang selama ini ia amati kerjanya tidak rajin. Mereka tidak termasuk karyawan yang baik. Mereka hanya mementingkan uang. Bahkan Jamil sering menyaksikan, orang-orang ini selalu ngebon utang pada majikan. Tentu saat gajian, bayaran yang diterima tidak utuh karena harus dipotong utang.


    Ya, karyawan-karyawan yang banyak protes, banyak tuntutan, memang biasanya adalah orang-orang yang tidak kompeten, orang-orang yang tidak bekerja dengan baik. Bersyukurlah Jamil saat orang-orang ini, karyawan-karyawan yang malas dan tidak produktif ini justru meminta keluar. Tidak masalah memberikan pesangon, daripada kelak kalau mereka masih berada di tempat usaha itu justru akan menjadi masalah terus menerus.


    Lantas Jamil memanggil satu persatu karyawan yang memilih mengundurkan diri itu. Jamil memberikan uang pesangon, dan tentu sambil mengucapkan terima kasih.


    "Monggo, Pak .... Maturnuwun selama ini sudah ikut bekerja di sini .... Semoga sampeyan dapat pekerjaan yang lebih baik ...." begitu kata-kata Jamil saat memberikan uang pesangon.


    Tidak ada kata buruk, tidak ada dendam, dan tidak ada benci. Jamil justru merendah dan bersikap baik pada para karyawan yang keluar tersebut. Walau belum menjadi karyawannya, tetapi mereka semua adalah teman-teman sekerjanya dahulu. Jamil tetap harus menghormati dan menganggap teman.


    Satu persatu dari tujuh karyawan yang mengundurkan diri sudah mendapat pesangon. Dan semuanya suudah disalami oleh Jamil. Sudah tidak ada protes lagi. Sudah tidak ada tuntutan lagi.


    "Pak ..., kami bagaimana?" tiba-tiba salah satu karyawan yang memilih tetap kerja bertanya pada Jamil, setelah tujuh rekannya yang dapat pesangon sudah pada pulang.


    "Kalian kan memilih tetap kerja di sini ...?!" tanya Jamil.


    "Iya, Pak ...."


    "Betul, Pak ...."


    "Maksud saya ..., kita harus bagaimana sekarang?"


    "Oh, iya .... Saya mau sampaikan, tempat usaha ini sekarang menjadi milik kita bersama. Tanpa ada sampeyan yang bekerja di sini, maka usaha ini tidak ada artinya, bahkan tidak akan jalan. Maka kita harus saling bantu, harus saling bekerja sama. Dalam kondisi krismon saat ini, dengan jumlah karyawan yang hanya tinggal delapan orang, maka kita harus bisa mengerjakan semua pekerjaan. Yang sopir jangan hanya melulu menunggui mobil, tetapi juga harus membantu pekerjaan-pekerjaan lain. Mbak Ika, yang bagian jaga toko, kalau di toko sepi, maka Mbak Ika harus membantu Mbak Sri untuk mengepak barang. Demikian juga bagian-bagian yang lain. Mana yang senggang membantu yang repot. Begitu seterusnya. Bahkan saya, karena keahlian saya adalah mengamplas, maka nanti saya juga akan membantu mengamplas .... Begitu, ya ...." kata Jamil yang mulai mengatur pekerjaan.


    "Iya, Pak ...." jawab para karyawannya kompak.

__ADS_1


    Dan kini, delapan karyawannya hanya tinggal yang masih muda-muda. Usianya masih di bawah Jamil semua. Tentu Jamil merasa senang, karena tidak merasa canggung atau bingung untuk memberi perintah kepada karyawannya.


    Hari itu, Jamil menjadi Bos Juragan Kuningan.


__ADS_2