GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 27: MISTERI KUCING HITAM


__ADS_3

    Keputusan kakek dan nenek Melian untuk menyuruh Juminem momong atau merawat cucunya, merupakan hal yang sangat membuat hati Juminem gembira. Apapun alasannya, yang jelas Melian masih bersama dengan Juminem. Hati Juminem yang sudah terlanjur sayang dengan Melian, tentu sangat sulit untuk dipisahkan lagi. Apalagi jika Juminem mengingat peristiwa yang dialaminya saat menemukan bayi kecil yang baru bisa merangkak tersebut. Kejadian-kejadian aneh bersama Melian, sudah membuat pikiran Juminem menjadi penasaran. Tidak hanya aneh, tetapi juga menakutkan.


    Bayangkan saja, saat pertama kali menerima bocah yang dibopong laki-laki perkasa, tiba-tiba saja laki-laki itu hilang ditelan bis yang melintas di depan pasar. Selanjutnya, bayi yang diketahui bernama Melian itu, yang diberitakan diculik, hingga ibunya harus meninggal karena mencari anaknya, saat dikembalikan ke rumah nenek dan kakeknya, sudah bersama dengan familinya, tiba-tiba berada di rumahnya lagi sehingga mengakibatkan Juminem pingsan karena ketakutan. Kemudian saat di kuburan, ketika akan memakamkan ibu Melian, hujan deras mengguyur pemakaman, angin kencang dan petir menyambar-sambar, Juminem yang kala itu membopong Melian saat berteduh di bangunan makam, ia benar-benar heran dengan peti mati yang bisa masuk lubang kubur sendiri serta menguruk pekuburan tanpa ada orang yang mengerjakan. Aneh. Semuanya aneh.


    Apalagi saat pulang dari pemakaman Cik Lan, saat menyerahkan Melian di rumah Babah Ho, semua orang mengusir dirinya dan anak itu seperti mengusir anjing gudikan. Entah apa sebenarnya yang terjadi. Dan kembali saat Jamil dan Juminem mengantarkan Melian, yang kata pembantunya kakek dan neneknya kangen, ternyata juga tidak menyentuh Melian. Bahkan menyuruh cepat-cepat pulang. Entah ada apa sebenarnya.


    Namun sekarang, setelah Juminem bisa menyatu dengan Melian, hatinya sudah terlanjur terikat dengan Melian, Juminem tidak mengelak bahwa dirinya tidak mau kehilangan Melian. Juminem tetap menganggap Melian adalah anaknya. Anak pemberian Tuhan.


    "Kang, Babah Ho kok baik hati ya, Kang ...." kata Juminem pada suaminya, saat duduk bersama sambil momong Melian di teras.


    "Yah, Babah Ho kan juragan sembako di Pasar Lasem. Memberi sebagor sembako pada kita ..., ya kecil, lah ...." sahut Jamil.


    "Alhamdulilah ya, Kang .... Kita syukuri pemberian itu. Lumayan bisa untuk makan sebulan." kata Juminem yang selalu nrimo ing pandum, menerima segala pemberian Tuhan*.*


    "Ya ..., tapi kamu sekarang sudah tidak boleh ke rumah Bu Hajah Inah untuk menjahit krudung ...." sahut Jamil.


    "Ma ..., ma ..., ma ...." Melian ikut bicara. Entak apa yang dikehendaki.


    "Mamamama .... Mamamama .... Mamamama ...." Juminem balas menggoda Melian, tentu sambil menciumi cucu Babah Ho yang sudah dianggap sebagai anaknya itu.


    "Kiqiqikkik .... Mama ..., kikikiq ...." Melian tertawa, sambil membalas memegang-pegang hidung Juminem yang baru saja menciuminya.


    "Kang ..., kalau misalnya saya punya mesin jahit di rumah, bisa membawa kain krudung dari Bu Hajah, saya jahit di rumah ya, Kang ...." kata Juminem berandai-andai.


    "Halah, Jum .... Duitnya siapa yang mau dipakai beli mesin jahit? Bisa untuk makan saja sudah bersyukur." sahut suaminya.


    "Yaaa ..., itu kan misalnya .... Yah, saya mau nabung dahulu .... Besok kalau uangnya sudah ngumpul, saya mau beli mesin jahit. Boleh ya, Kang ...?!" kata Juminem sambil merajuk suaminya.


    "Yaa ...." sahut Jamil ringan saja, tidak mau menang-menangan untuk mengalahkan istrinya. Itulah baiknya Jamil. Setelah menjawab demikian, Jamil pun langsung pergi ke sumur untuk menimba air mengisi bak mandi.


    Mendengar jawaban itu, pasti Juminem senang. Langsung membayangkan seandainya punya mesin jahit, ia tidak hanya mengambil kain-kain dari Bu Hajah juragan kerudung, tetapi ia bisa menjahit apa saja, terutama bisa membuatkan baju-baju atau rok untuk Melian. Tentu sambil tersenyum membayangkan yang menyenangkan.


    Senja mulai menggelap. Matahari sudah turun ke langit barat, menghilang di pintu cakrawala. Juminem beranjak dari kursi kayu yang dibuatkan suaminya di teras. Tentu masih menggendong Melian.


    Namun saat berdiri dari kursi dan mau masuk ke dalam rumah, betapa kagetnya ia, tiba-tiba ada kucing hitam yang duduk di tengah pintu.


    "Astaghfirullah ...!" teriak Juminem.


    Byuur .... Hawa dingin langsung merasuk ke sekujur tubuhnya. Antara takut dan kaget. Kucing hitam legam yang bertonggok di tengah pintu itu benar-benar mengagetkan dirinya. Di saat surup, matahari sudah tidak terlihat lagi, suasana dalam rumah sudah mulai menggelap, tentu kucing hitam itu hampir tidak terlihat oleh pandangan mata. Beruntung Juminem tidak menginjak kucing itu saat akan masuk rumah.

__ADS_1


    "Ma ..., ma ..., ma ...." kata Melian yang juga ikut menunjuk ke kucing hitam tersebut.


    "Miaoooong ...." kucing itu memeong, seakan menyapa pemilik rumah.


    "Ini kucing siapa, ya ...? Kok duduk ditengah pintu ngagetkan orang mau lewat ...." kata Juminem yang akhirnya tidak jadi masuk rumah karena terhalang kucing hitam.


    "Ma ..., ma ..., ma ...." lagi-lagi Melian menunjuk-tunjuk kucing hitam itu.


    "Miaoooong ...." kucing hitam itu memeong lagi, seakan bisa bicara dengan Melian.


    "Hus ..., hus ...!" Juminem berniat mengusir kucing itu agar segera pergi dari rumahnya.


     "Ma ..., ma ..., ma ...." tapi Melian tangannya menutup mulut Juminem, seakan melarang Juminem mengusir kucing itu.


    "Miaoooong ...." demikian juga dengan kucing hitam itu yang justru bangkit dan menempelkan tubuhnya di kaki Juminem yang masih berdiri di dekat pintu.


    "Iiihh .... Ini kucing kok malah nempel-nempel ...." kata Juminem yang risih kakinya dielus dengan punggung kucing.


     "Ma ..., ma ..., ma ...." lagi-lagi Melian menepuk lengan Juminem, lantas menunjuk-tunjuk kucing hitam itu. Seakan itu pertanda agar Juminem melihat kucing yang ada di bawahnya.


    "Miaoooong ...." lagi-lagi kucing hitam itu mengeong dan menempelkan tubuhnya di kaki Juminem.


     "Ma ..., ma ..., ma ...." tangan Melian sudah menjulur dan mengelus kucing hitam itu.


    "Miaoooong ...." kucing hitam itu mengeong, seakan mengajak bicara.


    Akhirnya, Juminem pun ikut mengelus kucing hitam yang ada di hadapannya itu. Dan saat Juminem mengelus leher kucing itu, jemari tangannya menyentuh benda yang melingkar di leher kucing hitam tersebut. Ya, seuntai kalung yang melingkar di leher kucing hitam tersebut.


    "Kucing siapa ini, kok dikasih kalung segala ...?" tanya Juminem pada dirinya sendiri.


    Namun saat tangan Juminem mengenai kalung tersebut, kepala kucing hitam bergerak seperti menggeleng dan mengangguk, yang mengakibatkan kalung itu masuk ke tangan Juminem. Kucing hitam itu terus menggeleng dan mengangguk, hingga akhirnya, kalung yang ada di leher kucing hitam itu terlepas dan sudah berpindah ke pergelangan tangan Juminem.


    Setelah kalungnya berpindah ke tangan Juminem, kucing hitam itu kembali mengeluskan tubuhnya ke kaki Juminem, lantas berjalan keluar meninggalkan pintu.


   "Miaoooong ...." begitu kucing hitam itu mengeong, seakan berpamitan pada pemilik rumah.


    Juminem memandangi heran. Tetapi alangkah kagetnya Juminem, hanya beberapa langkah dari tempatnya berjongkok, kucing hitam itu sudah menghilang. Juminem tengak-tengok, mencari kucing hitam yang baru saja mengelus kakinya. Tetapi kucing itu memang benar-benar sudah hilang.


    "Ma ..., ma ..., ma ...." Melian bicara, menyadarkan Juminem yang bengong mencari hilangnya kucing hitam.

__ADS_1


    "Sudah surup begini kok belum masuk to, Jum ...?! Mana lampu rumah juga tidak dinyalakan .... Gelap semua rumahnya ...." kata suaminya yang baru selesai menimba air di sumur, menegur Juminem yang masih terdiam di depan pintu masuk.


    "Eh, iya Kang .... Maaf .... Tadi ada kucing di sini ...." sahut Juminem yang kaget ditegur suaminya.


    "Mana kucingnya?" tanya Jamil yang tentu tengak-tengok mencari kucing yang dikatakan oleh istrinya.


    "Sudah pergi, Kang ...." sahut Juminem yang langsung masuk rumah sambil menggandeng tangan suaminya.


    Jamil langsung menyentuh saklar, menyalakan lampu rumah. Walau hanya neon dua puluh lima watt, sudah cukup untuk menerangi rumahnya yang kecil itu. Maklum ekonomi Jamil hanya pas-pasan, tidak cukup untuk mengisi rumah dengan berbagai perabot maupun barang-barang berharga untuk mengisi rumah. Sudah punya rumah yang layah huni, itu sudah cukup bagi masyarakat desa. Yang penting bisa digunakan untuk tidur.


    "Kang .... Sini saya bilangi ...." kata Juminem yang langsung menyeret tangan suaminya, untuk duduk bersama di dipan tempat tidurnya.


    "Ada apa sih ...? Ini belum maghriban .... Anaknya belum tidur .... Kok wis nyeret-nyeret ....?!" kata Jamil yang diseret istrinya.


    "Bukan itu, Kang .... Ini lho, lihat ini .... Ini kalung emas apa bukan ...?!" kata Juminem sambil menunjukkan kalung yang ada di genggamannya kepada suaminya.


    "Lhah .... ini dari mana? Siapa yang memberi?" tanya Jamil sambil mengamati kalung yang lumayan besar itu.


    "Ya ..., itu .... Dari kucing tadi .... Kucing itu pakai kalung, lantas kalungnya diberikan ke tangan saya, setelah itu pergi menghilang entah kemana, saya cari tidak ada." jawab Juminem.


    "Kok aneh ...." gumam Jamil.


    "Ma ..., ma ..., ma ...." Melian ikut bicara, seakan mau turut menjelaskan kepada Jamil.


    "Emas apa bukan ...?" tanya Juminem lagi.


    "Kelihatannya emas .... Tapi saya tidak tahu pasti .... Ya sudah disimpan dahulu ...." kata Jamil pada istrinya.


    "Kalau saya pakai saja gimana, Kang ...?" tentu Juminem sangat ingin mengenakan kalung seperti itu. Maklum selama berumah tangga dengan Jamil, mana mungkin bisa beli kalung, cukup untuk makan saja sudah bersyukur.


    "Ma ..., ma ..., ma ...." Melian bicara lagi, sambil memegang leher ibunya, seakan menyuruh Juminem mengenakan kalung itu.


    "Jangan dipakai dahulu, Jum .... Saya mau cari tahu itu kucing siapa yang datang kemari .... Nanti kalau yang punya nyari kalungnya, tahu kamu pakai, malah kita dituduh mencuri." jelas Jamil.


    "Ya ..., Kang ...." kata Juminem yang menurut suaminya.


    Malam itu, Jamil berusaha mencari tahu, siapa tetangganya yang memelihara kucing hitam. Maka ia pun keliling ke para tetangga untuk menanyakan pemilik kucing hitam.


    Namun apa yang ditanyakan Jamil, para tetangga ternyata tidak ada yang memelihara kucing. Di kampungnya tidak ada yang punya kucing. Ia pun pulang tanpa hasil. Mungkin benar yang dikatakan istrinya, kucing hitam yang datang itu memang kucing ajaib yang mengirimkan kalung untuk istrinya. Tapi sebenarnya siapa yang mengirimkan kalung melalui kucing hitam misterius itu?

__ADS_1


__ADS_2