GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 113: RASA ANEH


__ADS_3

    "Pi, saya berangkat dulu .... Mi, saya berangkat ...." kata Jonatan yang kelihatan tergesa, menyalami bapak ibunya dan mencium tangannya.


    "Sarapan dulu, Nyo ...!" ibunya menyuruh sarapan.


    "Nanti jajan di kantin .... Saya tergesa ...." sahut Jonatan yang terus bablas ke garasi untuk mengambil motornya.


    "Jangan lupa ke kantin ...! Sarapan, lho ...!!" teriak ibunya.


    "Tumben berangkatnya gasik." kata bapaknya yang heran.


    "Piket mungkin, Pi ...." sahut ibunya.


    "Mau ketemu pacarnya .... Hehe ...." tiba-tiba Yu Mun yang masih menata sarapan di ruang makan ikut nimbrung bicara.


    "Kok kamu tahu, Yuk ...?!" sahut majikan perempuan.


    "Kemarin cerita ke saya, Nyah .... Hehe ...." jawab Yu Mun.


    "Walah .... Tanyai yang jelas, Mi .... Pacaran sama siapa? Anak Mana? Rumahnya mana? Orang tuanya kerja apa?" kata bapaknya yang meminta istrinya untuk menyelidiki anaknya.


    "Nanti malam, Pi ...." jawab ibunya.


    Sementara itu, Jonatan melajukan motornya menuju sekolah. Tetapi tidak melintas di jalan yang biasa ia lalui. Kali ini ia melintas lewat Pecinan. Jika menuju sekolahnya melintasi Kampung Pecinan, maka nanti di jalan dekat rumah kost Melian. Siapa tahu Melian pas berangkat. Maka saat melintas di jalan dekat rumah kost Melian, ia memperlambat kendaraannya. Bahkan hampir berhenti karena saking pelannya.


    Namun yang diharapkan tidak sesuai dengan angannya. Melian tidak kelihatan. Mungkin belum berangkat. Jonatan tetap menjalankan kendaraan secara lamban. Sekolahnya sudah dekat. Tidak mungkin terlambat, karena datangnya masih terlalu pagi. Tentu Jonatan sambil melirik ke spionnya yang diarahkan ke jalan belakang, agar bisa melihat orang yang berjalan di jaln itu. Siapa tahu ada anak perempuan yang berseragam abu-abu putih melintas di jalan itu. Siapa lagi kalau bukan Melian yang diharapkan terlihat di spionnya.


    Hingga sampai di sekolah, ternyata Melian tetap tidak terlihat. Maka Jonatan langsung bablas memarkirkan motornya di halaman parkir. Dan Jonatan terus menuju kelas untuk menaruh tasnya.


    Namun saat Jonatan melintas di depan kelas I D, matanya melirik ke ruang kelas itu. Dan ternyata, di dalam ruang kelas I D sudah ada Melian yang duduk sendirian di kelasnya. Entah ada apa, tiba-tiba seperti diseret, Jonatan langsung masuk ke kelas itu. Dan seperti ada yang mendorong, Jonatan langsung menuju ke depan bangku Melian. Lantas tersenyum. Hanya tersenyum saja.


    "Ada apa, John?" tanya Melian yang masih terlihat cuek.


    "Anu .... Emm ..., anu ...." Jonatan belum bisa berkata-kata, hanya terlihat bingung di depan Melian.


    "Anu apa ...?" tanya Melian yang masih tidak memperhatikan laki-laki besar yang ada di depannya itu.


    "Kok Melian berangkatnya pagi sekali?" Jonatan mencoba mengeluarkan kata-kata.


    "Ya, kalau kesiangan nanti terlambat." sahut Melian yang juga tidak memperhatikan orang yang ada di depannya.


    "Eh, anu ..., Melian .... Emm ..., anu ...." Jonatan terlihat sekali kalau grogi. Sehingga bingung mau bicara apa.


    "Anu, apa ...?" Melian menanya temannya yang grogi itu.


    "Mei Jing bagaimana?" Jonatan mengalihkan pertanyaan.


    "Tidak tahu .... Belum kasih kabar. Kamu ndak nengok ke rumahnya?" kata Melian yang langsung balan menanya.


    "Eh ..., anu ...." Jonatan kembali grogi.


    "Ya ditengok .... Masak sahabat dekat kok tidak menengok ...." sahut Melian.

__ADS_1


    "Iya .... Nanti siang pulang sekolah .... Sama kamu ya, Mel  ...." kata Jonatan, yang langsung menawarkan mengajak Melian. Tentu Jonatan sangat penuh harap Melian mau diajaknya.


    "Ya, ndak papa ...." jawab Melian.


    Langsung cess seperti disiram air es, rasa hati Jonatan lega. Harapannya bakal bisa kesampaian. Kembali akan memboncengkan Melian ke rumah Mei Jing. Walau dekat, setidaknya bisa naik motor berboncengan dengan Melian.


    "Ya udah, Mel .... Tunggu nanti siang, ya ...." kata Jonatan yang langsung meninggalkan Melian, masuk ke kelasnya sendiri.


    Sungguh gembira rasa hati Jonatan. Sangat ceria karena saking senangnya.


    "Na ..na ...na ...na .... Tra ..la ...la ...la ...." Jonatan bersenandung sambil tersenyum-senyum.


    "Uwih ..., uwih ..., uwih .... Yang happy ...." tamanya yang melihat langsung mengomentari.


    "Happy apa, hayo ....?!" sahut yang lain ingin tahu.


    "Ihui .... Asyik ..., asyik ...."  yang lain lagi menimbrung.


    Jonatan yang digoda tidak bergeming. Ia malah terlihat lebih bahagia. Tersenyum gembira, sambil balik menggoda teman-temannya.


    "Kamu ngapain, sih, John ...? Kok aneh hari ini ...?" tanya salah satu temannya.


    "Mau tau aja ...." sahut Jonatan yang tangannya sambil menggoda teman perempuan yang menanyainya.


    "Teeet ....... Teeet ...... Teeet .....!"


    Beruntung bel masuk berbunyi. Tentu teman-temannya berhenti menanyai Jonatan. Demikian juga yang mencoba meledek. Karena semua murid langsung diam mengikuti pelajaran Matematika. Dasar gurunya galak, maka tidak ada satu pun murid yang berani gojek. Jangankan bercanda, menoleh saja takut. Itulah sebabnya kenapa matematika dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit, karena gurunya galak.


    "Teeet ....... Teeet ...... Teeet .....!" hingga akhirnya, bel pulang pun berbunyi.


    Tentu, Jonatan yang paling cepat bersiap untuk pulang. Ia pun yang keluar duluan. Langsung berada di belakang guru pengajar jam terakhir. Bahkan seakan mau menyalip bu guru yang jalannya agak perlahan itu. Begitu keluar ruang, Jonatan langsung berlari menuju ke depan ruang kelas I D. Tentu karena ingin menemui Melian untuk diboncengkan menuju rumah Mei Jing.


    Melian masih di dalam kelas. Belum beranjak dari tempat duduknya. Meski teman-temannya sudah pada keluar kelas dan pulang.


    Jonatan langsung berdiri di depan pintu kelas. Tentu agar terlihat oleh Melian kalau dirinya sudah bersiap.


    "Sebentar, John .... Ini saya menyelesaikan tugas dulu ...." kata Melian yang tahu kalau sudah ditunggu Jonatan.


    "Ya .... Selesaikan dahulu ...." sahut Jonatan yang melangkah masuk ke dalam kelas, dan mendekat ke tempat duduk Melian.


    "Sebentar ya, John .... Ini, sudah selesai ...." kata Melian yang kemudian menata buku tugas miliknya dan kepunyaan teman-temannya.


    "Ya ..., santai saja. Ndak usah tergesa." sahut Jonatan yang sudah bahagia bisa pulang bersama Melian.


    "Saya mengantar tugas-tugas ini ke ruang guru dahulu .... Mau nunggu di sini apa ikut ke kantor?" kata Melian yang sudah mencangklong tas dan membawa setumpuk buku. Tentu sangat banyak karena membawa buku tugas milik teman sekelas.


    "Sini buku tugasnya saya bawakan sebagian." kata Jonatan yang meminta separo buku yang dibawa Melian.


    Lantas mereka berdua naik ke lantai dua, menuju ruang guru. Berjalan beriringan bersama. Kemudian masuk ke ruang guru juga bersama. Maklum Jonatan ikut membantu membawakan buku.


    "Persimi, selamat siang, Bu Lusi .... Ini mau mengumpulkan tugas ...." kata Melian pada gurunya.

__ADS_1


    "E, iya .... Sini, taruh di meja sini." jawab Bu Lusi sambil menunjukkan meja tempat menaruh buku tugas.


    Lantas Melian melangkah masuk menuju meja yang ditunjuk oleh gurunya, meletakan buku-buku yang dibawanya. Demikian juga Jonatan, ikut melangkah masuk ke ruang guru, mengikuti Melian, membantu membawakan buku tugas dan meletakkan buku-buku itu di meja guru.


    "Lhoh, ini kan Jonatan ..., kelas I B .... Kok ikut-ikutan membawakan tugasnya anak kelas I D? Hayoo ...." kata ibu guru yang memberi tugas itu.


    "Lhoh, kok iya .... Lha ini kan yang geger kemarin, to .... Yang berantem itu .... Lha kok sekarang rukun, runtung-runtung .... Hayo ...." sahut guru yang lain, yang masih ingat kasusnya.


    "Waaah .... Ini anak bagaimana .... Habis musuhan, sekarang barengan .... Ihik ..., ihik ...." timpal yang lain.


    "Jo ..., ini tadi kamu dipaksa bantu Melian, ya? Kamu takut sama Melian, ya?" tanya Ibu Kepala Sekolah yang langsung ikut nimbrung di ruang guru.


    "Tidak kok, Bu .... Ini saya tadi memang membantu kok ...." jawab Jonatan.


    "Berarti kamu datang ke kelasnya Melian? Terus kamu sengaja nemui Melian? Apa memang sudah kencan?" tanya Ibu Kepala Sekolah lagi.


    Jonatan langsung tersipu. Demikian juga Melian.


    "Nah, begitu .... Yang baik pada cewek .... Melian diantar jemput, diboncengkan .... Jangan dimusuhi .... Ya, Jo ...." kata Ibu Kepala Sekolah itu lagi.


    "Ya, Bu ...." jawab Jonatan yang masih tersipu.


    "Ya, sudah, Bu .... Kami mohon izin pulang ...." kata Melian berpamitan.


    "Ya .... Hati-hati .... Jonatan jangan dipukul lagi, ya, Mel ...." kata ibu-ibu guru yang ada dalam ruangan itu.


    Melian hanya tersenyum geli, sambil keluar meninggalkan ruang guru. Jonatan mengikuti di belakang Melian.


    Mereka berdua langsung turun ke lantai satu, lantas menuju halaman parkir. Beruntung di tempat parkir sudah tidak ada orang. Tidak ada teman-temannya. Bahkan tinggal motornya Jonatan sendiri. Tenang hati Jonatan. Tidak ada yang tahu dan tidak ada yang bakal menggoda ataupun mengejek.


    Jonatan memindah tas cangklongnya ke dada. Tentu agar nanti saat Melian membonceng lebih nyaman karena tidak terhalang tas di punggungnya. Lantas menyetarter kendaraan RXZ yang bagus itu.


    "Ayo naik ...." kata Jonatan menyuruh Melian membonceng.


    Melian langsung naik ke motor. Kakinya melangkah.


    "Pegangan ...." perintah Jonatan.


    Tentu Melian langsung memeluk perut Jonatan. Dan otomatis tubuh langsing cantik itu langsung menempel di punggung Jonatan.


    "Sseeeerrrrr ........ Jedug ..., jedug ..., jedug ..., jedug ...." jantung Jonatan langsung berdetak kencang. Ada perasaan yang bergejolak dalam hatinya. Kata-kata ibu-ibu guru tadi, kini kembali bergelora. Benarkah semua ini karena cinta?


    Sejenak Jonatan melepas gas motornya. Untuk menata hati, menata perasaan, dan menata pikiran. Terutama untuk menenangkan girinya yang agak gugup.


    "Ada apa ...?" tanya Melian yang mulutnya menempel di telinga Jonatan.


    Perasaan Jonatan semakin aneh. Seakan tidak kuasa untuk menarik gas motornya.


    "Tidak apa-apa .... Hanya manaskan mesin sebentar." Jonatan beralasan.


    "Ooo ...." sahut Melian yang tidak tahu kenyataan sebenarnya.

__ADS_1


    Dan akhirnya, Jonatan sudah menarik kopling, memasukkan gigi perseneleng. Lantas perlahan motor RXZ itu meninggalkan sekolah.


__ADS_2