
"Mas Irul ..., tadi waktu saya ke rumah engkongnya Melian, ada yang aneh terjadi .... Dan saya melihatnya sendiri, Mas ...." kata Indra pada suaminya, yang tentu ingin menceritakan apa yang dilihatnya pada suaminya.
"Apa yang aneh?" tanya Irul yang duduk berdua dengan istrinya di dapur bagian belakang tokonya, saat makan tahu telur bersama.
"Mas Irul tahu ..., awalnya rumah Babah Ho itu kan tidak terawat, kotor dan kumuh .... Tapi tadi waktu saya ke sana, semuanya sudah bersih dan rapi. Bahkan pintunya juga terbuka. Waktu ditanya sama Mbak Juminem danPak Jamil, membersihkannya sama siapa, katanya dibantu oleh seorang kakek dan orang-orang suruhannya kakek itu." kata Indra yang menceritakan pada suaminya.
"Lha ..., orang-orang itu memang membantu Melian?" tanya Irul yang juga ikut penasaran.
"Waktu saya sampai di sana, bersama Pak Jamil dan Mbak Juminem, sudah rampung, Mas .... Orang-orang yang katanya membantu, sudah tidak ada. Kata Melian sudah pada pulang. Tapi si Kakek masih ada di situ. Bahkan mengajak saya dan Melian duduk satu dingklik panjang dari kayu, lalu memberi nasehat kepada kami." kata istrinya yang terlihat sangat serius.
"Kakek itu seperti siapa?" tanya suaminya.
"Saya belum pernah lihat, Mas .... Tapi dia mengenakan pakaian tradisional khas Jawa. Pakai baju lurik dan celana comprang, serrta memakai iket kepala. Wajahnya terlihat teduh. Kulitnya masih halus, saya merasakannya saat bersalaman. Dan yang lebih mengherankan, si kakek itu baunya harum seperti bayi yang baru dimandikan." jawab istrinya memberi gambaran tentang si kakek yang ditemuinya.
"Diberi nasehat apa oleh kakek itu?" tanya suaminya.
"Banyak, Mas .... Tapi intinya kita jangan sampai mengalami sakit hati, yaitu iri, dengki, sombong, riya .... Tidak boleh pamer harta benda, menolong orang lain secara ikhlas ...." jawab Indra yang masih mengingat wejangan dari sang kakek.
"Bagus itu, Dek .... Memang seperti itu yang diajarkan oleh agama. Kita musti berbuat baik pada sesama." sahut Irul yang membenarkan nasehat dari kakek tua yang ceritakan oleh istrinya itu.
"Tapi, Mas ..., ada yang aneh dari kakek itu." kata Indra lagi.
"Apa, Dek ...?" Irul langsung memotong.
"Kakek itu baru kami tinggal sekejap, sudah menghilang tanpa kami ketahui ke mana perginya, Mas .... Saya sama Mbak Juminem pergi mencarinya, tidak menemukan .... Heran, saya ..., Mas ...." kata Indra yang masih keheranan dengan menghilangnya kakek tua tadi siang.
__ADS_1
Sulit bagi Irul untuk menjelaskan masalah itu kepada istrinya. Tentu orang yang berpendidikan seperti Indra, apalagi tidak memahami keyakinan atau kepercayaan kuno, pasti sulit untuk menerima peristiwa yang baru saja dialaminya. Indra hanya bisa menalar dengan logika yang masuk akal. Bukan hal-hal yang irasional. Apalagi bicara masalah dukun, pasti menolaknya.
"Dek Indra .... Masih ingat dengan batu permata yang saya tunjukkan pada Dek Indra? Batu permata yang salah satunya sudah kita jual itu?" tanya Irul pada istrinya.
"Iya, Mas .... Ingat lah ...." jawab Indra.
"Bagaimana saya mendapat batu permata itu? Dari pemberian Nenek Jumprit sang penjaga jurang jumprit di Bandungan. Padahal Dek Indra tidak melihat Nenek Jumprit kala itu. Bahkan rumah megah seperti istana yang saya tunjukkan saja, Dek Indra tidak melihatnya .... Lalu saya menghilang, dan tahu-tahu sudah bersama Melian yang seminggu lebih dulu menghilangnya, ketemu di puncak Gunung Bugel, di makamnya Mamah Melian. Aneh, kan ...." kata Irul mencoba memahamkan istrinya.
"Kalau begitu ..., orang-orang yang katanya membantu Melian bersih-bersih di rumah Babah Ho itu semuanya dari alam lain yang diluar nalar kita ya, Mas ...? Termasuk kakek tua yang memberi nasehat kepada saya ...?" kata Indra yang mulai sadar kalau dirinya sudah bersama dengan orang yang berada di dunia berbeda.
"Iya .... Seperti itu kira-kira. Bahkan kalau misalnya di sekitar rumahnya Babah Ho waktu itu ada orang yang melihat Melian bersih-bersih, saya yakin mereka tidak melihat yang membantunya. Termasuk saat Dek Indra diceramahi oleh kakek tua itu, Mungkin tidak ada yang melihat." jelas Irul yang ingin memahamkan istrinya tentang dunia lain yang ada di luar alam nyata manusia.
"Iih .... Aku kok jadi takut, Mas ...." kata Indra yang langsung mendekap suaminya karena ketakutan
"Iih ..., Mas ......." Indra semakin erat mendekap suaminya.
"Makanya, bebuatlah kebaikan, seperti yang sudah dipesankan oleh kakek tua itu." tambah Irul.
"Melian kok tidak takut ya, Mas ...?" tanya Indra pada suaminya, yang tentu heran dengan keberanian Melian, yang ditemani bahkan dibantu oleh banyak orang dari alam lain yang tidak diketahui oleh manusia.
"Melian sudah pernah diajak ke alam lain. Dia ditunggui oleh para ponggawa kerajaan leluhurnya. Dan Melian sudah kenal banyak pengawal dari alam kasat mata. Melian sering bertemu dengan mamahnya." jelas Irul pada istrinya.
"Benarkah begitu, Mas ...?" tanya istrinya.
"Ya, benar .... Gelang giok dan liontin yang dikenakan oleh Melian itu warisan leluhurnya. Tidak semua orang bisa mengenakan gelang seperti itu. Dan gelang itu dikenakan oleh Melian semenjak bayi." kata Irul menjelaskan gelang yang dikenakan oleh Melian.
__ADS_1
"Kok Mas Irul tahu ...?" tanya Indra.
"Kan sejak kecil Melian itu sudah manja dengan saya .... Kalau tidak digendong sehari saja, pasti nangis minta digendong. Dan saya sudah mengamati gelang yang dipakai oleh Melian itu bukan gelang sembarangan." kata Irul yang mencoba memahamkan istrinya.
"Yang meberi gelang pada Melian itu siapa, Mas ...?" tanya Indra yang ingin tahu.
"Saya tidak tahu, Dek .... Saya pun tidak berani tanya pada Babah Ho maupun Cik Lan. Nanti dikira sok mau tahu. Tapi yang saya tahu, gelang itu semacam tanda untuk orang yang terpilih." kata Irul yang memang tidak tahu asal usul gelang giok milik Melian.
"Maksud Mas Irul, terpilih bagaimana?" Indra penasaran.
"Ya ..., semacam reinkarnasi kalam dalam kepercayaan orang keturunan. Semacam penjelmaan atau titisan kembali dari tokoh yang telah tiada. Entah renkarnasi dari siapa saya tidak pernah tahu silsilah keturunan Babah Ho." jelas suaminya.
"Mungkin betul, Mas .... Waktu Melian itu hilang, saya sempat berdoa di klenteng. Memang saat itu saya menangis, saking sedihnya. Saya ditemui oleh Pak Pendeta Agung, menanyakan kesedihan saya. Lalu saya menyampaikan kalau Melian, gadis yang pernah belajar wushu di klenteng itu, hilang. Lantas Pak Pendeta ingat presis tentang Melian, yaitu gelang gioknya yang berukir naga. Pak Pendeta itu mengatakan kalau Melian tidak apa-apa, katanya ada yang menjaga. Tapi ia juga mengatakan kalau Melian akan ditemukan oleh orang yang menyayanginya. Dan ternyata yang menemukan Melian adalah Mas Irul. Berarti Mas Irul sangat sayang sama Melian, ya ...?" tanya Indra yang teringat pesan dari pendeta klenteng yang pernah menamuinya.
"Hmft ....." Irul menghela nafas panjang. Lalu katanya, "Sejak kecil anak itu manja pada saya. Dan saya tahu presis penderitaan yang dialami Melian. Saya tidak tega menyaksikan penderitaan bayi itu, Dek .... Tentu saya sangat menyayangi dia .... Hingga akhirnya, terdengar kabar rumah Pak Jamil yang dibakar orang-orang biadab. Rumah Pak Jamil hangus semua menjadi abu yang rata dengan tanah. Saya kehilangan Melian. Saya pingsan berkali-kali. Neneknya jatuh sakit, hingga harus dirawat di rumah sakit. Dan saat dibawa ambulan ke Semarang, mobil ambulan itu justru mengalami kecelakaan yang menewaskan Babah Ho dan istrinya. Kala itu saya benar-benar terpukul. Bahkan seperti tidak sanggup untuk hidup lagi. Ingin rasanya saya mau bunuh diri. Hingga datang kakek tua seperti yang menemui Dek Indra di rumah Babah Ho itu, beliau melarang saya bunuh diri. Katanya, saya masih dibutuhkan di dunia ini. Entah siapa kakek itu, tetapi pandangannya yang menyejukkan hati, sudah menggagalkan saya untuk bunuh diri. Hingga sepuluh tahun berlalu, saya dipertemukan kembali dengan Pak Jamil, Mbak Juminem dan Melian. Mungkin, itulah takdir, yang akhirnya menemukan kita, Dek ...." Irul menjelaskan betapa sangat terikatnya batin Irul dengan Melian.
Indra tentu sangat terbawa kesedihan yang diceritakan suaminya. Maka ia pun ikut terharu, dan meneteskan air mata, saking sedihnya mendengar kisah hidup suaminya dan Melian.
"Di rumah itu, ada tempat yang digunakan untuk menyimpan ari-ari Melian. Dulu tempat itu dikurungi keranjang dan diberi lampu. Saya yang memasangnya. Walau saya tidak tahu maksudnya. Tetapi menurut kepercayaan orang Jawa, di situlah kembaran Melian berada. Sukma yang hidup di dunia lain. Katanya sukma itu akan momong adiknya. Maka orang Jawa sering menyebut dengan istilah kakang kawah adi ari-ari. Maka wajar kalau Melian tiba-tiba ingin mengambil kembali rumah itu. Mungkin karena kembarannya yang tidak rela kalau tempatnya akan diinjak-injak orang lain." kata Irul yang memberi alasan kenapa Melian ingin memiliki rumahnya Babah Ho.
"Saya paham, Mas .... Saya akan berusaha membantu Melian. Membantu Pak Jamil dan Mbak Juminem. Semoga rumah itu belum diambil alih orang lain. Saya besok akan ke bank, untuk menanyakan masalah rumahnya Babah Ho." kata Indra pada suaminya, yang tentu ingin menolong Melian.
"Semoga saja Yang Maha Kuasa menolong kita, Dek ...." Irul memeluk istrinya dengan mesra, lantas mencium kedua pipi yang putih merona tersebut.
Tentu Indra langsung terbenam dalam buaian suaminya.
__ADS_1