
Kembali ke Lasem sejenak, untuk menyaksikan kisah Babah Ho.
Mendengar peristiwa pembakaran rumah Jamil, Babah Ho dan istrinya kembali bersedih. Tentu karena dalam rumah itu ada cucunya, yaitu Melian. Apalagi saat mendengar desas-desus cerita yang tidak baik tentang Jamil, serta cerita-cerita jelek lainnya, pastilah Babah Ho angkat tangan dan tidak mau ikut-ikutan. Bila perlu Babah Ho tidak mengakui kalau cucunya, anak Cik Lan itu dititipkan kepada keluarga Jamil.
Memang seperti biasanya, keadaan di kampung, masyarakat desa, jika ada apa-apa, jika terjadi sesuatu maka berita itu langsung menyebar ke berbagai penjuru. Apalagi di pasar, tempat bertemunya orang dari segala penjuru kampung, mulai dari desa hingga kota. Tentu berita itu sangat cepat menyebar. Termasuk berita tentang pembakaran rumah Jamil.
Seperti pagi itu, di Pasar Lasem ramai kabar tentang dibakarnya rumah Jamil. Ya, rumah warga Desa Sarang yang didesas-desuskan memelihara hantu cekik untuk pesugihan. Konon diceritakan kalau hantu cekik itu terbang melayang, dikejar beramai-ramai oleh warga, dan akhirnya ditangkap di rumah pemiliknya, orang yang memelihara pesugihan hantu cekik. Maka oleh warga secara beramai-ramai, rumah pemilik hantu cekik itu dibakar. Keluarga yang ada di dalamnya ikut terbakar.
Ya, tentu yang namanya kabar berita dari mulut ke mulut, pasti ditambahi bumbu-bumbu yang lebih menyeramkan. Seperti saja misalnya cerita tentang hantu cekik itu yang sudah meneror warga kampung. Dan yang lebih mengerikan adalah keluarga Jamil satu rumah dibakar hidup hidup di dalam rumah itu. Konon diceritakan pula kalau saat rumah itu dibakar terdengar suara jeritan-jeritan mengenaskan. Meski begitu, para warga tidak peduli dengan suara-suara jeritan dari dalam rumah itu. Obor-obor yang terbuat dari batang bambu yang diisi minyak, terus dilempar ke segala penjuru rumah, agar bisa membakar seluruh bangunan itu. Dan akhirnya, pasti rumah pemelihara hantu cekik itu, yang dibakar oleh warga desa, hangus seluruhnya, rata dengan tanah.
Kabar yang beredar, tidak ditemukan peninggalan apapun dari pembakaran rumah Jamil. Semuanya hangus terbakar, tanpa ada sisa. Hanya abu dan sedikit arang yang teronggok di bekas lantai rumah Jamil. Pasti semua penghuninya terbakar habis. Bahkan juga diceritakan oleh orang-orang, kalau malam itu, saat pembakaran rumah Jamil, bau daging yang terpanggang sangat menyengat. Pasti itu para penghuni rumah yang tubuhnya hangus terbakar api.
Mendengar berita seperti itu, pasti Babah Ho langsung bersedih. Dan tanpa terasa, air mata sudah menetes membasahi pipi.
"Oma .... Jun ...! Sinio ...." kata Babah Ho yang duduk di kursi plastik di sudut kios, memanggil istrinya.
"Iya, Pa .... Ada apa panggil-panggil...? Ini lho, masih banyak pembeli ..." sahut istrinya.
"Haiya .... Itu belita bakal-bakal lumah da mana ...? Ha ...?" kata Babah Ho yang menanyakan tentang berita bakar-bakar rumah pada istrinya.
"Di Sarang ...." jawab istrinya yang masih sibuk meladeni para pembeli.
"Haiya .... owe dengel itu belita bakal-bakal lumah da Salang ...? Ha ...? Apa di lumah Jamil, ha ...? Tempat Me Me, ha ...?" tanya Babah Ho yang tentu sangat khawatir.
"Hah ...?! Da Sarang ...?! Da rumah Jamil ...?! Waduh .... Me Me ....!! Hik ..., hik ..., hik ...." tiba-tiba Cik Jun teringat cucunya yang dititipkan pada Jamil dan Juminem. Pasti Cik Jun, istri Babah Ho itu kaget dan histeris.
Pasti orang-orang pasar langsung menggeruduk Cik Jun, ingin tahu kenapa tiba-tiba istri Babah Ho itu menjerit histeris.
"Ada apa ...?!"
"Siapa yang menjerit ...?!"
__ADS_1
"Cik Jun ...."
"Istri Babah Ho ..."
"Cik Jun kenapa ...?!"
"Cik Jun diapakan sama Babah Ho ...?!"
"Ayo kita tanyakan kepada Cik Jun ...."
Maka orang-orang pasar itu pun berlarian ke kios Babah Ho, ingin mengetahui apa yang terjadi pada Cik Jun. Tidak hanya para pedagang, tetapi juga para pembeli yang tentu ingin tahu.
"Ada apa, Cik Jun ...?" tanya salah seorang pedagang yang dekat dengan kios Babah Ho.
"Me Me .... Huhuhuk ...." kata istri Babah Ho itu yang masih menangis.
"Me Me kenapa?" tanya para pedagang lainnya.
"Itu .... Hik ..., hik ... hu .... Rumah orang da Sarang yang dibakar .... Rumah Jamil .... Apa benar Jamil suami Juminem ...? Huk ..., hua ...." kata istri Babah Ho itu, yang tentu makin keras menangisnya.
"Orangnya kaya, karena dia pelihara pesugihan hantu cekik ...." kata yang lain.
Pasti Cik Jun agak lega kalau disebut orang kaya, karena cucunya, Me Me itu diasuh oleh Jamil dan Juminem yang menurut pembantu yang ikut di warung, orangnya miskin, rumahnya jelek dan belum dipasangai lantai. Kalau para pedagang atau pengunjung pasar itu mengatakan rumah yang dibakar orangnya kaya, berarti bukan Jamil yang merawat cucunya. Lumayan, tangis Cik Jun agak mereda.
"Memangnya cucu Babah Ho di momong orang mana?" tanya tetangga dagang yang lain.
"Katanya rumahnya da Sarang .... Namanya yang laki-laki Jamil .... Istrinya Juminem. Jamil itu kerjanya buruh menggali batu kapur ...." kata Cik Jun yang menyebutkan orang yang merawat cucunya.
"Cik Jun sudah pernah ke Sarang?" tanya teman berjualan yang lain.
"Belum sih .... Ini, si kenang yang sering saya suruh ngantar sembako ...." jawab Cik Jun, sambil menunjuk anak laki-laki yang sering disuruh mengantar sembako ke rumah Jamil.
__ADS_1
"Lha mbok kenang disuruh lari sebentar ke Sarang .... Memastikan kabar berita ini .... Siapa tahu kabar ini hanya isu yang dibesar-besarkan ...." kata salah seorang laki-laki yang juga berpengaruh di pasar itu.
"Iya, betul .... Paling tidak memastikan kebenaran berita .... Wong sekarang itu senengnya buat kabar berita yang tidak bisa dipercaya, kok ...." timpal wanita bakul gerabah yang juga ingin tahu kebenaran berita tentang pembakaran rumah pemelihara hantu cekik itu.
"Iya, Bah .... Cepetan salah satu pegawaimu disuruh pergi ke Sarang, memastikan berita sekalian menengok cucumu .... Sana Mas Irul disuruh ke Sarang ...." tandas ibu-ibu bakul daging.
"Haiya .... Owe setuju ...." kata Babah Ho yang langsung menyuruh pelayannya untuk pergi ke Sarang.
Anak muda yang membantu Babah Ho di warung meladeni para pembeli itu akhirnya menghidupkan motor yang biasa digunakan untuk mengangkut dagangan, melaju menuju Sarang. Kini ia mendapat tugas dari majikannya untuk mencari berita tentang pembakaran rumah yang dilakukan oleh warga di Sarang. Tentu anak muda itu melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi, agar cepat sampai tempat yang dituju. Dalam waktu singkat, suruhan Babah Ho itu sudah sampai di jalan depan rumah Jamil.
Anak muda yang biasa mengantar sembako ke rumah Jamil itu berhenti di pinggir jalan. Ia kaget menyaksikan apa yang dilihatnya. Rumah yang biasa ia kunjungi, kini sudah rata dengan tanah. Hanya sisa abu yang berceceran teronggok di bekas lantai rumah.
Anak muda bernama Irul pembantu Babah Ho itu termangu tidak bisa apa-apa. Lemas seluruh otot tubuhnya. Hingga akhirnya ia hanya bisa duduk di tanah di tepi jalan.
"Hee ...! Ada apa di situ, Mas ...?!" tanya salah seorang laki-laki setengah baya, warga kampung yang melihat ada orang duduk di pinggir jalan dengan motor di sampingnya.
"Pak, mau tanya .... Apakah yang terbakar ini rumahnya Kang Jamil ...?" tanya Irul, utusan Babah Ho tersebut.
"Iya betul .... Tadi malam ramai-ramai dibakar warga ...." jawab laki-laki yang membawa cangkul itu, mungkin mau berangkat ke sawah atau ladang.
"Memangnya kenapa, Pak ...?" tanya pembantu Babah Ho itu.
"Dia memelihara pesugihan hantu cekik, untuk mengambil uang para tetangganya ...." jawab bapak-bapak itu.
"Lha terus, yang punya rumah bagaimana ...?" tanya anak muda itu lagi, yang sudah berdiri di tepi motor.
"Semuanya dibakar .... Yang punya rumah, Jamil dan anak istrinya ikut dibakar hidup-hidup ...." jawab bapak-bapak yang membawa cangkul itu.
"Waduh .... Berarti sudah tidak ada yang hidup? Semuanya mati terbakar?" tanya Irul, pegawainya Babah Ho itu, yang tentu sudah lemas kembalu otot di sekujur tubuhnya.
"Yam betul .... Semuanya hangus terbakar .... Hanya sisa abu saja .... Lihat itu, hanya tinggal abu, kan ...." kata laki-laki yang membawa cangkul di pundak tersebut, dan melangkah meninggalkan remaja laki-laki yang berada di pinggir jalan depan bekas rumah Jamil tersebut.
__ADS_1
Irul, anak muda suruhan Babah Ho itu kembali duduk di tanahm dengan menyelonjorkan kakinya. Bahkan kini ia merebahkan tubuhnya, karena saking lemasnya otot-otot di sekujur tubuhnya, setelah mendengar penuturan dari bapak-bapak warga kampung itu, dan apa yang ia amati rumah Jamil benar-benar sudah ludes menjadi abu.
Pastinya anak muda pembantu Babah Ho ini bingung untuk melaporkan kepada majikannya. Ia khawatir Babah Ho maupun istrinya akan stres lagi. Tentu anak ini yang sudah ikut bekerja membantu Babah Ho di Pasar Lasem tahunan lamanya, tahu keadaan majikannya. Apalagi ia baru saja kehilangan menantu, anak, familinya yang tabrakan persis di depan pasar. Dan kini, cucunya ikut dibakar oleh kekejaman warga desa. Ia bingung, bagaimana nanti cara menyampaikan berita ini kepada majikannya.