
Semalam Jamil tidak bisa tidur. Pikirannya melayang ke mana-mana. Bingung memikirkan tuntutan pesangon teman-temannya. Ia tidak punya uang. Dan yang jelas, ia tidak sanggup mengatakan kepada teman-temannya. Hingga larut malam, mata Jamil ketap-ketip memandangi atap. Beberapa kali ia bangkit, lantas duduk di pinggir dipan tempat tidur. Ia termangu memikirkan permasalahan yang besok akan dihadapi, yaitu diserang oleh teman-temannya.
"Kok belum tidur, Kang ...?!" tiba-tiba terdengar suara Juminem yang menegur suaminya.
"Iya, Jum .... Mata susah dipejamkan ...." sahut Jamil yang masih duduk di pinggir tempat tidur, membelakangi istrinya.
"Kenapa ...? Ada apa, Kang ...?" tanya Juminem.
"Entahlah, Jum ...." jawab Jamil.
"Tadi ada apa di rumah Pak Bos ...?" tanya Juminem lagi.
"Pak Bos kan masih di tahan di penjara .... Tadi teman-teman pada protes minta pesangon. Ya, hampir semacam tuntutanm begitu .... Dan ramai ...." jawab Jamil yang menceritakan masalah di rumah bos-nya tadi.
"Lantas ...? Para karyawan diberi pesangon?" tanya istrinya lagi.
"Lhah, kan Pak Bos masih ditahan .... Anaknya sama saudara-saudaranya tidak bisa mengatakan apa-apa ...." jawab Jamil.
"Tadi Kang Jamil diundang ke rumah Pak Bos disuruh apa?" tanya istrinya.
"Itulah yang membuat saya bingung ...." jawab Jamil.
"Memang kenapa, Kang ...?" tanya Juminem lagi.
"Kata anaknya dan saudara-saudaranya, Pak Bos menyuruh saya untuk mengurusi tempat usaha itu .... Bahkan disuruh mengatasi masalah karyawannya .... Itulah yang membuat saya bingung, Jum ...." jawab Jamil.
"Lhah, kok seperti itu ...?" tanya istrinya.
"Sebenarnya uang tabungan kita dulu itu yang kita gunakan untuk menolong Pak Bos, bisa digunakan untuk menutup tunggakan kredit macet perusahaan. Tempat usaha yang akan disita, akhirnya bisa diselamatkan. Pak Bos kala itu memang menyampaikan ke saya, kalau uang yang saya bawa itu bisa menutup utangnya, itu berarti saya sudah menyelamatkan perusahaan dari penyitaan bank, yang artinya tempat usaha itu sudah saya bayar." kata Jamil yang menceritakan kisah pembayaran utang bosnya.
"Oo .... Lha terus, apa hubungannya dengan teman-teman kerja Kang Jamil?" tanya Juminem yang ingin tahu.
"Tadi, anak dan keluarga Pak Bos menyerahkan usahanya ke saya, termasuk tanggung jawab perusahaan kepada karyawan .... Itu yang menyebabkan saya bingung, Jum ...." kata Jamil yang bingung mencari akal.
"Pak-e .... Mak-e .... Belum tidur, to ...?" tiba-tiba Melian berada di depan pintu kamar bapak dan ibunya itu, yang tentu mengagetkan Jamil dan Juminem.
"Eeh, Melian Sayang .... Kok ikut bangun? Iya ..., ini lho, Pak-e tidak bisa tidur ...." sahut Juminem yang langsung mendatangi anaknya yang masih berdiri di depan pintu kamar orang tuanya, lantas memeluk dan mengajaknya masuk.
"Memang kenapa, Pak ...?" tanya Melian yang sudah duduk di samping bapaknya.
"Susah, Sayang .... Pak-e menerima beban yang sangat berat ...." jawab Jamil sambil memeluk anak gadis kecilnya.
"Susah kenapa, Pak ...?" tanya Melian yang sudah menempelkan kepala di pinggang bapaknya.
__ADS_1
"Itu .... Usaha kerajinan kuningan milik Pak Bos disuruh mengelola Pak-e .... Pak Bos ditahan polisi, dihukum .... Tadi anak-anak dan saudaranya yang menyampaikan ke Pak-e .... Pak-e bingung, Sayang ...." jawab bapaknya yang masih sulit untuk berfikir.
"Lhah, apa susahnya, Pak-e?" tanya Melian sambil mendongakkan kepalanya menatap wajah bapaknya yang masih bingung.
"Masalahnya, para pekerja, tadi di rumah Pak Bos pada minta pesangon .... Perusahaan tidak punya uang sama sekali .... Lha kalau dibebankan kepada Pak-e, bagaimana caranya memberikan pesangon pada karyawan itu ...?" kata Jamil yang tidak sanggup mengurusi teman-temannya itu.
"Ooo .... Begitu, to ...." Melian baru sadar kalau bapaknya dituntut untuk memberikan pesangon pada para karyawannya.
"Kang ..., berarti usaha kuningan milik Pak Bos itu mau diberikan ke Kang Jamil ...? Apa begitu, Kang ...?" tanya istrinya yang tentu juga ikut bingung mendengar ceritanya.
"Betul, Jum .... Kan utang-utangnya di bank kita yang melunasi. Makanya oleh Pak Bos, tempat usaha itu diserahkan ke kita .... Tapi persoalannya, para karyawan menuntut pesangon dan saya yang bertanggung jawab .... Piye, jal ...?" kata Jamil yang bingung.
"Begini, Pak .... Itu, para karyawannya ditanyai satu-satu .... Mau tetap kerja atau minta pesangon .... Kalau dia minta pesangon berarti karyawan itu tidak loyal dengan perusahaan, artinya dia bukan orang baik. Maka dengan karyawan yang seperti ini langsung dikasih pesangan dan dikeluarkan, jangan diajak kerja lagi. Orang-orang seperti ini maunya hanya dapat duit, tidak tahu nasib perusahaan yang sedang bangkrut .... Tapi kalau dengan karyawan yang tetap mau membantu bekerja, dia diajak kerja. Dia itu orang baik yang mau mengerti keadaan keuangan perusahaan. Begitu, Pak ...." jelas Melian yang memang cerdas. Walau masih kelas empat SD, tapi sudah bisa berlogika jauh ke depan.
"Betul juga, Sayangku .... Kamu memang anak pintar ...." sahut Jamil yang langsung mencium anaknya.
"Iya, Kang .... Itu yang minta pesangon, pasti orang-orang yang nggak baik. Kalau mereka tetap bekerja di situ, pasti kalau ada apa-apa lagi, mereka itu yang jadi perusaknya .... Maka memang sebaiknya dikeluarkan saja ...." timpal Juminem yang juga sok tahu.
"Iya, Jum .... Tapi sekarang masalahnya, uang yang untuk pesangon mereka itu dari mana?" Jamil mulai berfikir lagi dengan uang pesangon.
"Pakai punya saya dulu, Kang .... Itu ada simpanan hasil saya menjahit ...." kata Juminem yang menawarkan uang simpanannya.
"Yah ..., untuk tambah-tambah, Kang ...." sahut Juminem yang kasihan melihat suaminya.
"Baiklah, Sayang .... Kita coba bersama .... Tolong doakan Pak-e agar bisa mengatasi masalah ini ...." kata Jamil pada anak dan istrinya.
"Iya ..., Pak-e ...." kata Melian yang langsung turun dari duduknya di tempat tidur bersama bapaknya, dan tentu akan kembali ke kamarnya.
"Sudah ..., sekarang tidur, Kang .... Biar besok tidak mengantuk." kata Juminem yang meminta suaminya segera tidur.
*******
Pagi itu, masih sangat pagi. Jamil sudah sampai di rumah majikannya, tempat di mana usaha kerajinan kuningan itu berada. Kedatangannya sudah disambut oleh Danang yang sudah mengenakan seragam sekolah, anak remaja yang masih duduk di bangku SMA, anak sulung majikannya. Pasti sebentar lagi akan berangkat sekolah.
"Selamat pagi, Mas Jamil ...." sambut anak bernama Danang tersebut di depan teras toko yang ditutup, karena usaha yang bangkrut.
"Wee ..., Mas Danang .... Selamat pagi, Mas Danang .... Sudah mau berangkat sekolah, ini ...?" tanya Jamil pada anak majikannya tersebut.
"Iya, Mas Jamil .... Monggo silakan langsung masuk saja, ada hal yang ingin kami sampaikan." kata Danang yang langsung masuk ke dalam rumah.
Jamil langsung masuk ke ruang tengah, sebuah ruangan yang gandeng dengan rak etalase untuk display barang-barang hasil kerajinan dan juga untuk memajang barang dagangan, tempat yang biasa digunakan oleh para pelanggan atau pembeli duduk berbincang dengan majikannya.Seperti layaknya ruang tamu bagi para pemesan kerajinan kuningan. Di bagian yang mepet tembok ada meja kursi yang cukup besar, tempat yang biasa digunakan duduk oleh bos-nya. Tempat transaksi dengan para pemesan dan pembeli. Terutama para langganannya.
Sesaat Jamil duduk di ruang itu, Dang keluar bersama pakde dan saudara-saudara yang lain. Lantas duduk menemui Jamil yang sudah ada di situ.
__ADS_1
"Begini, Mas Jamil .... Ini kami menyampaikan pesan Bapak .... Mohon usaha Bapak dilanjutkan .... Ini surat-surat, akta, serta sertifikat kepemilikan tempat usaha ini ..., mohon diterima dan disimpan sebaik mungkin." kata anak remaja yang sudah mengenakan seragam SMA itu, menyerahkan map plastik berisi dokumen-dokumen perusahaan.
"Kok diserahkan ke saya, Mas ...?" tanya Jamil yang bingung saat diberi berkas-berkas dalam map tersebut.
"Iya ..., Mas Jamil. Ini pesan Bapak, agar menyampaikan semua ini pada Mas Jamil." sahut Danang.
"Terima saja, Mas Jamil .... Ini demi menyelamatkan perusahaan ...." kata laki-laki yang dipanggil Pakde oleh Danang tersebut, kakak laki-lakinya Pak Bos.
"Baik, Mas Danang ..., Pak De ..., dan semuanya saja .... Terima kasih atas kepercayaan ini. Namun kami tetap memohon bantuan dari panjenengan semua .... Doakan saya bisa mengatasi masalah ini, njih ...." kata Jamil yang akhirnya menerima map plastik tersebut.
"Iya, Mas Jamil .... Dan kami juga mohon didoakan agar Bapak bisa terbebas dari kasus yang menimpanya, agar Bapak segera bebas dari penjara ...." kata Danang yang merupakan anak juragan kuningan yang berhati baik tersebut.
"Tentu .... Pasti .... Kami semua akan mendoakannya ...." jawab Jamil meyakinkan.
"Kalau begitu, kami mohon pamit. Saya sama adik saya mau berangkat sekolah ..., takut terlambat." kata Danang mohon pamit kepada Jamil, dan langsung meninggalkan tempat itu. Lantas nyetater motor RX King berboncengan dengan adiknya berangkat sekolah.
"Mas Danang nanti masih pulang sini, kan ....?!!!" jamil berteriak kepada anak majikannya yang sudah naik motor itu. Tetapi tidak terjawab, karena Danang dan adiknya sudah berlalu meninggalkan halaman rumah.
"Tidak apa-apa, Mas Jamil .... Biar nanti mereka yang menentukan pilihan. Mau pulang kemari atau ke rumah saya tidak apa-apa ...." kata orang yang dipanggil Pakde tersebut.
"Sebaiknya tinggal di sini saja, Pakde .... Biar kamarnya tidak kosong ...." sahut Jamil.
"Kalau di sini nanti makannya bagaimana ...? Tidak ada yang memasakkan ...." kata Pakde.
"Begitu, ya ...." kata Jamil.
"Mas Jamil .... Kami juga minta pamit .... Mohon maaf, mobil stationnya saya bawa .... Buat wira-wiri .... Setidaknya untuk menjenguk bapaknya Danang di tahanan." kata Pakde tersebut.
"Njih, Pakde .... Terima kasih .... Mohon doa restunya agar saya bisa menjalankan amanah ini ...." kata Jamil yang langsung menyalami semua saudara Pak Bos yang berpamitan.
Orang-orang itu langsung masuk ke mobil, yang disetiri oleh Pak De. Jamil mengikuti untuk melepas kepulangan saudara-saudara bosnya itu, hingga di depan pintu pagar. Meski mobil Zebra itu sudah hilang dari pandangannya, Jamil tetap berdiri di pintu pagar itu, dan terus memandangi jalan.
"Mas Jamil ...!" tiba-tiba ada perempuan yang datang dan menggertak mengagetkan lamunannya.
"Aduh ..., kamu itu mengagetkan saya saja, Mbak Ika ...." kata Jamil yang memang terkejut.
"Ngapain berdiri di sini sendirian ...? Melamun, lagi ...." kata perempuan itu, yang tidak lain adalah karyawan bagian penjaga toko atau tempat display. Mbak Ika namanya.
"Ini tadi, saudara-saudara Pak Bos baru saja pamitan pulang ...." jawab Jamil.
Memang, hari sudah menunjukkan pukul delapan. Seperti biasa, para karyawan sudahharus masuk ke tempat kerja. Namun kali ini, baru perempuan penjaga toko itu saja yang sudah datang. Mungkin para karyawan memang menganggap tempat kerjanya masih tutup. Setelah hampir dua minggu majikannya menutup usaha kerajinan kuningan itu karena bangkrut. Tetapi semalam sudah disampaikan oleh Jamil, kalau pagi ini semua karyawan harus datang. Akan ada penyampaian hal penting terkait usaha yang kini diserahkan kepada Jamil. Semalam sudah disampaikan kepada karyawan, terkait masalah pesangon. Tentu pagi itu diharapkan semua karyawan hadir, untuk menentukan nasibnya, dan nasib perusahaan.
Dan kini, stelah Jamil menerima amanat, ia harus menentukan sikap, untuk menata kembali perusahaan yang sudah bangkrut tersebut.
__ADS_1