GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 83: DI SURABAYA


__ADS_3

    Masih sangat pagi, belum ada fajar yang terlihat. Mantan Pak Bos bersama Bude dan Pakde, naik mobil menuju Surabaya. Mobil Zebra station yang dulu merupakan mobil kesayangan Pak Bos tersebut. Waktu itu mobil Zebra station sudah merupakan mobil bagus yang bisa dipakai untuk keluarga dan bisnis. Namun karena tempat usaha sudah diserahkan kepada Jamil yang sanggup melunasi utang bank, maka harta benda yang dibawa oleh anak-anaknya adalah mobil, motor dan perabot dan perkakas rumah tangga. Termasuk kasur, dan peralatan dapur, serta barang-barang elektronik. Pokoknya semua benda yang diperlukan di rumah. Mobil Zebra station itu yang akhirnya menjadi harta kesayangan Pakde, dimana untuk berbagai kebutuhan ya menggunakan mobil itu.


    Dan kini, mobil Zebra itu berjalan melintas pantura, dari Juwana akan menuju Surabaya. Hanya bertiga, yaitu Pak Bos, Pakde dan Bude. Pakde yang menyetir perjalanan menuju Surabaya, untuk mengurus Danang, anak Pak Bos yang menurut informasi telepon polisi, mengalami kecelakaan dan kini dirawat di rumah sakit di Surabaya.


    Tidak terlalu kencang, tetapi juga tidak terlalu perlahan. Mobil yang disetir oleh Pakde itu melaju santai. Tentu karena Pakde sudah tua, tentu menyetir kendaraannya sangat hati-hati. Walau demikian, perjalanan mereka tetap bisa cepat karena jalan yang tidak begitu ramai.


    "Nyetirnya yang cepat, De .... Jangan pelan-pelan begini .... Kapan sampainya ...." kata Pak Bos yang tidak sabar.


    "Ini sudah cepat ..., kita harus hati-hati ...." jawab kakaknya yang tetap konsen menyetir.


    "Nyopir kayak begini kok dibilang cepat .... Sini, saya yang nyopir ...!" kata Pak Bos yang ingin menggantikan kakaknya.


    "Tidak usah .... Kamu belum tahu tempat kos anakmu ...." sahut kakaknya, yang tentu sudah hafal dengan tempat kos keponakannya, karena dulu yang mengantar berangkat kuliah di Surabaya adalah pakdenya.


    "Lha wong nyopir nunak-nunuk gitu kok mau diganti tidak mau ...." kata Pak Bos.


    "Mbok yang sabar sitik leh, Nang .... Jangan emosinan .... Ingat, kita ini sedang dapat cobaan yang sangat berat .... Kok malah mengumbar nafsu ...." Bude ikut mengucap, yang tentu ingin menyadarkan adik iparnya itu.


    Mobil terus melaju menelusuri jalur pantura. Hingga akhirnya, mobil Zebra itu sudah masuk di Kota Surabaya. Dan Pakde, langsung melajukan mobil yang disetirnya itu ke Jalan Mayjend. Prof. Dr. Moestopo, Kecamatan Gubeng Kota Surabaya.


    "Kita langsung ke Rumah Sakit Dokter Sutomo. Kata polisi yang telepon kemarin, Danang dirawat di rumah sakit itu." kata Pakde yang langsung membelokkan mobilnya ke arah kota.


    "Ya .... Cepetan, De ...." sahut Pak Bos yang tidak sabar ingin mengetahui nasib anak sulungnya yang sedang kuliah itu.


    Dan mobil itu, langsung masuk ke area parkir. Pak Bos tidak sabar menunggu kakak-kakaknya. Ia langsung membuka pintu depan kanan, turun dari mobil, dan langsung menuju ke front offtce rumah sakit itu. Tentu akan bertanya kepada petugas di rumah sakit itu, tentang anaknya.


    Kakak-kakaknya langsung menyusul. Dan pasti ingin tahu keponakannya berada di mana dan seperti apa kondisinya.


    "Suster ..., mau tanya pasien yang bernama Danang dirawat di mana ya?" tanya Pak Bos kepada petugas perempuan yang berada di ruang bagian depan rumah sakit itu.


    "Alamatnya mana, Pak?" tanya petugas yang ditanyai itu.


    "Dari Juwana, Jawa Tengah .... Masih mahasiswa, kuliah di Surabaya. Kemarin kami ditelepon polisi, katanya anak saya mengalami kecelakaan dan dirawat di Rumah Sakit Dokter Sutomo ..., begitu, Mbak ...." kata Pak Bos itu menjelaskan anaknya yang dimaksud.


    "Sebentar ya, Pak .... Saya cari datanya di komputer dulu." kata petugas itu, yang lantas mengeik nama pasien, dan mencari orang yang dimaksud.


    "Danang, dari Juwana, Mbak ...." kata pak Bos itu lagi.


    "Kok tidak ada pasien dengan nama Danang ya, Pak .... Masuknya ke rumah sakit kapan, Pak?" kata petugas itu, yang lantas menanyakan kapan masuknya.


    "Polisinya telpon kemarin siang .... Katanya kasusnya karena kecelakaan." Pakde ikut menjelaskan kepada petugas itu.


    "Ini saya coba cari lagi, nama Danang kok tidak ada ya, Pak .... Dua hari yang lalu juga tidak ada .... Bahkan pasien masuk tiga hari yang lalu juga tidak ada ...." kata petugas layanan bagian depan tersebut.

__ADS_1


    "Hloh .... Piye leh, iki ...?!" tentu mereka bertiga bingung.


    "Apa Bapak dan Ibu sudah tanya ke polisi yang menelepon, ruangnya apa?" tanya petugas itu kepada ketiga orang yang jadi bingung.


    "Walah ..., belum .... Dia hanya mengatakan kalau dirawat di Rumah Sakit Dokter Sutomo Surabaya .... Begitu thok, Suster ...." jawab Pakde.


    "Apa Bapak tahu, nama polisi yang menelepon itu siapa, dan kantor kepolisiannya di sektor mana?" tanya petugas rumah sakit itu.


    "Waduh .... Saya tidak tanya, Suster ...." jawab Pakde itu.


    "Lhah ..., Bapak sudah menghubungi anaknya? Atau sudah ditelepon sama anaknya?" tanya petugas rimah sakit itu lagi.


    "Waduh .... Saya juga belum sempat menelepon tempat kosnya. Lha tahu saya karena sudah dirawat di Rumah Sakit Dokter Sutomo, ya kami langsung kemari, Suster." jawab Pak Bos, yang tentu jadi bingung.


    "Coba anaknya dihubungi dahulu ...." kata petugas rumah sakit itu.


    "Masalahnya tempat kosnya itu tidak ada teleponnya ...." kata Pakde.


    "Ya sudah, Pakde .... Sekarang kita coba tanya ke tempat kosnya dahulu. Mungkin temannya atai ibu kosnya tahu dirawat di rumah sakit mana." kata Pak Bos yang langsung mengajak kakak-kakaknya ke rumah kos anaknya.


    "Nggih sampun .... Terima kasih, Suster ...." kata sang Bude yang berpamitan.


    Tiga orang itu pun meninggalkan ruang depan tempat bagian administrasi tersebut, menuju tempat parkir. Kembali ke mobil. Lantas keluar meninggalkan rumah sakit itu, akan ke tempat kos Danang.


    Mereka bertiga pun menjalankan mobilnya menuju rumah kos Danang. Yang menyetir tentu Pakde. Karena ia yang tahu rumah kos keponakannya. Dulu saat mengantar ke Surabaya pertama kali, untuk mulai kuliah dan mencari kos-kosan, ya Pakde itulah yang bersusah payah membantu keponakannya. Dan kini, saat mendengar berita kalau Danang keponakannya itu mengalami kecelakaan, maka sang Pakde bersusah payah untuk mengurusinya.


    Danang kos tidak jauh dari kampusnya, Universitas Airkangga, di daerah Gubeng, yang juga tidak jauh dengan Rumah Sakit Dokter Sutomo. Maka tidak begitu lama, Pakde menyetir mobil, sudah sampai di tempat kos Danang.


    "Kulanuwun ...." Pakde uluk salam di depan rumah kos-kosan yang ditempati Danang keponakannya itu. Pakde sudah beberapa kali ke tempat itu, untuk menengok keponakannya yang tidak pernah pulang saat kuliah.      "Monggo, mau mencari siapa ya?" ada remaja laki-laki yang keluar dari rumah kos itu, menemui tamu yang datang dan pasti menanyakan siapa yang akan ditemui.


    "Kami orang tua dari Danang .... Mahasiswa yang kos di sini, yang asalnya dari Juwana, Pati." kata Pakde pada remaja yang diyakini mahasiswa temannya Danang.


    "Oh, Danang sedang kuliah, Pak .... Pulangnya nanti jam satu ...." jawab anak muda temannya Danang tersebut.


    "Lhah .... Piye, leh ...?!" Pak Bos mulai bingung.


    "Jadi ..., Danang berangkat kuliah?" tanya Pakde yang juga kaget.


    "Iya, betul, Pak .... Jadwalnya pagi sampai siang." jawab teman keponakannya.


    "Eh, tapi ..., Danang tidak apa-apa, kan ...?" tanya Bude yang masih khawatir.


    "Tidak apa-apa .... Alhamdulillah kami sehat semua." jawab anak muda itu.

__ADS_1


    "Syukurlah ...." Budenya lega.


    "Silakan tunggu saja di dalam, Pak, Bu .... Sebentar lagi paling-paling sudah pulang." kata temannya Danang yang sudah mempersilakan para tamu, orang tua temannya itu agar menunggu di ruang tamu.


    Tiga orang tua itu pun masuk. Dan benar tidak lama kemudian terdengar suara motor RX King, yang sangat dihafali suaranya oleh Pakde dan Pak Bos. Motor milik anaknya.


    Pak Bos yang tidak sabar ingin ketemu anaknya, belum sempat duduk ia langsung keluar ruang, untuk menemui anaknya.


    "Danang ...!!" Pak Bos langsung berteriak memanggil anaknya.


    "Lhoh ..., Bapak ...?!" tentu Danang kaget melihat ayahnya ada di tempat kosnya. Maka ia langsung menyetandarkan RX King-nya, dan langsung menubruk bapaknya.


    "Danang ........." Pak Bos langsung memeluk erat anaknya. Tentu langsung meneteskan air mata, tanda kangen yang tidak terbendung lagi.


    "Bapak .... Huk ..., huu ..., huu ...." Danang juga memeluk erat tubuh bapaknya, bahkan menangis mengguguk. Anak sulung Pak Bos itu tentu sangat kangen dan sedih dengan nasib yang dialami bapaknya.


    Sangat lama, bapak dan anak itu berpelukan untuk melepas kangennya. Hingga akhirnya Pak Bos memegangi kedua pundak anaknya. Matanya mengamati sekujur tubuh anaknya. Mulai dari ujung kepala hingga bawah kaki.


    "Kamu tidak apa-apa, Nang ....?!" tanya bapaknya.


    "Saya sehat, Pak .... Tidak ada masalah apa-apa di sini. Kuliah saya lancar. Bapak sudah bebas?" jawab Danang yang langsung menanyakan keadaan bapaknya.


    "Iya .... Bapak sudah bebas, tetapi masih harus absen. Tidak masalah, yang penting Bapak sudah keluar. Tapi benar kamu sehat?" kata bapaknya, yang lagi-lagi menegaskan keadaan anaknya.


    "Sehat, Pak .... Ini lihat, badan saya jadi besar ...." jawab anaknya lagi, sambil menunjukkan lengannya.


    "Kamu tidak kecelakaan?" tanya bapaknya yang ingin lebih meyakinkan.


    "Tidak .... Siapa yang bilang kalau saya kecelakaan, Pak ...?" tanya Danang pada bapaknya.


    "Pakde .... Bude .... Ini, lho .... Danang tidak apa-apa ...." kata Pak Bos pada kakak-kakaknya.


    Pasti Pakde dan Bude itu langsung memeriksa seluruh tubuh Danang. Dan ternyata, memang Danang tidak apa-apa. Seluruh tubuhnya utuh tidak ada luka apapun.


    "Lhah, kamu benar tidak mengalami kecelakaan, Nang ...?!" tanya budenya yang sudah selesai memeriksa seluruh tubuh keponakannya itu.


    "Ya ampun ..., Bude .... Yang bilang kalau saya kecelakaan itu siapa?" tanya Danang pada pakde-budenya.


    "Kemarin ..., ada telepon dari kepolisian, yang bilang kalau kamu mengalami kecelakaan .... Makanya Bapak, Pakde dan Bude langsung kemari. Padahal Bapak kamu baru saja pulang." kata budenya.


    "Itu mungkin orang tipu-tipu .... Biasanya nanti di ujung telepon, dia minta uang untuk membayar biaya rumah sakit .... Lantas keluarga yang ditelepon disuruh mentransfer uang. Itu modeus, Pakde, Bude .... Makanya jangan percaya dulu, tanyai dulu yang lengkap, identitas serta ciri-cirinya. Zaman susah begini, banyak orang menghalalkan segala macam cara untuk mencari keuntungan." kata Danang yang mengingatkan kepada pakde, bude, bahkan juga bapaknya.


    "Walah, ya ampun ..., Nang .... Syukurlah kalau kamu selamat tidak apa-apa .... Yah, anggap saja ini Bapak ke sini menengok kamu. Biar bapakmu tahu, kalau anaknya itu pinter, bisa kuliah di universitas yang top ...." kata budenya, yang tentu sambil menciumi Danang.

__ADS_1


    Ya, itulah akal bulus para penjahat kala itu. Dan bahkan sekarang pun masih sering terjadi. Tipu-tipu mengaku polisi, dengan mengatakan kalau ada keluarganya yang sakit dan butuh biaya besar, lantas minta ditransfer sejumlah uang. Beruntung, kemarin orang telepon yang mengaku polisi itu belum sempat meminta uang.


__ADS_2